เข้าสู่ระบบSetelah kakakku kehilangan kewarasannya, perjanjian pernikahan dengan Keluarga Zony pun jatuh ke tanganku. Aku dengan bahagia menikahi pemuda yang selama ini kusukai, namun pada malam pertama pernikahan, aku justru tidur sendirian. Aku menjadi bahan tertawaan seluruh kota Dumai. Kemudian, karena aku mengetahui rahasia kakakku, dia menabrakku dengan mobil hingga mati dan membuang jenazahku ke hutan. Saat membuka mata kembali, aku kembali ke hari di mana perjanjian pernikahan itu ditukar. Zony sedang memeluk kakakku yang kehilangan kewarasannya dan mencium jemari tangannya dengan penuh ketulusan. “Lina, tak peduli kau jadi seperti apa, kamu tetaplah wanita yang paling kucintai.” Aku pun berbalik tanpa ragu dan menerima lamaran dari Gunawan, CEO yang tak bisa punya keturunan. Namun kali ini justru Zony menangis tersedu-sedu dan memohon agar aku kembali padanya.
ดูเพิ่มเติม"Minimal jadi bidan atau sarjana lah, baru Abang mau nikah sama kamu, Dek. Kalau cuma lulusan SMA kayak kamu gini, maaf-maaf aja, Dek. Kita nggak setara. Aku ini tentara, loh."
Kata-kata itulah yang selalu diingat Nilam dalam hidupnya. Kata-kata yang memotivasi dirinya hingga akhirnya lulus menjadi Sarjana muda di usianya yang baru 22 Tahun. Ia mengambil jurusan bahasa Inggris di universitas ternama dengan jalur beasiswa. Berkat kegigihannya, ia lulus dengan gelar cumlaude. Nilam bukan berasal dari keluarga mampu, ia berasal dari keluarga miskin yang ayah dan ibunya bekerja menjadi seorang pembantu dan supir di rumah keluarga kaya raya. "Aku yakin, Bang Indra mau nerima aku sekarang," ucapnya percaya diri. Ia sudah membayangkan akan menikah dengan pria impiannya dan menjadi Cinderella di prosesi sangkur pora mereka nanti. Pria itu bernama Indra Sanjaya, seorang tentara berpangkat Sersan satu yang saat ini bertugas menjadi Caraka/Ajudan yang membantu Pak Danyon (Komandan Batalyon) di kesatuan tempatnya berdinas. Indra dan Nilam tinggal di satu kampung yang sama. Sejak kecil, pria itu selalu memberi harapan padanya kalau akan menikahi Nilam ketika dewasa nanti. Maka dari itu, saat Nilam lulus SMA, dia menanyakan hal tersebut kepada Indra. Sayangnya, kala itu Indra yang baru dilantik jadi tentara, malah menjawab kalau dirinya hanya akan menikahi Nilam jika wanita itu sudah memiliki gelar atau profesi. Karena katanya, dia ingin menikah dengan wanita yang setara dengannya. Nilam tidak tersinggung, ia justru makin semangat untuk melanjutkan pendidikannya. Meskipun saat itu ia juga kebingungan dari mana biayanya karena orang tuanya bukanlah keluarga mampu. Tetapi, seakan ia diberi keberuntungan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa, Nilam dikabari oleh gurunya kalau ia mendapatkan beasiswa dari universitas ternama. Meskipun harus hidup merantau dan jauh dari orang tuanya karena universitas itu berada di luar kota, Nilam tetap mengambil beasiswa itu demi menjadi seorang sarjana dan memiliki gelar seperti yang diinginkan Indra. Perjuangannya di kota orang tidaklah mudah, Nilam harus bekerja paruh waktu untuk memenuhi kebutuhannya yang tidak ditanggung oleh beasiswa itu. Apalagi ayahnya juga sudah berhenti menjadi supir karena sakit-sakitan. Hanya ibunya lah yang menjadi tulang punggung keluarga mereka. Dreett Dreett Ponsel Nilam tiba-tiba berdering nyaring. Nilam mengambilnya dari dalam tasnya. Rupanya ada panggilan dari sang Ibu. Nilam pikir, ibunya ingin mengucapkan selamat atas kelulusan wisudanya karena memang beliau tidak bisa hadir dikarenakan harus menjaga ayahnya yang sedang sakit. "Hallo, Bu?" "Mbak Nilam..." Terdengar suara isakan dari sebrang telfon. Itu bukanlah suara ibunya. Melainkan suara Tiana, sepupunya. "Ti, ada apa? Kok kamu yang angkat?" Nilam mulai merasa cemas. "Mbak..." Tiana malah menangis. Perasaan Nilam menjadi semakin berkecamuk. "Ada apa, Ti? Kok kamu telfon pake nomer ibuku? Ibuku baik-baik aja 'kan?" "Bude baik Mbak, tapi Pakde...." Nilam membelalak. Jantungnya berdebar kencang. Ia merasakan firasat yang tidak bagus. "Bapakku kenapa, Ti?" tanya Nilam dengan suara bergetar. "Pakde meninggal, Mbak." Deg! Tubuh Nilam seketika lemas hingga terduduk ke lantai. Dunianya seakan runtuh saat itu juga. Nilam memandangi ijazah wisudanya yang masih ia pegang. Hatinya berdenyut begitu nyeri. Senyum di bibirnya tersimpul, tetapi matanya terus menangis. Ia meraih mimpinya, tetapi di waktu yang sama, ia kehilangan orang yang disayanginya. “Bapak....” panggilnya lirih. * Setelah kematian ayahnya. Nilam masih belum memutuskan apa yang akan ia lakukan kedepannya. Rasanya separuh hidupnya ikut dibawa pergi oleh sang Ayah. Nilam kehilangan semangat hidup. Sore itu, ketika Nilam memandangi rintik hujan gerimis dari balik jendela kamarnya, ia mendengar suara ketukan pintu dari pintu depan. Nilam buru-buru keluar dari kamarnya untuk membukakan pintu. Ternyata itu adalah ibunya yang baru pulang bekerja. Memang, belum ada empat puluh hari ayahnya meninggal, tetapi sang ibu harus kembali bekerja. Bosnya tidak mengizinkan ibunya libur lama-lama. “Ibu, sudah pulang? Mau minum dulu?” tawar Nilam. Membantu sang Ibu duduk di atas kursi, sementara ia mengambil air minum di dapur dan memberikannya pada Ibunya. Ia melihat wajah Ibunya lamat. Sepertinya wanita itu terlihat kelelahan, tubuhnya pun sudah mulai lemah. Tangannya yang keriput dan kasar sampai gemetar memegangi gelas di tangannya. Nilam mendekat dan duduk di depan ibunya sambil meraih tangannya. “Bu?” panggilnya lembut. Ibunya mendongak. “Mulai sekarang, biar Nilam aja yang kerja, ya, buat gantiin Ibu. Jadi Ibu nggak usah kerja lagi. Ibu istirahat aja di rumah.” Ibunya kaget. “Maksudnya?” Nilam tersenyum. “Biar Nilam aja yang kerja di sana untuk sementara.” “Jangan, Lam. Kamu itu sudah sarjana, mana mungkin ibu membiarkan kamu bekerja jadi pembantu. Kamu bisa cari kerjaan yang lebih baik, Nak.” Nilam tersenyum. “Opo to hubungannya gelar sarjana sama jadi pembantu, Bu? Kerjaan apa aja yang penting kan halal.” Ia berusaha meyakinkan ibunya. Namun, sang ibu masih terlihat ragu. “Nilam benar-benar nggak apa-apa, Bu. Lagipula, Ibu pasti masih terpukul sama kepergian Bapak. Jadi, sebaiknya Ibu istirahat aja di rumah. Nilam yang akan gantiin, untuk sementara aja kok Bu sampai Nilam dapat pekerjaan yang lain. Ya?” "Tapi Lam, Ibu nggak mau ngerepotin kamu, Nak." Nilam menggeleng. “Ibu enggak pernah merepotkan Nilam sama sekali.” Ibu Nilam masih kelihatan berat mengizinkan Nilam menggantikannya bekerja. "Boleh ya, Bu?" Nilam terus memohon. Akhirnya sang ibu luluh. Nilam tersenyum, lalu memeluk ibunya erat. Nilam sudah kehilangan ayahnya, ia tidak ingin ibunya bekerja terlalu keras di usianya yang sudah menginjak angka enam puluh tahun itu. Nilam ingin ibunya terus sehat dan bahagia di masa tuanya. * Keesokan harinya, Nilam mulai bekerja di rumah Nyonya Mona, majikan ibunya yang ada di desa sebelah. Nilam menjelaskan kondisi ibunya kepada Nyonya Mona. Beliau tidak masalah yang penting ada yang tetap bekerja. “Kamu sudah biasa bersih-bersih, ‘kan?” tanya Nyonya Mona. Nilam tersenyum. “Iya, Nyonya.” “Ya sudah, kalau begitu kamu buruan bersihkan seluruh rumah, jangan lupa juga dirapihkan. Nanti sore, ada calon suami anak saya yang mau datang. Yang bagian masak Mbok Dasimah, tapi kamu bantuin juga ya nanti, soalnya hari ini masak banyak karena ada tamu.” Nilam mengangguk. “Baik, Nyonya.” Nilam pun langsung bekerja. Hari itu, pekerjaannya lumayan banyak. Dia membersihkan rumah besar itu sendirian dari mulai mengelap perabotan rumah, menyapu, mengepel, dan juga menata semua perabotan yang ada supaya lebih rapi. Untungnya, Nilam sudah biasa bersih-bersih, jadi dia pun tidak merasa terlalu kewalahan. Menjelang sore, semua pekerjaan Nilam sudah selesai. Rumah sudah kinclong dan rapi. Ia juga tadi membantu Mbok Dasimah sedikit untuk memotong-motong bahan masakan, jadi ia menemui Nyonya Mona untuk pamit. “Nyonya, semua sudah saya kerjakan. Saya mau pamit pulang dulu.” Nyonya Mona mengernyit. “Kok pulang? ‘Kan sudah saya bilang kalau hari ini calon suami anak saya mau datang. Jadi, kamu di sini dulu saja sampai acaranya selesai. Nanti setelah acara ‘kan kamu harus beres-beres lagi. Setelah itu, baru kamu boleh pulang.” Nilam mengangguk patuh. “Oh, begitu. Baik, Nya.” Akhirnya, Nilam pun ke dapur untuk membantu menyiapkan semua suguhan yang akan disajikan untuk calon suami anak Nyonya Mona beserta keluarganya. Makanan yang disiapkan Mbok Dasimah sudah siap semua, paling-paling hanya tinggal menata saja dan mengantar ke depan nanti. Sekitar pukul tiga sore, rombongan keluarga calon suami anak Nyonya Mona datang. Sellina—anak Nyonya Mona juga sudah berdandan amat cantik dan siap menyambut mereka. Ruang tamu terdengar ramai. Nyonya Mona kelihatan antusias sekali menyambut calon menantu dan besannya. Lalu, Nilam yang diam di dapur menunggu komando selanjutnya dihampiri oleh Mbok Dasimah yang tergesa-gesa. “Lam, bawakan minuman sama gelasnya. Di depan ternyata kurang. Buruan ya, sudah ditunggu sama Nyonya dan tamu-tamu yang lain.” Nilam mengangguk dan langsung sigap membawa teko berisi minuman dan beberapa gelas bersih untuk dibawa ke depan. Perlahan, langkah kakinya semakin dekat. Namun, tiba-tiba tatapan matanya berhenti pada sosok pria yang sedang mengobrol dan saling tatap dengan Selina. Jantung Nilam seketika berdetak dengan keras, tubuhnya membeku di tempat. Prang!!! Nampan yang ia bawa di tangannya seketika jatuh. Membuat gelas-gelas itu pecah berserakan ke lantai. Semua mata menatap ke arahnya. Bibir Nilam bergetar menyebut nama pria itu. “B-bang, Indra...”“Itu semua sudah menjadi masa lalu. Sekarang aku adalah istri Gunawan orang yang kucintai tentu saja adalah suamiku. Tolong jaga ucapan dan sikapmu!”Namun, Zony seolah kehilangan akal sehatnya, langsung memelukku ke dalam pelukannya sambil berkata, “Gunawan itu terlahir mandul, seorang pria cacat yang tidak bisa memenuhi kewajibannya sebagai suami. Bersamanya kau tidak akan pernah bahagia.”“Yuni, aku mencintaimu. Aku akan segera membawamu pergi jauh dari sini.”Mendengar dia berani menghina Gunawan seperti itu, amarahku memuncak. Aku langsung melepaskan diri dari genggamannya dan menampar wajahnya dengan keras.“Zony, aku tidak mengizinkanmu mencemarkan nama suamiku seperti itu.”“Aku hanya mengungkapkan kenyataan yang diketahui semua orang di kota ini.Di kota Dumai siapa yang tidak tahu Gunawan terlahir mandul dan telah menyiksa tiga istrinya hingga mati.”Aku langsung menampar wajahnya lagi dari arah sebaliknya dan berkata, “Kalau kau berani lagi menghina suamiku, maka jangan salah
Saat aku kembali ke rumah orangtuaku pada hari ketiga setelah pernikahan, Ibu langsung menggenggam tanganku dan menceritakan kepadaku seluruh kejadian yang melibatkan Zony dan Lina.“Yuni, ternyata kau benar. Gadis itu sungguh tidak tahu malu, bahkan berani melakukan hal yang memalukan sebelum menikah.”Guru piano ini dipekerjakan ayah saat aku berusia enam belas tahun dan Lina delapan belas tahun. Awalnya, ketika aku mulai belajar dengannya, dia sering memuji bahwa aku cerdas dan berbakat.Namun tidak tahu kenapa, sikapnya terhadapku tiba-tiba berubah drastis. Dia sering berkata di depan Ayah, aku nakal dan sulit diatur, membuatku sering dihukum oleh Ayah.Sekarang jika dipikir-pikir, kemungkinan besar saat itu Lina telah menjual tubuhnya padanya demi menjebakku.Di kehidupan sebelumnya, setelah aku menikah dan masuk ke Keluarga Zony, Lina memulihkan ingatannya dan menggoda Zony hingga menceraikanku. Kemudian, tanpa sengaja aku megetahui Lina diam-diam masih menjalin hubungan dengan g
Ayah berkata, “Impian seumur hidup seorang pria adalah memiliki istri yang anggun dan pandai mengurus rumah tangga, serta kekasih yang cantik dan pandai menyenangkan hati.”“Kalau kau memang menyukainya juga, jadikan saja dia simpananmu.”Dia mengira karena Yuni telah menyukainya selama bertahun-tahun, meskipun dia meminta dia menjadi istri tanpa status, Yuni tetap akan menerimanya dengan senang hati. Tapi tidak disangka, dia malah menikah dengan Gunawan.“Bukankah dia menyukaiku? Kenapa bisa semudah itu bilang mau menikah dengan orang lain, lalu langsung menikah begitu saja.”“Zony dengan marah menghantamkan tinjunya ke dinding, membuat asisten di sampingnya terkejut setengah mati.”“Tuan muda, akhir-akhir ini kau kenapa? Apa tidak enak badan?”Zony tiba-tiba tersadar, baru menyadari dirinya kembali melamun memikirkan Yuni.Tidak, yang dia cintai adalah Lina. Yuni, wanita yang mudah berpaling seperti itu, sama sekali tidak pantas untuk di sukai.Saat itu juga, seorang pengurus rumah
Reaksi pertamaku adalah kenapa Gunawan bisa setampan ini? Wajahnya sama sekali tidak kalah dengan model atau selebriti.Reaksi keduaku adalah merasa canggung. Belum apa-apa sudah gagal total, malam pertama ketahuan makan kue diam-diam oleh suamiku sendiri. Rasanya sangat memalukan.Aku pura-pura tenang, meletakkan kembali kue ke tempat semula, lalu duduk kembali di tepi ranjang. Dengan rapi menurunkan kembali kain penutup kepala, seolah-olah tak ada apa-apa yang terjadi.Sejenak terdengar suara tawa dari arah pintu. Gunawan melangkah ke arahku, mengangkat penutup kepala merahku, lalu mengangkat seluruh piring kue dan meletakkannya di hadapanku.“Seharian belum makan ya? Tidak perlu sungkan, Kau mau makan sebanyak apa pun, silakan.”Aku mendongakkan kepala menatapnya, mempertimbangkan apakah ucapannya itu benar. Jangan-jangan setelah aku selesai makan, dia langsung berkata, “Kau tidak punya sopan santun dan akan menghukumku?”Sejak kecil hidup bersama Lina, aku telah mengalami banyak ti






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.