MasukSetelah kakakku kehilangan kewarasannya, perjanjian pernikahan dengan Keluarga Zony pun jatuh ke tanganku. Aku dengan bahagia menikahi pemuda yang selama ini kusukai, namun pada malam pertama pernikahan, aku justru tidur sendirian. Aku menjadi bahan tertawaan seluruh kota Dumai. Kemudian, karena aku mengetahui rahasia kakakku, dia menabrakku dengan mobil hingga mati dan membuang jenazahku ke hutan. Saat membuka mata kembali, aku kembali ke hari di mana perjanjian pernikahan itu ditukar. Zony sedang memeluk kakakku yang kehilangan kewarasannya dan mencium jemari tangannya dengan penuh ketulusan. “Lina, tak peduli kau jadi seperti apa, kamu tetaplah wanita yang paling kucintai.” Aku pun berbalik tanpa ragu dan menerima lamaran dari Gunawan, CEO yang tak bisa punya keturunan. Namun kali ini justru Zony menangis tersedu-sedu dan memohon agar aku kembali padanya.
Lihat lebih banyakSELENE WOLFE POV
The scent of the fresh bread I was baking wafted through the dimly lit kitchen, a brief moment of solace in my daily routine. I wiped a bead of sweat from my forehead with the back of my hand, my thin, delicate fingers trembling slightly as they held the dough.The relentless ache in my arms was nothing new; it was a constant reminder of my place in the pack. The kitchen was my domain, but it wasn't by choice. As an Omega, the lowest rung of the pack hierarchy, I was expected to serve, to cater to their every whim. I was less than a servant; I was a punching bag, an object of scorn, and a symbol of everything wrong in ourworld.A soft sigh escaped my lips as I carefully placed the dough in the oven, taking a step back and wiping my flour dusted hands on my worn apron. There was a time when I'd dreamed of a different life, a life where I'd be cherished, not condemned. I longed for the day when my mate would sweep me away from this misery, when my wolf would finally awaken.But that day remained elusive, my wolfless state a relentless burden. At fifteen, I'd reached the age when my wolf should have emerged, and it never did. The torment of that night was etched in my memory. My father, then the Beta, had demanded I shift in front of the entire pack.When I failed, he'd gone out in anger, and that night, he met his death in a tragic accident. My mother couldn't bear his loss and had taken her own life, leaving me truly alone.I sighed as I started to scrub the kitchen floor, I heard the scuffling of feet behind me, and my heart clenched with a mixture of dread and resentment. Ariana, the Alpha's daughter, sauntered in, a wicked glint in her eyes. She carried a glass of water with an all too familiar smirk on her face.Without a word, she tilted the glass, lettingthe water spill onto the freshly cleaned floor. "Oops," she said with a sickeningly sweet tone. She wore a sinister smile as she glanced at me.I stared at the spreading puddle, my heart sinking with each drop. I knew what was coming next. With a calculated shove, Ariana sent me tumbling to the ground, my knees hitting the wet tiles hard. I watched the water pool at my knee, feeling the weight of humiliation descend upon me."You know," she continued, "I really should be thanking you, Selene. You make it so easy toentertain myself."Ariana's words cut through me like a knife, and I fought to hold back the tears. I'd learned to build an emotional wall over the years, but sometimes, it still crumbled. "I-I didn't mean to do anything," I stammered, my voice barely above a whisper.She approached me, her gaze unrelenting. "But you see, dear Selene, that's precisely the problem. You never mean to do anything. You're just here, like a useless, wilted flower." She leaned in, her breath warm and cruel against my ear. "You're a disgrace to this pack."The kitchen's dim light masked the torment in my eyes, but I knew she could hear the quiver in my voice.The truth was, I couldn't defend myself against her or anyone else. Not without a wolf to protect me. I'd become a symbol of weakness, an easy target for their rage and frustrations.Ariana stepped back, her laughter echoing in the air. "Clean it up, Selene. Or don't. It doesn't really matter, does it?" With that, she walked away, her haughty demeanor leaving me feeling even smaller and more insignificant.As I knelt to mop up the water, I couldn't help but let the tears flow freely. I was trapped in a never ending cycle of abuse and cruelty, and the hope of finding my mate had faded into a distant dream.The oven timer chimed, pulling me from my thoughts. I wiped my tears with the back of my hand and I pushed myself up slowly, feeling a dull ache in my chest. The humiliation was something I'd grown accustomed to, but it didn't make it hurt any less.Today, on my eighteenth birthday, I'd hoped for a respite from the constant torment. The bread was ready, and I knew I had to finish my chores before the pack's evening meal. Suddenly Xander and Xavier, my elder brothers and tormentors, entered the room.They looked at me with disdain, their handsome faces twisted into mocking grins. "Look at what we have here," Xander sneered, nudging a pool of water in my direction. "A little Cinderella, cleaning up her mess."Xavier chuckled, his turquoise eyes cold."You're a disgrace to our family, Selene. No wondereveryone calls you the 'wolfless' freak." "Yh. You couldn't even shift, and you killed our parents. We'd be better off without you." Xander said.Their words were like a barrage of daggers, each one finding its mark in my heart. The pain was too much to bear. My vision blurred as tears welled up, spilling down my cheeks."Stop it," I whispered, my voice trembling. "Just leave me alone, please." "Go on, cry, little Omega," Xavier jeered before the two of them picked up their glasses of water and left me there.Their words cut deeper than the cold water soaking my clothes. It was true; I couldn't shift into a wolf. The pack saw me as a liability, a stain on our lineage. I felt like a puzzle piece that didn't fit anywhere.The oppressive weight of my existence pressed on my chest, but I couldn't afford to crumble. I had to endure. I had to survive. Somewhere out there, I clung to the faint hope that my mate would come for me, and together, we'd find a way out of this nightmare.With trembling hands, I closed my eyes for a moment and wished for a savior, a second chance at happiness. Suddenly I heard a growl"MATE!!!"“Itu semua sudah menjadi masa lalu. Sekarang aku adalah istri Gunawan orang yang kucintai tentu saja adalah suamiku. Tolong jaga ucapan dan sikapmu!”Namun, Zony seolah kehilangan akal sehatnya, langsung memelukku ke dalam pelukannya sambil berkata, “Gunawan itu terlahir mandul, seorang pria cacat yang tidak bisa memenuhi kewajibannya sebagai suami. Bersamanya kau tidak akan pernah bahagia.”“Yuni, aku mencintaimu. Aku akan segera membawamu pergi jauh dari sini.”Mendengar dia berani menghina Gunawan seperti itu, amarahku memuncak. Aku langsung melepaskan diri dari genggamannya dan menampar wajahnya dengan keras.“Zony, aku tidak mengizinkanmu mencemarkan nama suamiku seperti itu.”“Aku hanya mengungkapkan kenyataan yang diketahui semua orang di kota ini.Di kota Dumai siapa yang tidak tahu Gunawan terlahir mandul dan telah menyiksa tiga istrinya hingga mati.”Aku langsung menampar wajahnya lagi dari arah sebaliknya dan berkata, “Kalau kau berani lagi menghina suamiku, maka jangan salah
Saat aku kembali ke rumah orangtuaku pada hari ketiga setelah pernikahan, Ibu langsung menggenggam tanganku dan menceritakan kepadaku seluruh kejadian yang melibatkan Zony dan Lina.“Yuni, ternyata kau benar. Gadis itu sungguh tidak tahu malu, bahkan berani melakukan hal yang memalukan sebelum menikah.”Guru piano ini dipekerjakan ayah saat aku berusia enam belas tahun dan Lina delapan belas tahun. Awalnya, ketika aku mulai belajar dengannya, dia sering memuji bahwa aku cerdas dan berbakat.Namun tidak tahu kenapa, sikapnya terhadapku tiba-tiba berubah drastis. Dia sering berkata di depan Ayah, aku nakal dan sulit diatur, membuatku sering dihukum oleh Ayah.Sekarang jika dipikir-pikir, kemungkinan besar saat itu Lina telah menjual tubuhnya padanya demi menjebakku.Di kehidupan sebelumnya, setelah aku menikah dan masuk ke Keluarga Zony, Lina memulihkan ingatannya dan menggoda Zony hingga menceraikanku. Kemudian, tanpa sengaja aku megetahui Lina diam-diam masih menjalin hubungan dengan g
Ayah berkata, “Impian seumur hidup seorang pria adalah memiliki istri yang anggun dan pandai mengurus rumah tangga, serta kekasih yang cantik dan pandai menyenangkan hati.”“Kalau kau memang menyukainya juga, jadikan saja dia simpananmu.”Dia mengira karena Yuni telah menyukainya selama bertahun-tahun, meskipun dia meminta dia menjadi istri tanpa status, Yuni tetap akan menerimanya dengan senang hati. Tapi tidak disangka, dia malah menikah dengan Gunawan.“Bukankah dia menyukaiku? Kenapa bisa semudah itu bilang mau menikah dengan orang lain, lalu langsung menikah begitu saja.”“Zony dengan marah menghantamkan tinjunya ke dinding, membuat asisten di sampingnya terkejut setengah mati.”“Tuan muda, akhir-akhir ini kau kenapa? Apa tidak enak badan?”Zony tiba-tiba tersadar, baru menyadari dirinya kembali melamun memikirkan Yuni.Tidak, yang dia cintai adalah Lina. Yuni, wanita yang mudah berpaling seperti itu, sama sekali tidak pantas untuk di sukai.Saat itu juga, seorang pengurus rumah
Reaksi pertamaku adalah kenapa Gunawan bisa setampan ini? Wajahnya sama sekali tidak kalah dengan model atau selebriti.Reaksi keduaku adalah merasa canggung. Belum apa-apa sudah gagal total, malam pertama ketahuan makan kue diam-diam oleh suamiku sendiri. Rasanya sangat memalukan.Aku pura-pura tenang, meletakkan kembali kue ke tempat semula, lalu duduk kembali di tepi ranjang. Dengan rapi menurunkan kembali kain penutup kepala, seolah-olah tak ada apa-apa yang terjadi.Sejenak terdengar suara tawa dari arah pintu. Gunawan melangkah ke arahku, mengangkat penutup kepala merahku, lalu mengangkat seluruh piring kue dan meletakkannya di hadapanku.“Seharian belum makan ya? Tidak perlu sungkan, Kau mau makan sebanyak apa pun, silakan.”Aku mendongakkan kepala menatapnya, mempertimbangkan apakah ucapannya itu benar. Jangan-jangan setelah aku selesai makan, dia langsung berkata, “Kau tidak punya sopan santun dan akan menghukumku?”Sejak kecil hidup bersama Lina, aku telah mengalami banyak ti












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.