ANMELDEN“Jadi itulah yang terjadi. Syukurlah, ya.”Sekitar dua hari kemudian, Nathan akhirnya mendengar semua yang terjadi soal Dahlia di rumah utama sana.Ia sedang menelepon Vivian saat sedang istirahat, tadinya mau menanyakan progres penyelaman internet untuk mencari sisa-sisa desas-desus soal Nadia.Tapi, toh, ia tetap lega bisa mendengarnya.“Kami sempat syok saat dia mengatakan soal niat menolong kami tidak akan selalu menjadi pertolongan bagi orang lain, sih.”Vivian di sisi sana menghela napas berat.“Dia benar soal itu. Maaf, ya, jadi buat kalian repot tanpa andil apa-apa,” balas Nathan.Vivian di sisi sana menggeleng.“Dik Nathan sudah banyak pekerjaan. Kami juga yang pada awalnya menyembunyikan fakta soal dirinya darimu. Anggap saja ini sebagai tanggung jawab kami.”“Aku jadi keenakan.”“Di situ kamu harusnya bilang tidak enak.”Nathan tertawa kecil.“Hei, Dik Nathan,” panggil Vivian kemudian.“Iya?”“Apa kamu sudah menduga semua ini sejak awal? Maksudnya sejak kamu memaksa Dahlia
“Eh, tidak mau.”Ah, ternyata gebrakan meja yang dilakukan Valeria tidak cukup untuk mengintimidasi seorang seperti Dahlia.Dia sudah kebal intimidasi, sih, berkat tahun-tahun yang dijalaninya bersama Azrael.Dan tampaknya Valeria telat menyadari itu.‘Balasan singkatnya yang begitu terasa mirip sekali dengan Nathan,’ batin Vivian.“Tapi Valeria benar, Dik Dahlia. Setidaknya sarapanlah dulu. Kamu tidak tahu kapan akan lagi, kan,” bujuk Vivian membantu.Ia sekalian menepuk-nepuk bahu Valeria yang sedang menahan malu.“Itu benar, sih. Tapi itu bukan urusan kalian, kan,” balas Dahlia datar.Wajahnya bahkan menunjukkan kepolosan yang sulit dideskripsikan, seakan ia memang tidak mau tahu dengan keputusan Vivian dan Valeria.“Tidak ada yang boleh keluar rumah ini kalau belum makan. Aurora yang mengatakannya. Kamu tahu seseram apa dia saat marah, kan,” ujar Vivian memperingatkan.“Itu juga benar. Tapi dia, toh, bukan siapa-siapaku,” balas Dahlia datar lagi.Kini ia sembari mengangkat bahu.“
Linda sekilas melirik Fajar saat itu.Dari sisi Fajar, lelaki itu pun mengangguk, memahami maksud lirikan Linda itu.“Apa sosok itu ... kalau boleh saya tebak, adalah Tuan Kevin, suami Anda sekarang?”Linda kembali mengajukan pertanyaan.“Apalagi dari wawancara dan saat mengedit buku sebelumnya, Anda berusaha menutupi ... tidak, maksudnya, tidak ingin hubungan Anda dengan Tuan Nathan yang kacau itu diketahui publik,” tambahnya.‘Dasar jurnalis,’ batin Nadia, antara kesal dan kagum di saat bersamaan.Ia sampai terkekeh kala itu.“Bisa dibilang begitu mungkin, ya.”Sejenak, ia menyandarkan tubuh di sofa.“Tuan Kevin itu sudah begitu berkilau di mata saya sejak SMA. Kami tidak satu sekolah, sih, memang. Tapi prestasinya yang kerap seliweran di sosial media masa itu cukup membuat saya kagum.”“Berarti Anda sangat beruntung bisa menjadi istrinya sekarang, ya,” komentar Linda.Matanya berbinar-binar antusias.“Itu kisah yang romantis ...!!” lanjutnya, “Saya harap bisa punya sesuatu yang sep
[Semalam kami sudah mengantar Dahlia dengan aman ke rumah utama Konglomerat Ejawantah, Dik Nathan.]Pesan itu masuk ke ponsel Nathan pagi ini, lepas dini hari, dari nomor yang disimpannya baru-baru ini.Senorita.Pun demi melihat isi pesan itu, Nathan mengembuskan napas lega.Setidaknya ia tahu Dahlia bersama ayah dan kolega-koleganya di rumah utama.Azrael juga sudah diberitahunya semalam.Pemimpin sekte pembunuh satu itu hanya membalas Nathan datar dan singkat, khas dirinya: ‘Oke,’ katanya.Namun mari abaikan dulu reaksi singkat Azrael yang diam-diam berhati lembut itu, karena Nathan memilih membalas pesan dari Senorita saat ini.“Terima kasih ... karena sudah ... diantarkan ... titip salam ... untuk Monsieur Nox.”Nathan mengetik sembari mengeja begitu.“Kirim,” lanjutnya begitu selesai mengetik.Sembari mengetik balasan itu juga, Nathan sudah berjalan menuju kantor PT Pustaka Utama pagi itu, pukul 7 waktu setempat.Ah, ngomong-ngomong, jangan tanya alasan Nathan harus datang ke ka
“Apa pun itu, maaf, ya, Dik Nathan, karena terkesan membuntuti kalian di sini.”Yang akhirnya meminta maaf atas apa yang baru saja terjadi justru Senorita, yang juga meleraikan keadaan kala itu.Ah, berkat permohonan maaf Monsieur Nox yang canggung sebelumnya, Nathan dan Dahlia jadi bertengkar beberapa saat.Kalian bahkan bisa lihat keduanya kini saling mendengus dan membuang muka.“Ini salahmu, Nox,” bisik Senorita mendapati permohonan maafnya tidak ditanggapi.“Apa boleh buat, kan??” Monsiuer Nox balas berbisik, “Toh, kita juga tidak tahu mereka sedang kencan atau tidak—““Kami tidak kencan!!!”Ah, sekali lagi Nathan dan Dahlia memotong ucapan Monsieur Nox yang sudah dikecilkan volumenya hingga sulit terdengar.Iya, seharusnya, sih, sulit didengar.“Iya, iya, maaf. Aku yang salah ...!!”Monsieur Nox pun hanya bisa mengalah.Kabar baiknya, Nathan cukup dewasa di usia 32 tahunnya hingga berusaha memaklumi ketidaktahuan Monsieur Nox.Ia sudah menghela napas dan menganggap yang lalu bia
Dahlia terdiam.Tangannya yang sejak tadi tidak berhenti menyendok makanan pun ikut membeku demi mendengar ucapan Nathan itu.Namun tak lama, gadis itu tersenyum sinis.“Walah, Tuan Muda yang Terhormat, tidak sopan mengungkit hal sensitif begitu, loh,” ujarnya satire, “Kau bisa kena pidana.”Itu senyuman sinis dan satire yang cukup menyadarkan Nathan bahwa dirinya sudah kelewatan barusan.“Maaf,” ujarnya singkat.Dahlia mendengus.“Tidak apa-apa, sih. Toh, akunya juga yang membiarkan Azrael mengungkapnya.”Senyuman sinis Dahlia sempurna luntur.Wajahnya kembali masam, dan tangannya pun kembali menyendok makanan meski tak selahap sebelumnya.“Boleh aku tanya ... sesuatu soal itu?”Nathan kembali membuka topik ragu-ragu.“Tanyalah,” balas Dahlia mempersilakan.Nathan tidak langsung bertanya, menyusun kata-kata dulu, agar tidak menyinggung.“Azrael waktu itu bilang kalau kau harusnya dimusnahkan, kan. Lalu kenapa Bibi Aurora bisa mengadopsimu ke Klan Eisenblume?”Dahlia menelan sejenak k







