Share

bab 53

Author: Azzura Rei
last update publish date: 2026-02-02 21:44:35

Sasha tetap berdiri di tempatnya beberapa detik setelah pintu tertutup. Suara langkah William menjauh, meninggalkan gema yang terasa lebih berat daripada tamparan kata-katanya barusan. Tangannya terangkat, menyentuh bibirnya sendiri masih hangat, masih berdenyut bahkan terasa manisnya bibir William.

“Tidak mungkin…” gumamnya lirih pada bayangannya di cermin. “Kenapa aku selalu pasrah diperlakukan seperti ini olehnya?”

Ia merapikan gaunnya, memastikan noda kecil itu tak lagi terlihat. Bahunya di
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 312

    Sasha menggenggam cangkir tehnya yang telah lama mendingin. Pandangannya tak lepas dari William yang baru saja mengakhiri percakapan dengan Hendri. Kalimat terakhir suaminya masih terngiang di kepalanya, menghantam ketenangan yang sejak tadi berusaha ia pertahankan."Siapa, Wil?" suara Sasha tercekat. "Siapa yang tega melakukan hal seperti ini di Bukit Asri? Tempat itu bahkan jauh dari keramaian."William mengembuskan napas panjang. Rahangnya mengeras, menahan amarah yang mulai memenuhi dadanya."Aku belum tahu pasti, Sha. Hendri bilang pelakunya memanfaatkan kelengahan penjaga saat sore, ketika kabut mulai turun. Aku harus ke sana sekarang."Belum sempat Sasha menjawab, langkah kaki kecil terdengar berlari dari dalam rumah.Arlan muncul sambil menggenggam robot di tangan kanannya."Papa! Lihat, robotnya mau aku kasih nama—"Kalimat bocah itu terhenti ketika melihat wajah kedua orang tuanya. Senyumnya perlahan memudar."Papa mau pergi lagi?"William segera berlutut hingga sejajar deng

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   311

    Sasha menyandarkan punggung ke sofa sambil menatap langit-langit rumah.Ia mengingat kembali perjalanan panjang yang telah mengubah mereka.William yang dulu dingin kini telah melunak. Sementara dirinya yang dulu dipenuhi keraguan kini melangkah dengan keyakinan yang utuh.Hubungan mereka tidak dibangun oleh keajaiban yang terjadi dalam semalam.Semuanya tumbuh dari kesabaran, pengertian, saling memaafkan, dan kehadiran Arlan yang menjadi perekat setiap retakan yang pernah memisahkan mereka.Di luar jendela, langit perlahan berubah warna, menandakan sore mulai mendekat. Angin sepoi-sepoi menggoyangkan dedaunan pohon mangga di halaman depan.Rumah yang dulu hanya terasa sebagai bangunan beton tanpa jiwa kini telah benar-benar menjelma menjadi tempat pulang yang sesungguhnya. rumah yang hidup karena cinta yang terus diperjuangkan.Sasha bangkit, merapikan katalog di atas meja, lalu melangkah menuju kamar Arlan.Sudah waktunya membangunkan jagoan kecilnya, menyiapkan camilan sore, dan be

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 310

    Sasha meletakkan ponselnya di atas meja konter dapur dengan gerakan hati-hati, seolah pesan dari William adalah barang pecah belah yang rapuh. Senyum di bibirnya belum juga surut saat jemarinya kembali menggenggam pisau dapur, melanjutkan potongan wortel yang sempat tertunda.Ketukan pisau di atas talenan kayu menciptakan ritme yang teratur, berpadu dengan desis air yang mulai mendidih di dalam panci. Pikirannya kembali berputar pada kalimat terakhir William.Aku pulang membawa rindu.Kalimat itu terasa begitu asing jika diucapkan William lima tahun lalu. Namun kini, kata-kata sederhana itu justru menjadi kepastian yang selalu mampu menenangkan hatinya.Suara klakson mobil jemputan sekolah memecah lamunannya. Sasha segera mencuci tangan, mengeringkannya dengan serbet, lalu bergegas menuju pintu depan.Begitu pintu dibuka, seorang bocah laki-laki berusia empat tahun dengan seragam taman kanak-kanak bermotif kotak-kotak biru sudah berlari melintasi halaman. Tas punggung bergambar dinosa

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 309

    Kirana menggeser duduknya hingga bahunya bersentuhan dengan bahu Sasha. Ia memperbesar sketsa digital pelataran timur yang baru saja dikirim tim landscape ke grup proyek."Coba lihat ini, Kak," ujarnya antusias sambil menunjuk layar laptop. "Kalau altar dipindah ke sisi timur, saat kalian menikah nanti, matahari pagi bakal muncul tepat dari balik kabut. Cahaya keemasannya langsung mengarah ke altar. Dijamin hasil fotonya bakal luar biasa."Sasha memperhatikan gambar itu dengan saksama. Bibirnya perlahan melengkung membentuk senyum tipis."Indah sekali..."Tanpa sadar pikirannya melayang jauh ke beberapa tahun silam.Ia masih ingat bagaimana canggungnya awal pernikahan mereka. William saat itu bukan pria yang mudah tersenyum. Wajahnya selalu datar, dingin, dan sulit ditebak. Jangankan mengucapkan kata-kata manis, sekadar mengobrol santai dengannya pun terasa seperti sedang berbicara dengan tembok.Sampai akhirnya Arlan hadir.Putra kecil mereka perlahan menjadi jembatan yang mencairkan

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 308

    Hari Senin kembali membawa ritme kesibukan yang padat.Pukul tujuh pagi, William sudah berangkat lebih dulu setelah mencuri satu kecupan singkat di kening Sasha yang masih sibuk menyiapkan bekal Arlan."Aku pulang cepat," janjinya sambil merapikan kerah jas.Sasha hanya tersenyum tipis."Kalimat itu sudah kamu ucapkan tiga hari berturut-turut."William terkekeh pelan. "Kali ini serius.""Kemarin juga bilang begitu.""Aku sedang berusaha memperbaiki reputasi."Sasha menggeleng geli sebelum membenarkan dasi suaminya."Yang penting hati-hati di jalan."William mengecup keningnya sekali lagi."Always."Sekitar pukul sembilan pagi, rumah kembali sunyi setelah Arlan berangkat sekolah.Sasha baru selesai merapikan ruang keluarga ketika bel rumah berbunyi nyaring."Ting tong!"Begitu pintu dibuka, seorang perempuan berambut panjang langsung mengangkat kedua tangannya."Surprise!""Kirana?"Adik William itu nyengir lebar sambil membawa dua paper bag besar."Aku datang membawa amunisi!""Amunis

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 307

    Sesampainya di dalam rumah, suasana hangat langsung menyambut mereka. William menggendong Arlan yang kembali pulas setelah sempat terbangun sebentar saat mobil berhenti di garasi. Dengan langkah seringan mungkin, William membawa jagoan kecilnya itu ke kamar, merebahkannya di atas kasur, dan menyelimutinya hingga sebatas dada setelah melepas sepatu dan kupluk wolnya.Sementara itu, Sasha sibuk di dapur, merapikan kembali tas bekal yang mereka bawa dan memasukkan sisa termos ke dalam wastafel. Tubuhnya memang terasa lelah setelah menempuh perjalanan jauh dan menembus kabut tebal, tetapi hatinya dipenuhi perasaan puas.Saat Sasha sedang membasuh tangannya, sepasang lengan kokoh tiba-tiba kembali melingkar di pinggangnya dari belakang. Aroma tubuh William yang maskulin bercampur sisa wangi kopi instan di lembah tadi langsung menyerbu indra penciumannya. William menyandarkan dagunya di pundak Sasha, mengembuskan napas panjang yang terasa hangat di leher istrinya."Capek?" bisik William ren

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 70

    William melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga ujung sepatu mereka bersentuhan. Aroma maskulin yang tajam campuran antara kayu cendana, tembakau mahal, dan dinginnya ubin menyerbu indra penciuman Sasha. Pria itu mengulurkan tangan, jemarinya yang panjang dan hangat menelusuri garis

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 62

    "Tetap di sini," ujar William, suaranya lebih dingin dari biasanya. Ia membenarkan kerah kemejanya, dasi yang tadi dilepas Sasha sudah ia kenakan kembali, meski sedikit longgar. "Jangan coba-coba berbohong padaku, Sasha. Tidak ada lagi penyesalan yang kuterima. Aku ingin kau kembali dengan keputusa

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 60

    "Aku punya rekaman Bapak memelintir tangan saya, William!" balas Raka, mencoba membalas dendam. "Saya akan tunjukkan rekaman itu ke dekan!""Silakan," tantang William santai. Ia memutar sebuah video di ponsel Raka yang sebelumnya ia sadap. Video itu bukan rekaman William memelintir tangan Raka. Itu

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 24

    Sasha ingin menjerit. Raka benar-benar tidak peka. Ia tidak tahu bahwa remasan tangan Sasha adalah jeritan minta tolong atau mungkin, jeritan kenikmatan yang tertahan."Wanita memang harus dididik, Raka," ucap William santai, menarik kakinya perlahan turun, meninggalkan jejak panas yang membuat Sas

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status