共有

Tak Lagi Sama

作者: Jannah Zein
last update 公開日: 2026-06-30 12:33:13

Bab 2: Tak Lagi Sama

Bilqis melangkah mundur, menutup pintu kamar Andika dengan perlahan hingga terdengar bunyi *klik* yang halus. Di koridor lantai dua yang sepi itu, ia menyandarkan punggungnya pada dinding, mencengkeram map ijazah di dadanya dengan erat. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga terasa ke kerongkongan.

Namun secara perlahan, panas di kelopak matanya membiaskan cairan bening yang mengalir begitu saja membasahi pipinya.

Bilqis menangis terisak, pelan sekali. Pertahanannya melemah seketika, tubuhnya merosot, dia tergugu sendirian di lantai dengan punggung bersandar di dinding.

Seumur-umur dia belum pernah dibentak sekeras ini oleh Andika, kecuali hari ini.

Bertahun-tahun dia mencoba untuk menjadi adik yang baik, menurut aturan Andika. Sosok yang membuatnya merasa hidup dan punya alasan untuk berprestasi.

Tanpa support dari Andika, dia tidak mungkin bisa lulus dari fakultas kedokteran dengan nilai tertinggi seperti ini.

"Tapi kenapa Kak Dika..." Gadis itu merintih pelan. Otaknya berusaha mencerna semua yang dilihatnya barusan.

Sedari kecil, dia begitu dekat dengan Andika, bahkan setiap libur sekolah atau kuliah, dia selalu menginap di rumah pribadi pria itu. Sejauh ini semuanya normal-normal saja, tidak ada tanda-tanda aneh. Andika memperlakukan Bilqis, sewajarnya seperti seorang adik kecil.

Gadis itu menghela nafas, lalu mengusap wajahnya dengan kasar. Dengan sisa tenaganya dia berusaha untuk bangkit, dan membalikkan badan. Bilqis melangkah menuju kamar tamu yang terletak tepat di seberang kamar Andika, kamar yang memang sering ia tempati jika menginap di rumah ini.

Bilqis melemparkan map cokelat itu begitu saja ke lantai, selayaknya benda yang sudah tidak lagi berharga, lalu melepas toga dan jubah sarjananya. Kemudian ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang, menatap langit-langit kamar, namun pandangannya terasa kosong.

Di rumah Papa Albert, dia hanyalah bayangan di bawah kemegahan masa depan Evan.

Semua orang mengenalnya, dan berpikir ia adalah seorang putri yang dicintai.

Namun nyatanya tidak.

Papa Albert dan mama Naina memang mencintainya dan penuh perhatian, tetapi itu tidak berlangsung lama.

Ketika Evan lahir, dia dan Queen langsung tersisih. Adik laki-lakinya itu langsung menjadi pusat perhatian, apalagi adiknya seorang laki-laki yang menjadi tumpuan harapan papa Albert dan mendiang kakek Edward untuk meneruskan kerajaan bisnis mereka.

Sekeras apapun dia mencoba untuk kembali menarik perhatian orang tuanya, tetap saja semua itu tak berhasil.

Dia tetap tersisih.

Bahkan hari ini, di saat Bilqis di ditahbiskan menjadi sarjana kedokteran, papa dan mamanya memilih untuk tidak hadir. Bilqis hanya sendirian di sana, hanya berfoto sendirian, bahkan Andika pun tidak bisa menghadiri acara itu, karena ada operasi penting yang tidak bisa dialihkan ke dokter lain.

Bilqis sudah berusaha untuk kuat, tapi tak urung rasa minder dan sakit hati akan masa lalunya kembali menyeruak di hati.

Dia cukup sadar diri, karena tidaklah sama anak yang lahir di luar perkawinan dengan anak yang lahir di dalam perkawinan. Papa Albert memang bertanggung jawab, bahkan memberikan beberapa persen saham NZB Fried Sliced Chicken, salah satu usaha sampingan papa Albert kepadanya dan Queen.

Itu cukup untuk sebagai bekal hidup dan masa depan mereka berdua, meskipun tidak bisa dibilang berlebihan. Dikenal sebagai dua putri dari konglomerat terkenal di negeri ini, kehidupan Bilqis dan Queen bisa dikatakan sangat sederhana.

Itulah kenapa Queen memilih melanjutkan pendidikannya ke Australia, bukan karena dibiayai oleh papa Albert ataupun Mama Cherry, ibu kandung Queen, tetapi hasil dari keuntungan dividen yang masuk ke rekeningnya. Queen harus pintar-pintar mengelola semua itu agar jangan sampai tekor bandar.

Sementara Bilqis yang bercita-cita sebagai dokter juga melakukan hal yang sama, itulah satu-satunya alasan terkuat kenapa begitu pulang dari acara wisuda, dia langsung pergi ke rumah Andika.

Dia lulus dengan nilai terbaik, dan Andika haruslah orang pertama yang mengetahui semua itu.

Lagian, untuk apa mengabarkan pencapaiannya ini kepada papa dan mama yang tak pernah peduli dengan usaha kerasnya selama ini untuk terus berprestasi?

Gadis itu lagi-lagi menghela nafas, lalu mengurut dadanya sendiri yang terasa begitu sesak.

Kenapa nasib baik sepertinya tidak mau berpihak kepadanya?

Kenapa setiap orang yang kenal dan dekat dengannya hanya ingin memanfaatkannya saja, bahkan Andika sekalipun, pria yang ia percaya menjadi tempatnya bersandar sejak masih berusia 10 tahun?

Nyatanya, Andika menyebut nama Bilqis saat memuaskan hasrat biologisnya sendirian, sebagai lelaki dewasa, di kamar itu.

Diam-diam ia mengepalkan tangan. Bilqis merasa jijik dengan dirinya sendiri, menyadari jika ia selama ini sudah tertipu dengan sikap manis yang ditunjukkan oleh pria itu.

Dia yang sudah terlalu nyaman dengan Andika dan tak pernah berpikir apapun, soal kenyataan jika Andika dan Bilqis itu tak sedarah. Bilqis tetap menganggap semua perhatian dan kasih sayang Andika selama ini adalah hal yang normal, wajar seperti seorang kakak yang mengayomi.

Apa sedemikian buruk status yang disandangnya saat ini? Apa dia tidak boleh merasa aman dan menikmati perhatian dari seorang lelaki dewasa yang tidak bisa lagi didapatnya dari papanya sejak kelahiran Evan?

Dia cuma punya Andika. Dia tidak punya siapa-siapa lagi. Sementara setelah kejadian ini, Bilqis yakin hubungan mereka tidak akan lagi sama.

Apa yang harus dia lakukan?

"Kenapa semuanya jadi begini sih? Aku takut...." Gadis itu mengerang, sembari mengacak rambutnya. Dia melemparkan guling ke samping tempat tidur lalu bangkit.

"Tapi aku nggak bisa lari gitu aja, aku harus bicara nanti sama Kak Dika." Bilqis membatin. Dia bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi.

Mandi keramas seolah menjadi pelarian bagi Bilqis. Bulir-bulir air yang menetes dan membasahi sekujur tubuhnya seolah energi dingin yang membuat pikiran gadis itu sedikit lebih tenang.

Dua puluh menit kemudian, pintu kamar mandi itu terbuka.

Bilqis melangkah keluar dengan kulit yang tampak segar dan kemerahan. Tubuh indahnya itu hanya dibalut oleh selembar handuk putih kecil berukuran sedada, menyisakan bahu mulus yang terekspos sempurna dan paha jenjang yang basah. Rambut hitam panjangnya yang setengah basah ia biarkan tergerai acak-acakan.

Tepat di detik itu, pintu kamar tamu terbuka dengan kasar.

Andika muncul di ambang pintu. Pria itu tampaknya sudah merapikan diri; kemejanya sudah dikancingkan kembali dengan rapi walau tanpa dasi, dan rambutnya yang berantakan tadi sudah disisir ke belakang.

Wajah sang dokter obgyn masih tampak tegang,

Andika tahu, dia salah. Bilqis itu terlalu rapuh, tak bisa di bentak sama sekali. Dia khilaf dengan sikapnya yang keras pada gadis itu. Namun dia harus tetap membujuk Bilqis untuk pulang ke rumahnya sendiri. Demi kewarasannya

Andika hapal betul, setiap kali punya masalah, Bilqis selalu menghabiskan waktu disini.

Tapi sekarang dia tak bisa. Dia sudah ketahuan Bilqis.

Ini sangat memalukan. Bagaimana bisa dia menjadikan adik angkatnya sendiri sebagai fantasi seksualnya?

Tapi ini memang kenyataannya. Andika tidak tahu entah sejak kapan dia mulai merindukan Bilqis, entah sejak kapan mata hatinya terbuka, dan melihat Bilqis bukan lagi seperti adik kecil yang manja, tetapi wanita dewasa yang bisa membangkitkan hasrat purba di dalam dirinya.

Bilqis terlalu cantik, dan dia tak bisa meredam keinginan liarnya untuk memiliki Bilqis seutuhnya.

Namun, langkah Andika seketika terkunci rapat di ambang pintu. Sepasang manik mata elangnya terpana, membelalak menatap pemandangan di hadapannya.

Uap hangat dari kamar mandi yang menguar tipis seolah semakin mengaburkan akal sehat Andika.

Pandangannya tak bisa dialihkan dari lekuk tubuh Bilqis yang hanya tertutup handuk tipis, tetesan air yang mengalir di tulang selangkanya yang indah, dan tatapan mata gadis itu....

Kenapa tatapan sayu, dan sisa sembab di sepasang mata gadis itu seolah begitu mengundang?

Atmosfer di dalam kamar itu mendadak berubah menjadi sangat pekat dan mencekik.

Andika menelan ludah dengan susah payah, merasakan dadanya kembali bergemuruh hebat oleh gairah yang mati-matian ia tekan sejak tadi.

*

Hallo teman-teman.. terima kasih sudah mampir di cerita ini. Selamat datang dan bergabung di keseruan Bilqis sama kak Dika. Semoga kalian betah ya.

Btw, bagi yang masih penasaran dengan latar belakang Bilqis dan Andika ini, silahkan baca novel saya yang berjudul, "Bukan Inginku Ada Diantara Kalian."

Terima kasih.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Dalam Pelukan Dokter Andika, Sah!   Keraguan yang merayap

    BAB 89: Keraguan yang Merayap​Kata-kata Novia bagaikan racun yang menjalar pelan namun mematikan di dalam benak Bilqis. Begitu pintu ruang kerja Andika tertutup rapat setelah Novia dan Roy melangkah pergi, keheningan yang menyisakan kehampaan luar biasa langsung menyergap wanita muda itu.​Bilqis melangkah gulai menuju sofa, lalu meluruhkan tubuhnya di sana. Pandangannya kosong menatap lantai marmer yang mengilap. Suara tajam Novia terus bergaung tanpa ampun di dalam kepalanya: “Apa kamu tega melihat pria yang kamu cintai kehilangan gelar, karier, dan harga dirinya hanya karena mempertahankan pernikahan siri ini?”​"Mas Andika..." bisik Bilqis dengan suara serak, tercekik oleh rasa bersalah yang teramat dalam.​Pria itu telah memberikan segalanya untuk melindungi hubungan mereka. Kecupan hangat di keningnya tadi di hadapan orang tuanya adalah bukti betapa beraninya Andika berdiri memasang badan. Namun, justru keberanian tanpa pamrih itulah yang kini menusuk dada Bilqis. Andika terlal

  • Dalam Pelukan Dokter Andika, Sah!   Alibi

    ​BAB 72: Alibi ​Pandangan mata Andika tetap tenang, tak ada sedikit pun riak kegugupan yang terpancar dari wajah tegasnya. Dengan gerakan elegan, ia meletakkan serbet kain ke atas pangkuannya, lalu menyunggingkan senyum tipis—senyum profesional yang biasa ia gunakan saat menghadapi pertanyaan kritis dari para wartawan atau jajaran direksi.​"Mama tahu sendiri, zaman sekarang edukasi kesehatan bukan cuma dilakukan di dalam ruang praktik," buka Andika dengan suara berat nan mantap. "Pihak marketing produk nutrisi kehamilan itu menawarkan kontrak endorsement resmi dengan nilai yang sangat fantastis untuk akun profesional Dokter Andika dan promosi terpadu di RSIA Kiera."​Papi Roy yang mendengarnya langsung mengangguk-angguk paham, ketertarikan tampak jelas di raut wajahnya. "Oh, jadi kamu ambil project endorsement produk medis juga, Dika?"​"Iya, Papi," jawab Andika lancar tanpa jeda ragu sedikit pun. "Sebagai dokter spesialis obgyn, Andika punya tanggung jawab moral. Andika tidak mau

  • Dalam Pelukan Dokter Andika, Sah!   Jamuan Makan Malam yang Hangat tapi Dingin

    ​BAB 71: Jamuan Makan Malam yang Hangat tapi Dingin​Lampu gantung kristal di atas meja makan bernuansa klasik Eropa itu memancarkan pendar cahaya keemasan yang hangat. Denting sendok dan garpu beradu pelan dengan piring porselen bermerek, menciptakan irama hening di tengah makan malam keluarga yang tampak sempurna dari luar.​Andika duduk di salah satu sisi meja, mengenakan kemeja formal berwarna biru gelap yang lengannya dilipat rapi hingga siku. Di hadapannya duduk papi Roy—suami kedua mama Novia—seorang pria paruh baya berpenampilan karismatik yang merupakan sahabat dekat Albert. Sementara di ujung meja, mama Novia duduk dengan keanggunan seorang wanita kalangan atas yang selalu memegang kendali.​"Dika, Papi dengar dari Albert, laporan keuangan dan performa operasional RSIA Kiera bulan ini melesat naik," buka papi Roy memecah keheningan seraya memotong daging steak di piringnya. "Sistem manajemen baru yang kalian terapkan terbukti efektif memotong biaya operasional tanpa mengura

  • Dalam Pelukan Dokter Andika, Sah!   Hampir Saja

    ​BAB 70: Hampir Saja​Suara derum mesin mobil Novia yang perlahan menghilang di balik pagar depan seketika memutus ketegangan yang sejak tadi menghimpit dada. Keheningan kembali melingkupi area dapur, namun kali ini atmosfernya terasa begitu lengang dan menyisakan sisa-sisa rasa panik yang masih membekas.​"Huff... Hampir saja." Andika menghembuskan nafasnya dengan kasar.​Pria itu langsung menyandarkan punggungnya pada tepi meja pantry, menyisir rambut hitamnya ke belakang dengan jemari yang sempat sedikit tegang. Sarafnya yang biasa terlatih tenang di meja operasi sempat berada di titik kritis saat mata ibunya tertuju tepat pada kotak susu di kabinet.​Di sampingnya, Bilqis masih mematung di dekat dispenser. Bahunya yang tadi tegang perlahan merosot, disusul helaan napas panjang yang sarat akan rasa lega. Telapak tangannya yang dingin saling bertaut erat.​"Mas Dika..." suara Bilqis terdengar lirih, hampir berupa bisikan. "Jantungku rasanya mau melompat keluar tadi. Tante Novia tat

  • Dalam Pelukan Dokter Andika, Sah!   Kecurigaan yang Merebak

    BAB 69: Kecurigaan yang Merebak​Suasana ruang makan yang tadinya diliputi canda tawa hangat seketika membeku saat langkah kaki Novia makin mendekat ke area dapur. Wanita tua yang selalu tampil anggun dan berkelas itu mengedarkan pandangan ke sekeliling rumah tempat tinggal anak laki-lakinya.​"Mama... kok tidak beri kabar dulu kalau mau datang?" Andika mengulang pertanyaannya dengan nada setenang mungkin, berusaha menutupi keterkejutan di wajahnya seraya melangkah mendekati sang ibu.Novia melepas kacamata hitamnya, meletakkannya di atas meja pantry. Tangannya mengibaskan tas bermerek sebelum menatap Andika dengan kening berkerut halus.​"Mama habis dari rumah tante Naina, sekalian lewat daerah sini jadi Mama mampir," jawabnya santai. Matanya lalu bergulir menatap Bilqis yang berdiri agak kaku di dekat meja makan. "Eh, ada Bilqis juga di sini? Pagi-pagi sekali kamu sudah di rumah Dika, Qis?"​Jantung Bilqis berdesir hebat. Rasa panik sempat merayapi dadanya, namun dengan cepat ia men

  • Dalam Pelukan Dokter Andika, Sah!   Pagi Yang Terusik

    BAB 68: Pagi yang Terusik​Keheningan malam di kamar utama itu terasa begitu sakral. Pijar lampu tidur yang temaram memantulkan bayangan dua tubuh yang saling menempel erat tanpa jarak. Dinding kamar menjadi saksi bisu bagaimana rasa cinta, kerinduan, dan kepasrahan meluap tanpa lagi dihalangi oleh tembok canggung atau rasa takut akan masa lalu.​Jemari tegap Andika menyusup lembut di antara sela-sela jemari Bilqis, menguncinya di atas bantal empuk. Napas pria itu memburu pelan, beradu dengan helaan napas Bilqis yang tak kalah tidak teratur. Setiap sentuhan, kecupan, dan buaian lembut yang diberikan Andika terasa begitu intens—sebuah penyatuan yang tak hanya melibatkan fisik, melainkan juga ikatan jiwa yang kian menguat.​"Mas..." bisik Bilqis seraya memejamkan mata, memeluk leher tegap suaminya rapat-rapat saat gelombang rasa hangat membuncah memenuhi dadanya.​Andika mendaratkan kecupan-kecupan halus di sepanjang garis rahang hingga leher mulus Bilqis, menghirup aroma wangi alami tu

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status