Se connecterBab 2: Tak Lagi Sama
Bilqis melangkah mundur, menutup pintu kamar Andika dengan perlahan hingga terdengar bunyi *klik* yang halus. Di koridor lantai dua yang sepi itu, ia menyandarkan punggungnya pada dinding, mencengkeram map ijazah di dadanya dengan erat. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga terasa ke kerongkongan. Namun secara perlahan, panas di kelopak matanya membiaskan cairan bening yang mengalir begitu saja membasahi pipinya. Bilqis menangis terisak, pelan sekali. Pertahanannya melemah seketika, tubuhnya merosot, dia tergugu sendirian di lantai dengan punggung bersandar di dinding. Seumur-umur dia belum pernah dibentak sekeras ini oleh Andika, kecuali hari ini. Bertahun-tahun dia mencoba untuk menjadi adik yang baik, menurut aturan Andika. Sosok yang membuatnya merasa hidup dan punya alasan untuk berprestasi. Tanpa support dari Andika, dia tidak mungkin bisa lulus dari fakultas kedokteran dengan nilai tertinggi seperti ini. "Tapi kenapa Kak Dika..." Gadis itu merintih pelan. Otaknya berusaha mencerna semua yang dilihatnya barusan. Sedari kecil, dia begitu dekat dengan Andika, bahkan setiap libur sekolah atau kuliah, dia selalu menginap di rumah pribadi pria itu. Sejauh ini semuanya normal-normal saja, tidak ada tanda-tanda aneh. Andika memperlakukan Bilqis, sewajarnya seperti seorang adik kecil. Gadis itu menghela nafas, lalu mengusap wajahnya dengan kasar. Dengan sisa tenaganya dia berusaha untuk bangkit, dan membalikkan badan. Bilqis melangkah menuju kamar tamu yang terletak tepat di seberang kamar Andika, kamar yang memang sering ia tempati jika menginap di rumah ini. Bilqis melemparkan map cokelat itu begitu saja ke lantai, selayaknya benda yang sudah tidak lagi berharga, lalu melepas toga dan jubah sarjananya. Kemudian ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang, menatap langit-langit kamar, namun pandangannya terasa kosong. Di rumah Papa Albert, dia hanyalah bayangan di bawah kemegahan masa depan Evan. Semua orang mengenalnya, dan berpikir ia adalah seorang putri yang dicintai. Namun nyatanya tidak. Papa Albert dan mama Naina memang mencintainya dan penuh perhatian, tetapi itu tidak berlangsung lama. Ketika Evan lahir, dia dan Queen langsung tersisih. Adik laki-lakinya itu langsung menjadi pusat perhatian, apalagi adiknya seorang laki-laki yang menjadi tumpuan harapan papa Albert dan mendiang kakek Edward untuk meneruskan kerajaan bisnis mereka. Sekeras apapun dia mencoba untuk kembali menarik perhatian orang tuanya, tetap saja semua itu tak berhasil. Dia tetap tersisih. Bahkan hari ini, di saat Bilqis di ditahbiskan menjadi sarjana kedokteran, papa dan mamanya memilih untuk tidak hadir. Bilqis hanya sendirian di sana, hanya berfoto sendirian, bahkan Andika pun tidak bisa menghadiri acara itu, karena ada operasi penting yang tidak bisa dialihkan ke dokter lain. Bilqis sudah berusaha untuk kuat, tapi tak urung rasa minder dan sakit hati akan masa lalunya kembali menyeruak di hati. Dia cukup sadar diri, karena tidaklah sama anak yang lahir di luar perkawinan dengan anak yang lahir di dalam perkawinan. Papa Albert memang bertanggung jawab, bahkan memberikan beberapa persen saham NZB Fried Sliced Chicken, salah satu usaha sampingan papa Albert kepadanya dan Queen. Itu cukup untuk sebagai bekal hidup dan masa depan mereka berdua, meskipun tidak bisa dibilang berlebihan. Dikenal sebagai dua putri dari konglomerat terkenal di negeri ini, kehidupan Bilqis dan Queen bisa dikatakan sangat sederhana. Itulah kenapa Queen memilih melanjutkan pendidikannya ke Australia, bukan karena dibiayai oleh papa Albert ataupun Mama Cherry, ibu kandung Queen, tetapi hasil dari keuntungan dividen yang masuk ke rekeningnya. Queen harus pintar-pintar mengelola semua itu agar jangan sampai tekor bandar. Sementara Bilqis yang bercita-cita sebagai dokter juga melakukan hal yang sama, itulah satu-satunya alasan terkuat kenapa begitu pulang dari acara wisuda, dia langsung pergi ke rumah Andika. Dia lulus dengan nilai terbaik, dan Andika haruslah orang pertama yang mengetahui semua itu. Lagian, untuk apa mengabarkan pencapaiannya ini kepada papa dan mama yang tak pernah peduli dengan usaha kerasnya selama ini untuk terus berprestasi? Gadis itu lagi-lagi menghela nafas, lalu mengurut dadanya sendiri yang terasa begitu sesak. Kenapa nasib baik sepertinya tidak mau berpihak kepadanya? Kenapa setiap orang yang kenal dan dekat dengannya hanya ingin memanfaatkannya saja, bahkan Andika sekalipun, pria yang ia percaya menjadi tempatnya bersandar sejak masih berusia 10 tahun? Nyatanya, Andika menyebut nama Bilqis saat memuaskan hasrat biologisnya sendirian, sebagai lelaki dewasa, di kamar itu. Diam-diam ia mengepalkan tangan. Bilqis merasa jijik dengan dirinya sendiri, menyadari jika ia selama ini sudah tertipu dengan sikap manis yang ditunjukkan oleh pria itu. Dia yang sudah terlalu nyaman dengan Andika dan tak pernah berpikir apapun, soal kenyataan jika Andika dan Bilqis itu tak sedarah. Bilqis tetap menganggap semua perhatian dan kasih sayang Andika selama ini adalah hal yang normal, wajar seperti seorang kakak yang mengayomi. Apa sedemikian buruk status yang disandangnya saat ini? Apa dia tidak boleh merasa aman dan menikmati perhatian dari seorang lelaki dewasa yang tidak bisa lagi didapatnya dari papanya sejak kelahiran Evan? Dia cuma punya Andika. Dia tidak punya siapa-siapa lagi. Sementara setelah kejadian ini, Bilqis yakin hubungan mereka tidak akan lagi sama. Apa yang harus dia lakukan? "Kenapa semuanya jadi begini sih? Aku takut...." Gadis itu mengerang, sembari mengacak rambutnya. Dia melemparkan guling ke samping tempat tidur lalu bangkit. "Tapi aku nggak bisa lari gitu aja, aku harus bicara nanti sama Kak Dika." Bilqis membatin. Dia bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi. Mandi keramas seolah menjadi pelarian bagi Bilqis. Bulir-bulir air yang menetes dan membasahi sekujur tubuhnya seolah energi dingin yang membuat pikiran gadis itu sedikit lebih tenang. Dua puluh menit kemudian, pintu kamar mandi itu terbuka. Bilqis melangkah keluar dengan kulit yang tampak segar dan kemerahan. Tubuh indahnya itu hanya dibalut oleh selembar handuk putih kecil berukuran sedada, menyisakan bahu mulus yang terekspos sempurna dan paha jenjang yang basah. Rambut hitam panjangnya yang setengah basah ia biarkan tergerai acak-acakan. Tepat di detik itu, pintu kamar tamu terbuka dengan kasar. Andika muncul di ambang pintu. Pria itu tampaknya sudah merapikan diri; kemejanya sudah dikancingkan kembali dengan rapi walau tanpa dasi, dan rambutnya yang berantakan tadi sudah disisir ke belakang. Wajah sang dokter obgyn masih tampak tegang, Andika tahu, dia salah. Bilqis itu terlalu rapuh, tak bisa di bentak sama sekali. Dia khilaf dengan sikapnya yang keras pada gadis itu. Namun dia harus tetap membujuk Bilqis untuk pulang ke rumahnya sendiri. Demi kewarasannya Andika hapal betul, setiap kali punya masalah, Bilqis selalu menghabiskan waktu disini. Tapi sekarang dia tak bisa. Dia sudah ketahuan Bilqis. Ini sangat memalukan. Bagaimana bisa dia menjadikan adik angkatnya sendiri sebagai fantasi seksualnya? Tapi ini memang kenyataannya. Andika tidak tahu entah sejak kapan dia mulai merindukan Bilqis, entah sejak kapan mata hatinya terbuka, dan melihat Bilqis bukan lagi seperti adik kecil yang manja, tetapi wanita dewasa yang bisa membangkitkan hasrat purba di dalam dirinya. Bilqis terlalu cantik, dan dia tak bisa meredam keinginan liarnya untuk memiliki Bilqis seutuhnya. Namun, langkah Andika seketika terkunci rapat di ambang pintu. Sepasang manik mata elangnya terpana, membelalak menatap pemandangan di hadapannya. Uap hangat dari kamar mandi yang menguar tipis seolah semakin mengaburkan akal sehat Andika. Pandangannya tak bisa dialihkan dari lekuk tubuh Bilqis yang hanya tertutup handuk tipis, tetesan air yang mengalir di tulang selangkanya yang indah, dan tatapan mata gadis itu.... Kenapa tatapan sayu, dan sisa sembab di sepasang mata gadis itu seolah begitu mengundang? Atmosfer di dalam kamar itu mendadak berubah menjadi sangat pekat dan mencekik. Andika menelan ludah dengan susah payah, merasakan dadanya kembali bergemuruh hebat oleh gairah yang mati-matian ia tekan sejak tadi. * Hallo teman-teman.. terima kasih sudah mampir di cerita ini. Selamat datang dan bergabung di keseruan Bilqis sama kak Dika. Semoga kalian betah ya. Btw, bagi yang masih penasaran dengan latar belakang Bilqis dan Andika ini, silahkan baca novel saya yang berjudul, "Bukan Inginku Ada Diantara Kalian." Terima kasih.BAB 118: Tak Ada Yang Sempurna (BAB PENUTUP)Delapan bulan kemudian.Lorong ruang bersalin RSUD Setia Budi dipenuhi ketegangan berbaur kehangatan. Jarum jam dinding menunjukkan pukul dua dini hari. Di dalam kamar bersalin utama, erangan halus bertukar dengan napas teratur yang dipandu oleh tim medis.Andika melepas sebagian profesionalismenya sebagai dokter spesialis kandungan malam itu. Sebagai gantinya, ia hadir sepenuhnya sebagai seorang suami. Ia berdiri di sisi kiri tempat tidur bersalin, menggenggam erat jemari Bilqis yang dingin dan berpeluh. Dengan tangan kanannya, Andika mengusap lembut kening istrinya, membisikkan doa-doa penguat di setiap selang gelombang kontraksi."Sedikit lagi, Sayang... Tarik napas pelan, hembuskan. Mas ada di sini, kamu luar biasa," bisik Andika, suaranya yang serak menyembunyikan getar emosi yang luar biasa.Di sisi kanan tempat tidur, Naina tak henti-hentinya mengusap rambut putri sulungnya. Air mata mengalir dipipinya yang mulai digaris keripu
BAB 117: Muara HidupSuara panggilan antrean dari mikrofon suster Rini terdengar samar-samar menembus dinding kedap suara ruang kerja Andika. Di dalam ruangan sejuk itu, Bilqis baru saja menyelesaikan potongan buah apel terakhirnya. Rasa lega menyelimuti hatinya saat ia mengelus perutnya yang masih rata. Tidak ada lagi rasa mual yang menyiksa seperti kemarin pagi, seolah sang janin di dalam sana mengerti bahwa kedua orang tuanya tengah dikelilingi kedamaian.Waktu bergulir cepat di RSUD Setia Budi. Jarum jam dinding tepat menunjukkan pukul satu siang lewat lima belas menit ketika pintu penghubung ruang kerja berbunyi pelan. Andika melangkah masuk seraya melepas jas putih dokternya. Garis-garis kelelahan tampak samar di paras tampannya setelah memeriksa puluhan pasien sepanjang pagi, namun binar matanya seketika hangat begitu tatapannya jatuh pada sang istri."Bagaimana, Sayang? Bosan menunggu Mas?" tanya Andika lembut seraya menggantung jas dokternya di kapstok kayu, lalu melangka
BAB 116: Kagum dalam KeheninganPintu kayu ruang kerja Andika kembali tertutup rapat setelah Suster Rini berpamitan keluar. Bilqis mengulas senyum tipis, lalu meraih potongan buah apel segar yang disajikan dengan rapi di atas nampan. Rasa manis dan renyah apel itu seketika memanjakan lidahnya, mengusir sisa-sisa rasa mual yang sempat mengintai. Di layar televisi, tayangan berita tentang dinamika bisnis dan politik terus bergulir, namun hati Bilqis sudah berada di tempat yang jauh lebih tenang, di dalam perlindungan hangat sang suami.Sementara itu, di balik meja pendaftaran Poliklinik Kebidanan dan Kandungan yang padat oleh antrean pasien, Suster Rini berjalan kembali dengan langkah yang perlahan melambat. Nampan kosong di genggamannya terasa sedikit lebih berat dari biasanya.Perawat muda itu menarik kursi kerjanya, lalu mendudukkan diri di depan layar komputer pendaftaran. Tatapannya tertuju lurus ke arah pintu ruang kerja Dokter Andika yang tertutup rapat, lalu beralih menyapu
BAB 115: Dokter Khusus di Rumah SendiriSuasana rumah dinas terasa jauh lebih lapang dan hangat setelah kepulangan Naina ke Jakarta. Tidak ada lagi ketegangan yang menggantung di udara, tidak ada lagi rasa cemas, yang tersisa di rumah nan sederhana itu hanyalah kedamaian yang telah lama dinantikan oleh Andika dan Bilqis.Matahari pagi baru saja menyembulkan sinarnya yang hangat dari balik pepohonan. Di dalam dapur, aroma harum teh chamomile yang diseduh hangat menguar pelan, membaur dengan aroma roti panggang.Bilqis berdiri di dekat kompor, bersiap untuk menggoreng telur mata sapi untuk sarapan mereka. Namun, baru saja ia menyalakan kompor dan menuang sedikit minyak ke atas wajan, sebuah lengan kokoh melingkar hangat di pinggangnya dari arah belakang."Eits, mau buat apa, Sayang?" bisik suara bernada rendah yang sangat familiar tepat di samping telinganya.Bilqis mengecap bibirnya pelan, menoleh sedikit seraya tersenyum manis. Andika sudah tampil segar dengan kemeja kasualnya,
BAB 114: Sambutan Hangat Suara deru pendingin udara di ruang kerja Andika terasa begitu sejuk, menenangkan gemuruh kebahagiaan yang masih menyelimuti dada Bilqis. Ponsel di genggamannya perlahan ia letakkan di atas meja. Ucapan selamat dan isak haru dari Queen, saudara sesusunya di Australia masih bergema hangat di ingatannya. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Bilqis merasakan kebebasan mutlak atas jalan hidup yang ia pilih sendiri.Jemari lentiknya bergerak lembut mengusap permukaan perutnya yang masih datar. Ada sesungging senyum tulus yang terukir di bibirnya. Di dalam sana, benih cinta yang ia rajut bersama Andika tengah tumbuh, menjadi jangkar yang mengikat mereka dalam ikatan yang tak tergoyahkan oleh ambisi atau keangkuhan siapa pun.Klek.Pintu penghubung antara ruang kerja dan ruang periksa utama terbuka pelan. Andika melangkah masuk dengan senyum hangat yang langsung terpancar begitu tatapan mata mereka beradu. Pria itu melepas stetoskop yang melingkar di lehe
BAB 113: Sukacita di Rumah SakitDi dalam ruang periksa Poliklinik Kebidanan dan Kandungan RSUD Setia Budi, keheningan hangat yang sempat tercipta paska pemeriksaan USG perlahan mencair. Andika mengusap lembut sisa gel ultrasound di perut halus istrinya dengan tisu steril, lalu membantunya bangkit dan duduk di tepi tempat tidur pemeriksaan. Bilqis merapikan pakaiannya dengan jemari yang masih sedikit gemetar karena rasa haru yang membuncah di dalam dada.Setelah mematikan layar monitor USG, Andika melangkah menuju pintu dan memutar kunci dari dalam. Suster Rini, perawat senior yang sejak pagi berjaga di area pendaftaran poliklinik, berdiri di dekat meja administrasi dengan wajah penuh rasa ingin tahu yang tak bisa disembunyikan."Bagaimana hasilnya, Dokter Dika?" tanya Suster Rini ramah, matanya melirik sekilas ke arah Bilqis yang sedang melangkah pelan mendekati meja kerja Andika.Andika menyunggingkan senyum paling lebar yang belum pernah dilihat oleh para staf medis di RSUD it







