แชร์

164. Axel

ผู้เขียน: Kafkaika
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-12-18 19:53:40

“Mama?!”

Aura terpaku. Sejenak dia merasa seperti sedang bermimpi. Wanita yang selama ini hanya hadir dalam rindunya, kini berdiri di samping box bayi itu, nyata, dekat, dan tersenyum ke arahnya.

Melihat putrinya membeku dengan wajah tak percaya, Ranti mendorong perlahan box bayi itu mendekati Aura, lalu menowel lengan putrinya pelan.

“Kau seperti melihat hantu saja?” protesnya, berusaha mencairkan suasana, meski suaranya sendiri terdengar bergetar.

Aura menatap wanita itu, lalu beralih ke bayi di dalam box yang sedang tertidur pulas dalam kain bedongnya. Dadanya sesak oleh perasaan bahagia yang menumpuk sekaligus. Dia bingung sendiri—siapa yang lebih dulu harus dipeluknya. Bayinya, atau mamanya. Rasa bahagia itu begitu besar sampai-sampai Aura kehilangan kata-kata, bahkan lupa bagaimana caranya bernapas dengan tenang.

Sang mama kembali mengingatkan, lembut namun tegas, “Kau tak mau memeluk bayimu?”

Aura tersentak. Dia baru tersadar lalu mengangguk pelan.

“Iya, Ma…” jawabnya lirih, me
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Dalam Pelukan Hangat Paman Suamiku   204. Kemarahan Pras

    “Ada apa sih, Mika? Kenapa wajahmu ditekuk begitu?” Veny menghampiri putrinya yang nampak cemberut di koridor menuju ruang makan. Ia mencoba meraih bahu Mikayla, namun gadis itu nampak sangat gelisah.“Kita memang tidak pernah diharapkan di sini, Ma. Oma juga sepertinya sudah tidak peduli lagi padaku,” keluh Mikayla dengan nada pedas. Hatinya mencelos menyadari sikap Oma Eliyas yang kini sangat berubah. Padahal, dulu Oma adalah benteng pertahanannya, orang yang selalu membelanya habis-habisan di depan siapa pun.“Memangnya kenapa? Apa yang terjadi?” Veny menghentikan langkahnya, rasa penasarannya terusik. Ia baru saja selesai bersolek di kamar dan merasa telah ketinggalan informasi penting.“Aura mengadu pada Papa, lalu Papa marah-marah dan mengusirku!” Mikayla bercerita dengan dada yang naik turun menahan dongkol. Di matanya, Aura adalah provokator ulung. “Ayo kita keluar saja dari sini, Ma. Cari hotel atau rumah lain. Aku muak!”Veny mendengus, dadanya berdesir panas mendengar Pras

  • Dalam Pelukan Hangat Paman Suamiku   203. Kecemburuan Mikayla

    Pagi harinya, suasana hati Aura berangsur membaik seiring dengan kondisi Axel yang nampak ceria lagi. Setelah semalaman nyaris tak memejamkan mata, Aura merasa lega luar biasa, meski ada lingkaran hitam yang menghiasi matanya yang lesu.Pras menghampirinya dan mengambil alih sang putra. “Biar aku yang urus Axel. Kamu istirahatlah sebentar.”Aura mengangguk lemah, menyadari betapa berantakannya dia saat ini. “Maaf ya, Mas. Aku pasti terlihat kacau dan tidak menarik sama sekali pagi ini.”“It's okay. Itu wajar karena kau merawat anakku semalaman,” sahut Pras santai. Bagi Pras, itu adalah hal logis—seorang ibu kelelahan karena menjaga anak yang sakit bukanlah masalah besar.“Beneran tidak apa-apa, Mas?” goda Aura pelan. Senyum tipis mulai terbit di bibirnya melihat putranya sudah kembali lincah.“Iya, bagaimana lagi?” Pras tampak bingung. Pemikirannya sederhana: ia memaklumi kondisi Aura.Namun bagi Aura, jawaban Pras terasa terlalu "datar". Seolah Pras hanya pasrah menerima keadaan Aura

  • Dalam Pelukan Hangat Paman Suamiku   202. Makan Malam Tanpa Aura

    Malam itu, meja makan di kediaman Eliyas nampak penuh, namun terasa hambar. Itu karena Aura tidak ikut makan malam bersama mereka.Aura bukannya sengaja ingin menghindari makan malam bersama atau menunjukkan sikap tidak suka pada "tamu" yang baru datang itu. Setiap hari, ia adalah orang pertama yang memastikan Oma Eliyas duduk dengan nyaman dan menemaninya makan.Namun kali ini, keadaannya berbeda. Axel, jagoan kecilnya, sedang terserang demam. Mungkin efek karena giginya mulai tumbuh, membuat bayi itu sejak sore tadi sangat rewel dan tidak mau lepas dari pelukan mamanya.Dengan ketulusan hati, Aura meminta Pras untuk tetap turun menemani Oma Eliyas makan malam bersama Veny dan Mikayla. Walau Pras berkali-kali menawarkan untuk menunggunya makan nanti, Aura tetap menolak karena tak ingin mertuanya makan tanpa ditemani anak laki-lakinya.“Badannya masih hangat, Bu?” tanya Neni dengan nada cemas, berdiri sigap di samping Aura yang sedang menimang Axel.“Sudah mendingan, Nen. Tadi setelah

  • Dalam Pelukan Hangat Paman Suamiku   201. Tamu Tak Diundang

    Bayi berusia enam bulan itu sedang asyik berguling-guling di dalam box-nya. Tangan mungilnya berusaha meraih mainan kerincingan yang baru saja dilemparnya sendiri. Begitu jemari kecilnya berhasil mencengkeram mainan itu, suara gelak tawanya pecah, memenuhi ruangan. Axel seolah sangat puas atas pencapaiannya sendiri.“Sudah pintar berguling-guling saja dia?” tukas Pras dengan binar bangga di matanya. Ia menatap putranya, takjub melihat betapa cepat perkembangan bocah itu. Rasanya baru kemarin Axel "brojol" ke dunia, hanya bisa bengong jika diajak bicara. Sekarang, jagoan kecilnya itu sudah banyak tingkah dan mulai pandai mengoceh.“Bu-bu-bu-bu…” oceh Axel sembari kembali melempar mainannya. Ia kemudian tengkurap, kepalanya mendongak mencari keberadaan benda yang baru saja ia buang. Begitu matanya menemukan mainan itu, ia langsung berusaha meraihnya. Meski belum bisa merangkak, Axel punya insting yang kuat; ia berguling-guling dengan gigih hingga jaraknya cukup dekat untuk menyambar ben

  • Dalam Pelukan Hangat Paman Suamiku   200. Kebanjiran

    Hujan begitu deras turun sejak pagi buta, seolah langit sedang menumpahkan seluruh kemarahannya. Mikayla berdiri di depan jendela dengan wajah gelisah. Air di jalanan sudah mulai meluap dan merayap masuk ke halaman rumah mereka yang rendah. Jika hujan tidak segera berhenti dalam hitungan jam, ia yakin rumah mewah ini akan berubah menjadi kolam lumpur.Keresahannya semakin memuncak karena sang mama belum juga pulang sejak semalam. Padahal ini sudah siang hari. Mikayla sudah berkali-kali mencoba menghubungi nomor telepon Veny, namun operator hanya menjawab dengan nada datar bahwa nomor tersebut tidak dapat dihubungi. Baru saja gadis itu menyambar kunci mobilnya hendak keluar untuk mencari, sosok Veny terlihat muncul dari balik pagar yang tergenang air.Veny datang dengan kondisi yang mengenaskan; basah kuyup, rambut kusut masai, dan langkahnya nampak sempoyongan.“Mama dari mana sih? Pergi sejak semalam, siang begini baru pulang!” Mikayla langsung menyemprot mamanya dengan nada tinggi.

  • Dalam Pelukan Hangat Paman Suamiku   199. Siksaan Cinta

    “Tidak usah diladeni. Kalau kemarin aku meladeni Veny, urusannya malah jadi panjang dan ribet,” Pras menjelaskan dengan suara rendah, memberikan alasan kenapa kemarin ia memilih untuk membisu saat Veny menyudutkan Aura.Aura hanya mencebikkan bibirnya, masih merasa ada sisa ganjalan di hati. “Mas Pras sepertinya memang tidak suka sekali ya, kalau harus menyakiti perasaan mantan istrimu itu?”“Bukan begitu, Sayang. Aku hanya tidak mau ribut. Menguras energi sekali menghadapi wanita seperti dia. Mending energinya aku simpan dan pakai buat memuaskan istriku saja,” ujar Pras sambil mencolek nakal bibir Aura yang masih manyun itu.“Jadi Mas lebih suka ribut denganku, nih?” Aura masih merasa perlu perhitungan, menatap Pras dengan mata yang menyipit curiga.“Iyalah. Kalau ribut denganmu itu malah enak ujungnya. Kita bisa pakai gaya apa saja... nungging, kuda-kudaan, sampai gaya helikopter pun jadi,” Pras menggoda istrinya dengan terang-terangan. Aura reflek memukul dada bidang suaminya itu,

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status