Share

Bereaksi

Author: Erumanstory
last update Last Updated: 2025-11-12 14:36:33

“Aldo memang sering meninggalkan kamu seperti ini, Ly?” tanya Dewa setelah obrolan lumayan panjang di antara mereka.

 “Iya, Mas. Mas Aldo hampir setahun ini selalu sibuk, Mas. Dia selalu ditugaskan ke luar kota sama bosnya setiap bulan. Di sana dia tidak pernah Cuma sehari atau dua hari. Paling sebentar satu minggu. Aku sampai terbiasa dengan ini, Mas. Duh, maaf, aku malah jadi curhat sama mas Dewa,”

 Padahal lily berpikir akan sangat canggung saat bertemu dengan Dewa setelah sekian lama, ternyata tidak semengerikan perkiraannya. Dewa banyak berubah, termasuk sikapnya. Lelaki itu tidak sedingin dulu. Padahal dulu Dewa termasuk pendiam. Dia hanya bicara saat perlu saja.

 “Apa sebenarnya mau Aldo. Dia sudah memiliki seorang istri yang secantik kamu, malah ditinggal pergi terus. Coba kalau kamu jadi istriku, Ly. Pasti setiap hari kamu berada dalam dekapanku,” ucap Dewa enteng. Tentu saja itu membuat lily terkejut. Bisa-bisanya Dewa mengatakan hal seperti itu di hadapan istri adik kandungnya sendiri.

 “Mas Dewa bisa saja,” sahut LIly kikuk. Dia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Dia cukup risih, tetapi dia tidak mungkin bersikap kasar terhadap Dewa.

 Bisa jadi lelaki itu hanya bercanda. Kalau sikapnya berlebihan, itu mungkin akan meninggalkan asumsi buruk di pikiran Dewa.

 “Aku serius, Ly. Kamu itu sempurna. Cantik, seksi, ramah, senyummu juga manis. Hanya lelaki yang tidak normal yang betah meninggalkan kamu lama-lama. Kecuali kalau di luar sana dia punya wanita lain.”

 Kali ini Lily tidak bisa tinggal diam. Dia tidak terima suaminya dituduh berselingkuh. Walaupun selama ini Aldo banyak cuek, Lily yakin itu karena pekerjaan suaminya yang semakin bertambah banyak. Dia terlalu semangat bekerja sampai tidak memiliki banyak waktu untuknya.

 “Mas, maaf ya kalau Lily tidak sopan. Tapi lily tidak suka Mas Dewa nuduh mas Aldo punya wanita lain. Dan lagi, tolong Mas Dewa jangan muji-muji aku kayak begitu. Aku risih, Mas. Aku ini adik iparnya Mas, loh. Jangan lupa, Mas.” Lily berusaha bicara sebaik mungkin pada Dewa. Walaupun dadanya terasa bergemuruh. Dia benar-benar tersulut emosi.

 “Aku minta maaf, Ly. Aku tidak bermaksud menuduh Aldo, sumpah demi Tuhan. Aku kan hanya  sekedar menyampaikan opini tentang lelaki yang betah meninggalkan istrinya lama di luar kota. Kamu mungkin juga sering baca di media-media tentang kejadian seperti itu. Maaf kalau itu membuat kamu tersinggung. Aku juga memuji kamu karena memang fakta. Aku tidak bermaksud apa-apa, Ly. Tolong jangan salah paham.”

 Dewa menjelaskan dengan sabar. Dia berusaha untuk meredam emosi yang tengah menyelimuti Lily. Sementara Lily sendiri merasa bersalah. Dia sadar kalau reaksinya sangat berlebihan. Dia terlalu bersemangat untuk menyangkal perselingkuhan yang mungkin Aldo lakukan. Sebenarnya dia juga merasa takut dengan itu. Dia takut kalau di luar sana Aldo mulai bermain api. Dia selalu mati-matian berusaha berpikiran positif untuk sekedar menghibur rasa takut yang menderanya.

 “Lily juga minta maaf ya, mas. Lily berlebihan. Mas jangan marah, ya.” Lily akhirnya memutuskan untuk minta maaf. Dia tidak ingin bersitegang dengan Dewa, apalagi ini hari pertama Dewa datang ke rumahnya. Kalau Dewa sampai mengadu pada Aldo, dia akan didamprat lagi. Aldo sangat sensitif kalau itu berhubungan dengan keluarganya.

 “Mas juga yang salah, Ly. Semoga saja Aldo memang benar-benar serius kerja di luar sana buat kamu, ya. Sudah, jangan dipikirin lagi.” Dewa menghibur Lily.

 “Iya, Mas. Makasih, ya. Belakangan ini aku memang agak sensitif soal perselingkuhan. Aku juga sebenarnya takut kalau mas Aldo macam-macam di luar sana. Soalnya memang mas Aldo kalau sudah ke luar kota betah sekali, Mas. Seakan-akan dia malas untuk kembali ke rumah ini.”

 Lily akhirnya mengungkapkan dengan gamblang tentang rasa takutnya terhadap sikap dan tingkah laku Aldo belakangan ini.

 “Sudahlah, Ly. Jangan banyak mikirin hal yang enggak-enggak. Nanti kamu malah jadi kurus. Sia-sia suamimu cariin kamu uang buat makan. Maaf sekali lagi, gara-gara aku kamu jadi kepikiran lagi soal itu. Jadi ngerasa bersalah banget aku,” ucap Dewa dengan wajah menggambarkan rasa bersalah yang begitu jelas.

 “Udahlah, Mas, nggak apa-apa. Aku saja yang terlalu berlebihan bereaksi. Mas mau makan sekarang? Aku sudah masakin makanan buat Mas.”

 Lily tidak ingin masalah itu semakin panjang, sehingga dia memilih untuk mengalihkan topik pembicaraan mereka.

 “Aku capek banget, ly. Boleh istirahat dulu, kan? Nanti aku pasti makan masakan kamu. Terima kasih banyak karena kamu sudah menyambutku dengan baik.”

 “Oh, begitu. Ya sudah, Mas. Mas istirahat saja dulu. Nanti kalau Mas mau makan, panggil saja aku di kamar atas. Biar nanti aku panasin makanannya buat Mas,” pesan Lily sebelum Dewa beranjak dari duduknya.

 “Baiklah. Terima kasih banyak, Ly. Aku ke kamar dulu, ya?”

 “Iya, Mas.”

 Dewa segera beranjak dari tempatnya duduk, dan berjalan menuju ke kamar tamu yang sudah disediakan oleh Lily. Lelaki itu langsung merebahkan dirinya ke atas kasur. Dewa melirik miliknya di bawah sana yang membuat celananya menggembung.

 ”Padahal tidak ada yang salah dengan Lily, tetapi kenapa reaksi tubuhku begitu berlebihan terhadapnya. Di beberapa tempat aku juga sering melihat wanita berpenampilan seksi, tetapi tidak sampai membuatku setegang ini. Bisa-bisanya Aldo tahan meninggalkan Lily ke luar kota setiap bulan,” ucapnya bermonolog.

 Dewa menggerakkan tangannya ke bawah sana, dia mengelus bagian celananya yang menggembung dengan gerakan perlahan. Entah mengapa dalam bayangannya Lily yang melakukan itu. Dewa menikmati gerakan tangannya sendiri, hasratnya semakin memuncak. Tampaknya dia sudah gila, tergoda pada istri adik kandungnya sendiri sampai membuat gairahnya memuncak seperti sekarang.

 “Ah, seandainya saja Lily yang mengelus milikku sekarang, pasti rasanya akan lebih nikmat. Ah, sial! Ini enak sekali.” Batin Dewa.

 Dewa kemudian mempercepat gerakan tangannya. Mulutnya mendesis beberapa kali. Dia berusaha meredam suaranya khawatir Lily akan mendengarkan desahannya.

 Tidak berapa lama, tubuh Dewa pun menegang. Cairannya membasahi celana bahan yang  dia kenakan. Ini benar-benar gila. Untuk pertama kalinya dia bisa keluar cepat hanya dengan sentuhan dari luar celana. Dewa tidak menyadari kalau ada sepasang mata yang memperhatikan tingkahnya.

 Lily.

 Dia yang tidak sengaja melintas di depan kamar tempat Dewa berada untuk pergi menyapu, tidak sengaja mendengar suara Dewa. Pintu kamarnya yang tidak ditutup dengan benar membuat Lily akhirnya mengetahui apa yang dilakukan oleh kakak iparnya tersebut.

 Walaupun tanpa dibuka, Lily bisa membayangkan seberapa besar milik Dewa. Ditambah lagi dengan jarak pintu, dan ranjang yang cukup dekat. Hal itu membuat Lili bisa melihat jelas gundukan besar milik Dewa. Bahkan setelah lelaki itu mendapatkan pelepasannya. Melihat cairan itu menyembur, dan membasahi celana Dewa, tubuh Lily memanas. Apalagi dia memang sudah lama tidak disentuh oleh Aldo.

 "Seandainya saja punya mas Dewa masuk ke tubuhku. Pasti rasanya akan penuh sekali,” batin Lily.

 “Astaga! Kamu mikir apa, lily! Ingat, dia itu kakak iparmu.” 

 Lily berusaha menyadarkan dirinya. Dia cepat-cepat berlalu dari depan kamar Dewa, sebelum lelaki itu memergokinya tengah mengintip.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (3)
goodnovel comment avatar
Haniubay
bakal kejadian beneran ini,dua duanya ngarep
goodnovel comment avatar
Koirul
waduh bahaya
goodnovel comment avatar
Dinar kasih 1205
sama sama edaan .........
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Balas Dendam

    Pertemuan di kedai kopi remang-remang itu semakin intens. Nila menyesap kopinya yang sudah dingin, membiarkan kafein dan dendam mengalir bersamaan di nadinya. Andi, sang jurnalis, tampak sangat bergairah. Ini bukan sekadar skandal artis, ini adalah sesuatu yang fantastis bagi dunia bisnis dan sosialita Indonesia.​"Dewa bukan anak tuan Darto?" Andi mengulang kalimat itu dengan suara rendah, seolah-olah kata-kata itu bisa meledak jika diucapkan terlalu keras.​"Bukan," tegas Nila, matanya menatap Andi tanpa keraguan. "Dewa adalah anak dari Johan, lelaki asing yang melakukan one night stand dengan Rahma."​Nila menarik napas panjang, lalu memulai narasi bohong yang telah dia susun dengan rapi. Dia tahu, untuk benar-benar menghancurkan Rahma, dia tidak hanya butuh kebenaran, tapi juga bumbu fitnah yang membuat Rahma terlihat jauh lebih licik di mata publik.​"Tapi Andi, kau harus tahu bagian yang paling menjijikkan dari cerita ini," Nila mencondongkan tubuhnya, suaranya kini berupa bisi

  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Rencana Pembalasan

    Musik dentum techno yang memekakkan telinga di bar milik Robert terasa seakan menghantam kepala Nila yang sudah pening. Di depannya, tiga gelas kosong bekas vodka shot berjejer berantakan. Nila, yang hanya beberapa hari lalu masih menjadi nyonya besar di apartemen mewah, kini duduk meringkuk di sudut remang-remang bar, dengan riasan wajah yang luntur dan aroma alkohol yang menyengat dari napasnya.​Stres dan frustrasi telah mengubahnya menjadi sosok yang tidak lagi peduli pada citra. Setiap kali dia memejamkan mata, wajah Aldo yang penuh rasa jijik dan tawa menghina terus membayanginya. Dia merasa dunianya telah runtuh, dan satu-satunya tempat yang menerimanya hanyalah tempat ini—lubang hitam yang dulu sangat ingin dia tinggalkan.​"Satu lagi, Hans!" teriak Nila dengan suara serak, melambaikan tangan ke arah meja bar.​Hans, yang sedang sibuk mengelap gelas, menoleh sebentar lalu memberi isyarat kepada pelayannya untuk menuangkan minuman lagi. Dia menatap Nila dengan pandangan antara

  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Tentang Tita

    Setelah pintu kamar tertutup dan suara isak tangis Nila di ruang tamu perlahan menjauh karena dia dipaksa keluar oleh petugas keamanan yang sudah dipesan oleh Doni, Aldo terduduk lemas di tepi ranjang. Keheningan yang menyergap ruangan itu terasa sangat menyiksa. Dia menatap boks bayi Tita yang kosong. Kamar itu terasa begitu luas, dingin, dan penuh dengan sisa-sisa aroma parfum Nila yang kini membuatnya mual.​Aldo menyadari satu hal, dia tidak bisa membiarkan Tita tetap tinggal di rumah ini dalam waktu dekat. Tempat ini terlalu penuh dengan kenangan pahit, dan dia sendiri tidak yakin mampu mengurus balita sendirian di tengah proses perceraian yang pasti akan menguras seluruh energinya.​Dengan tangan yang masih sedikit bergetar, Aldo meraih ponselnya dan mencari kontak sang ibu. Hanya keluarganya yang dia miliki sekarang. Hanya ibunya yang sejak awal sudah memperingatkannya.​"Halo, Ma..." suara Aldo terdengar sangat lelah saat telepon diangkat.​"Iya, Aldo? Ada apa, Nak? Suaramu te

  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Tiada Ampun

    Lampu koridor apartemen mewah itu terasa menyilaukan mata Nila yang sembab. Dengan langkah tertatih dan napas yang masih tersenggal akibat tangis yang tak kunjung reda, dia merogoh tasnya, mencari kunci cadangan dengan tangan gemetar. Dia harus masuk. Dia harus menjelaskan segalanya. Dia harus memeluk kaki Aldo sampai pria itu luluh.​Sayangnya, saat pintu terbuka, pemandangan di dalamnya membuat jantung Nila seolah berhenti berdetak.​Aldo berdiri di tengah ruang tamu yang luas, dikelilingi oleh beberapa koper besar miliknya yang sudah tertutup rapi. Di tangannya, Aldo memegang sebuah bingkai foto pernikahan mereka yang kacanya sudah retak. Begitu mendengar suara pintu, Aldo menoleh. Tatapannya tidak lagi berisi cinta, melainkan sebuah tatapan dingin. ​"Mas... Mas Aldo..." Nila jatuh tersungkur di depan pintu. Dia merangkak mendekat, mencoba meraih ujung celana Aldo. "Mas, tolong... dengarkan aku. Aku salah, Mas. Aku khilaf. Itu semua hanya jebakan, pria itu yang memaksaku..."​Ald

  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Terluka Lagi

    Mobil Aldo menderu memasuki halaman rumah besar keluarga Adijaya dengan kecepatan yang tidak stabil. Begitu mesin mati, Aldo keluar dengan langkah yang tampak berat, seolah setiap langkahnya membawa beban berton-ton. Kemejanya yang tadi pagi rapi kini tampak kusut, dan wajahnya menunjukkan sisa-sisa badai emosional yang baru saja dia lalui di perjalanan dari Puncak ke Jakarta.​Di ruang tengah, Rahma sudah duduk dengan tenang di sofa velvet miliknya, sementara Tita sudah tertidur di kamar atas. Rahma menyesap tehnya, matanya menatap tajam ke arah pintu saat Aldo melangkah masuk.​"Aldo?" Rahma berdiri, meletakkan cangkir tehnya dengan ekspresi yang dipoles sedemikian rupa hingga tampak penuh kekhawatiran. "Ya Tuhan, Aldo! Ada apa denganmu? Kenapa wajahmu pucat sekali, Nak?"​Aldo tidak langsung menjawab. Dia menjatuhkan dirinya di sofa di depan ibunya, menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Napasnya terdengar berat dan tersengal.​"Ma..." suara Aldo parau, hampir pecah.​Rahm

  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Berusaha Profesional

    Aldo berdiri di tepi balkon vila Pak Gunawan, matanya menatap kosong ke arah lembah yang diselimuti kabut tipis. Napasnya masih menderu, dadanya terasa sesak seolah ada batu besar yang menghimpit jantungnya. Bayangan Nila yang bersandar manja pada pria asing itu terus berputar seperti kaset rusak di kepalanya. Setiap tawa manja Nila yang tadi ia dengar berubah menjadi gema yang menyakitkan.​Aldo bukan pria sembarangan. Darah keluarga yang mengalir di tubuhnya telah menempanya untuk menjadi pribadi yang tangguh di bawah tekanan. Dia mengepalkan tangan kuat-kuat hingga buku jarinya memutih, memaksakan diri untuk menarik napas dalam-dalam. Dia tidak boleh hancur di sini. Tidak di depan rekan bisnisnya, dan tidak saat dia masih memiliki tanggung jawab besar.​Setelah lima menit dalam keheningan yang mencekam, Aldo membalikkan badan. Wajahnya yang tadi merah padam karena amarah, kini berubah menjadi datar dan sedingin es. Dia memungut ponselnya yang layarnya retak di lantai, lalu berjalan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status