Share

Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar
Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar
Author: Erumanstory

Kesepian

Author: Erumanstory
last update Last Updated: 2025-11-12 14:35:56

“Mas, kamu nggak pulang lagi? Kamu nggak kangen sama aku?” Lily bertanya dengan nada manja via telepon pada Aldo, suaminya yang sudah satu minggu pergi ke luar kota.

 “Maaf ya, Ly. Kerjaan mas di sini numpuk. Kayaknya mas bakalan di sini lebih lama. Kamu sabar, ya. Mas kerja keras juga buat kamu. Ini juga salah satu cara supaya mas dapat promosi naik jabatan dari bos,” jawab suaminya dari ujung sana.

 Lily sudah bosan mendengar alasan itu. Ini sudah ke sekian kalinya Aldo ke luar kota dalam waktu yang lama. Sekalinya di rumah, lelaki itu terus saja mengeluh capek. Hubungan mereka sudah satu tahun belakangan kurang harmonis. Bahkan untuk urusan ranjang saja bisa dihitung dengan jari. Sikap Aldo juga tidak semanis dulu. Lelaki itu semakin jarang memuji Lily.

 “Ya sudah kalau begitu. Aku mau nginep di rumah mama ya, Mas? Sepi juga lama-lama di rumah sebesar ini sendirian.”

 Lily sebenarnya berniat untuk protes. Tapi dia yakin kalau itu dia lakukan hanya akan memicu pertengkaran. Dia sedang tidak berselera untuk berdebat dengan Aldo. Ujungnya, lelaki itu akan mengungkit tentang dirinya yang tidak juga hamil di usia pernikahan mereka yang sudah menginjak tiga tahun. Kalimat itu sangat menyakiti perasaan Lily. Itulah mengapa dia lebih baik menghindar.

 “Eh, jangan, Ly. Mas Dewa bilang dia pulang dari Batam hari ini. Dia mau menginap di rumah kita. Soalnya kamu tahu sendiri, rumah papa lagi direnovasi.”

 Lily yang tadinya tidak berniat untuk marah pun menjadi emosi. Bagaimana mungkin dia harus tinggal satu rumah dengan kakak iparnya itu? Bukan hanya alasan kenyamanan, tetapi juga tentang hubungan mereka yang tidak akrab. Bukan karena bermusuhan, memang sikap Dewa yang membuat Lily menjadi sungkan. Apalagi  semenjak menduda, lelaki itu lebih memilih tinggal di Batam, dan menetap di sana.

 “Mas, kamu ini bagaimana, sih? Masa Mas ngizinin mas Dewa buat tinggal di rumah kita. Apa kata tetangga, Mas? Di rumah ini Cuma ada aku, loh. Masa Mas santai saja, ngebiarin aku tinggal berdua sama mas Dewa,” omel Lily dengan emosi.

 Dia benar-benar tidak habis pikir dengan pemikiran Aldo yang memang tidak umum. Biasanya seorang suami pasti tidak akan membiarkan istrinya berada dalam satu atap dengan lelaki lain, walaupun itu saudara sendiri. Sementara Aldo, dia malah dengan santainya mengizinkan Dewa menginap di rumah mereka.

 “Ya apa salahnya sih, Ly? Mas Dewa juga nggak akan lama di rumah kita. Paling dia seminggu saja di Jakarta. Buat apa kamu pusing mikirin omongan tetangga? Aku yakin sama mas Dewa. Dia nggak mungkin ngapa-ngapain kamu.”

 Jawaban itu sama sekali bukan yang Lily inginkan. Dia merasa Aldo memang tidak peduli padanya. Lily menjadi semakin kesal.

 “Seminggu itu lama, Mas. Mending Mas suruh saja mas Dewa nginep di hotel atau penginapan. Jangan di rumah kita.” Lily masih berusaha untuk menghalau Dewa dari rumahnya. Dia berharap kali ini Aldo mau mendengarkannya.

 “Segitu tidak sukanya kamu sama keluargaku, Ly? Kamu lihat sendiri bagaimana aku memperlakukan keluarga kamu kalau mereka datang ke rumah kita, kan? Kenapa di saat mas Dewa mau menginap di rumah kita, kamu malah seperti itu? Sekarang aku tahu, kamu memang nggak beneran tulus sama aku, Ly!”

 Aldo emosi. Lily bahkan mendengar suaminya itu berkata dengan nada tinggi. Padahal bukan begitu maksud Lily. Dia hanya sedang menjaga dirinya dari omongan tetangga karena tinggal berdua di rumah bersama kakak ipar.

 “Mas, bukan begitu maksudku. Aku cuma ...”

 “Aku nggak mau dengar alasan kamu, Ly. Kamu setuju atau tidak, mas Dewa akan tetap tinggal di rumah kita sementara waktu. Rumah itu aku beli dengan uangku sendiri, jadi kamu tidak berhak mengatur tentang siapa saja yang boleh datang. Kamu juga harus melayani keperluan mas Dewa dengan baik. Awas saja kalau kamu berani mengacuhkan mas Dewa. Uang bulananmu bakalan aku potong delapan puluh persen!” Aldo masih berucap dengan nada ketus. Lelaki itu juga langsung memutus sambungan telepon mereka.

 Lalu Lily harus bagaimana? Setidaknya dia sudah berusaha untuk menolak kedatangan Dewa ke rumahnya. Lagipula Aldo benar, rumah itu dibeli Aldo dengan uangnya sendiri. Jadi dia tidak berhak melarang tamu Aldo untuk berkunjung ke rumah mereka.

 “Oke, kalau itu mau kamu, Mas. Kalau nanti ada omongan tetangga yang menusuk, aku tinggal kasih rekam sama kamu. Nyebelin! Sekarang sebaiknya aku siapkan kamar tamu, daripada nanti aku kena omel lagi sama mas Aldo. Padahal aku kangen banget sama dia, setahun belakangan ini aku ngerasa kesepian banget. Aku punya suami, tapi rasanya kayak sudah janda. Disentuh juga jarang. Apa aku memang sudah nggak menarik lagi ya, di mata mas Aldo?” Lily bermonolog sambil berjalan ke arah kamar tamu.

 Kamar itu memang disediakan untuk para tamu yang datang dan menginap di rumahnya. Kamarnya terletak di sebelah ruang keluarga. Biasanya, orang tua Lily yang dari kampung selalu mendiami kamar itu selama berada di Jakarta.

 Salah satu nilai plus Aldo di mata Lily memang tentang bagaimana cara suaminya itu merespon orang tuanya. Aldo selalu memperlakukan keluarganya dengan sangat baik. Tidak pernah membedakan walau mereka dari keluarga yang pas-pasan.

 Setelah acara beres-beresnya selesai, Lily memutuskan untuk mandi. Dia merasa sangat gerah. Sejak pagi, dia belum sempat mengguyur tubuhnya dengan segarnya air shower. Lily memilih pakaian yang paling sopan. Dia tidak ingin memberikan kesan yang tidak-tidak di pertemuannya dengan Dewa nanti.

 Benar saja, setelah selesai bersiap, Lily mendengar bel rumahnya ditekan oleh seseorang. Dia segera turun dengan cepat, dan berjalan ke arah pintu. Saat pintu terbuka, Lily menemukan Dewa yang terlihat jauh berbeda di hadapannya.

 Saat terakhir bertemu, Dewa tidak sekekar sekarang. Wajahnya juga terlihat jauh lebih tampan. Lily dibuat terpesona karenanya.

 “Mas Dewa, selamat datang. Ayo masuk, Mas.” Lily segera mempersilakan kakak iparnya itu untuk masuk.

 “Terima kasih banyak, Ly.” Dewa membalas ramah, lelaki itu kemudian menyeret kopernya masuk. Lily segera menutup pintu, dan mengikuti langkah Dewa.

 Dia kemudian membantu Dewa membawa kopernya ke kamar tamu. Dia kemudian membawa Dewa ke ruang keluarga, berniat membuatkan lelaki itu minuman, dan memberikan beberapa makanan kecil. Dewa mengikuti ajakan Lily. Dia kemudian duduk di ruang keluarga dengan tenang, sambil menunggu adik iparnya itu membuatkan minuman untuknya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Koirul
kayaknya Aldo punya pacar deh
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Lily Pergi

    Di kantor, Dewa benar-benar menjadi bayangan dari dirinya sendiri. Ruangan kerja yang biasanya menjadi tempat ia menaklukkan angka-angka dan strategi bisnis kini terasa seperti penjara yang menyesakkan. Beberapa kali asistennya masuk untuk meminta tanda tangan pada dokumen penting, sementara Dewa hanya menatap kertas-kertas itu dengan pandangan kosong.Pikirannya melayang jauh ke meja makan pagi tadi—ke arah gelas susu yang mendingin dan punggung Lily yang menjauh dengan sangat dingin. Mereka seperti dua orang asing sekarang, dan Dewa sangat tidak suka dengan itu. ​Dia mencoba menghubungi ponsel Lily berkali-kali, namun hanya suara operator yang menyambutnya. Pesan-pesan singkatnya pun hanya menyisakan centang satu. Frustrasi, Dewa melempar ponselnya ke atas meja kerja. Dia tidak bisa fokus. Bayangan istrinya yang sedang hamil, menangis sendirian, dan menolak kehadirannya membuatnya merasa menjadi pria paling gagal di dunia.​"Sial!" umpatnya pelan.Dewa meremas rambutnya sendiri de

  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Sulit Memaafkan

    Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden, namun kehangatannya sama sekali tidak menyentuh hati Lily. Dia terbangun dengan mata yang sembab dan kepala yang berdenyut ringan akibat terlalu banyak menangis semalam. Di luar kamar, sayup-sayup terdengar bunyi denting sudip yang beradu dengan wajan dan aroma harum nasi goreng margarin—salah satu menu sarapan favoritnya yang biasa Dewa buatkan. ​Dewa sengaja bangun lebih pagi. Dia ingin menebus kesalahannya, ingin menjadi suami siaga yang mampu melunakkan hati istrinya melalui perhatian-perhatian kecil. Dia berharap, sepiring nasi goreng dengan telur mata sapi yang dimasak sempurna bisa menjadi jembatan untuk memulai obrolan yang tertunda semalam.​Ketika Lily akhirnya keluar dari kamar dengan mata sembab, dan masih memakai baju tidur. Dewa segera berdiri dari kursi makan. Dia tersenyum lebar, meski matanya menyiratkan kelelahan karena kurang tidur di kamar tamu yang terasa hampa.​"Selamat pagi, Sayang. Mas sudah buatkan n

  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Kekecewaan Mendalam

    Lily berdiri terpaku selama beberapa menit, menunggu Dewa mengejarnya, memohon maaf darinya, atau setidaknya menahan lengannya agar dia tidak pergi dalam keadaan hancur. Sayangnya, hingga dia mencapai pintu keluar otomatis dan melangkah menuju area parkir yang terik, langkah kaki yang dia harapkan tak kunjung terdengar.​Setibanya di dalam mobil, Lily meremas setir dengan tangan gemetar. Dia melirik ke arah pintu lobi melalui spion, berharap sosok suaminya muncul berlari. Kosong. Dewa tetap di sana, mungkin masih bersama wanita itu, atau mungkin dia terlalu malu untuk menghadapi kenyataan bahwa kebohongannya telah terbongkar.​"Kamu bilang aku nomor satu, Mas, tetapi nyatanya, kamu bohong," bisik Lily pedih. Air mata yang sedari tadi dia tahan akhirnya luruh, membasahi pipi yang tadi dia rias dengan penuh semangat. Hari yang seharusnya menjadi momen me-time yang menyenangkan berubah menjadi mimpi buruk yang menyesakkan dada. Lily total sedih. ​Sepanjang perjalanan pulang, pikiran Li

  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Siapa Wanita Itu?

    Lily tengah memoles wajahnya dengan riasan tipis di depan cermin. Rencananya dia hari ini ingin jalan-jalan ke pusat perbelanjaan. Sudah lama Lily tidak menikmati waktu sendiri dengan berbelanja. Sesekali Lily ingin menikmati waktu tanpa Dewa. "Udah siap. Sekarang aku harus bilang dulu sama mas Dewa. Biar kalau misalnya dia pulang duluan dia nggak bingung nyariin aku," ucap Lily bermonolog. Dia meraih ponselnya lalu menggunakannya untuk menghubungi Dewa via panggilan suara. "Ada apa, Lily-ku Sayang? Kangen ya sama aku?" tanya Dewa lembut dari ujung sana. "Kangen terus sama kamu, Mas. Tapi sekarang bukan kangen yang mau aku bahas," balas Lily manja. "Terus apa, Sayang?" tanya Dewa lagi. "Aku mau jalan-jalan ke mall ya, Mas. Pengen banget jalan sendiri, sesekali me time. Sekalian aku mau beli beberapa baju hamil. Boleh, ya, Mas?" rengek Lily memohon. "Yakin, kamu nggak apa-apa pergi ke mall tanpa aku?""Iya, Mas. Soalnya aku pengen banget.""Ya udah, sana. Kamu boleh belanja sepua

  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Perdamaian Dewa dan Bima

    Langkah Bima terasa sangat berat saat melewati pintu kaca otomatis gedung pusat Samudra Property yang menjulang tinggi. Setiap pasang mata karyawan di lobi seolah menjadi hakim yang tahu akan dosa-dosanya. Dia berusaha tidak peduli, dan terus berjalan. Tidak ada lagi ruang untuk melarikan diri. Di lantai paling atas, di sebuah ruangan luas dengan pemandangan kota yang tanpa batas, Dewa sudah menunggu. Tidak sendirian, di sana juga ada Johan yang duduk dengan raut wajah mendung namun penuh harap.​Saat pintu ruangan terbuka, Bima tidak berani mendongak. Dia melangkah perlahan ke tengah ruangan, lalu tanpa aba-aba, dia jatuh bersimpuh di depan Dewa. Suara tangisnya yang tertahan selama di perjalanan kini pecah tak terbendung.​"Mas... Mas Dewa... maafkan aku," isak Bima dengan suara parau. "Aku pengecut. Aku serakah. Aku sudah mengkhianati kepercayaan Mas dan Papa. Aku benar-benar menyesal."​Dewa diam sejenak, menatap adiknya dari kursi kebesarannya. Tidak ada gurat kepuasan di wajah

  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Nasihat Seorang Ayah

    Tangan Bima bergetar hebat saat memegang ponselnya. Ruangan kantor yang biasanya terasa seperti singgasana kekuasaan, kini terasa seperti sel isolasi yang dingin dan menyesakkan. Napasnya pendek-pendek, keringat dingin membasahi kemeja mahalnya yang kini tampak kusut. Tidak ada lagi keangkuhan. Tidak ada lagi rencana licik. Yang tersisa hanyalah seorang lelaki yang sedang menatap jurang kehancuran total.​Dengan sisa keberanian yang ada, dia akhirnya menekan nomor Johan. Tidak ada pilihan lain. Dia tahu pasti kalau menelepon ayahnya saat ini sama saja dengan menyerahkan leher untuk disembelih, sayangnya Johan adalah satu-satunya pelampung yang tersisa di tengah badai yang menenggelamkan Niagara Property.​Nada sambung terdengar beberapa kali, setiap detiknya terasa seperti siksaan abadi bagi Bima. Hingga akhirnya, suara berat dan berwibawa itu terdengar.​"Halo, Bima? Kenapa tadi papa telepon kamu tidak angkat?" suara Johan terdengar tenang. Ada nada dingin yang tidak biasanya.Mungki

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status