แชร์

Rencana Ke Bali

ผู้เขียน: Erumanstory
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2026-03-09 23:46:28

Matahari baru saja terbenam, menyisakan semburat jingga keunguan di ufuk barat saat mobil Dewa memasuki pelataran rumah. Lily, yang sedang menyiram beberapa tanaman hias di teras, segera meletakkan selang airnya.

Senyumnya mengembang lebar, sebuah pemandangan yang kini menjadi asupan energi paling mujarab bagi Dewa setelah seharian bergelut dengan angka dan rapat yang melelahkan.

​Dewa turun dari mobil, melonggarkan simpul dasinya, dan langsung disambut oleh pelukan hangat istrinya.

​"Selamat
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Bertemu Teman Lama

    Sekarang Dewa bahkan semakin brutal. Gerakannya tidak beraturan, semakin cepat, hingga membuat goncangan di ranjang mereka. Lily pun gila dibuatnya. Ini trelampau nikmat.“Mas Dewa, bisakah kita berhenti sebentar saja?” Lily memelas, berharap Dewa mau memberinya sedikit ruang untuk sekedar mengambil napas.“Maaf, Sayang. Aku tidak mau berhenti sekarang. Ini terlalu nikmat,” jawab Dewa dengan begitu sensual. Lelaki itu menjilati telinga, dan leher Lily tanpa menghentikan pergerakan pinggulnya.“Kamu terlalu panas untuk dilewatkan, Baby.” Dewa menyambung kalimatnya. Hentakan lelaki itu semakin intens. Desahan Lily juga semakin sering terdengar. Dia terus memanggil nama Dewa. Membuat lelaki itu semakin lepas kendali.“Give me one kiss, Mas. Aku mau bibir kamu sekarang,” pinta Lily memohon.Dewa menururuti keinginannya. Lelaki itu segera menghadiahkan lumatan pada bibir Lily,dan disambut rakus oleh sang pemiliknya.“Apa kamu sudah ingin keluar sekarang, Baby?” tanya Dewa kemudian. Dia sud

  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Pagi Yang Panas

    Bali, Bulgari Resort.Dua Minggu berlalu, dan di sini Dewa dan Lily sekarang. Setelah melewati berbagai masalah, Dewa merasa ini merupakan saat yang tepat untuk melepaskan semuanya. Kembali ke mode-mode awal yang penuh nuansa romantis dan intim, tanpa ada masalah-masalah yang membuat mereka pusing. Lihatlah sekarang, pagi baru saja menjelang, tetapi sepasang suami istri itu sudah saling melumat. Lily yang tidak mengenakan apapun, tanpak berada di atas tubuh Dewa. Sebagian tubuhnya tertutup selimut. Begitu pula dengan Dewa, lelaki itu tak mengenakan sehelai benang pun, pasrah dalam pelampiasan hasrat istrinya. Dari gerakannya, Lily terlihat sangat tidak sabar untuk berbagi kenikmatan dengan sang suami. Padahal semalam, mereka melewati sebagian besarnya dengan bercinta.Dewa pun sama tak sabarnya. Dia membanting pelan tubuh Lily ke samping tubuhnya. Lelaki itu kemudian merangkak naik ke atas tubuh sang subsmitif. Napas mereka pun beradu, keduanya sudah berada di bawah kungkungan hasrat

  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Rencana Ke Bali

    Matahari baru saja terbenam, menyisakan semburat jingga keunguan di ufuk barat saat mobil Dewa memasuki pelataran rumah. Lily, yang sedang menyiram beberapa tanaman hias di teras, segera meletakkan selang airnya. Senyumnya mengembang lebar, sebuah pemandangan yang kini menjadi asupan energi paling mujarab bagi Dewa setelah seharian bergelut dengan angka dan rapat yang melelahkan.​Dewa turun dari mobil, melonggarkan simpul dasinya, dan langsung disambut oleh pelukan hangat istrinya.​"Selamat datang di rumah kita, Mas," bisik Lily sambil mengecup pipi Dewa.​"Terima kasih, Sayang. Wangi tanah basah dan bunga... aku suka suasana sore di rumah kita," jawab Dewa sambil merangkul pinggang Lily, menuntunnya masuk ke dalam rumah.​Setelah mandi dan berganti pakaian santai, Dewa bergabung dengan Lily di meja makan. Malam ini Lily memasak sup ayam jahe, salah satu kesukaan Dewa. Uap panas dari mangkuk mengepul, menciptakan suasana yang intim dan nyaman. Dewa menatap istrinya yang sedang sib

  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Sarapan Ceria

    Pagi itu, sinar matahari merambat masuk melalui celah gorden dapur yang bergaya minimalis, menciptakan garis-garis emas di atas lantai marmer yang dingin. Tapi suasana di dalam rumah itu terasa jauh lebih hangat daripada biasanya. Setelah badai emosi yang mereka lalui, kedamaian kini benar-benar menetap di setiap sudut ruangan rumah itu.​Di dapur, suara desis mentega yang meleleh di atas wajan datar beradu dengan aroma harum roti panggang dan kopi yang baru saja diseduh. Dewa sedang menjalankan rutinitas pagi favoritnya, memasak sarapan untuk sang istri.​Pagi ini, Dewa tampil sangat santai, atau bisa dikatakan, sangat menggoda bagi Lily. Dia tidak mengenakan atasan, membiarkan punggungnya yang lebar dan otot-otot lengannya yang kokoh terlihat jelas. Dia hanya mengenakan celana pendek kain berwarna abu-abu yang duduk rendah di pinggulnya. Setiap kali Dewa bergerak untuk membalik telur atau mengambil piring, otot-otot di perutnya yang terpahat sempurna—sixpack yang selalu terjaga ber

  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Obrolan Hangat

    Malam di Jakarta terasa jauh lebih tenang dari biasanya. Langit yang biasanya tertutup polusi dan cahaya lampu kota, kali ini berbaik hati menampakkan beberapa gugusan bintang yang berkedip malu-malu. Di balkon lantai dua rumah mereka, Lily duduk bersandar pada kursi rotan yang nyaman. Di tangannya, sebuah mug keramik berisi cokelat panas masih mengepulkan uap tipis, aroma manisnya bercampur dengan udara malam yang sejuk.​Lily menyesap minuman itu perlahan. Untuk pertama kalinya dalam setahun terakhir, kepalanya tidak berisik. Tidak ada lagi suara-suara yang menyalahkan dirinya sendiri, tidak ada lagi bayangan wajah Nadia yang manipulatif, dan tidak ada lagi beban berat yang menghimpit dadanya. Percakapan di klinik Dr. Aris dan sore yang damai di taman telah menjadi obat penawar yang ampuh bagi jiwanya yang sempat keracunan.​Dia menatap bintang paling terang di langit. Dalam hati, dia berbisik kecil, menyapa bayi kembarnya yang telah tiada. “Maafkan Mama yang sempat kehilangan ara

  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Hanya Tentang Kita

    Pagi itu, suasana kediaman Dewa terasa lebih tenang, meski ada kecanggungan yang menggantung di udara. Dewa tidak ingin lagi menunda. Dia menyadari bahwa cinta saja tidak cukup untuk melawan depresi dan manipulasi yang telah meracuni pikiran istrinya. Lily butuh bantuan profesional untuk melihat kebenaran yang selama ini tertutup oleh rasa bersalahnya sendiri.​Dewa menggandeng tangan Lily menuju mobil. Lily hanya diam, matanya masih terlihat sembap, namun dia tidak lagi melawan. Dia merasa seperti seorang prajurit yang kalah perang, yang akhirnya menyerah pada nasib.​Tujuan mereka adalah klinik Dr. Aris, psikiater sekaligus konselor yang tempo hari dihubungi Dewa lewat telepon.​Ruangan Dr. Aris terasa sangat nyaman. Aroma terapi lavender dan alunan musik instrumen yang lembut sedikit meredakan ketegangan di bahu Lily. Dewa duduk di samping istrinya, tetap menggenggam tangan wanita itu, seolah ingin menunjukkan bahwa mereka adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.​"Dokter,"

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status