LOGINKetegangan di ruang itu mereda secepat badai yang berlalu saat langkah kaki Kaliel terdengar kembali dari balkon. Elise melepaskan garpunya dengan kecepatan yang tidak masuk akal, kembali duduk dengan keanggunan seorang ratu seolah tidak terjadi apa-apa.
Tatiana mengusap lehernya yang terasa perih, namun matanya tidak menyiratkan dendam. Ia hanya menatap Elise dengan sorot mata yang sulit diartikan. Tatitana t
Tatiana hampir mengangguk, menyerahkan seluruh kesadarannya pada pesona Kaliel. Namun, tepat sebelum bibir mereka kembali bertautan, sebuah ingatan membuatnya tersadar. Ia menahan dada Kaliel pelan."Joe. Bukannya dia akan datang?" bisik Tatiana dengan napas yang masih memburu.Kaliel mendesah pelan, sedikit kecewa karena momentumnya terganggu. Namun, ia tidak melepaskan Tatiana.Pria itu justru menyusupkan telapak tangannya yang hangat ke punggung polos Tatiana, mengusap-usapnya dengan gerakan lambat yang menenangkan sekaligus sensual. "Ini masih pagi, Sayang," bisik Kaliel serak di depan bibir Tatiana. "Joe tidak akan berani mengacaukan rumahku sepagi ini."Kehangatan usapan tangan Kaliel di punggungnya membuat tubuhnya meremang. Tanpa bisa ditahan la
Suasana canggung yang tersisa dari malam sebelumnya ternyata tidak serta-merta pergi begitu pagi hari tiba. Tatiana terbangun beberapa saat setelah Kaliel. Dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya, gadis itu melangkah keluar kamar dan berjalan menuju lantai bawah.Langkahnya mendadak terhenti di undakan tangga. Di ruang tengah yang minimalis itu, ia mendapati Kaliel sedang fokus melakukan olahraga paginya. Pria itu sama sekali tidak mengenakan kaos, hanya memakai celana pendek olahraga hitam. Butiran keringat tampak berkilau di atas kulitnya yang kecokelatan, mengalir melewati lekukan otot dada dan perutnya yang terbentuk sempurna setiap kali pria itu bergerak.Tenggorokan Tatiana tiba-tiba terasa sangat kering. Ia refleks mengecap bibirnya sendiri yang mendadak terasa pias, terpaku di tempatnya berdiri dengan pandangan yang sulit dialihkan dari
Tatiana terus menatap kalung berlian di tangannya tanpa ada niat untuk mengenakannya. Pikirannya masih berkecamuk, mencoba mencerna kegilaan situasi hari ini.Kaliel yang baru saja selesai mandi berdehem pelan sembari mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk. Melihat tatapan kosong Tatiana yang tak kunjung beralih dari kotak perhiasan, ia terkekeh tipis. "Kau tampak menyeramkan, Sayang. Seperti sedang merencanakan hal yang jahat."Tatiana mendongak, menatap Kaliel dengan raut wajah yang masih diliputi kecemasan. "Tentu saja aku takut, Kaliel. Menikah bukan hal yang sesederhana seperti yang kau bayangkan."Kaliel melempar handuknya ke atas kursi kosong, lalu berjalan mendekat ke arah ranjang. "Bagiku sederhana. Hal-hal di dunia ini menjadi rumit hanya karena kau terlalu banyak berandai-andai
Mobil mereka melaju membelah jalanan dengan kecepatan tinggi, meninggalkan area perbatasan yang kacau itu sejauh mungkin. Di tengah deru mesin yang, Kaliel memindahkan satu tangannya dari kemudi, lalu meremas lembut jemari Tatiana yang masih terasa dingin."Kita sudah memastikan polisi datang sebelum pergi tadi, kan?" Pria itu terdengar terlalu santai.Tatiana mengembuskan napas lega yang panjang, ketegangan yang sejak tadi menumpuk di bahunya perlahan menguap. Ia menoleh, menatap wajah Kaliel dari samping yang tampak begitu tenang di balik kemudi. "Kau... sama sekali tidak punya rasa takut, ya?"Kaliel terkekeh rendah, namun sorot matanya yang melirik Tatiana sesaat tampak begitu tulus. "Satu-satunya yang membuatku takut di dunia ini adalah kau, Tatiana. Urat tegang, rasa takut, dan kecemasanku hanya ak
Refleks Kaliel bergerak secepat kilat. Ia langsung menarik tubuh Tatiana ke dalam dekapan dadanya, menggunakan badannya sendiri sebagai tameng sembari melindungi kepala gadis itu dengan kedua tangan."Kita keluar dari—" Kata-kata Kaliel terputus oleh rentetan suara tembakan susulan yang menggema lebih dekat, diiringi suara kaca pecah dan derap langkah kaki yang kacau. Sadar pintu keluar utama terlalu berisiko, Kaliel menarik Tatiana mundur, menyusuri koridor sempit hingga menemukan sebuah toilet umum yang tandanya sudah agak usang dan tampak rusak.Begitu mendorong pintu di salah satu bilik, Kaliel mendesak Tatiana masuk. "Berdiri di atas dudukan toilet, sembunyikan kakimu dari celah bawah pintu," bisiknya tajam penuh penekanan.Tatiana yang jantungnya berpacu hebat menatap Kaliel panik. "Lal
Keesokan harinya, suasana tenang di Sektor Carasano mulai terusik. Kawasan yang selama ini terkenal sangat aman dan minim kriminalitas itu mendadak diguncang oleh berita-berita miring. Kasus pencurian kecil, penjambretan, hingga aksi nekat seperti yang dialami Tatiana kemarin mulai sering terjadi di berbagai sudut sektor.Saat sedang berjalan-jalan pagi, Tatiana tak sengaja mendengar obrolan serius di depan toko kue. Sepasang suami istri muda tampak sedang berbincang tegang dengan sang pemilik toko kue yang wajahnya terlihat cemas.Tatiana memperlambat langkahnya, berpura-pura melihat etalase sambil menajamkan pendengarannya."Ini benar-benar gila," ucap pria muda itu sambil menggelengkan kepala. "Carasano tidak pernah seperti ini sebelumnya. Kemarin kedai dekat bundaran dirampok, lalu tadi malam a
Pagi itu langit Carasano tampak kelabu, seolah awan mendung sengaja turun untuk membungkus kota dalam suasana muram. Tatiana menuruni tangga dengan langkah gontai. Malam itu dia mimpi buruk lagi, mimpinya selalu sama, tentang ledakan, api, dan suara Kaliel yang mas
Satu bulan berlalu, namun waktu seolah tidak bergerak bagi Tatiana. Di sebuah rumah sederhana di Sektor Carasano, ia mencoba menata kembali hidupnya yang hancur. Suasana di sini jauh lebih tenang dibandingkan kemegahan Sektor Onyx yang penuh kenangan menyakitkan.&n
Eric menjambak rambut Tatiana dengan kasar, memaksa kepala wanita itu terdongak hingga wajah mereka sejajar. Ia mendekatkan bibirnya ke pipi Tatiana, berbisik dengan nada mengejek sambil menatap lurus ke arah Kaliel. "Lihat itu," desis Eric. "Kau bilang dia tidak a
Giana berdiri perlahan, matanya yang kosong tetap terpaku pada Tatiana yang sedang diliputi kemarahan dan putus asa. Suasana gudang itu kembali hening, hanya menyisakan suara deru angin dari hutan di luar yang menembus celah-celah bangunan.







