เข้าสู่ระบบSuasana hening menyelimuti Paviliun Mawar setelah ucapan Komandan Garda Utama bergema dari balik pintu. Cengkeraman Kenneth pada pinggang Rosalynd semakin menguat hingga membuat Rosalynd sedikit meringis. Aroma darah serta amarah bercampur menjadi satu di tubuh Kenneth. Iris mata gelap milik Kenneth berkilat murka. "Ca—Cassandra da—dan Raymond?" desis Kenneth pelan. Sebuah tawa dingin yang mengerikan keluar dari mulut nya. "Dua tikus tanah itu berani menyatukan kekuatan untuk menantang ku?" Kenneth melepaskan pelukannya dari tubuh Rosalynd pelan. Pria itu tegak dan memutar tubuhnya menghadap pintu kamar yang masih tertutup rapat. Sosoknya yang kekar karena terbungkus zirah perang kembali memancarkan dominasi seorang penguasa. "Komandan!" panggil Kenneth dengan suara berat yang menggelegar dan sanggup menggetarkan pualam lantai. "Saya, Yang Mulia!" sahut Komandan Garda Utama dari luar dengan tubuh yang gemetar. "Kumpulkan seluruh Jenderal Utama di Dewan Perang dalam sepuluh men
Suasana kamar kembali mencekam. Bau asap pembantaian dari zirah Kenneth dan serpihan kayu dari peti yang hancur berhamburan di atas lantai. Kenneth mendekat dengan gerakan lambat namun penuh dengan ancaman yang mematikan. Iris matanya yang terlihat hangat tadinya kembali menyala oleh amarah gila dan cemburu yang membakar jiwanya. Pria itu menahan kedua lengan kursi tempat Rosalynd duduk dan mengurung tubuh wanita itu di antara keperkasaan fisik serta intimidasi tubuh kekarnya. "Janji. Janji apa yang kau berikan pada Raymond dibelakang ku, Rosalynd?" tanya Kenneth dingin dengan suara parau nya yang sangat berbahaya seolah sanggup membekukan darah. Livia dan beberapa pengawal yang berdiri di dekat pintu kamar bergidik ngeri. Wajah mereka mendadak pucat pasi. Tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya dari mata Rosalynd, Kenneth menggertak dinding. "Keluar. Siapa pun yang berani melangkah dalam jarak sepuluh langkah, akan ku penggal kepalanya tanpa ampun!" Mendengar ultimatum itu, pa
Keheningan Paviliun Mawar pecah ketika pintu samping terbuka dengan buru-buru. Livia, salah satu dayang Rosalynd masuk dengan napas tersengal-sengal dan wajah yang bercampur aduk antara rasa cemas dan lega. Ia membungkuk dalam-dalam di hadapan Rosalynd yang sedang duduk di jendela balkon."Yang Mulia Selir Agung! Kabar dari perbatasan Utara baru saja tiba dengan melalui burung merpati Kekaisaran!" kata Livia setengah berbisik karena takut terdengar oleh prajurit. Mendengar itu, Rosalynd menaikkan sebelah alisnya. Ia meletakkan cangkir teh nya perlahan. "Lalu?""Yang Mulia Kaisar menang mutlak di garis depan Verona. Pasukan Utara berhasil dipukul mundur dan mengalami kekalahan besar." kata Livia cepat. Ia menelan ludah sebelum melanjutkan laporan sensitif itu. "Akan tetapi, Pangeran Raymond berhasil selamat dan meloloskan diri dari medan perang."Rosalynd terbelalak. "Dia membiarkannya lolos?"Livia mengangguk pelan. "Laporan rahasia dari komandan lapangan menyebut bahwa Yang Mulia Ka
Rosalynd tidak meredakan ketegangannya, apalagi menurunkan belati kecil di tangannya. Ia justru mengeratkan genggamannya pada gagang belati hingga buku-buku jarinya memutih dan menyakitkan. Tatapan matanya yang tadinya dingin, kini penuh kebencian, dibalut rasa kecewa yang mendalam dan dendam yang telah dikumpulkan. "Jangan berani-berani menyebut namaku seolah kita saudara, Gavin!" desis Rosalynd dengan suaranya rendah dan pelan. Namun penuh dengan racun yang sangat mematikan. Gavin menghentikan langkahnya tepat beberapa meter di hadapan Rosalynd. Gavin menatap wajah adik kandungnya dengan ekspresi yang sangat sulit diartikan. Tatapan itu campuran antara rasa cemas yang pura-pura dan kalkulasi politik yang sangat dingin. "Tolong tenanglah, Sayang. Jangan biarkan emosi mu menutupi pikiran jernih mu. Aku menyusul ke jantung Istana Utama ini dengan mempertaruhkan nyawaku sendiri. Semua ini kulakukan hanya untuk memastikan kau baik-baik saja setelah—" Belum sempat Gavin melanjutkan p
Sepeninggalan Kenneth yang bertolak menuju garis depan perbatasan Verona, aura di Istana Utama semakin mencekam. Kepergian sang Tiran telah dimanfaatkan sepenuhnya oleh sang Permaisuri untuk menegakkan kembali kekuasaan nya yang salama ini diinjak-injak. Siang itu, Paviliun Mawar mendadak tertutup kabut. Cassandra telah memerintahkan kepala bendahara dan puluhan prajurit garda dalam untuk memotong seluruh pasokan logistik, membatalkan jadwal pelayan sampai mengunci beberapa pintu akses utama di sekitar kediaman Rosalynd. Sebagai seorang permaisuri sah Kekaisaran Blackwood, Cassandra seolah ingin menegaskan satu hal pada seluruh penghuni istana. Tanpa adanya Kenneth di sampingnya, Rosalynd hanyalah selir tak berdaya dan dia masuk ke istana Blackwood berkat bantuan Cassandra. "Tarik semua pelayan di paviliun Mawar. Permaisuri sah Kekaisaran masih bernafas. Tak ada alasan lagi bagi seorang selir untuk menikmati fasilitas melebihi aturan kerajaan!" perintah Cassandra dingin ketika berd
Derap langkah ribuan kuda perang Batalion Ksatria Hitam perlahan memudar di balik benteng luar Istana Utama. Kenneth telah meninggalkan istana menuju garis depan perbatasan Verona, memimpin perang saudara berdarah melawan Raymond.Sedangkan, di kamar Paviliun Mawar, Rosalynd tidak menyia-nyiakan waktu untuk meratapi nasib buruk yang menimpanya atau menangis tersedu-sedu seperti dulu. Begitu pintu kamar tak lagi dijaga ketat oleh sang Tiran, ia langsung bangkit dari ranjang, membersihkan sisa-sisa tangisnya dan mengenakan gaun sutra berwarna hitam dengan sentuhan emas yang menjuntai anggun memenuhi gaunnya.Tatapan manis yang kemarin ia berikan lenyap seketika. Kini, yang tersisa hanyalah seorang wanita dingin dengan tatapan sekeras baja.'Bajingan itu sudah pergi. Kini saatnya bergerak di balik bayangan nya sendiri.' batin Rosalynd sambil meremas stempel rahasia kecil di balik saku gaunnya.Rosalynd melangkah keluar dari paviliun dengan aura yang pekat. Akan tetapi, baru beberapa lan
Siang itu, matahari bersinar cukup terik. Akan tetapi, suasana di pelataran paviliun Mawar terasa sangat dingin.Rosalynd melangkah melewati gerbang melengkung yang dipenuhi hiasan mawar merah darah yang cantik dan anggun. Di belakangnya, Lily mengikuti Rosalynd dengan berjalan menunduk sambil mem
Suasana kamar mendadak sunyi. Suara pip dari terputusnya sambungan alat komunikasi di balik pisau itu seolah merenggut semua nya.Kondisi Lily sudah jatuh terduduk lemas di lantai marmer yang dingin. Wajahnya pucat pasi dan netranya terbelalak kaget."N—Nona. A—apa tadi suara Kaisar? Jadi, sejak t
Pintu tersembunyi di balik lemari kayu ek berderit pelan. Jantung Rosalynd berdegup kencang, tangannya spontan menarik sisa robekan gaun untuk menutupi tubuhnya.Akan tetapi, setelah ditunggu beberapa detik keluarlah wanita berpakaian pelayan sederhana melangkah keluar dengan buru-buru."Nona Rosal
Matahari pagi itu belum sempat menampakkan wujudnya di ufuk timur, namun pintu paviliun obsidian sudah digedor dengan sangat berwibawa."Perhatian, selir Rosalynd. Ibu Suri dan Permaisuri Agung telah tiba!" seru dayang Martha dari balik pintu kamar.Rosalynd tersentak kaget.Jantungnya berdegup ken







