LOGINMatahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden sutra Paviliun Mawar, menyinari pemandangan yang tak pernah terbayangkan akan terjadi di dalam Istana Utama Blackwood. Sang Kaisar Agung sedang duduk selonjoran di atas karpet bulu tebal dengan rambut hitamnya yang sedikit acak-acakan. Kemeja mewahnya agak kusut dan sepasang lingkaran hitam tipis terukir di bawah matanya. Di lengan kirinya Valerius tertidur pulas sementara Rosalie di pangkuannya sibuk memainkan jemari besarnya. "Ya ampun Tuan. Anda terlihat seperti prajurit yang baru saja kalah perang," goda Rosalynd sambil melangkah mendekati Kenneth dan menyerahkan cangkir teh hangat. Kenneth mendongak. Ia meringis tipis sambil menunjuk noda basah kecil di bahu kemejanya. "Memang. Aku terlihat gagah di hadapan semua menteri, namun tumbang di tangan putri sendiri. Rosalie baru saja mengompol di bajuku, Sayang." Rosalynd seketika tertawa renyah. Tawa itu adalah tawa paling lepas yang membuat mata Rosalynd semakin menyipit. "Itu ar
Berita mengenai lahirnya sepasang bayi kembar Blackwood, yaitu Valerius dan Rosalie Blackwood seketika mengguncang seluruh dunia dalam kurang lebih satu malam. Lonceng kekaisaran yang bergema sembilan belas kali menjadi awal mula era baru yang dipenuhi dengan kedamaian di bawah garis calon penerus tahta.Namun, di balik kehebohan pesta rakyat dan ribuan ucapan selamat, Paviliun Mawar justru menyuguhkan pemandangan yang bertolak belakang.Kenneth Valerius Blackwood sedang menghadapi sesuatu yang lebih berbahaya daripada memimpin puluhan ribu pasukannya, yaitu menimang dua bayi mungil sekaligus dalam dekapannya."Tuan, pegang kepalanya dengan benar! Jangan terlalu kaku seperti itu!" tegur Rosalynd dengan tenang. Ia setengah tertawa sambil menyaksikan suaminya yang berdiri kaku di samping peraduannya.Kenneth tersenyum getir. Keringat dingin menetes di pelipisnya. Tangan besarnya yang terbiasa menggenggam pedang, kini harus berpaling dulu untuk menimang tubuh mungil Valerius dan Rosalie
Suara tangisan bayi yang sangat melengking berhasil memecah keheningan di ruang persalinan. Suara kehidupan pertama yang sangat dinantikan oleh sang penguasa Blackwood."Selamat, Yang Mulia! Telah lahir bayi laki-laki dengan sangat sehat dan sempurna!" pekik dokter senior yang menangani persalinan Rosalynd. Setelah dipastikan sudah dipotong tali pusar nya, dokter memberikan bayi itu pada perawat untuk dibersihkan.Melihat itu, Kenneth sempat membeku di tempat berlutut nya. Sang Kaisar Agung yang terkenal dengan julukan monster berdarah, seketika tak punya tulang. Suaranya tercekat dan untuk pertama kalinya dalam sejarah Kekaisaran Blackwood, setitik air mata kebahagiaan lolos membasahi jemari Rosalynd yang Kenneth genggam."Pu—putra kita. Putra kita sudah lahir, Sayang—" bisik Kenneth dengan suara yang bergetar parau. Di penuhi dengan binar haru. Rosalynd yang masih lemah pun hanya bisa tersenyum. Napasnya masih tersengal-sengal. Akan tetapi, sebelum Kenneth mengecup dahi istrinya u
Waktu bergulir cepat menyapu sisa-sisa bulan ketujuh hingga resmi melangkah ke penghujung bulan kesembilan. Dinding-dinding Paviliun Mawar seolah ikut menahan napas. Menyongsong detik-detik kelahiran sang penerus tahta utama Kekaisaran Blackwood. Perut Rosalynd telah membuncit sempurna dan posisinya kian menurun, menandakan si kecil di rahimnya sudah siap untuk melihat dunia. Beban tubuh yang semakin berat membuat napas sang Permaisuri sering tersengal pelan, sementara pergerakan nya semakin membutuhkan bantuan penuh dari sang suami. Kenneth menolak meninggalkan kamar utama bahkan untuk sekedar menghadiri rapat kabinet singkat di istana depan. Seluruh dokumen penting dan urusan pemerintahan ia pindahkan ke sebuah meja kayu kecil yang sengaja ditaruh di tempat tidur mereka, supaya pandangannya tak pernah lepas dari sosok wanitanya sedetik pun. Para dokter istana terbaik, perawat senior bahkan bidan terlatih sudah disiagakan selama 24 jam penuh di bangunan sayap Paviliun. Seluruh per
Tak terasa, tiga bulan berlalu membawa kehangatan yang makin meluap di dalam dinding Istana Utama Blackwood. Usia kandungan Rosalynd kini telah resmi memasuki pertengahan bulan ketujuh. Perutnya yang dulu hanya menonjol samar, kini telah membuncit sempurna. Perubahan fisik ini tentu membuat pergerakan Rosalynd semakin terbatas. Langkah kakinya tak lagi segesit dulu dan rasa pegal di pinggang bawah kerap kali menyapanya setiap kali ia berdiri terlalu lama. "Sudah kubilang, jangan pernah mencoba mengambil barang yang jatuh sendiri, Rosalynd." Tegur sebuah suara berat yang penuh dengan rasa cemas namun begitu hangat. Kenneth yang baru saja melangkah masuk ke dalam kamar utama paviliun seketika bergerak cepat. Sebelum jemari Rosalynd sempat menyentuh selendang sutra yang terjatuh di lantai, Kenneth lebih dulu berlutut di hadapan istrinya. Pria itu mengambilkan selendang sutra dan mendongak menatap Rosalynd dengan alis yang terangkat. Rosalynd hanya tersenyum tipis, jemarinya mengusap
"T—Tidak, Tuan. Bukan sakit!" terang Rosalynd cepat sambil berusaha menahan tawa kecilnya ketika melihat raut kepanikan yang luar biasa di wajah suaminya.Rosalynd meraih tangan Kenneth yang gemetar panik. Kemudian, dia menempelkan telapak tangan kekarnya yang biasa memegang pedang, tepat ke perut nya yang baru saja mengalami gelombang cinta."Coba Anda rasakan sendiri ini," bisik Rosalynd lembut.Kenneth menahan napasnya. Seluruh pergerakan tubuh pria tegap itu. Binar matanya yang biasanya memancarkan aura dominasi, kini dipenuhi dengan rasa bingung dan cemas.Sebuah dorongan kecil yang sangat halus terasa sangat nyata menyapa telapak tangan Kenneth. Sentuhan mungil dari si kecil melalui rahim seolah sedang memberikan salam dan sapaan hangat untuk sang ayah.Manik mata Kenneth membelalak lebar. Sang Tiran Kekaisaran yang dijuluki monster tanpa belas kasih kini mendadak membisu. Suaranya tercekat dan lidahnya kaku karena mengetahui getaran kehidupan buah hatinya sendiri."D—dia. Dia b
Siang itu, matahari bersinar cukup terik. Akan tetapi, suasana di pelataran paviliun Mawar terasa sangat dingin.Rosalynd melangkah melewati gerbang melengkung yang dipenuhi hiasan mawar merah darah yang cantik dan anggun. Di belakangnya, Lily mengikuti Rosalynd dengan berjalan menunduk sambil mem
Jarak wajah mereka yang telah menjauh, Kenneth tetap mengunci kedua pergelangan tangan Rosalynd di atas kepala dengan satu tangan besarnya yang kokoh."Ck! Kau pikir aku Sudi menyentuh wanita dari klan Shanza, Rosalynd?" desis Kenneth dengan suara yang mulai merendah.Napas Rosalynd terengah-engah
Cengkeraman tangan Kaisar Kenneth di dagu Rosalynd terasa begitu kuat sehingga membuat tulang rahangnya linu. Rosalynd mendongak pasrah. Wajah Kenneth terlihat sangat tampan namun tanpa menyisakan rasa belas kasih. Hawa panas yang menguar dari tubuh pria itu seolah mampu mengubah suasana di dala
"Kaisar malam ini akan datang. Bersiaplah dan jangan berani-berani membuat kesalahan jika kau masih ingin hidup dengan tenang.” Kalimat itu masih terngiang di kepalanya.Seluruh dunianya seolah hancur saat kakaknya sendiri, Permaisuri Cassandra, menyuruhnya untuk tidur dengan suaminya sendiri…Itu







