MasukPemberhentian jabatan Duke Vane yang mendadak membuat suasana Aula Agung Istana Barat berada di puncak ketakutan. Tidak ada satu pun menteri yang berani menatap mata Kenneth, apalagi memprotes nya. Di mata mereka, bayangan Tiran dingin dan tanpa belas kasih kembali lagi. Siap meremukkan siapa pun yang memicu kelemahannya. "Pelaksanaan akan segera dilakukan hari juga, Yang Mulia," sahut Caelan dengan suara lantang dan menggelegar seolah menegaskan kepatuhan mutlak atas perintah sang Kaisar. Tanpa membuang waktu atau memberikan sepatah kata pun bagi para pejabat fraksi Selatan untuk membela diri, Kenneth menarik pedangnya dari meja kayu tebal dengan satu gerakan tenang. Besi tajam yang berkilat itu dimasukkan kembali ke sarungnya dengan dentingan nyaring. Kenneth berbalik dan pergi meninggalkan Aula Agung dengan jubah kebesarannya yang melambai megah. Langkah nya berat bergema di sepanjang koridor dan disusul oleh Caelan yang mengekor. "Pastikan seluruh pasukan elit bergerak ke wila
Aura di ruangan kerja Paviliun Mawar seketika berubah mencekam. Caelan menunduk dalam, tidak berani menatap langsung sepasang iris mata gelap milik Kenneth yang berkilat mematikan. "Baik, Yang Mulia. Saya akan mengumpulkan seluruh anggota dewan menteri dan para petinggi fraksi sebelum fajar menyingsing," tegas Caelan dengan patuh dan mengundurkan diri secara perlahan. Keheningan yang dingin dan menusuk tiba-tiba menyelimuti ruangan. Kenneth berdiri kaku di depan meja kerjanya, jemari besarnya terkepal erat hingga buku-buku jarinya memutih. Napasnya memang teratur namun berat, memancarkan naluri pembunuh dari seorang Tiran yang telah lama di pendam. Rosalynd bangkit dari duduknya. Rasa terkejutnya kini berubah menjadi amarah seorang ibu. Ia melangkah mendekati Kenneth dan mencengkeram kuat lengan suaminya yang mengeras. "Kenneth," panggil Rosalynd dengan suara bergetar menahan emosi. "Aku tidak akan pernah mengizinkan siapa pun menyentuh anak-anak ku. Baik itu Valerius ataupun Rosa
Lilin-lilin aromaterapi di sudut ruangan memberikan suasana tenang. Di sofa panjang dekat meja kerja, Rosalynd menyandarkan kepalanya di dada bidang Kenneth dan menikmati ritme detak jantung suaminya yang teratur. "Cepat sekali mereka tidur malam ini," gumam Rosalynd pelan. Kenneth yang sedari tadi membelai lembut rambut istrinya tersenyum tipis. "Tentu saja. Bagaimana tidak. Seharian ini mereka berlagak seperti prajurit di Medan perang. Valerius mengejar kupu-kupu dan Rosalie juga sibuk menyuapiku bunga." Rosalynd terkekeh pelan. "Tapi, Anda menikmatinya bukan? Sampai-sampai saya tidak pernah membayangkan bahwa seorang Kaisar Agung, pemimpin tertinggi Blackwood mau berbaring di rumput hanya untuk menjadi area panjat untuk anak-anaknya. "Kau mengejek ku, Permaisuri?" goda Kenneth dengan nada rendah sambil mencubit lembut pipi Rosalynd. "Tidak tidak. Ampun. Saya hanya kagum saja sama Anda," balas Rosalynd. Jemarinya merapikan kerah kemeja suaminya. "Anda berubah banyak sekali. Dul
Setelah melalui hari yang lelah karena memimpin rapat dan menyusun strategi perang. Kenneth kembali ke Paviliun Mawar. Ia melihat kedua anaknya sedang bermain bersama istrinya. "Ayah pulang—" kata nya sambil menggendong Rosalie. Ia mengecup pipi Rosalie gemas. Rosalie pun tak kalah gemas dengan tingkah laku ayahnya yang menciumnya tanpa henti. "Nah, sudah ya sayang. Jangan minta gendong ayah dulu. Biarkan ayah istirahat, nanti sore kita main lagi di taman. Hemthhhh," tawar Rosalynd pada kedua putranya. "Tidak. Aku tidak lelah. Kenapa kau seolah-olah malah membuatku lemah dihadapan dua anakku? Apa maksudnya itu?" Kali ini, Kenneth yang merajuk. Ia yang masih menggendong Rosalie berjalan ke balkon. "Eh eh. Mau kemana bayi besarku. Sini, berikan putriku padaku!" bentak Rosalynd. Seolah ingin menggoda istrinya, Kenneth tak bergeming. Ia mematung dan seolah mengerti, Rosalie juga ikut merajuk seperti ayahnya. "Ah, cukup dong. Kalau di diamkan, nanti ibu kalau ada urusan,
Aula Utama Istana Barat diselimuti ketegangan kaku. Di atas kursi kepemimpinan, Kenneth duduk tegap dibalut jubah hitam berlapis emas. Pandangan matanya menelisik lembaran dokumen batas wilayah yang disodorkan oleh para menteri.Beberapa pejabat tua terlihat menunduk dan menahan cemas menunggu keputusan sang Kaisar. Namun, jenderal Caelan yang berdiri tak jauh dari tahta justru harus bersusah payah menahan sudut bibirnya supaya tidak tersenyum.Pipi kiri sang Tiran itu masih membekas merah tipis berbentuk telapak tangan mungil."Caelan," panggil Kenneth dengan suara berat yang membuat para menteri yang duduk di meja panjang seketika menegang. "Kenapa memperhatikan wajahku sejak tadi?"Caelan berdehem pelan, menundukkan kepala sambil mendekat. "Maafkan saya, Yang Mulia. Tampaknya Putri Rosalie memberikan tanda pertempuran yang cukup berbekas di pipi Anda pagi ini."Kenneth mengeryit. Tangannya berusaha menyentuh pipi kirinya sendiri dan menyadari ada bekas tamparan sayang dari putranya
Kenneth mendaratkan kecupan singkat di pipi Rosalynd. Keduanya menikmati keheningan pagi yang berangsur riuh oleh derap langkah mungil di atas karpet tebal. Kehidupan di Paviliun Mawar tidak lagi sunyi seperti dulu. Setiap sudut istana yang dulunya dingin, kini dipenuhi oleh aroma minyak telon dan tawa renyah. Valerius yang masih berada di pangkuan Kenneth mulai bosan. Ia memainkan kancing kemeja ayahnya. Pangeran kecil itu menegakkan punggungnya dan menatap wajah Kenneth dengan kening berkerut. Ekspresinya sangat mirip dengan sang Kaisar ketika sedang meneliti dokumen. Tangannya yang mungil mendadak terulur, menepuk-nepuk pipi Kenneth dengan cukup keras. PLAK! "Ba! Ba! Pa!" celoteh Valerius lantang dan memamerkan empat gigi susu nya yang baru tumbuh separuh. Rosalynd yang menyaksikan kejadian itu seketika menutup mulutnya dan menahan tawa yang hampir meledak. Seorang Tiran Kekaisaran Blackwood, pria yang ditakuti oleh seluruh bangsawan baru saja ditampar ringan oleh bayi berusi
Jarak wajah mereka yang telah menjauh, Kenneth tetap mengunci kedua pergelangan tangan Rosalynd di atas kepala dengan satu tangan besarnya yang kokoh."Ck! Kau pikir aku Sudi menyentuh wanita dari klan Shanza, Rosalynd?" desis Kenneth dengan suara yang mulai merendah.Napas Rosalynd terengah-engah
Cengkeraman tangan Kaisar Kenneth di dagu Rosalynd terasa begitu kuat sehingga membuat tulang rahangnya linu. Rosalynd mendongak pasrah. Wajah Kenneth terlihat sangat tampan namun tanpa menyisakan rasa belas kasih. Hawa panas yang menguar dari tubuh pria itu seolah mampu mengubah suasana di dala
Siang itu, matahari bersinar cukup terik. Akan tetapi, suasana di pelataran paviliun Mawar terasa sangat dingin.Rosalynd melangkah melewati gerbang melengkung yang dipenuhi hiasan mawar merah darah yang cantik dan anggun. Di belakangnya, Lily mengikuti Rosalynd dengan berjalan menunduk sambil mem
"Kaisar malam ini akan datang. Bersiaplah dan jangan berani-berani membuat kesalahan jika kau masih ingin hidup dengan tenang.” Kalimat itu masih terngiang di kepalanya.Seluruh dunianya seolah hancur saat kakaknya sendiri, Permaisuri Cassandra, menyuruhnya untuk tidur dengan suaminya sendiri…Itu







