แชร์

Bab 34

ผู้เขียน: Olivia Yoyet
last update วันที่เผยแพร่: 2026-05-15 13:03:19

34

Dimas manggut-manggut saat mendengarkan Zhou Yiran yang tengah mengoceh, tentang hasil promosi usahanya pada hari itu. Dimas tidak menyangka jika Dahayu, Yuvarani, dan beberapa anggota GPCI lainnya, langsung tertarik untuk memesan hasil desain istrinya.

Dimas mengucap hamdalah dalam hati, karena teman-temannya langsung bergerak cepat untuk membantu Zhou Yiran, supaya perempuan tersebut betah tinggal di Jakarta, dan memiliki banyak teman baru.

Akan tetapi, ketika Zhou Yiran menyebut nama Zia
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Dari Terpaksa Perlahan Jadi Cinta    Bab 34

    34Dimas manggut-manggut saat mendengarkan Zhou Yiran yang tengah mengoceh, tentang hasil promosi usahanya pada hari itu. Dimas tidak menyangka jika Dahayu, Yuvarani, dan beberapa anggota GPCI lainnya, langsung tertarik untuk memesan hasil desain istrinya. Dimas mengucap hamdalah dalam hati, karena teman-temannya langsung bergerak cepat untuk membantu Zhou Yiran, supaya perempuan tersebut betah tinggal di Jakarta, dan memiliki banyak teman baru.Akan tetapi, ketika Zhou Yiran menyebut nama Zianka, Dimas nyaris tersedak. Dia meraih gelas dan meneguk airnya beberapa kali, lalu meletakkan gelas ke meja sambil memandangi adiknya di kursi seberang. Keduanya seakan-akan tengah berbincang dengan bahasa batin, sebelum Depika menanyakan sesuatu pada Zhou Yiran, agar mengalihkan perhatian Kakak iparnya. "Kamu sudah punya modelnya?' tanya Zhou Yiran."Enggak ada, Ci. Aku blank tentang desain perhiasan. Kalau desain gedung apartemen, aku paham," jelas Depika. "Nanti kukasih 3 buku desainku dar

  • Dari Terpaksa Perlahan Jadi Cinta    Bab 33

    33 Zianka tercenung, saat nama Zhou Yiran muncul sebagai anggota terbaru GPCI, alias Grup Pengusaha Cantik Indonesia, di mana dirinya telah bergabung sejak 5 tahun silam. Zianka tetap diam dan hanya mengamati saat istri Dimas itu menyapa seluruh anggota grup, menggunakan bahasa Inggris campur Indonesia. Zianka enggan untuk beramah tamah dan memutuskan mengarsipkan grup itu, dan menggulirkan jemarinya untuk berpindah ke grup lain.Akan tetapi, Mayuree yang menjadi Ketua GPCI, menge-tag seluruh anggota grup yang belum muncul. Zianka akhirnya terpaksa mengetikkan komentar penyambutan basa-basi, yang ternyata langsung direspons Zhou Yiran. *GPCI*Zhou Yiran : Aku menunggumu datang di pestaku, tapi ternyata kamu tidak hadir.Zianka : Maaf, @Yiran. Waktu itu aku tengah dinas ke Singapura. Zhou Yiran : Baiklah. Tapi, saat pembukaan tokoku nanti, kuharap kamu benar-benar datang. Zianka : InsyaAllah. Kuusahakan. Lova Restisalya Hanasta Padmana : Toko apa? @Yiran. Zhou Yiran : Desain per

  • Dari Terpaksa Perlahan Jadi Cinta    Bab 32

    32Zhou Yiran mendekap kokonya sembari menahan tangisan yang nyaris keluar. Namun, air mata perempuan itu benar-benar tumpah ketika mendekap Jia Ping dan Ren Liangyi. Zhou Yiran masih terisak-isak kala berpindah untuk menyalami Shin Bao dan keempat pegawai kokonya. Zhou Yiran manggut-manggut saat sang koko kembali memberikan wejangan, supaya perempuan tersebut menjaga kesehatannya. Zhou Yiran memandangi ketika pasukan PBK cabang China, memberi hormat pada para petinggi PB serta PBK, yang turut mengantarkan mereka ke bandara. Setelahnya, rombongan pimpinan Sha Jun Hui itu bergerak keluar ruang tunggu, guna menaiki pesawat berlogo Adhitama, yang dipinjam dari keluarga tersebut. Zhou Yiran mengamati hingga pesawat itu lepas landas. Dia menarik napas panjang dan melepaskannya perlahan, kemudian berbalik dan jalan sambil melamun. Zhou Yiran kaget ketika seseorang memeluk pinggangnya dari samping kanan, dan dia spontan menoleh. "Mau pulang ke rumah, atau ikut aku ke kantor?" tanya Dima

  • Dari Terpaksa Perlahan Jadi Cinta    Bab 31

    31Zhou Yiran mengamati kamar utama di rumah suaminya, yang baru kali itu dia masuki. Zhou Yiran melangkah mendekati jendela yang dalam kondisi terbuka. Dia melongok keluar untuk mengamati sekeliling. Zhou Yiran manggut-manggut. Dia menyukai halaman belakang yang cukup rapi. Meskipun tidak terlalu besar, tetapi banyaknya dedaunan di sana menjadikan tempat itu tampak teduh. Ditambah dengan hemericik air dari kolam kecil tepat di seberang jendela, menambah kenyamanan tempat itu.Zhou Yiran berbalik kala seseorang memasuki kamar. Dia terus memandangi Dimas yang sedang menyeret dua koper brsar. Setelah meletakkan barang bawaan ke dekat meja rias, Dimas kembali ke dekat pintu dan menutupnya. Dimas menyambar remote dari tempatnya di dekat sakelar. Dia menyalakan penyejuk udara, lalu menempatkan remote ke tempat semula."Ran, tolong tutup jendelanya," pinta Dimas sembari berpindah ke dekat lemari.Zhou Yiran mengerjakan permintaan suaminya. "Bajunya mau di ke manakan?" tanyanya, kala menya

  • Dari Terpaksa Perlahan Jadi Cinta    Bab 30

    30Zianka melengos, seusai melihat video resepsi ngunduh mantu Dimas dan Zhou Yiran pada akhir pekan kemarin, yang diunggah Lazuardi di grup proyek yang mereka tangani bersama. Zianka beralih menggulirkan jemari untuk mengetikkan pesan, yang dikirimkannya pada Yusril dan mamanya. Pengumuman dari petugas bandara membuat Zianka segera memasukkan ponsel ke baugette bag hitam. Perempuan bersetelan salem itu berdiri dan menarik kopernya, lalu melenggang untuk bergabung dengan para penumpang lainnya. Reni Irhana, asisten Zianka, menyusul bosnya sembari menyeret koper kecil. Reni mendengarkan ucapan Zianka, lalu dia mengangguk patuh. Keduanya melangkah melintasi koridor panjang, hingga memasuki lorong yang menghubungkan gerbang bandara dengan pintu pesawat.Sekian menit berlalu, kedua perempuan tersebut telah duduk berdampingan di deretan kursi sisi kiri. Zianka menengadah ketika dipanggil seseorang. "Maaf, kursi saya di dekat jendela," tutur pria berkemeja marun, sambil menunjuk tempat ya

  • Dari Terpaksa Perlahan Jadi Cinta    Bab 29

    29Zhou Yiran menyalami keluarga besar Bajradaka, yang berkumpul di kediaman Darmawan guna menyambutnya, sang menantu pertama. Kendatipun bahasa Indonesianya belum lancar, tetapi Zhou Yiran sudah memahami kalimat panjang yang diucapkan lawan bicara. Namun, ketika berbincang dengan kedua orang tua Darmawan, Zhou Yiran terlihat bingung, karena tidak memahami bahasa Jawa yang digunakan kedua sesepuh tersebut."Eyang, Cici Yiran orang China. Dia nggak paham bahasa Jawa," ujar Depika, yang mendampingi Kakak iparnya di sofa dua dudukan. Walaupun usianya lebih tua setahun, tetapi Depika tetap menyematkan panggilan Cici untuk menghormati Zhou Yiran. "Oalah. Maaf, Eyang lupa," sahut Handayani. "Tidak apa-apa, Eyang," tutur Zhou Yiran. "Nduk, kamu aslinya dari kota mana?" tanya Jasman Bajradaka. "Guangzhou," terang Zhou Yiran. Jasman mengangguk paham. "Eyang belum pernah ke sana, tapi Eyang pernah nyampe ke Hong Kong. Dulu sekali. Waktu ikut teman Eyang kerja." "Eyang kerja apa di Hong K

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status