Share

Dear Mantan
Dear Mantan
Penulis: Fitriyani

Bab 1

 

 

Desas-desus tentang kabar akan datangnya si pemilik Perusahaan, membuat suasana Kantor begitu ramai. Bukannya sibuk bekerja, mereka malah asyik berbincang. Membuat Alya, merasa geram dibuatnya.

 

Di ruangan itu rupanya hanya dia sendiri, yang tidak perduli dengan kedatangan si Tuan rumah. Bagi Alya, semua nampak biasa tak usah dibuat rusuh!

 

"Dasar wanita dingin!" cecar Santi, sambil menepuk bahu sang teman. Yang tengah sibuk dengan beberapa dokumen di tangan.

 

"Apaan sih? Aku tuh lagi sibuk tau, nggak kayak kalian. Rusuh di pagi yang cerah ini," sahut Alya, tak mau kalah dari Santi.

 

"Hei, si empunya Perusahaan mau datang loh. Dan kabarnya, doi cakep. Mapan pula, emang kamu nggak tertarik gitu?" Santi bertanya, berharap sang teman mulai serius menanggapinya.

 

"Nggak perduli! Cakep doang mah percuma," timpal Alya, masih tak mau mengalihkan pandangan dari kerjaannya.

 

Santi melongo, tak habis pikir dengan ucapan temannya barusan, "Maksudnya gimana sih? Percuma apanya coba?"

 

Alya mendengus kasar, merasa kesal telah diganggu oleh Santi.

 

"Percuma San, kalau ternyata doi nggak tertarik sama aku. Ngerti nggak sih?" 

 

Santi tergelak, lantas terkekeh pelan. Mulai paham dengan arah pembicaraan Alya, teman yang baru masuk kerja sebulan yang lalu.

 

"Yaelah, kali aja doi tertarik sama kamu Al. Terus ngajak pacaran, dan ujungnya nikah deh," seloroh Santi, masih dengan senyum tercetak di bibirnya.

 

"Dasar halu!" Mereka tertawa bersama, obrolan garing seperti ini harus segera Alya akhiri. Sebab, banyaknya kerjaan yang begitu menumpuk.

 

"Oi, pemilik Perusahaan datang!" Teriak seorang OB, membuat suasana yang tadinya begitu rusuh. Mendadak hening, serta merta membuat mereka duduk rapi di meja masing-masing.

 

Semua mata memandang si pemilik Perusahaan, dengan rasa kagum terlebih para wanita. Apalagi jomblo, yang sudah tidak sabar mendamba jodoh yang tak kunjung datang.

 

Alya ikut penasaran, lantas memutuskan untuk menunda dokumen. Mengalihkan pandangan pada pria yang tengah menjadi sorotan seantero Kantor.

 

Degg. Masih tak percaya dengan apa yang baru dilihat, ia mengucek matanya. Hingga menghasilkan tanda merah di mata kiri dan kanan.

 

Bagaimana mungkin, jika si pemilik Perusahaan tempat ia bekerja. Adalah sosok pria yang pernah menjadi masa lalunya!

 

Sekali lagi Alya, ingin memastikan bahwa apa yang baru dilihat. Hanyalah halusinasi, bukan kenyataan yang jelas tak mudah ia terima begitu saja.

 

Alya bangkit dari kursi, membuat orang-orang menatap heran. Alya yang cuek, dingin terhadap pria. Mendadak kepo, ingin tau bagaimana rupa pria yang tengah menjadi sorotan.

 

"Katanya nggak perduli! Tapi, kok lihatnya gitu amat sih!" tukas Santi, menatap Alya dengan heran.

 

Sadar akan tatapan heran dari Santi, Alya bergegas duduk. Tak mau ambil pusing dengan penglihatan barusan, mungkin dia hanya sedang halu. Terlalu banyak memikirkan pria masa lalunya.

 

"Aduuuuh, si Bos tampan banget. Maulah aku sama dia," ujar Dewi, jomblo akut. Masih menatap pintu yang sudah tertutup rapat.

 

"Tapi, sayangnya doi mana mau sama kamu Wi." Yang lain menimpali, lantas membuat seluruh ruangan dihiasi dengan gelak tawa. Mengejek si jomblo, yang udah nggak kuat menahan kesendirian.

 

Alya sendiri masih berkecamuk dengan pikirannya, kedua netra menerawang jauh. Sekelebat bayangan sang mantan, hadir menyapa. Bahkan tanpa diminta.

 

Kepergian pria yang amat dicinta, membuat hidupnya hancur! Bagaimana tidak, ia pergi justru di hari pernikahan mereka yang tinggal menghitung jam.

 

Alya tak pernah tau, alasan pasti sang mantan pergi. Sebab, dirinya tak pernah memberi kabar berita. Pria itu menghilang seolah ditelan bumi.

 

"Melamun aja Al, semenjak kedatangan si Bos. Kok, kamu mendadak muram? Ada yang salah dengan dia?" Pertanyaan Santi, membuyarkan lamunan panjang Alya.

 

Alya mendongak, lantas segera menepis bayangan masa lalu, "Nggak San, aku mendadak pusing tadi."

 

Alya berbohong, demi menutupi apa yang sempat terlintas dalam pikiran. Santi jelas tidak tau, tentang masa lalu yang cukup menikam hati. Meluluhlantahkan seluruh sendi.

 

"Semua cewek kagum sama kamu, Bep. Sebel deh," ucap seorang wanita, sambil terus bergelayut manja.

 

Reino hanya melirik sekilas, lantas terus berusaha melepas tangan dari jerat si wanita.

 

"Biarin aja! Itu 'kan hak mereka," tukas Rei, menatap tak perduli.

 

Mey merasa geram, Reino terus saja cuek. Padahal, dia selalu berusaha untuk menggodanya selama ini.

 

"Kamu bisa keluar nggak dari sini? Aku sibuk, mau ngobrol penting sama Pak Direktur."

 

Dengan penuh sesal, Mey melenggang pergi. Bagaimana mungkin wanita cantik seperti dirinya terusir dengan tidak terhormat!

 

 

 

Komen (1)
goodnovel comment avatar
Mardyah Lups Denkafa
dari pertama bc udah ngrsain sakit hati uyyy
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status