ログインPerpustakaan Kampus selalu menjadi tempat paling sunyi. Di lantai empat, di antara rak-rak buku yang menjulang tinggi, Nika menunggu di meja pojok. Tepat pukul 12.00, Ardi muncul dari balik rak referensi."Sudah lama?" tanya Ardi sambil menaruh tasnya di kursi sebelah Nika."Baru sepuluh menit. Kamu baru selesai kelas?""Iya, dosen pemrograman tadi benar-benar menguji kesabaran," jawab Ardi. Ia duduk cukup dekat, hingga lengan jaket denimnya sesekali bersentuhan dengan lengan kemeja Nika.Nika berusaha fokus pada layar laptop. "Bagian looping untuk tugas ini bikin pusing. Lihat, kodenya selalu error di baris ke-45."Ardi mencondongkan tubuh, jemarinya yang lentik menunjuk ke layar. "Coba lihat tanda titik komanya. Kurang satu di sini."Tanpa sadar, wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter. Nika bisa mencium aroma kopi lembut dari napas Ardi. Fokus Nika buyar total."Oh, iya... bodohnya aku," bisik Nika, suaranya parau. Ia segera menggeser duduknya sedikit menjauh, menco
Pukul 19.00. Nika berdiri di depan pagar kosan. Ia merapikan kemeja kremnya berkali-kali. Suara knalpot motor mendekat. Ardi berhenti, melepas helm dengan gerakan santai. Jaket denimnya membuat bahunya tampak lebih lebar dari biasanya. "Sudah lama?" tanya Ardi, senyum tipis tersungging di bibirnya. "Baru saja," jawab Nika, menghindari tatapan mata Ardi. "Pakai helmnya. Kita jalan sekarang?" Nika naik ke boncengan. Ardi melaju membelah kemacetan Jakarta. Saat motor mengerem mendadak, tubuh Nika terdorong ke depan, menempel di punggung Ardi. "Eh, maaf!" Nika menjauh, wajahnya memanas. "Pegang pinggangku saja, Nika. Jangan kaku begitu," suara Ardi terdengar dari balik helmnya sambil terkekeh pelan. Ardi menarik tangan Nika dan menempelkannya ke jaket denimnya. Jantung Nika berdegup kencang. Ia bisa merasakan otot pinggang Ardi yang kokoh. Ia bisa merasakan hangat tubuh Ardi menembus jaket denim itu. Di tengah bisingnya Jakarta, suara detak jantungnya sendiri
Koridor lantai dua Gedung Dekanat riuh oleh ratusan mahasiswa baru. Di sepanjang dinding, mading besar dipenuhi poster warna-warni berslogan makrab akbar fakultas: Teknik Bersatu 2026. Di depan Sekretariat Bersama, meja-meja kayu diletakkan berderet, tempat para senior panitia inti sibuk membagikan lembaran formulir pendaftaran berwarna biru muda. Nika berdiri di ujung antrean, memandangi kertas biru di tangannya dengan dahi berkerut. Formulir itu bukan sekadar kertas biasa, di dalamnya terdapat esai singkat tentang motivasi bergabung, skala prioritas kuliah, serta kolom pilihan tiga divisi."Masih bingung di pilihan kedua, Di?" bisik Nika tanpa menoleh, jarinya mengetuk-ngetuk pulpen gel hitam di atas papan jalan tripleks yang ia bawa dari kosan. "Pilihan pertama jelas Divisi Acara karena diajak Dania. Tapi yang kedua sama ketiga... mending apa? Kesekretariatan atau Logistik?"Ardi, yang berdiri tepat di belakang Nika dalam antrean, melirik formulir itu. Ia sendiri sudah selesai m
Kantin Fakultas Teknik saat jam makan siang adalah representasi sempurna dari pasar malam yang kehilangan kendali. Suara dentingan sendok beradu dengan piring plastik, gemuruh obrolan tentang rumus kalkulus, hingga aroma minyak gorengan panas memenuhi udara di bawah atap seng raksasa itu. Nika berjalan di belakang Ardi, menjadikan punggung cowok itu sebagai tameng pembuka jalan di tengah lautan manusia ber-almamater. Ia memeluk buku catatannya erat, takut tersenggol hingga jatuh ke lantai yang becek oleh tumpahan air es."Mau makan apa?" tanya Ardi tanpa menghentikan langkahnya."Apa saja! Yang antreannya tidak seperti ular naga!" balas Nika keras, berusaha mengalahkan suara petikan gitar sumbang di pojokan."Siomay saja yuk? Abangnya lagi senggang," tunjuk Ardi ke arah rombong bungkusan biru di dekat tiang tengah.Setelah mengamankan meja panjang dekat kipas angin berkarat, Ardi menyajikan dua piring siomay dengan bumbu kacang melimpah. Nika langsung menyambar gelas es tehnya, m
Seminggu setelah penderitaan ospek berakhir, kehidupan kampus yang sesungguhnya dimulai. Bagi Nika, ini adalah transisi dari kaos oblong santai ke kemeja berkerah yang masih terasa kaku. Nika duduk di barisan ketiga, posisi strategis yang tidak terlalu mencolok. Sementara di grup WhatsApp angkatan, anak-anak Jakarta sudah sibuk pamer bahasa pemrograman yang sama sekali belum pernah Nika dengar."Kosong, Nika?""Eh, Ardi. Kosong kok, duduk saja," jawab Nika, merasa lega setidaknya ia tidak harus duduk dengan orang asing. Ardi menurunkan tasnya, lalu mengeluarkan laptop Asus hitam yang layarnya agak baret, laptop yang sama dengan yang diselamatkan Nika di kosan Dania minggu lalu."Siap buat hari ini?" tanya Ardi sambil menekan tombol power."Siap tidak siap, Ardi. Jujur, aku deg-degan banget. Kamu lihat grup semalam? Bahasanya sudah seperti alien. Aku boro-boro tahu coding, membuat algoritma saja belum paham," curhat Nika dengan volume rendah.Ardi menoleh, menatap Nika yang jarin
Setelah berjam-jam merendam kertas koran hingga jemari menghitam, Nika dan Ardi keluar dari gedung aula pukul 17.30. Bahu Nika kaku, betisnya berdenyut. Ponselnya bergetar, menampilkan pesan dari Dania: Nika, sudah balik? Tolong titip pembalut bungkus pink dan biskuit Roma Kelapa di minimarket depan ya. Nika membalas singkat, lalu menatap jalanan kampus yang temaram oleh lampu merkuri."Belum pulang?"Nika sedikit tersentak. Ardi sudah berjalan di sampingnya sejak tadi. Tangan kirinya dimasukkan ke dalam saku celana. Jaket parasut hitamnya yang tadi pagi ditaruh di dalam tas, sekarang sudah terpasang rapi, menutupi kemeja putih ospeknya."Eh, Ardi. Iya nih, mau ke minimarket depan dulu, dititipi barang sama kakak kos," kata Nika sambil menyesuaikan langkah kakinya yang pendek dengan langkah kaki Ardi yang lebar.Ardi mengangguk paham. "Kos kamu di daerah mana memangnya?""Di Gang Senggol belakang kampus itu. Yang dekat warung makan Bu Sipon. Tahu tidak?""Oh, tahu. Kosan cowok







