Compartir

Bab 20

last update Fecha de publicación: 2026-04-08 14:23:07
"Marvin! Bangun, Marvin! Jangan buat aku takut!" teriak Alina histeris, air matanya menetes meraba-raba dada Marvin yang basah oleh darah.

Di dalam hati, ia menjerit melihat luka tembak yang mengerikan itu, namun ia harus tetap menjaga sandiwara kebutaannya di depan Marvin.

"Ugh... Alina... kotak medis..." bisik Marvin parau sebelum akhirnya matanya terpejam sepenuhnya. Kepalanya terkulai lemas di dada Alina.

"Marvin! Marvin!" jerit Alina histeris.

Tiba-tiba terdengar suara pintu rumah di bu
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    Bab 126 Sikap Dingin Alina

    "Kau minta kesempatan sekali lagi? Pantas kah kau meminta itu?" bisik Alina dengan suara gemetar, menyapu air mata yang terus menetes di pipinya. "Setelah seminggu kau membuatku merasa tak berarti? Setelah aku melihat sendiri bagaimana dia mencium mu? Tidak ada kesempatan untuk mu, Marvin!""Aku mohon, Alina... Tolong jangan bicara seperti itu," lirih Marvin, tatapan matanya hancur, masih bertekuk lutut di lantai bandara. "Hukumlah aku sesuka mu, tapi jangan pergi. Nyawaku tak ada artinya kalau kau melangkah keluar dari gerbang itu. Aku mohon kepadamu."Alina menarik napas panjang, menahan kepedihan yang menusuk dadanya. "Bangun dulu, Marvin. Jangan seperti ini di depan banyak orang. Kau jangan membuatku malu seperti ini.""Aku tidak akan bangun kalau kau tetap memegang paspor dan tiket itu! Tolong jangan pergi, Alina," tegas Marvin penuh keputusasaan.Alina menatap tiket pesawat di genggamannya, lalu beralih menatap suaminya yang rela membuang seluruh harga dirinya di depan umum demi

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    Bab 125 Saat Marvin Memohon

    "Siap, Tuan! Saya akan mengerahkan seluruh tim ke bandara, stasiun dan terminal sekarang juga!" jawab Leo tegas, langsung memutar badan dan berlari keluar kamar.Marvin tak menyia-nyiakan waktu. Ia menyambar kunci mobilnya di atas meja, melangkah lebar menuruni tangga dengan napas memburu. Penyesalan teramat besar menghantam dadanya."Alina... Tolong tunggu aku. Jangan pergi! Aku tahu kau marah kepadaku," gumam Marvin dengan suara gemetar seraya menginjak pedal gas mobilnya dalam-dalam.Sementara itu, di aula keberangkatan Bandara Internasional yang padat.Alina duduk di kursi tunggu terminal keberangkatan luar negeri. Lehernya tertutup syal tipis untuk menyembunyikan bekas goresan pisau. Matanya yang berkaca-kaca menatap tiket pesawat satu arah di genggamannya.Panggilan terakhir penerbangan GA-802 tujuan Melbourne, Australia, silakan menuju pintu lima.Suara pengumuman bandara bergema. Alina menghela napas panjang, mengusap sisa air mata di pipinya. Ia berdiri seraya menarik kopern

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    Bab 124 Memutuskan Pergi

    "N-Nyonya Alina... Kau bisa melihat? Kau benar-benar bisa melihat kembali?" tanya Leo dengan mata membelalak lebar, memandangi koper besar di samping Alina dan jemari wanita itu yang memegang erat gagangnya.Alina membeku sejenak, lalu menyeka air matanya dengan kasar. Ia menatap lurus ke arah mata Leo tanpa sedikit pun rabaan atau kebingungan khas orang buta."Iya, Leo. Aku sudah bisa melihat sejak lama, tolong jangan pernah kamu mengatakan ini kepada Marvin," sahut Alina dingin. "Kenapa, Nyonya? Kenapa harus menyembunyikan ini dari Tuan Marvin? Dia pasti sangat senang melihat mu bisa melihat lagi.""Itu bukan urusan mu. Sebaiknya jangan katakan ini kepada Marvin," jawab Alina dengan ketus."Tolong menyingkir dari jalanku. Aku ingin pergi.""Tapi Nyonya... Nyonya mau kemana? Apa Tuan Tahu kalau Nyonya ingin pergi?" Leo melangkah maju, menghalangi pintu dengan wajah panik. Alina terdiam, dia menatap ke arah lain, menahan air matanya jatuh membasahi pipinya."Kenapa Nyonya membawa ko

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    Bab 123 Marvin Berubah

    "Lalu... Aku harus tinggal di mana? Kau bilang ingin melindungi aku dan calon bayiku? Aku tidak bisa tinggal sendiri bersama dengan anak buah mu," protes Lenika dengan wajah kesal."Aku sudah menyiapkan tempat untuk mu. Kau tidak perlu khawatir, di sana aman. Aku akan melindungi mu." Marvin berusaha meyakinkan Lenika."Aku menurut, Marvin. Hari ini aku diperbolehkan dokter pulang. Bisakah kamu mengantarkan aku ke rumah itu? Demi keamananku," pinta Lenika dengan nada memohon.Alina mengepalkan kedua tangannya, tapi dia berusaha untuk tetap tenang, mungkin hanya kali ini saja Marvin bersama Lenika."Marvin... Antarkan dia ke rumah itu. Setelah itu kau balik ke rumah," sahut Sofia, memberikan persetujuan."Terima kasih, Alina. Aku akan segera pulang ke rumah," kata Marvin meyakinkan.Alina mengangguk dan pulang bersama Leo. Sementara Melvin dan beberapa anak buahnya mengantarkan Lenika ke rumahnya.***Hari berganti hari. Situasi yang makin mencekam membuat Marvin tidak punya pilihan. Se

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    Bab 122 Teror

    "Ada apa, Lenika?" tanya Marvin yang sempat menyadari perubahan raut wajah wanita itu saat berdiri di ambang pintu.'Apa ini hanya perasaanku saja? Marvin bahkan tidak menyadari Alina bisa melihat. Mungkin itu hanya perasaan ku saja,' batin Lenika dalam hati.Lenika menelan ludah dengan susah payah, matanya bergerak gelisah menatap Alina yang kini kembali bersikap layaknya orang buta, meraba lengan Marvin dengan lembut."T-tidak ada, Marvin... Aku hanya masih sangat syok dengan apa yang terjadi dengan ku, Marvin," kilah Lenika terbata-bata, menyembunyikan kepanikan hebat yang membakar dadanya."Baiklah. Jika butuh sesuatu, katakan pada pengawal di luar, jangan sungkan untuk meminta bantuan," ucap Marvin tegas sebelum merangkul Alina dan melangkah keluar dari kamar VIP tersebut."Oke, terima kasih, Marvin." Lenika mengangguk, lalu menatap punggung Marvin dan Alina pergi***Di dalam mobil mewah yang melaju tenang menuju kediaman Vance, Marvin tak henti-hentinya menggenggam jemari Alina

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    Bab 121 Musuh Lama Telah Kembali

    "Ayo, kita pergi sekarang! Kita jenguk Lenika." ujar Marvin tegas seraya beranjak dari sofa dan membantu Alina berdiri dengan penuh kehati-hatian."Baiklah, Marvin."Alina mengangguk, menyandarkan lengannya pada lengan kokoh Marvin. Di dalam hati, ia merasa berdebar. Penglihatannya yang sudah pulih total membuatnya bisa melihat dengan jelas guratan cemas dan amarah di wajah suaminya."Leo, perketat penjagaan!" perintah Marvin sebelum mereka sampai di rumah sakit."Baik, Tuan."Beberapa saat kemudian, mobil mewah Marvin telah terparkir di halaman rumah sakit. Didampingi beberapa pengawal ketat, Marvin menuntun Alina menuju ruang perawatan intensif tempat Lenika dirawat.Di depan pintu kamar, dua anggota kepolisian tampak berjaga."Tuan Vance, kalian sudah datang," panggil salah satu polisi seraya membungkuk hormat. "Dokter baru saja selesai memeriksa Nona Lenika. Beliau sudah sadar, tapi kondisinya masih sangat syok. Saat ini kami belum bisa meminta keterangan darinya.""Boleh kami mas

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    Bab 6

    "Pergi! Aku tidak butuh belas kasihan dari sipir penjara sepertimu!" teriak Alina, tangannya meraba udara dan menjatuhkan nampan bubur hingga isinya berserakan di lantai. Hari-hari di rumah persembunyian menjadi neraka baru bagi Alina. Kegelapan yang menyelimutinya bukan hanya di mata, tapi juga di

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    Bab 5

    Tubuh Marvin terasa semakin lemas, beratnya seperti menarik seluruh kekuatannya pergi perlahan. Dia hampir saja terjatuh, namun masih bisa menahan Alina yang terdiam di pelukannya.Suaranya, suara Leo yang penuh kekhawatiran, menyentuh telinganya. "Marvin... Apa kau baik-baik saja?"Marvin bisa me

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    Bab 4

    Kapal logistik itu membelah ombak di tengah kegelapan malam. Suara mesin kapal yang menderu konstan menjadi satu-satunya musik latar di dek yang dingin itu. Alina masih terduduk di samping Marvin, jemarinya yang gemetar terlihat bersimbah darah oleh darah Marvin.Marvin meringis, kelopak matanya b

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    Bab 3

    Marvin mencoba mengatur napasnya yang mulai berat. Darah yang merembes di punggungnya membuat kesadarannya perlahan menipis, namun ia berusaha untuk tidak tumbang di depan Alina. "Dengarkan aku, Nona Sterling," bisik Marvin, suaranya kembali sedingin es meski wajahnya pucat pasi. Alina memusatka

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status