MasukRerumputan liar dan pepohonan rimbun mengapit bangunan tua berdinding bata yang telah tampak merana di batas kota. Rumah lama keluarga Roberson berdiri membisu di bawah guyuran gerimis malam. Sebagian atapnya telah runtuh akibat kebakaran beberapa tahun silam, meninggalkan sisa-sisa kayu hitam dan pilar-pilar rapuh yang diselimuti lumut.Iring-iringan SUV hitam milik Felix berhenti tepat di halaman depan yang dipenuhi semak belukar. Felix melangkah turun dengan gerakan cepat. Wajahnya mengeras, sementara tangan kanannya yang terbungkus sarung tangan kulit hitam menggenggam revolver peraknya. Di saku jasnya, foto Nyonya Valerie yang baru saja didapatnya dari pria asing di persimpangan jalan terasa menekan dadanya bagai timah panas."Amankan seluruh perimeter! Jangan biarkan siapa pun lolos!" perintah Felix pada tim taktisnya.Satu tim pengawal berpelindung tubuh lengkap menyergap masuk terlebih dahulu, memecahkan sisa-sisa pintu kayu yang sudah lapuk. Suara derap sepatu bot bergaung
Malam membungkus kota dengan keheningan yang dingin. Hujan gerimis yang turun sejak sore meninggalkan permukaan aspal jalanan licin dan berkilat di bawah temaram lampu jalan. Sebuah iring-iringan tiga mobil SUV hitam melaju dengan kecepatan tinggi membelah jalurnya, dipimpin langsung oleh Felix Wesley dari balik kemudi kendaraan paling depan. Mata elang Felix menatap lurus ke jalanan yang sepi. Informasi terbaru dari The Ghost mengenai sinyal ponsel Roberson yang bergerak mendekati rumah tua terus berputar di kepalanya. Pria itu menancap gas lebih dalam, membiarkan deru mesin mobilnya menggerung membelah malam. Fokusnya terkunci total pada brankas tua yang menyimpan rahasia tentang Valerie dan asal-usul Jolina. Namun, di sebuah persimpangan jalan utama yang sepi di batas kota, takdir memiliki rencananya sendiri. Sebuah mobil sedan mewah edisi terbatas berwarna hitam kelam, kendaraan berpelat diplomatik dengan sistem keamanan antipeluru tingkat tinggi, mendadak melaju memotong jalur
Keheningan manis di perpustakaan mansion terpaksa buyar saat ponsel satelit rahasia di saku kemeja Felix bergetar hebat. Sebuah nada getar berkode khusus, hanya digunakan oleh The Ghost untuk laporan yang sifatnya sangat darurat dan rahasia.Felix menarik napas perlahan, merapikan helai rambut Jolina yang sedikit berantakan di dahi. Ia mengecup kening istrinya sekilas. "Istirahatlah di kamar dulu, Jolina. Ada laporan keamanan yang harus kupantau sebentar."Jolina menatap Felix dengan binar mata yang masih menyisakan kehangatan ciuman mereka tadi. Wanita itu mengangguk pelan, mengusap lengan tegap suaminya sebelum melangkah keluar dari perpustakaan, membiarkan Felix kembali ke dalam sangkar tugasnya sebagai seorang Don.Begitu pintu tebal perpustakaan tertutup rapat, raut wajah Felix berubah seketika. Kehangatan yang baru saja ia tunjukkan pada Jolina menguap tanpa sisa, berganti menjadi ekspresi dingin dan penuh kewaspadaan. Ia menekan tombol penerima pada ponselnya dan menempelkannya
Pagi hari menyapa mansion Wesley dengan hamparan kabut tipis yang merayap pelan di antara pilar-pilar batu megah. Dari luar, suasana terkesan tenang dan tenteram, meski aroma halus tanah basah yang berbaur dengan jelaga sisa ledakan semalam masih membekas di sudut-sudut perbatasan halaman. Sisa-sisa pertempuran berdarah telah dibersihkan secara efisien oleh tim The Ghost, meninggalkan mansion dalam kedamaian tiruan yang mencekam.Di ruang makan utama yang luas, pendar sinar matahari pagi menembus jendela kaca tinggi, memantulkan cahaya lembut ke atas meja kayu mahoni yang terbentang panjang. Jolina duduk di salah satu sisi meja, mengaduk pelan mangkuk sup hangatnya dengan tatapan menerawang. Jubah sutra berwarna krem yang dikenakannya membungkus tubuhnya dengan anggun, memperlihatkan siluet kehamilannya yang mulai sedikit memadat.Di ujung meja, Felix duduk dengan kemeja putih yang lengannya tergulung hingga siku. Pria itu tampak sibuk menyesap kopi hitamnya sembari meneliti beberap
Di sebuah rumah tua terisolasi yang tersembunyi jauh di dalam rimbunnya hutan batas kota, napas ketakutan masih terasa begitu pekat. Bau mesiu, darah kering, dan asap rokok murahan memenuhi ruangan bersudut sempit yang hanya diterangi oleh sebuah lampu gantung kekuningan yang berkedip-kedip. Luar mansion Wesley mungkin telah sunyi, tetapi kepanikan sisa-sisa pelarian itu kini berkumpul di dalam pondok reyot ini.Vico duduk bersandar di sudut dinding kayu, mengepalkan kedua tangannya yang bernoda hitam bekas ledakan. Pakaian taktisnya robek di beberapa bagian, namun bukan luka fisik yang membuatnya membisu. Kepala Vico serasa mau pecah. Kalimat demi kalimat yang diucapkan Felix di balik kaca ruang panel keamanan terus berputar tanpa henti, merusak pertahanan keyakinan yang selama ini ia agungkan.“William Benharg adalah orang yang memegang kendali atas kasus hukum ayahmu... Siapa yang diuntungkan saat ayahmu masuk penjara dan Addison menghilang? Benharg, Vico. Bukan Addison.”Vico men
Asap rokok kembali mengepul, memenuhi ruang kendali bawah tanah yang sunyi. Felix Wesley masih duduk di kursi besarnya, menatap nanar barisan dokumen digital yang ditampilkan di layar monitor oleh The Ghost. Sejarah kelam tahun 2000-an itu memang telah membuka tabir tentang penjebakan Bryan dan pernikahan kedua William. Namun, bagi pria sekritis Felix, berkas-berkas itu justru meninggalkan lubang besar yang menganga di kepalanya. Felix mengetukkan jemarinya di atas meja mahoni dengan ritme yang konstan, mencerminkan isi pikirannya yang sedang berputar keras. Ada tiga pertanyaan besar yang belum terjawab. Pertama, kenapa Addison akhirnya menghilang dari mansion Benharg? Jika awalnya Addison memilih pasrah dan bertahan di bawah kungkungan William demi melindungi Felix yang masih balita, apa yang memicu pria itu pada akhirnya memutuskan untuk kabur dan menghilang seperti asap? Dan yang paling mengusik ketenangan Felix adalah sebaris kal
Waktu seolah membeku di dalam mansion megah milik Felix. Satu bulan telah berlalu sejak hari pernikahan yang terasa seperti pemakaman itu, namun bagi Jolina, setiap detik yang ia lalui tetap terasa seperti berjalan di atas mata pisau. Felix tidak berubah. Pria itu tetaplah S
Langit-langit katedral tua itu dipenuhi dengan lukisan fresko para malaikat yang seolah menatap dingin ke arah bawah, menyaksikan sebuah persatuan yang jauh dari kata suci. Aroma dupa yang berat bercampur dengan wangi bunga lili putih yang melimpah di setiap sudut ruangan, menciptakan suasana yang
Suara langkah sepatu pantofel Felix yang beradu dengan lantai di luar kamar terdengar seperti detak jam kematian bagi Jolina. Ia segera bangkit dari posisinya di dekat jendela, merapikan jubah sutranya yang sedikit berantakan, dan duduk di tepi ranjang dengan jemari yang saling bertaut erat.
Denting kunci yang berputar dari luar barusan seolah menjadi penanda bahwa kebebasan Jolina telah mati. Kini, ia hanya bisa mondar-mandir di atas karpet beludru yang tebal, membiarkan jemari kakinya tenggelam dalam kelembutan kain yang terasa kontras dengan kekacauan di dalam dadanya. Kamar m







