Home / Mafia / Dekapan Tuan Mafia / 33. Fragmen yang Terlupa

Share

33. Fragmen yang Terlupa

Author: Marfia Aphro
last update publish date: 2026-06-08 19:05:00

Ketegangan di mansion Wesley pasca-malam interogasi itu tidak lantas menguap begitu saja. Alih-alih mereda, atmosfer di dalam rumah mewah itu justru terasa kian mencekam, seolah-olah seluruh penghuninya sedang berjalan di atas lapisan es yang tipis.

Felix masih disibukkan dengan urusan luar dan investigasi sunyinya, sementara Vico semakin pandai menyembunyikan keangkuhannya di balik topeng kepatuhan yang dingin.

Di tengah pusaran ketidakpastian itu, Jolina merasa otaknya bu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dekapan Tuan Mafia   34. Luka Yang Enggan Sembuh

    Kamar utama mansion malam itu terasa begitu sepi ketika Felix melangkah masuk. Keheningan yang menyambutnya terasa berbeda, bukan ketenangan yang menenangkan, melainkan jenis sunyi yang menyimpan banyak rahasia terpendam. Felix melepaskan jam tangan dan jas hitamnya, menyisakan kemeja yang kancing atasnya sudah terbuka. Pandangannya langsung tertuju pada ranjang, di mana Jolina sedang duduk bersandar pada tumpukan bantal. Di dekat tangan Jolina, sebuah buku tebal mengenai ilmu genetika dasar tergeletak terbuka. Jolina tampak sedang melamun, menatap kosong ke arah jendela balkon yang tertutup tirai tipis. Ia berusaha bersikap senormal mungkin saat mendengar langkah kaki Felix, persis seperti yang suaminya minta demi menjaga keamanan mereka. Namun, bagi seorang Don yang terbiasa membaca gerak-gerik musuh, Felix bisa merasakan ada riak kecemasan yang coba disembunyikan oleh istrinya. Felix berjalan mendekat, lalu duduk di te

  • Dekapan Tuan Mafia   33. Fragmen yang Terlupa

    Ketegangan di mansion Wesley pasca-malam interogasi itu tidak lantas menguap begitu saja. Alih-alih mereda, atmosfer di dalam rumah mewah itu justru terasa kian mencekam, seolah-olah seluruh penghuninya sedang berjalan di atas lapisan es yang tipis. Felix masih disibukkan dengan urusan luar dan investigasi sunyinya, sementara Vico semakin pandai menyembunyikan keangkuhannya di balik topeng kepatuhan yang dingin.Di tengah pusaran ketidakpastian itu, Jolina merasa otaknya butuh dialihkan. Rasa cemas yang terus-menerus mengintai jelas tidak baik untuk kesehatan janin di dalam kandungannya. Setelah makan malam yang sunyi dan larut, Jolina memilih untuk melangkah keluar dari kamar utama. Ia tidak berniat mencari Felix, melainkan mengarahkan langkah kakinya menuju perpustakaan pribadi mansion.Perpustakaan itu adalah salah satu ruangan terbesar di rumah ini, dipenuhi dengan rak-rak kayu ek setinggi langit-langit yang menyimpan ribuan jilid buku dari

  • Dekapan Tuan Mafia   32. Topeng Yang Retak

    Mansion Wesley malam itu terasa seperti sebuah peti mati yang megah. Sunyi, namun mencekam. Felix duduk di ruang kerjanya yang gelap, hanya diterangi oleh pendar redup dari layar monitor yang menampilkan data transaksi keuangan yang diberikan oleh intel rahasianya. Jemarinya mengetuk meja kayu mahoni itu dengan irama yang konstan, mencerminkan otaknya yang sedang bekerja keras membedah setiap kemungkinan. Uang dari Benharg. Tiket satu arah. Dan sikap angkuh yang mulai muncul. Felix menarik napas dalam. Sebagai seorang Don, insting pertamanya adalah menyeret Vico ke gudang bawah tanah dan menyiksanya sampai mengaku. Namun, Felix yang sekarang bukan lagi Felix yang hanya mengandalkan otot. Ada Jolina di lantai atas. Ada nyawa bayi yang harus ia lindungi. Jika ia bertindak gegabah sekarang, dan ternyata Vico sudah memasang perangkap di seluruh mansion, ia bisa kehilangan segalanya dalam sekejap. Pintu ruang kerja diketuk dengan keras, bukan ketukan sopan seperti biasanya. Vico

  • Dekapan Tuan Mafia   31. Bayang-bayang di Balik Loyalitas

    Satu minggu telah berlalu sejak insiden di gala mewah itu, namun suasana di mansion Wesley tidak kunjung mencair. Bagi orang awam, mansion itu tampak seperti benteng yang tak tertembus dengan penjagaan yang sempurna. Namun bagi Felix, setiap sudut rumahnya kini terasa seperti sarang ular.Anehnya, Oliver Benharg seolah hilang ditelan bumi. Tidak ada serangan balasan, tidak ada teror pesan singkat, bahkan tidak ada pergerakan dari anak buah Oliver di perbatasan wilayah. Felix tahu betul karakter Oliver, pria itu bukan tipe orang yang akan menyerah setelah dipukul hingga berdarah. Oliver sedang menunggu. Ia sedang menyiapkan sesuatu yang besar, menunggu saat di mana Felix benar-benar merasa aman dan menurunkan pertahanannya.Dan yang paling membuat Felix tidak tenang adalah Vico. Selama satu minggu ini, tangan kanannya itu bekerja dengan sangat efisien, hampir terlalu sempurna. Vico tetap menunjukkan loyalitas tanpa cela, mengurus keamanan Jolina dengan ketat, dan bersikap seolah tida

  • Dekapan Tuan Mafia   30. Jejak yang Tertinggal

    Mansion Wesley berdiri angkuh di bawah siraman cahaya bulan, tampak tenang namun menyimpan ribuan rahasia di balik dinding marmernya. Suara deru mesin SUV Felix perlahan mati, digantikan oleh kesunyian malam yang mencekam. Felix segera turun, ia tidak membiarkan Jolina menyentuh aspal. Dengan gerakan protektif yang begitu lembut, ia menggendong istrinya masuk ke dalam rumah. Jolina tidak memprotes. Kelelahan fisik dan trauma dari insiden di gala tadi benar-benar menguras energinya. Ia hanya menyandarkan kepala di dada Felix, menghirup aroma maskulin yang kini menjadi satu-satunya pelabuhannya. Langkah kaki Felix menggema di koridor yang sunyi. Namun, meski fokusnya tertuju pada Jolina, mata elangnya tidak pernah berhenti memindai sekeliling. Felix adalah pria yang tumbuh dalam dunia di mana dinding pun bisa memiliki telinga. Itulah sebabnya, ia memasang alat penyadap rahasia di titik-titik yang bahkan tidak diketahui oleh tim keamanannya sendiri. Saat melewati pilar besar deka

  • Dekapan Tuan Mafia   29. Bisikan Sang Pengkhianat

    Koridor itu dipenuhi aroma kematian yang tertunda. Felix berdiri tegak, moncong pistolnya sudah menempel di dahi Oliver yang masih tersungkur. Matanya tidak berkedip, jarinya sudah menegang di atas pelatuk, siap untuk membuat dinding koridor itu berwarna merah dengan isi kepala pria yang paling ia benci. "Katakan selamat tinggal pada dunia kotor ini, Oliver," desis Felix dingin. "Felix, berhenti!" sebuah suara berat menggema di koridor. William Benharg muncul dengan napas tersengal. Pria itu, kepala keluarga Benharg, segera berdiri di antara pistol Felix dan kepala anak bungsunga. Wajahnya pucat pasi, namun ia mencoba mempertahankan martabatnya. "Felix, aku mohon padamu. Jangan lakukan ini di sini. Jangan di gala ini," William memohon dengan tangan terbuka."Aku tahu adikmu adalah sampah, aku tahu dia melakukan kesalahan fatal. Tapi tolong, ampuni dia malam ini demi hubungan kekeluargaan kita. Aku akan menghukumnya sendiri."

  • Dekapan Tuan Mafia   23. Pengakuan

    Keheningan kembali merayap di ruang kerja rahasia itu setelah monitor menampilkan pesan ancaman dari Oliver. Sinyal merah yang berkedip-kedip seolah menjadi alarm bagi nyawa mereka, namun reaksi Felix sungguh di luar dugaan. Alih-alih melompat berdiri, menyiapkan senapan laras panjangnya, atau be

  • Dekapan Tuan Mafia   22. Penyatuan Di balik Pintu Baja (18+)

    Lampu temaram di ruang kerja rahasia itu seolah ikut memanas seiring dengan deru napas yang memenuhi udara. Felix menatap Jolina dengan tatapan yang membara, seolah sedang memuja dewi yang baru saja bangkit dari kematian. Tantangan Jolina tadi benar-benar meruntuhkan pertahanan te

  • Dekapan Tuan Mafia   21. Gairah di Ruang Rahasia (18+)

    Dua bulan telah berlalu sejak badai besar itu meluluhlantakkan fondasi hidup Jolina. Waktu, meski tak benar-benar menyembuhkan luka, setidaknya telah mengubah bentuk rasa sakit itu menjadi sesuatu yang lebih keras dan tajam. Jolina tidak lagi bangun dengan tangisan di pagi hari. Ia tida

  • Dekapan Tuan Mafia   19. Jiwa Yang Membatu

    Mansion megah milik Felix Wesley yang biasanya memancarkan aura kekuasaan dan kemewahan, kini terasa seperti makam raksasa yang dingin. Langit-langitnya yang tinggi seolah menekan napas siapa pun yang berada di dalamnya. Jolina telah kembali, namun ia tidak benar-benar "pulang". T

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status