Beranda / Mafia / Dekapan Tuan Mafia / 34. Luka Yang Enggan Sembuh

Share

34. Luka Yang Enggan Sembuh

Penulis: Marfia Aphro
last update Tanggal publikasi: 2026-06-08 19:06:00

Kamar utama mansion malam itu terasa begitu sepi ketika Felix melangkah masuk. Keheningan yang menyambutnya terasa berbeda, bukan ketenangan yang menenangkan, melainkan jenis sunyi yang menyimpan banyak rahasia terpendam.

Felix melepaskan jam tangan dan jas hitamnya, menyisakan kemeja yang kancing atasnya sudah terbuka. Pandangannya langsung tertuju pada ranjang, di mana Jolina sedang duduk bersandar pada tumpukan bantal.

Di dekat tangan Jolina, sebuah buku teba
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Dekapan Tuan Mafia   34. Luka Yang Enggan Sembuh

    Kamar utama mansion malam itu terasa begitu sepi ketika Felix melangkah masuk. Keheningan yang menyambutnya terasa berbeda, bukan ketenangan yang menenangkan, melainkan jenis sunyi yang menyimpan banyak rahasia terpendam. Felix melepaskan jam tangan dan jas hitamnya, menyisakan kemeja yang kancing atasnya sudah terbuka. Pandangannya langsung tertuju pada ranjang, di mana Jolina sedang duduk bersandar pada tumpukan bantal. Di dekat tangan Jolina, sebuah buku tebal mengenai ilmu genetika dasar tergeletak terbuka. Jolina tampak sedang melamun, menatap kosong ke arah jendela balkon yang tertutup tirai tipis. Ia berusaha bersikap senormal mungkin saat mendengar langkah kaki Felix, persis seperti yang suaminya minta demi menjaga keamanan mereka. Namun, bagi seorang Don yang terbiasa membaca gerak-gerik musuh, Felix bisa merasakan ada riak kecemasan yang coba disembunyikan oleh istrinya. Felix berjalan mendekat, lalu duduk di te

  • Dekapan Tuan Mafia   33. Fragmen yang Terlupa

    Ketegangan di mansion Wesley pasca-malam interogasi itu tidak lantas menguap begitu saja. Alih-alih mereda, atmosfer di dalam rumah mewah itu justru terasa kian mencekam, seolah-olah seluruh penghuninya sedang berjalan di atas lapisan es yang tipis. Felix masih disibukkan dengan urusan luar dan investigasi sunyinya, sementara Vico semakin pandai menyembunyikan keangkuhannya di balik topeng kepatuhan yang dingin.Di tengah pusaran ketidakpastian itu, Jolina merasa otaknya butuh dialihkan. Rasa cemas yang terus-menerus mengintai jelas tidak baik untuk kesehatan janin di dalam kandungannya. Setelah makan malam yang sunyi dan larut, Jolina memilih untuk melangkah keluar dari kamar utama. Ia tidak berniat mencari Felix, melainkan mengarahkan langkah kakinya menuju perpustakaan pribadi mansion.Perpustakaan itu adalah salah satu ruangan terbesar di rumah ini, dipenuhi dengan rak-rak kayu ek setinggi langit-langit yang menyimpan ribuan jilid buku dari

  • Dekapan Tuan Mafia   32. Topeng Yang Retak

    Mansion Wesley malam itu terasa seperti sebuah peti mati yang megah. Sunyi, namun mencekam. Felix duduk di ruang kerjanya yang gelap, hanya diterangi oleh pendar redup dari layar monitor yang menampilkan data transaksi keuangan yang diberikan oleh intel rahasianya. Jemarinya mengetuk meja kayu mahoni itu dengan irama yang konstan, mencerminkan otaknya yang sedang bekerja keras membedah setiap kemungkinan. Uang dari Benharg. Tiket satu arah. Dan sikap angkuh yang mulai muncul. Felix menarik napas dalam. Sebagai seorang Don, insting pertamanya adalah menyeret Vico ke gudang bawah tanah dan menyiksanya sampai mengaku. Namun, Felix yang sekarang bukan lagi Felix yang hanya mengandalkan otot. Ada Jolina di lantai atas. Ada nyawa bayi yang harus ia lindungi. Jika ia bertindak gegabah sekarang, dan ternyata Vico sudah memasang perangkap di seluruh mansion, ia bisa kehilangan segalanya dalam sekejap. Pintu ruang kerja diketuk dengan keras, bukan ketukan sopan seperti biasanya. Vico

  • Dekapan Tuan Mafia   31. Bayang-bayang di Balik Loyalitas

    Satu minggu telah berlalu sejak insiden di gala mewah itu, namun suasana di mansion Wesley tidak kunjung mencair. Bagi orang awam, mansion itu tampak seperti benteng yang tak tertembus dengan penjagaan yang sempurna. Namun bagi Felix, setiap sudut rumahnya kini terasa seperti sarang ular.Anehnya, Oliver Benharg seolah hilang ditelan bumi. Tidak ada serangan balasan, tidak ada teror pesan singkat, bahkan tidak ada pergerakan dari anak buah Oliver di perbatasan wilayah. Felix tahu betul karakter Oliver, pria itu bukan tipe orang yang akan menyerah setelah dipukul hingga berdarah. Oliver sedang menunggu. Ia sedang menyiapkan sesuatu yang besar, menunggu saat di mana Felix benar-benar merasa aman dan menurunkan pertahanannya.Dan yang paling membuat Felix tidak tenang adalah Vico. Selama satu minggu ini, tangan kanannya itu bekerja dengan sangat efisien, hampir terlalu sempurna. Vico tetap menunjukkan loyalitas tanpa cela, mengurus keamanan Jolina dengan ketat, dan bersikap seolah tida

  • Dekapan Tuan Mafia   30. Jejak yang Tertinggal

    Mansion Wesley berdiri angkuh di bawah siraman cahaya bulan, tampak tenang namun menyimpan ribuan rahasia di balik dinding marmernya. Suara deru mesin SUV Felix perlahan mati, digantikan oleh kesunyian malam yang mencekam. Felix segera turun, ia tidak membiarkan Jolina menyentuh aspal. Dengan gerakan protektif yang begitu lembut, ia menggendong istrinya masuk ke dalam rumah. Jolina tidak memprotes. Kelelahan fisik dan trauma dari insiden di gala tadi benar-benar menguras energinya. Ia hanya menyandarkan kepala di dada Felix, menghirup aroma maskulin yang kini menjadi satu-satunya pelabuhannya. Langkah kaki Felix menggema di koridor yang sunyi. Namun, meski fokusnya tertuju pada Jolina, mata elangnya tidak pernah berhenti memindai sekeliling. Felix adalah pria yang tumbuh dalam dunia di mana dinding pun bisa memiliki telinga. Itulah sebabnya, ia memasang alat penyadap rahasia di titik-titik yang bahkan tidak diketahui oleh tim keamanannya sendiri. Saat melewati pilar besar deka

  • Dekapan Tuan Mafia   29. Bisikan Sang Pengkhianat

    Koridor itu dipenuhi aroma kematian yang tertunda. Felix berdiri tegak, moncong pistolnya sudah menempel di dahi Oliver yang masih tersungkur. Matanya tidak berkedip, jarinya sudah menegang di atas pelatuk, siap untuk membuat dinding koridor itu berwarna merah dengan isi kepala pria yang paling ia benci. "Katakan selamat tinggal pada dunia kotor ini, Oliver," desis Felix dingin. "Felix, berhenti!" sebuah suara berat menggema di koridor. William Benharg muncul dengan napas tersengal. Pria itu, kepala keluarga Benharg, segera berdiri di antara pistol Felix dan kepala anak bungsunga. Wajahnya pucat pasi, namun ia mencoba mempertahankan martabatnya. "Felix, aku mohon padamu. Jangan lakukan ini di sini. Jangan di gala ini," William memohon dengan tangan terbuka."Aku tahu adikmu adalah sampah, aku tahu dia melakukan kesalahan fatal. Tapi tolong, ampuni dia malam ini demi hubungan kekeluargaan kita. Aku akan menghukumnya sendiri."

  • Dekapan Tuan Mafia   28. Malam di Bawah Cahaya Crystal

    Kesunyian di dalam ruang rahasia itu terasa begitu menyesakkan. Felix duduk di lantai yang dingin, menyandarkan punggungnya pada dinding besi, sementara Jolina duduk di hadapannya dengan tatapan penuh tanya. Cahaya lampu darurat yang remang-remang memperlihatkan wajah Felix yang t

  • Dekapan Tuan Mafia   27. Kabut Paranoia

    Langit di atas ibu kota Dunceon pagi itu tampak berwarna kelabu mutiara, membiarkan cahaya matahari yang pucat masuk menembus celah gorden kamar utama mansion Wesley. Di dalam sana, waktu seolah berhenti berputar. Bau parfum maskulin Felix bercampur dengan aroma lembut vanilla dari kuli

  • Dekapan Tuan Mafia   26. Rahasia Dibalik Janji

    Mansion Wesley terasa seperti sebuah panggung sandiwara yang sunyi. Felix, sang sutradara, kini mengamati setiap detail dengan ketelitian yang hampir gila. Matanya tak pernah lepas dari layar CCTV di ruang kerjanya, terutama saat siluet Vico muncul. Pagi itu, di beranda belakang, Felix memanggil V

  • Dekapan Tuan Mafia   24. Ancaman

    Pagi itu, kedamaian yang baru saja dirasakan Jolina di pelukan Felix seolah menguap begitu saja saat ponselnya bergetar di atas nakas. Sebuah pesan masuk dari nomor yang sangat ia kenal, nomor yang seharusnya sudah ia blokir dari hidupnya selamanya. “Jolina, putriku yang cantik. Aku tahu kau sekar

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status