MasukAsap rokok kembali mengepul, memenuhi ruang kendali bawah tanah yang sunyi. Felix Wesley masih duduk di kursi besarnya, menatap nanar barisan dokumen digital yang ditampilkan di layar monitor oleh The Ghost. Sejarah kelam tahun 2000-an itu memang telah membuka tabir tentang penjebakan Bryan dan pernikahan kedua William. Namun, bagi pria sekritis Felix, berkas-berkas itu justru meninggalkan lubang besar yang menganga di kepalanya. Felix mengetukkan jemarinya di atas meja mahoni dengan ritme yang konstan, mencerminkan isi pikirannya yang sedang berputar keras. Ada tiga pertanyaan besar yang belum terjawab. Pertama, kenapa Addison akhirnya menghilang dari mansion Benharg? Jika awalnya Addison memilih pasrah dan bertahan di bawah kungkungan William demi melindungi Felix yang masih balita, apa yang memicu pria itu pada akhirnya memutuskan untuk kabur dan menghilang seperti asap? Dan yang paling mengusik ketenangan Felix adalah sebaris kal
Lembaran dokumen tua yang sudah menguning itu tersebar di atas meja mahoni ruang kerja Felix. Waktu menunjukkan pukul empat pagi, namun gurat kelelahan sama sekali tidak tampak di wajah sang Don. Setelah memastikan Jolina kembali tertidur aman di bawah penjagaan ketat, Felix menghabiskan sisa malamnya bersama The Ghost. Intel tertingginya itu baru saja mengirimkan salinan berkas digital dan dokumen rahasia yang berhasil dicuri dari brankas tersembunyi di mansion utama William Benharg. "Ini adalah sejarah yang sengaja dikubur oleh William, Don Felix," ucap The Ghost melalui sambungan suara terenkripsi."Sebuah berkas bertuliskan tahun 1998 hingga awal 2000-an. Kisah tentang tiga pria yang membangun fondasi awal kekuasaan di kota ini, sebelum semuanya hancur oleh obsesi." Felix menyandarkan punggungnya, menyalakan sebatang rokok, dan membiarkan asap abu-abu mengepul ke langit-langit ruangan. Matanya menatap sebuah foto hitam-putih lama yang terla
Malam yang gulita di perbukitan mansion Wesley mendadak pecah oleh deru mesin mobil-mobil jip taktis bersuara berat. Lima buah kendaraan hitam tanpa plat nomor merangsek masuk melewati gerbang besi utama yang sudah kehilangan dayanya. Oliver Benharg duduk di kursi depan jip paling depan, menggenggam senapan serbu dengan senyum kemenangan yang sudah merekah di wajahnya. Ponselnya baru saja menerima pesan dari Vico bahwa sistem keamanan telah lumpuh total. "Maju! Ratakan tempat ini dan bawa Jolina hidup-hidup ke hadapanku!" teriak Oliver melalui radio komunikasi, memberi komando pada puluhan tentara bayaran bersenjata lengkap yang dibawanya. Jip-jip tersebut melaju kencang membelah halaman depan mansion yang luas, bersiap mengepung bangunan utama. Oliver merasa di atas angin. Dia membayangkan bagaimana wajah Felix saat pria itu diseret keluar dari kamarnya dalam kondisi tak berdaya, kehilangan segalanya hanya dalam satu malam. Namun, kegembiraan
Mansion Wesley tenggelam dalam keheningan total saat jarum jam merayap melewati pukul tiga dini hari. Di luar, angin malam berembus kencang, menggoyahkan dahan-dahan pohon besar di sekitar perimeter halaman, menciptakan bayangan-bayangan bergerak yang menyeramkan di atas dinding marmer. Di dalam kamar kerja rahasia bawah tanah, Felix perlahan melepaskan dekapan hangatnya pada Jolina yang telah tertidur pulas akibat kelelahan. Pria itu mengenakan kembali kemeja hitamnya, mengancingkannya hingga rapi, lalu mengecup kening istrinya sekilas sebelum melangkah keluar dengan suara seringan kapas. Saat pintu ruang kerja rahasia terkunci di belakangnya, ekspresi hangat Felix lenyap seketika. Sorot matanya kembali berubah menjadi sedingin es, setajam silet. Waktu bermain asmara telah usai; kini saatnya sang Don mengawasi bidak catur yang mulai bergerak di dalam rumahnya sendiri. Felix melangkah menuju ruang kendali monitor cadangan yang tersembunyi di balik dindi
Langkah kaki Jolina terasa sangat ringan namun tegas saat ia menyusuri koridor mansion yang remang-remang. Suasana malam itu benar-benar sunyi, hanya menyisakan suara detak jam dinding kuno yang bergaung di sepanjang lorong. Alih-alih mematuhi perintah Felix untuk tetap diam dan mengunci diri di dalam kamar utama, dorongan di dalam dada Jolina jauh lebih kuat. Logikanya berteriak bahwa Felix sedang berada di titik terrapuhnya, dan sebagai seorang istri, dia tidak bisa membiarkan suaminya menghadapi kegelapan itu sendirian. Jolina berjalan menuju ujung lorong lantai bawah tanah, tempat di mana sebuah pintu kayu ek yang tebal dan berat berdiri dengan kokoh. Itu adalah ruang kerja rahasia milik Felix, sebuah tempat yang jarang dimasuki oleh siapa pun kecuali The Ghost untuk urusan mendesak. Dengan tangan yang sedikit gemetar, Jolina mendorong pintu tersebut secara perlahan. Ruangan itu sangat luas, namun hanya diterangi oleh sebuah lampu meja tunggal bersorot kuning temaram di sudut
Deru mesin mobil sedan Vico perlahan mati di halaman depan, menyisakan keheningan malam yang kembali mencekam. Dari balik jendela ruang kerjanya yang gelap, Felix menyaksikan siluet tangan kanannya itu turun dari mobil dengan langkah kaki yang sengaja dibuat tenang. Felix menyunggingkan senyum tipis, sebuah seringai dingin penuh cemooh. Vico baru saja kembali dari sarang serigala, membawa narasi palsu yang siap menghancurkan mansion ini. Felix membalikkan tubuhnya. Di tangannya, selembar foto usang yang ia ambil dari kamar tadi sore masih tergenggam erat. Pria bernama Addison di sudut foto itu, rahasia pengkhianatan Vico, dan keterlibatan Roberson, semuanya bertumpuk di kepala Felix, menciptakan badai senyap yang mematikan. Ia melangkah keluar dari ruang kerja, menyusuri koridor panjang yang sepi menuju kamar utama. Felix sengaja tidak ingin menemui Vico malam ini. Ia butuh menata taktiknya, dan yang paling penting, ia harus melihat wanita yang kini menjadi pusat dari seluruh pusar
Suara langkah sepatu pantofel Felix yang beradu dengan lantai di luar kamar terdengar seperti detak jam kematian bagi Jolina. Ia segera bangkit dari posisinya di dekat jendela, merapikan jubah sutranya yang sedikit berantakan, dan duduk di tepi ranjang dengan jemari yang saling bertaut erat.
Denting kunci yang berputar dari luar barusan seolah menjadi penanda bahwa kebebasan Jolina telah mati. Kini, ia hanya bisa mondar-mandir di atas karpet beludru yang tebal, membiarkan jemari kakinya tenggelam dalam kelembutan kain yang terasa kontras dengan kekacauan di dalam dadanya. Kamar m
Cahaya matahari siang yang pucat menyelinap masuk melalui celah gorden yang berat, menusuk kelopak mata Jolina yang perih.Ia terbangun dalam keadaan linglung, sejenak berharap bahwa semua yang terjadi semalam hanya sekadar manifestasi dari mimpi buruk yang paling keji. Namun, saat ia mer
Lantai marmer dingin itu terasa seperti es yang menusuk kulit Jolina saat tubuhnya menghantam permukaan keras tersebut. Rasa sakit menjalar dari lutut hingga ke pinggangnya, namun rasa nyeri itu tak sebanding dengan penghinaan yang baru saja ia terima. Di belakangnya, deru napas berat dan bau alkoh







