ログインCahaya matahari siang yang pucat menyelinap masuk melalui celah gorden yang berat, menusuk kelopak mata Jolina yang perih.
Ia terbangun dalam keadaan linglung, sejenak berharap bahwa semua yang terjadi semalam hanya sekadar manifestasi dari mimpi buruk yang paling keji. Namun, saat ia merasakan kelembutan sprei sutra yang asing di bawah kulitnya dan aroma kayu cendana bercampur cerutu yang memenuhi ruangan, kenyataan pahit itu menghantamnya kembali. Ia bukan lagi di rumahnya yang sederhana. Ia bukan lagi gadis bebas yang bisa menentukan arah langkahnya. Semalam, di atas lantai marmer yang dingin, hidupnya telah ditukar dengan tumpukan kuitansi hutang judi. Ayahnya telah menjualnya kepada seorang pria yang namanya hanya dibisikkan dalam ketakutan di seluruh penjuru kota, Felix Wesley. Jolina mencoba menggerakkan tubuhnya, namun rasa remuk di sekujur persendiannya membuatnya merintih pelan. Ia meringkuk, menarik selimut beludru hingga menutupi dagunya. Pintu kamar yang besar itu kembali terbuka dengan satu hentakan yang berwibawa. Jolina tersentak, jantungnya berdegup kencang hingga terasa menyakitkan di dadanya. Felix Wesley berdiri di sana. Pria itu tampak sangat rapi, seolah-olah ia tidak baru saja menghancurkan hidup seseorang beberapa jam yang lalu. Kemeja hitamnya kancingnya terbuka satu di bagian kerah, memperlihatkan aura maskulin yang begitu mengintimidasi. “Cepat bersiap, Jolina!” suara Felix rendah, serak, dan penuh otoritas. Jolina tidak menjawab. Ia hanya bisa memejamkan mata erat-erat, mencoba menghalau bayangan tentang bagaimana pria ini mengambil paksa hak atas tubuhnya pagi tadi. Felix tidak meminta izin. Pria itu tidak memberikan kelembutan. Baginya, Jolina adalah transaksi yang sah, dan ia telah mengklaim apa yang menjadi miliknya dengan cara yang paling brutal, menghancurkan sisa-sisa harga diri Jolina di atas ranjang yang kini terasa seperti tempat eksekusi. Felix melangkah mendekat, setiap ketukan sepatunya di atas lantai terdengar seperti lonceng kematian bagi Jolina. Ia duduk di sisi ranjang, membuat kasur itu miring di bawah beban tubuhnya yang besar. Sebuah tangan yang besar menyentuh pipi Jolina. Sentuhan itu tidak kasar, namun mengandung kepemilikan yang mutlak. Jolina gemetar hebat. “Kau gemetar karena takut atau karena masih merasakan sisa kenikmatan tadi pagi?” bisik Felix tepat di telinganya. Jolina akhirnya membuka mata, menatap Felix dengan binar air mata yang tak terbendung. “Kenapa tuan melakukan ini padaku?” Felix tersenyum tipis, sebuah senyum menakutkan yang mirip seringai monster. “Apa kau sudah lupa, Jolina? Ayahmu yang menjualmu padaku, sekarang kau adalah milikku.” "Bersiaplah," bisik Felix sambil mengusap air mata di pipi Jolina dengan ibu jarinya. "Karena ini baru babak pemanasan. Aku baru saja mendapat kabar bahwa ayahmu... dia tidak hanya menjualmu kepadaku." Jolina membeku. "Maksudmu?" Felix tersenyum miring, senyum yang membuat jantung Jolina seolah berhenti berdetak. "Dia menjual informasi tentangmu ke pihak lain juga. Dan jika mereka tahu kau ada di tanganku, mereka akan melakukan hal yang jauh lebih buruk daripada apa yang baru saja kulakukan padamu." Felix mendekatkan tubuhnya pada Jolina. "Pilihannya hanya dua, Jolina. Tetap di pelukanku dan menjadi ratu di neraka ini, atau keluar dari pintu itu dan menjadi santapan anjing-anjing di luar sana. Jadi, apa pilihanmu, Sayang?" Jolina tidak menjawab. Lidahnya terasa kelu, terkunci oleh kenyataan pahit bahwa pria yang baru saja merenggut kesuciannya adalah satu-satunya pelindung yang ia miliki dari ancaman yang lebih mengerikan di luar sana. Dengan diam yang sarat akan kepasrahan, Jolina membiarkan Felix membimbingnya keluar dari gedung tua itu menuju mobil sedan hitam lapis baja yang sudah menunggu di lobi. Sepanjang perjalanan menuju kediaman utama Felix, tak ada kata yang terucap. Jolina hanya menatap keluar jendela, melihat gedung-gedung kota yang kabur karena air mata yang kembali menggenang. Begitu sampai di mansion megah yang tersembunyi di balik pagar besi tinggi, Felix menggandeng tangan Jolina dengan erat. Di aula utama, barisan pelayan dan penjaga bersetelan hitam sudah berdiri tegak, menunduk hormat saat Sang Don melangkah masuk. "Dengarkan baik-baik," suara Felix menggema, dingin dan penuh otoritas. "Dia adalah Jolina, nyonya di rumah ini. Setiap perintahnya sama dengan perintahku. Jika ada yang tidak patuh dan tunduk, maka kalian akan berhadapan dengan senjataku.” Jolina merasa kecil di bawah tatapan puluhan pasang mata itu. Ia hanya bisa menunduk saat Felix membawanya menaiki tangga melingkar menuju lantai ahtas, masuk ke dalam kamar utama yang luasnya hampir seluas rumah Jolina dulu. "Ini kamarmu. Kamar kita," ucap Felix sambil membuka pintu lemari besar yang sudah terisi penuh dengan gaun-gaun sutra, pakaian dalam berbahan lace yang tipis, hingga perhiasan mewah. "Aku sudah menyiapkan segalanya. Aku benci melihat milikku terlihat kumal." Felix duduk di kursi kulit di sudut kamar, melonggarkan dasinya sambil memperhatikan Jolina yang masih berdiri mematung di tengah ruangan. "Mandilah. Bau darah dan keringatku masih menempel di kulitmu," perintah Felix, suaranya kini kembali serak. Jolina mengangguk lemah, nyaris tak terlihat. Dengan langkah yang goyah dan jemari yang gemetar, ia menyeret kakinya menuju kamar mandii. Setelah merasa cukup bersih—meski jiwanya tetap merasa kotor—Jolina mengenakan gaun sutra hitam yang diberikan Felix. Gaun itu membalut tubuhnya dengan sempurna, namun ia merasa seolah sedang memakai beban yang sangat berat. Ia duduk di pinggiran kasur di seberang suaminya, menyisakan jarak yang sangat lebar di antara mereka, seolah-olah jarak itu bisa melindunginya dari predator di depannya. Felix menghentikan gerakannya. Ia memutar tubuhnya perlahan, matanya yang tajam langsung menangkap posisi duduk Jolina. Pria itu mengerutkan dahi, tatapannya menggelap karena ketidaksukaan yang nyata. "Kenapa kau duduk di sana?" suara Felix pecah di tengah kesunyian, dingin dan menuntut. "Kenapa kau duduk menjauh dariku seolah aku adalah wabah yang mematikan?" Jolina tidak menjawab. Lidahnya terasa kelu, dan tenggorokannya tersumbat oleh rasa takut yang luar biasa. Keheningan itu tidak berlangsung lama. Felix, yang geram karena diabaikan, melangkah lebar menghampiri Jolina. Derap langkahnya yang mantap membuat Jolina memejamkan mata erat-erat. Dalam sekejap, Felix sudah berdiri di depannya. Pria itu membungkuk, lalu dengan gerakan yang cepat namun terkendali, ia mencengkeram rahang Jolina. Ia tidak menekannya hingga hancur, namun cengkeraman itu cukup kuat untuk memaksa Jolina mendongak dan menatap langsung ke dalam mata hitamnya yang berkilat berbahaya. "Tatap aku saat aku bicara padamu, Jolina," desis Felix tepat di depan wajahnya. "Sudah kubilang, jangan pernah mencoba untuk menjauh. Jangan pernah mengabaikan pertanyaanku, dan jangan pernah berpikir untuk menghindar dariku." Jolina merasa oksigen di sekitarnya menipis. Air mata mulai menggenang di sudut matanya, namun ia menahannya agar tidak jatuh. "Mengerti?" tekan Felix lagi, jemarinya semakin dalam menekan rahang Jolina. "I-iya... aku mengerti," bisik Jolina parau, suaranya nyaris hilang. Felix mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka bersentuhan. "Ingat ini baik-baik. Kau adalah milikku!” “Jika kau masih berusaha menjauh atau bersikap seolah kau membenciku, maka aku akan memberikan hukuman yang jauh lebih kejam dari kebrutalan tadi pagi. Aku bisa membuatmu memohon padaku untuk berhenti, Jolina. Jangan menguji batas kesabaranku." Jolina menggigil. Bayangan tentang kejadian pagi tadi kembali berputar di kepalanya, dan ancaman Felix barusan membuatnya merasa seolah ia sedang berdiri di bibir jurang. Felix tidak sedang menggertak; ia adalah pria yang selalu menepati janji-janji gelapnya. Felix menatap bibir Jolina yang gemetar. Hasrat dominasi kembali membakar matanya. Ia hendak menunduk, bermaksud mencium bibir itu lagi dengan cara yang kasar untuk menegaskan kembali siapa penguasanya di sini. Jolina hanya bisa pasrah, memejamkan matanya sambil menunggu serangan yang datang. Namun, tepat sebelum bibir mereka bersentuhan, sebuah suara memecah suasana yang mencekam itu. Drrrtt... Drrrtt… Ponsel Felix yang tergeletak di saku jas yang ia lempar ke lantai kembali bergetar. Felix mengumpat pelan, menjauhkan diri dari Jolina yang masih berusaha mengatur napas dengan wajah merona hebat. Ia menyambar ponsel itu, dan kali ini, saat ia melihat layarnya, raut wajah Felix berubah total. Bukan lagi amarah, tapi sesuatu yang menyerupai keterkejutan yang sangat langka terlihat di wajah Sang Don. Felix mengangkat telepon itu, suaranya mendadak sangat rendah hingga hampir menjadi bisikan yang mematikan. "Sudah kubilang jangan pernah hubungi aku ke nomor ini... Kecuali dia sudah mati." "Apa?" Felix mendesis. "Dia ada di depan gerbang sekarang?" Felix mematikan ponselnya dengan kasar. "Tetap di sini. Jangan buka pintu untuk siapa pun, Jolina," ucap Felix sambil meraih senjatanya dari laci meja.Rerumputan liar dan pepohonan rimbun mengapit bangunan tua berdinding bata yang telah tampak merana di batas kota. Rumah lama keluarga Roberson berdiri membisu di bawah guyuran gerimis malam. Sebagian atapnya telah runtuh akibat kebakaran beberapa tahun silam, meninggalkan sisa-sisa kayu hitam dan pilar-pilar rapuh yang diselimuti lumut.Iring-iringan SUV hitam milik Felix berhenti tepat di halaman depan yang dipenuhi semak belukar. Felix melangkah turun dengan gerakan cepat. Wajahnya mengeras, sementara tangan kanannya yang terbungkus sarung tangan kulit hitam menggenggam revolver peraknya. Di saku jasnya, foto Nyonya Valerie yang baru saja didapatnya dari pria asing di persimpangan jalan terasa menekan dadanya bagai timah panas."Amankan seluruh perimeter! Jangan biarkan siapa pun lolos!" perintah Felix pada tim taktisnya.Satu tim pengawal berpelindung tubuh lengkap menyergap masuk terlebih dahulu, memecahkan sisa-sisa pintu kayu yang sudah lapuk. Suara derap sepatu bot bergaung
Malam membungkus kota dengan keheningan yang dingin. Hujan gerimis yang turun sejak sore meninggalkan permukaan aspal jalanan licin dan berkilat di bawah temaram lampu jalan. Sebuah iring-iringan tiga mobil SUV hitam melaju dengan kecepatan tinggi membelah jalurnya, dipimpin langsung oleh Felix Wesley dari balik kemudi kendaraan paling depan. Mata elang Felix menatap lurus ke jalanan yang sepi. Informasi terbaru dari The Ghost mengenai sinyal ponsel Roberson yang bergerak mendekati rumah tua terus berputar di kepalanya. Pria itu menancap gas lebih dalam, membiarkan deru mesin mobilnya menggerung membelah malam. Fokusnya terkunci total pada brankas tua yang menyimpan rahasia tentang Valerie dan asal-usul Jolina. Namun, di sebuah persimpangan jalan utama yang sepi di batas kota, takdir memiliki rencananya sendiri. Sebuah mobil sedan mewah edisi terbatas berwarna hitam kelam, kendaraan berpelat diplomatik dengan sistem keamanan antipeluru tingkat tinggi, mendadak melaju memotong jalur
Keheningan manis di perpustakaan mansion terpaksa buyar saat ponsel satelit rahasia di saku kemeja Felix bergetar hebat. Sebuah nada getar berkode khusus, hanya digunakan oleh The Ghost untuk laporan yang sifatnya sangat darurat dan rahasia.Felix menarik napas perlahan, merapikan helai rambut Jolina yang sedikit berantakan di dahi. Ia mengecup kening istrinya sekilas. "Istirahatlah di kamar dulu, Jolina. Ada laporan keamanan yang harus kupantau sebentar."Jolina menatap Felix dengan binar mata yang masih menyisakan kehangatan ciuman mereka tadi. Wanita itu mengangguk pelan, mengusap lengan tegap suaminya sebelum melangkah keluar dari perpustakaan, membiarkan Felix kembali ke dalam sangkar tugasnya sebagai seorang Don.Begitu pintu tebal perpustakaan tertutup rapat, raut wajah Felix berubah seketika. Kehangatan yang baru saja ia tunjukkan pada Jolina menguap tanpa sisa, berganti menjadi ekspresi dingin dan penuh kewaspadaan. Ia menekan tombol penerima pada ponselnya dan menempelkannya
Pagi hari menyapa mansion Wesley dengan hamparan kabut tipis yang merayap pelan di antara pilar-pilar batu megah. Dari luar, suasana terkesan tenang dan tenteram, meski aroma halus tanah basah yang berbaur dengan jelaga sisa ledakan semalam masih membekas di sudut-sudut perbatasan halaman. Sisa-sisa pertempuran berdarah telah dibersihkan secara efisien oleh tim The Ghost, meninggalkan mansion dalam kedamaian tiruan yang mencekam.Di ruang makan utama yang luas, pendar sinar matahari pagi menembus jendela kaca tinggi, memantulkan cahaya lembut ke atas meja kayu mahoni yang terbentang panjang. Jolina duduk di salah satu sisi meja, mengaduk pelan mangkuk sup hangatnya dengan tatapan menerawang. Jubah sutra berwarna krem yang dikenakannya membungkus tubuhnya dengan anggun, memperlihatkan siluet kehamilannya yang mulai sedikit memadat.Di ujung meja, Felix duduk dengan kemeja putih yang lengannya tergulung hingga siku. Pria itu tampak sibuk menyesap kopi hitamnya sembari meneliti beberap
Di sebuah rumah tua terisolasi yang tersembunyi jauh di dalam rimbunnya hutan batas kota, napas ketakutan masih terasa begitu pekat. Bau mesiu, darah kering, dan asap rokok murahan memenuhi ruangan bersudut sempit yang hanya diterangi oleh sebuah lampu gantung kekuningan yang berkedip-kedip. Luar mansion Wesley mungkin telah sunyi, tetapi kepanikan sisa-sisa pelarian itu kini berkumpul di dalam pondok reyot ini.Vico duduk bersandar di sudut dinding kayu, mengepalkan kedua tangannya yang bernoda hitam bekas ledakan. Pakaian taktisnya robek di beberapa bagian, namun bukan luka fisik yang membuatnya membisu. Kepala Vico serasa mau pecah. Kalimat demi kalimat yang diucapkan Felix di balik kaca ruang panel keamanan terus berputar tanpa henti, merusak pertahanan keyakinan yang selama ini ia agungkan.“William Benharg adalah orang yang memegang kendali atas kasus hukum ayahmu... Siapa yang diuntungkan saat ayahmu masuk penjara dan Addison menghilang? Benharg, Vico. Bukan Addison.”Vico men
Asap rokok kembali mengepul, memenuhi ruang kendali bawah tanah yang sunyi. Felix Wesley masih duduk di kursi besarnya, menatap nanar barisan dokumen digital yang ditampilkan di layar monitor oleh The Ghost. Sejarah kelam tahun 2000-an itu memang telah membuka tabir tentang penjebakan Bryan dan pernikahan kedua William. Namun, bagi pria sekritis Felix, berkas-berkas itu justru meninggalkan lubang besar yang menganga di kepalanya. Felix mengetukkan jemarinya di atas meja mahoni dengan ritme yang konstan, mencerminkan isi pikirannya yang sedang berputar keras. Ada tiga pertanyaan besar yang belum terjawab. Pertama, kenapa Addison akhirnya menghilang dari mansion Benharg? Jika awalnya Addison memilih pasrah dan bertahan di bawah kungkungan William demi melindungi Felix yang masih balita, apa yang memicu pria itu pada akhirnya memutuskan untuk kabur dan menghilang seperti asap? Dan yang paling mengusik ketenangan Felix adalah sebaris kal
Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan itu setelah Roberson melontarkan tuduhannya. Jolina berdiri mematung, otaknya berputar cepat mencoba mencerna apa yang baru saja dikatakan ayahnya. Bertemu siapa? Malam itu? Ia tidak merasa bertemu dengan siapapun. Pikirannya berlarian
Mansion keluarga Benharg berdiri angkuh di atas perbukitan, sebuah monumen kemegahan yang dibangun di atas tumpukan rahasia dan pilih kasih. Namun, bagi Felix, setiap jengkal tanah di sini adalah pengingat akan luka lama yang tak pernah mengering. Ia melangkah masuk seorang diri, tanpa pengawal d
Bau antiseptik yang menyengat menusuk indra penciuman Felix, menciptakan suasana dingin yang sangat ia benci. Di depannya, di atas bangsal putih yang tampak terlalu keras bagi tubuhnya yang mungil, Jolina terbaring tak berdaya. Wajahnya yang pucat hampir sewarna dengan sprei rumah
Kemarahan Felix meledak seperti gunung api yang sudah ribuan tahun memendam lava. Saat anting milik Jolina itu mendarat di atas sprei putih, Felix tidak hanya melihat sebuah perhiasan, ia melihat sebuah penghinaan. Namun, sisa-sisa kewarasannya masih mengarah pada pria yang







