แชร์

02. Kuasa Sang Don

ผู้เขียน: Marfia Aphro
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-12-30 16:23:03

Cahaya matahari siang yang pucat menyelinap masuk melalui celah gorden yang berat, menusuk kelopak mata Jolina yang perih.

Ia terbangun dalam keadaan linglung, sejenak berharap bahwa semua yang terjadi semalam hanya sekadar manifestasi dari mimpi buruk yang paling keji.

Namun, saat ia merasakan kelembutan sprei sutra yang asing di bawah kulitnya dan aroma kayu cendana bercampur cerutu yang memenuhi ruangan, kenyataan pahit itu menghantamnya kembali.

Ia bukan lagi di rumahnya yang sederhana. Ia bukan lagi gadis bebas yang bisa menentukan arah langkahnya.

Semalam, di atas lantai marmer yang dingin, hidupnya telah ditukar dengan tumpukan kuitansi hutang judi. Ayahnya telah menjualnya kepada seorang pria yang namanya hanya dibisikkan dalam ketakutan di seluruh penjuru kota, Felix Wesley.

Jolina mencoba menggerakkan tubuhnya, namun rasa remuk di sekujur persendiannya membuatnya merintih pelan. Ia meringkuk, menarik selimut beludru hingga menutupi dagunya.

Pintu kamar yang besar itu kembali terbuka dengan satu hentakan yang berwibawa. Jolina tersentak, jantungnya berdegup kencang hingga terasa menyakitkan di dadanya.

Felix Wesley berdiri di sana. Pria itu tampak sangat rapi, seolah-olah ia tidak baru saja menghancurkan hidup seseorang beberapa jam yang lalu.

Kemeja hitamnya kancingnya terbuka satu di bagian kerah, memperlihatkan aura maskulin yang begitu mengintimidasi.

“Cepat bersiap, Jolina!” suara Felix rendah, serak, dan penuh otoritas.

Jolina tidak menjawab. Ia hanya bisa memejamkan mata erat-erat, mencoba menghalau bayangan tentang bagaimana pria ini mengambil paksa hak atas tubuhnya pagi tadi. Felix tidak meminta izin.

Pria itu tidak memberikan kelembutan. Baginya, Jolina adalah transaksi yang sah, dan ia telah mengklaim apa yang menjadi miliknya dengan cara yang paling brutal, menghancurkan sisa-sisa harga diri Jolina di atas ranjang yang kini terasa seperti tempat eksekusi.

Felix melangkah mendekat, setiap ketukan sepatunya di atas lantai terdengar seperti lonceng kematian bagi Jolina. Ia duduk di sisi ranjang, membuat kasur itu miring di bawah beban tubuhnya yang besar.

Sebuah tangan yang besar menyentuh pipi Jolina. Sentuhan itu tidak kasar, namun mengandung kepemilikan yang mutlak. Jolina gemetar hebat.

“Kau gemetar karena takut atau karena masih merasakan sisa kenikmatan tadi pagi?” bisik Felix tepat di telinganya.

Jolina akhirnya membuka mata, menatap Felix dengan binar air mata yang tak terbendung.

“Kenapa tuan melakukan ini padaku?”

Felix tersenyum tipis, sebuah senyum menakutkan yang mirip seringai monster. “Apa kau sudah lupa, Jolina? Ayahmu yang menjualmu padaku, sekarang kau adalah milikku.”

"Bersiaplah," bisik Felix sambil mengusap air mata di pipi Jolina dengan ibu jarinya. "Karena ini baru babak pemanasan. Aku baru saja mendapat kabar bahwa ayahmu... dia tidak hanya menjualmu kepadaku."

Jolina membeku. "Maksudmu?"

Felix tersenyum miring, senyum yang membuat jantung Jolina seolah berhenti berdetak.

"Dia menjual informasi tentangmu ke pihak lain juga. Dan jika mereka tahu kau ada di tanganku, mereka akan melakukan hal yang jauh lebih buruk daripada apa yang baru saja kulakukan padamu."

Felix mendekatkan tubuhnya pada Jolina.

"Pilihannya hanya dua, Jolina. Tetap di pelukanku dan menjadi ratu di neraka ini, atau keluar dari pintu itu dan menjadi santapan anjing-anjing di luar sana. Jadi, apa pilihanmu, Sayang?"

Jolina tidak menjawab. Lidahnya terasa kelu, terkunci oleh kenyataan pahit bahwa pria yang baru saja merenggut kesuciannya adalah satu-satunya pelindung yang ia miliki dari ancaman yang lebih mengerikan di luar sana.

Dengan diam yang sarat akan kepasrahan, Jolina membiarkan Felix membimbingnya keluar dari gedung tua itu menuju mobil sedan hitam lapis baja yang sudah menunggu di lobi.

Sepanjang perjalanan menuju kediaman utama Felix, tak ada kata yang terucap. Jolina hanya menatap keluar jendela, melihat gedung-gedung kota yang kabur karena air mata yang kembali menggenang.

Begitu sampai di mansion megah yang tersembunyi di balik pagar besi tinggi, Felix menggandeng tangan Jolina dengan erat. Di aula utama, barisan pelayan dan penjaga bersetelan hitam sudah berdiri tegak, menunduk hormat saat Sang Don melangkah masuk.

"Dengarkan baik-baik," suara Felix menggema, dingin dan penuh otoritas.

"Dia adalah Jolina, nyonya di rumah ini. Setiap perintahnya sama dengan perintahku. Jika ada yang tidak patuh dan tunduk, maka kalian akan berhadapan dengan senjataku.”

Jolina merasa kecil di bawah tatapan puluhan pasang mata itu. Ia hanya bisa menunduk saat Felix membawanya menaiki tangga melingkar menuju lantai ahtas, masuk ke dalam kamar utama yang luasnya hampir seluas rumah Jolina dulu.

"Ini kamarmu. Kamar kita," ucap Felix sambil membuka pintu lemari besar yang sudah terisi penuh dengan gaun-gaun sutra, pakaian dalam berbahan lace yang tipis, hingga perhiasan mewah.

"Aku sudah menyiapkan segalanya. Aku benci melihat milikku terlihat kumal."

Felix duduk di kursi kulit di sudut kamar, melonggarkan dasinya sambil memperhatikan Jolina yang masih berdiri mematung di tengah ruangan.

"Mandilah. Bau darah dan keringatku masih menempel di kulitmu," perintah Felix, suaranya kini kembali serak.

Jolina mengangguk lemah, nyaris tak terlihat. Dengan langkah yang goyah dan jemari yang gemetar, ia menyeret kakinya menuju kamar mandii.

Setelah merasa cukup bersih—meski jiwanya tetap merasa kotor—Jolina mengenakan gaun sutra hitam yang diberikan Felix. Gaun itu membalut tubuhnya dengan sempurna, namun ia merasa seolah sedang memakai beban yang sangat berat.

Ia duduk di pinggiran kasur di seberang suaminya, menyisakan jarak yang sangat lebar di antara mereka, seolah-olah jarak itu bisa melindunginya dari predator di depannya.

Felix menghentikan gerakannya. Ia memutar tubuhnya perlahan, matanya yang tajam langsung menangkap posisi duduk Jolina. Pria itu mengerutkan dahi, tatapannya menggelap karena ketidaksukaan yang nyata.

"Kenapa kau duduk di sana?" suara Felix pecah di tengah kesunyian, dingin dan menuntut. "Kenapa kau duduk menjauh dariku seolah aku adalah wabah yang mematikan?"

Jolina tidak menjawab. Lidahnya terasa kelu, dan tenggorokannya tersumbat oleh rasa takut yang luar biasa.

Keheningan itu tidak berlangsung lama. Felix, yang geram karena diabaikan, melangkah lebar menghampiri Jolina. Derap langkahnya yang mantap membuat Jolina memejamkan mata erat-erat. Dalam sekejap, Felix sudah berdiri di depannya.

Pria itu membungkuk, lalu dengan gerakan yang cepat namun terkendali, ia mencengkeram rahang Jolina. Ia tidak menekannya hingga hancur, namun cengkeraman itu cukup kuat untuk memaksa Jolina mendongak dan menatap langsung ke dalam mata hitamnya yang berkilat berbahaya.

"Tatap aku saat aku bicara padamu, Jolina," desis Felix tepat di depan wajahnya.

"Sudah kubilang, jangan pernah mencoba untuk menjauh. Jangan pernah mengabaikan pertanyaanku, dan jangan pernah berpikir untuk menghindar dariku."

Jolina merasa oksigen di sekitarnya menipis. Air mata mulai menggenang di sudut matanya, namun ia menahannya agar tidak jatuh.

"Mengerti?" tekan Felix lagi, jemarinya semakin dalam menekan rahang Jolina.

"I-iya... aku mengerti," bisik Jolina parau, suaranya nyaris hilang.

Felix mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka bersentuhan. "Ingat ini baik-baik. Kau adalah milikku!”

“Jika kau masih berusaha menjauh atau bersikap seolah kau membenciku, maka aku akan memberikan hukuman yang jauh lebih kejam dari kebrutalan tadi pagi. Aku bisa membuatmu memohon padaku untuk berhenti, Jolina. Jangan menguji batas kesabaranku."

Jolina menggigil. Bayangan tentang kejadian pagi tadi kembali berputar di kepalanya, dan ancaman Felix barusan membuatnya merasa seolah ia sedang berdiri di bibir jurang. Felix tidak sedang menggertak; ia adalah pria yang selalu menepati janji-janji gelapnya.

Felix menatap bibir Jolina yang gemetar. Hasrat dominasi kembali membakar matanya. Ia hendak menunduk, bermaksud mencium bibir itu lagi dengan cara yang kasar untuk menegaskan kembali siapa penguasanya di sini.

Jolina hanya bisa pasrah, memejamkan matanya sambil menunggu serangan yang datang.

Namun, tepat sebelum bibir mereka bersentuhan, sebuah suara memecah suasana yang mencekam itu.

Drrrtt... Drrrtt…

Ponsel Felix yang tergeletak di saku jas yang ia lempar ke lantai kembali bergetar.

Felix mengumpat pelan, menjauhkan diri dari Jolina yang masih berusaha mengatur napas dengan wajah merona hebat. Ia menyambar ponsel itu, dan kali ini, saat ia melihat layarnya, raut wajah Felix berubah total.

Bukan lagi amarah, tapi sesuatu yang menyerupai keterkejutan yang sangat langka terlihat di wajah Sang Don.

Felix mengangkat telepon itu, suaranya mendadak sangat rendah hingga hampir menjadi bisikan yang mematikan.

"Sudah kubilang jangan pernah hubungi aku ke nomor ini... Kecuali dia sudah mati."

"Apa?" Felix mendesis. "Dia ada di depan gerbang sekarang?"

Felix mematikan ponselnya dengan kasar.

"Tetap di sini. Jangan buka pintu untuk siapa pun, Jolina," ucap Felix sambil meraih senjatanya dari laci meja.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Dekapan Tuan Mafia   17. Puing-puing Kepercayaan

    Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan itu setelah Roberson melontarkan tuduhannya. Jolina berdiri mematung, otaknya berputar cepat mencoba mencerna apa yang baru saja dikatakan ayahnya. Bertemu siapa? Malam itu? Ia tidak merasa bertemu dengan siapapun. Pikirannya berlarian ke belakang, memutar memori malam-malam sepi di mansion mewah Felix. Tiba-tiba, sebuah kilatan ingatan muncul. Pesan misterius pertama. Pesan singkat dari nomor tak dikenal yang hanya berisi dua kata, "Hati-hati, Jolina." Ia ingat betapa jantungnya berdegup kencang saat membaca itu, tapi ia tidak pernah bertemu dengan pengirimnya. Ia tidak pernah keluar dari kamar malam itu. Namun, bagaimana ia bisa menjelaskan hal itu sekarang? Di bawah tatapan Felix yang mulai berubah menjadi curiga, kata-kata seolah tersangkut di tenggorokannya. Belum sempat Jolina membuka suara untuk membela diri, Roberson Guilt tertawa terbahak-bahak. Tawa

  • Dekapan Tuan Mafia   16. Sebuah Umpan

    Di dalam kabin mobil yang kedap suara, ketegangan terasa begitu padat hingga seolah bisa diiris dengan pisau. Jolina meremas jemarinya yang dingin, matanya tak lepas dari layar ponsel yang masih menampilkan video ibunya yang terikat dengan bom waktu. Setiap detik yang berlalu terasa seperti satu tahun. Napasnya pendek-pendek, dan rasa mual yang sempat hilang kini kembali menyerang, diperparah oleh kecemasan yang luar biasa. "Felix, kita tidak punya banyak waktu," bisik Jolina parau. "Bagaimana jika dia benar-benar menekan tombol itu? Bagaimana jika—" "Diam sejenak, Jolina. Aku sedang berpikir," potong Felix tanpa menoleh. Matanya menatap lurus ke depan, namun otaknya bekerja dengan kecepatan luar biasa, menimbang setiap risiko, menghitung setiap sudut buta, dan memetakan denah rumah Roberson Guilt yang sudah ia hafal di luar kepala. Setelah beberapa menit yang menyiksa, Felix akhirnya memutar kemudi dengan tenang. Ia menepika

  • Dekapan Tuan Mafia   15. Di bawah Langit Benharg

    Mansion keluarga Benharg tampak seperti benteng batu yang dingin di bawah langit pagi yang mendung. Felix sedang mengenakan jas antipelurunya dengan gerakan yang efisien dan penuh amarah yang tertahan. Di seberangnya, Jolina berdiri dengan mata sembab namun penuh tekad. Ia sudah mendengar pembicaraan Felix di telepon; ia tahu ibunya ada di tempat ini."Aku ikut," ucap Jolina tegas.Felix berhenti sejenak, menoleh dengan tatapan yang bisa membekukan darah siapa pun. "Tidak. Kau tetap di sini dengan pengawalan maksimal. Tempat itu adalah sarang ular, Jolina. Ayahku dan Oliver tidak akan segan-segan menggunakanmu untuk memeras leherku.""Dia ibuku, Felix!" Jolina melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka."Sepuluh tahun aku hidup dalam bayang-bayang kehilangannya. Aku tidak peduli seberapa berbahaya tempat itu. Jika kau meninggalkanku di sini, aku akan gila karena kecemasan. Tolong... biarkan aku melihat wajahnya sekali saja."

  • Dekapan Tuan Mafia   14. Sisa Badai Semalam

    Sinar matahari pagi yang pucat menyelinap masuk melalui celah-celah gorden sutra di kamar utama mansion Wesley. Cahaya itu jatuh di atas wajah Jolina, membangunkannya dari tidur yang tidak nyenyak. Untuk sesaat, ia merasa disorientasi. Ingatan tentang bentakan Felix, rasa mual di kamar mandi, hingga pengakuan jujur pria itu tentang ibunya semalam, berputar di kepalanya seperti kepingan film yang rusak.Jolina meraba sisi ranjang di sebelahnya. Dingin. Felix sudah tidak ada di sana.Ia berusaha bangkit, namun rasa pusing yang hebat mendadak menghantam kepalanya. Pandangannya sedikit mengabur, sisa-sisa stres luar biasa dari kejadian kemarin malam masih meninggalkan jejak di tubuhnya. Jolina memijat pelipisnya, mendesah pelan saat rasa malu mulai merayapi hatinya.Bagaimana bisa aku begitu bodoh? batinnya menyalahkan diri sendiri. Ia telah mempercayai secarik kertas tanpa identitas dan menuduh suaminya sebagai penculik ibunya, padahal Fel

  • Dekapan Tuan Mafia   13. Janji Yang Rapuh

    Suasana di restoran mewah yang tadinya romantis seketika berubah menjadi medan perang yang sunyi namun mematikan. Genggaman tangan Felix pada pergelangan tangan Jolina tidak lagi hangat, itu adalah cengkeraman baja yang menuntut kejujuran. Sebelum Jolina sempat menyembunyikan foto usang itu ke dalam tasnya, Felix sudah lebih dulu menyambarnya dengan gerakan secepat kilat.Felix menatap foto itu. Matanya menyipit, rahangnya mengeras hingga otot-otot di lehernya menonjol. Ia menatap sosok wanita di foto itu—ibu Jolina—lalu beralih pada tulisan tangan di baliknya. Keheningan yang menyusul terasa begitu berat, seolah oksigen di ruangan itu telah habis terbakar oleh kemarahan yang mulai mendidih di balik dada Sang Don. Jolina tidak berani bernapas. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, menatap pangkuannya sendiri sambil meremas kain gaun biru safirnya hingga kusut. Jantungnya berdegup begitu kencang, memberikan rasa

  • Dekapan Tuan Mafia   12. Di ambang Keraguan

    Kegelapan malam di dalam kamar itu mendadak terasa menyesakkan bagi Jolina. Setelah membaca pesan misterius yang diselipkan di bawah pintu balkon, jantungnya berpacu seirama dengan detak jarum jam di dinding. Kata-kata itu—Proyek Mawar Hitam—terasa seperti belati dingin yang menusuk tepat ke pusat traumanya. Ibunya, sosok yang menghilang tanpa jejak sepuluh tahun lalu, kini kembali menghantui dalam bentuk tuduhan mengerikan terhadap pria yang sedang memeluknya. Dengan gerakan yang sangat hati-hati agar tidak membangunkan Felix, Jolina merangkak turun dari ranjang. Lantai marmer yang dingin menyentuh telapak kakinya, membuat bulu kuduknya berdiri. Ia berlutut di samping ranjang, jemarinya meraba-raba kolong kayu jati yang megah itu. Nafasnya tertahan. Ia mencari sebuah celah, sebuah tonjolan, atau apa pun yang menyerupai brankas kecil seperti yang disebutkan dalam surat itu. Ia meraba hingga ke sudut terdalam, debu tipis

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status