LOGINMalam Senin itu datang dengan kelelahan yang menempel tipis di tubuh mereka berdua.
Jakarta di luar jendela apartemen masih menyala seperti biasa, dengan lampu-lampu kendaraan yang bergerak panjang di kejauhan dan gedung-gedung tinggi yang tetap hidup bahkan ketika jam kerja orang-orang seharusnya sudah selesai. Di dalam apartemen, suasananya jauh lebih tenang. Lampu ruang tengah dinyalakan seperlunya. Televisi mati. Pendingin ruangan berdengung pelan. Dan aroma makan malam sedSeminggu bisa terasa sangat lama ketika dua orang tinggal di bawah atap yang sama, tetapi tidak benar-benar saling menjangkau. Setelah malam itu, malam ketika Yusallia mencoba membuka satu pintu kecil dalam diri Rionegro dan justru merasa langkahnya tertahan di depan sesuatu yang tak bisa ia lewati, apartemen itu tetap berjalan seperti biasa. Tidak ada pertengkaran besar. Tidak ada suara meninggi. Tidak ada piring dibanting, tidak ada kalimat kasar yang sengaja dilempar untuk melukai. Semuanya tetap rapi. Tetap tenang. Tetap tertata dengan cara yang dari luar mungkin terlihat dewasa dan wajar. Namun justru karena itulah, suasananya terasa jauh lebih dingin. Apartemen itu masih sama seperti sebelumnya. Lampu-lampu tetap menyala hangat saat malam datang. Dapur kecil tetap bersih. Meja makan tetap tertata. Kamar Yusallia tetap nyaman, begitu juga ruang kerja kecil Rionegro yang hampir selalu ditempati pria itu saat ada dokumen yang harus dib
Seminggu bisa terasa sangat lama ketika dua orang tinggal di bawah atap yang sama, tetapi tidak benar-benar saling menjangkau.Setelah malam itu, malam ketika Yusallia mencoba membuka satu pintu kecil dalam diri Rionegro dan justru merasa langkahnya tertahan di depan sesuatu yang tak bisa ia lewati, apartemen itu tetap berjalan seperti biasa. Tidak ada pertengkaran besar. Tidak ada suara meninggi. Tidak ada piring dibanting, tidak ada kalimat kasar yang sengaja dilempar untuk melukai. Semuanya tetap rapi. Tetap tenang. Tetap tertata dengan cara yang dari luar mungkin terlihat dewasa dan wajar.Namun justru karena itulah, suasananya terasa jauh lebih dingin.Apartemen itu masih sama seperti sebelumnya. Lampu-lampu tetap menyala hangat saat malam datang. Dapur kecil tetap bersih. Meja makan tetap tertata. Kamar Yusallia tetap nyaman, begitu juga ruang kerja kecil Rionegro yang hampir selalu ditempati pria itu saat ada dokumen yang harus dibaca. Kota di luar
Malam Senin itu datang dengan kelelahan yang menempel tipis di tubuh mereka berdua. Jakarta di luar jendela apartemen masih menyala seperti biasa, dengan lampu-lampu kendaraan yang bergerak panjang di kejauhan dan gedung-gedung tinggi yang tetap hidup bahkan ketika jam kerja orang-orang seharusnya sudah selesai. Di dalam apartemen, suasananya jauh lebih tenang. Lampu ruang tengah dinyalakan seperlunya. Televisi mati. Pendingin ruangan berdengung pelan. Dan aroma makan malam sederhana yang baru saja selesai mereka santap masih tertinggal tipis di udara. Yusallia baru pulang dari rumah sakit satu jam sebelumnya. Hari itu cukup melelahkan. Bukan hari terburuknya, tetapi cukup padat untuk membuat bahunya terasa berat sejak sore. Sementara Rionegro juga baru kembali dari kampus dengan wajah yang tampak sama tenangnya seperti biasa, hanya sedikit lebih lelah di sekitar mata. Mereka sempat makan malam bersama, berbicara seperlunya tentang hal-hal kecil, jam pu
Siang di awal pekan selalu punya suasana yang khas di lingkungan kampus.Tidak benar-benar tenang, tapi juga tidak sechaotic jam-jam pagi ketika mahasiswa masih berlarian mengejar kelas pertama mereka. Matahari siang jatuh terang di pelataran fakultas, memantul di kaca-kaca gedung dan trotoar yang mulai dipenuhi bayangan pohon. Dari arah jalan utama kampus, suara motor, langkah kaki, dan percakapan mahasiswa terdengar bercampur jadi latar yang terlalu akrab untuk diperhatikan lagi.Di kafe kecil dekat gedung dosen, suasananya tidak jauh berbeda.Beberapa meja terisi dosen yang sedang makan siang cepat sambil membuka laptop, sebagian lain ditempati mahasiswa yang masih mengerjakan tugas meski jam istirahat sudah berjalan. Mesin kopi sesekali mendesis. Sendok beradu pelan dengan cangkir. Dan di salah satu meja dekat jendela, Savira sudah duduk lebih dulu dengan segelas kopi dingin di tangannya.Ia melirik jam di pergelangan tangan, lalu mendecak kec
Hari Sabtu datang dengan ritme yang lebih pelan dari biasanya.Jakarta di luar apartemen tetap hidup seperti biasa, tapi dari lantai setinggi itu semuanya tampak lebih tenang. Langit pagi cenderung cerah, meski masih ada sisa warna pucat yang membuat cahaya matahari terasa lembut saat jatuh di kaca-kaca gedung dan jalanan yang mulai padat. Di dalam apartemen Rionegro, suasana juga berjalan lambat. Tidak ada kampus. Tidak ada rumah sakit. Tidak ada jadwal yang menuntut mereka keluar sejak pagi.Yusallia sempat berpikir hari itu akan menjadi hari yang sangat tenang.Ia bangun sedikit lebih siang, sarapan bersama Rionegro, lalu menghabiskan waktu di ruang tengah sambil membaca buku yang belum selesai ia sentuh sejak tiga hari lalu. Rionegro juga ada di rumah, seperti biasa, duduk di salah satu sisi sofa dengan laptop di pangkuan, beberapa file terbuka di hadapannya, wajahnya setenang biasa. Mereka tidak banyak bicara, tetapi keheningan di antara mereka kini t
Malam itu turun dengan cara yang lebih lembut dari biasanya.Setelah kontrol kandungan siang tadi, setelah perjalanan pulang yang terasa lebih tenang dari biasanya, dan setelah makan malam sederhana yang hampir seluruhnya mereka habiskan dalam diam yang tidak lagi canggung, apartemen Rionegro terasa berbeda. Tidak banyak berubah dari luar. Lampu-lampu tetap menyala hangat. Ruang tengah tetap rapi. Bunyi pendingin ruangan tetap samar. Kota di luar jendela masih bergerak seperti biasa dengan lampu-lampu yang berpendar di kejauhan.Namun tetap saja, ada sesuatu yang terasa bergeser.Mungkin karena mereka baru saja mendengar detak jantung bayi itu bersama-sama.Mungkin karena sejak siang tadi, Yusallia masih belum bisa melupakan wajah Rionegro saat berdiri di samping tempat tidur pemeriksaan dan mendengar suara kecil itu untuk pertama kalinya. Bukan wajah yang terlalu jelas menunjukkan apa-apa. Justru karena terlalu diam, terlalu tenang, dan terlalu t







