LOGINAdhira, murid SMA yang jago matematika itu harus terjerat berbagai kasus demi mengungkap kematian kedua orang tuanya. Sebuah undangan rapat rahasia dari aliansi keluarga konglomerat datang padanya. Dari sana Adhira pun tahu bahwa dia ternyata juga putra seorang pengusaha berlian merah yang kaya raya. Namun setiap kali petunjuk baru muncul, para saksi mata satu per satu mati. Di usianya yang keenam belas tahun, Adhira terjerat kasus pemerkosaan yang menyeret dirinya ke penjara dan mengalami banyak siksaan. Penderitaan yang tak terelakkan itu membawa Adhira pada kenyataan bahwa orang-orang yang selama ini terlihat begitu luhur dan agung tak lebih dari orang-orang keji yang menggunakan segala cara demi mendapatkan keinginannya. (PERINGATAN: cerita mengandung adegan seksual eksplisit, kekerasan fisik dan seksual, percintaan sesama jenis. Mohon jadi pembaca bijak)
View MoreAria Vale had always believed kindness was the most powerful thing a person could offer the world.
That belief had cost her more than she knew. The Northbridge University campus buzzed with energy as students crossed the marble courtyard between lectures. Laughter drifted through the crisp autumn air, mingling with the scent of roasted coffee from the café across the lawn. Aria walked quietly among them, her long dark hair tied loosely behind her back, a stack of books held against her chest. No one looked twice at her. That was exactly how she liked it. No one here knew that the girl in a simple sweater and worn sneakers was the only daughter of Victor Vale, the billionaire founder of Vale Global. To them, she was just another student. Normal. Free. At least, that was the idea. She stopped outside the admissions building and checked her phone. A message from the scholarship office blinked across the screen. Your sponsored student has arrived. Aria smiled softly. Lena Ward. The girl’s file had stayed in Aria’s mind for weeks. Perfect grades despite growing up in poverty. A father who’d disappeared. A mother working three jobs. Aria remembered staring at Lena’s application late one night in her penthouse apartment, feeling a familiar ache in her chest. Some people were born without a chance. Aria had decided Lena deserved one. So she’d quietly paid the full scholarship. Tuition. Housing. Books. Everything. But she had asked for one condition. The girl must never know who her sponsor was. Aria slipped her phone back into her pocket and entered the building. Inside, the scholarship office smelled faintly of paper and fresh ink. A nervous girl stood near the front desk clutching a thin backpack. Her clothes were simple, slightly worn. Her dark eyes scanned the room with cautious curiosity. Lena Ward. Aria approached slowly. “Hi,” she said gently. “Are you looking for the scholarship office?” The girl turned toward her. For a brief moment, Lena’s eyes flickered with something sharp—calculating. Then it disappeared behind a bright smile. “Yes,” Lena said. “I just arrived today. They said someone would show me around.” Aria smiled. “I can help with that.” They walked across campus together. Aria pointed out lecture halls, the library, the gardens. Lena listened attentively, asking questions about everything. “Northbridge is… huge,” Lena said softly. “It can feel overwhelming at first,” Aria replied. “You seem like you know everything here.” Aria laughed lightly. “I’ve been here a while.” They stopped near the student housing complex. Lena stared up at the building. “I still can’t believe someone paid for all this,” she murmured. “Your sponsor must believe in you,” Aria said. Lena’s gaze shifted toward her. “You think so?” “I know so.” For a moment, Lena looked genuinely moved. “Then I won’t waste it.” Aria believed her. That would become her biggest mistake. Two weeks later, things began to change. It started with whispers. Aria first noticed them in the cafeteria. Students who had once chatted casually with her suddenly fell silent when she approached. A group at the next table laughed quietly. Aria ignored it. Rumors were common on campus. But the whispers kept growing. Until the day she heard her own name. “Is that her?” “Yeah.” “That’s the girl Lena was talking about.” Aria paused. Talking about her? Confused, she turned toward the voices. Two girls stared at her with open disdain. “That’s the obsessed one,” one muttered. Aria’s stomach tightened. Obsessed? With what? Then she saw Lena. Standing across the room. Surrounded by students. Laughing. And beside her— Daniel. Aria’s boyfriend. He leaned close to Lena, smiling in a way Aria had only seen directed at her. Something cold twisted in her chest. She walked toward them slowly. “Daniel?” He turned. His expression shifted instantly. From warm to irritated. “Oh,” he said flatly. “It’s you.” Aria blinked. “What’s going on?” Before he could answer, Lena stepped forward. Her eyes shimmered with fake concern. “Aria… maybe you shouldn’t come over here.” “What?” Lena sighed dramatically. “I told them you were struggling,” she said softly. “But I didn’t think you’d follow me around like this.” Aria stared at her. “Follow you?” Murmurs spread around the table. Lena looked embarrassed. “I didn’t want to say anything,” she continued. “But Aria has been… fixated on my life since I arrived.” Aria felt the ground tilt. “What are you talking about?” Daniel scoffed. “Don’t play dumb.” Aria turned toward him. “What?” He crossed his arms. “Lena told me everything.” “Everything about what?” Daniel’s expression hardened. “That she’s the one sponsoring half the scholarships here.” Aria froze. “…What?” He continued coldly. “That she’s the Vale heiress.” The world seemed to stop. Aria slowly turned toward Lena. Lena smiled sweetly. But her eyes held something dark. Something triumphant. And then she said the words that shattered everything. “Stop pretending, Aria.” “Everyone already knows you’re just jealous of my life.” Silence spread through the cafeteria. Aria felt every gaze turn toward her. Mocking. Judging. She opened her mouth to speak. To tell the truth. To end this absurd lie. But Lena leaned closer and whispered something only Aria could hear. Three quiet words. Words that made Aria’s blood run cold. “I found the documents.” Aria’s breath caught. Because that meant only one thing. Lena knew. She knew Aria was the real heiress. And she was stealing her identity anyway. Lena stepped back and raised her voice. “Security might need to remove her if she keeps harassing me.” Students laughed. Daniel turned away from Aria. And for the first time in her life… Aria Vale realized someone had just stolen her entire world. Then Lena leaned close again and whispered one final sentence. A sentence that turned the situation from betrayal… into war. “You should thank me,” Lena murmured. “Because from now on…” “I’m the heiress.”Perempuan itu menghampiri rumah tua yang tengah direnovasi menjadi bangunan klinik. Di sampingnya seorang pria tua duduk di kursi roda memandang dengan lesu. Sudah bertahun-tahun dia hidup dan tergantung pada putrinya.“Kak Ervan?” Kiara menyapa dengan lembut pada seorang pria yang masih sibuk mengatur susunan keramik di teras depan.“Di mana Kak Adhi?” tanyanya bingung.Ervan tertegun. Keningnya mengernyit. Serbuk besi dingin seolah menyendat paru-parunya. “Kiara, kamu kembali?”“Aku mendapat kiriman surat dari Kak Adhi seminggu lalu. Katanya dia ingin aku mengurus rumah ini.”“Surat?”Kiara menyerahkan amplop berisikan surat yang ditulis tangan oleh Adhira sendiri.Tahun lalu, atas permintaan Adhira, Ervan membawa Kiara ke luar kota dan mengubah identitasnya. Tadinya Kiara tahu ini bertujuan agar dirinya tidak dijatuhi hukuman atas kematian Teodro belasan tahun lalu. Selama setahun itu juga dia hanya menjalankan hidupnya tanpa kabar apa pun dari Adhira.Kiara berpikir Adhira pasti m
Terima kasih sudah ikut melangkah dan berjuang bersama dalam kisah ‘Dendam dan Rahasia Tuan Muda’. Tadinya judul yang akan dipakai adalah Pita Merah, karena ide awalnya didedikasikan untuk para pejuang HIV-AIDS. Adhira dalam cerita ini menggambarkan perjalanan seorang anak manusia yang sesungguhnya begitu cemerlang harus memupuskan masa depannya oleh tuduhan, pengucilan, stigmatisasi, dan pengabaian. Di dunia ini, semua yang terjadi pada Adhira bisa terjadi pada siapa saja. Serangan mental/fisik, isolasi, diskriminasi, begitu sering terjadi pada pengidap HIV-AIDS. Orang-orang menganggap penyakit ini adalah hukuman mati yang pantas diderita oleh kaum-kaum homoseksual, PSK, orang dari ras-ras tertentu, para pecandu, dan kaum-kaum marginal lainnya. Stigmatisasi dan perlakukan buruk yang didapatkan para penderita sesungguhnya bisa didapatkan siapa saja. Anak-anak dengan orang tua HIV-AIDS, komunitas LGBT, perempuan, laki-laki, anak-anak, orang tua, petugas kesehatan. Semua bisa mendapatk
Meskipun Adhira sudah tiada, dirinya hidup bagi Ervan, bagi pejuang HIV-AIDS lainnya, bagi kaum tersisihkan, kaum LGBT, para pecandu, orang-orang yang terkucilkan oleh stigmatisasi dan diskriminasi.“Klinik VCT/IMS ini didedikasikan oleh seorang sahabat untuk seluruh penderita HIV-AIDS. Klinik ini mencakup pencegahan, pemeriksaan, pengobatan, dan rehabilitasi yang nantinya akan diberikan secara cuma-cuma….”Pria di atas podium mendeklarasikan sambutan pembuka sebelum acara pemotongan pita peresmian dilakukan. Matanya berair saat melihat orang-orang, anak-anak, para lansia yang duduk menunggu dirinya berbicara itu.“Hari ini, demi mengenang sahabat yang telah pergi itu, saya akan menamainya dengan ‘Adhira’,” ucap Ervan menyudai sambutannya.Kediaman Limawan ditata ulang sejak dua tahun lalu. Dengan menggunakan dana hasil penjualan berlian merah, Ervan berhasil membangun sebuah klinik khusus yang bisa melayani penderita HIV-AIDS.Bangunan rumah dijadikan klinik utama. Sementara gudang y
“Aku tidak kenal dengan sia-sia,” jawab Ervan tanpa aura.Adhira hendak berdiri, tapi dia tak memiliki kekuatan untuk bangkit. Alih-alih mengelak dari rangkulan Ervan, Adhira menjauhkan tubuhnya ke tepi bangku. “Kamu ini benar-benar keras kepala!” umpat Adhira lemah. “Aku… hanya ingin menghabiskan sisa waktu yang ada ini untuk tetap bersamamu.”“Lalu mengapa kamu harus menyerah?”Terlihat wajah Ervan yang merah dan kembali basah oleh air mata.“Karena… aku tidak punya pilihan, Daffin!”Kekuatan Adhira mendadak terenggut dari dirinya, seolah darah yang berkumpul di jantungnya menolak untuk mengalir ke otaknya. Adhira gagal membuat tubuhnya bertahan dengan semua pertanyaan Ervan. Kepalanya kehilangan keseimbangan dan napasnya semakin berat.Dia begitu ingin menghapus kesedihan di wajah Ervan, tapi untuk menyentuhnya saja Adhira sudah tak lagi sanggup.“Sebutkan semua jalan yang kau sudah anjurkan padaku! Aku akan mematuhinya. Aku akan dengan giat menurutinya. Aku rela kamu memakiku, me
Langit cerah membangunkan Adhira dari keterlelapan yang singkat itu. Hujan yang mengguyur tubuhnya kemarin berhasil mengganggu mimpi indahnya. Cericit bocah kecil di tepi sungai turut mewarnai kekisruhan pagi. Mereka melompat riang di tengah garis-garis tipis tanah basah berkerikil
Awan gemawan tebal meliputi langit kelabu. Angin bertiup menggeser gumpalan pekat tadi menjadi butiran hujan yang menyatu bersama asap dan debu. Hiruk pikuk perkotaan memudar di tengah guyuran hujan. Di balik rintik air yang bersemangat membasahi kaca klinik di persimpangan jalan itu, duduklah se
Seusai melahap habis nasi kuning berkuah gulai yang diberikan sipir perempuan tadi, Adhira diminta untuk memasuki sebuah ruang lain di lapas itu, tempat lain yang juga belum pernah dijamahnya. Bau klorin bercampur desinfektan mengelilingi dirinya. Ia diminta untuk mandi sebelum memasuki ruang per
Malam di tahun 1991 menjadi malam ternaas bagi keluarga Limawan. Hujan deras menghantam atap rumah mewah yang berdiri di tengah kota itu. Rinai air mengaduh bersatu padu bersama badai menciptakan sambaran petir di angkasa yang hitam. Pada milidetik selanjutnya, gelegar halilintar terdengar, menggeta
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews