مشاركة

Jejak di Tepi Jurang

مؤلف: arctrs_
last update آخر تحديث: 2026-02-07 09:11:41

Langit Ironhard telah berubah menjadi jingga pekat yang mencekam. Satu per satu peserta perburuan kembali dengan wajah kelelahan, namun Duke Cassian yang ditunggu-tunggu tak kunjung muncul di cakrawala.

Di sana, ia melihat banyak hewan buruan telah dipersembahkan pada Putri Seraphina. Semua Lady membicarakannya dan berspekulasi bahwa mungkin perburuan tahun ini, Putri Seraphina akan kembali mendapatkan trofi kemenangan dengan hasil buruan terbanyak.

"Wah, selamat Yang Mulia Putri. Sepertinya
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Di Atas Ranjang Duke Cassian   Sebuah Apel dan Kecupan

    Keheningan di dalam kereta kuda terasa lebih menyesakkan daripada riuhnya suara koin dan permainan kartu di kasino tadi. Florence menyandarkan kepalanya pada dinding kereta yang berlapis beludru, matanya menatap kosong ke arah deretan lampu jalan Valeridge yang bergerak mundur. Tangannya masih menggenggam erat surat kuasa dari Count Owen. Namun kemenangan besar yang seharusnya ia rayakan, hatinya justru terasa seperti diremas. Bayangan wanita pelayan kasino yang dengan berani mendekati Duke Cassian terus berputar di kepalanya, memicu rasa panas yang sulit ia padamkan. Florence tahu ini konyol; mereka sedang dalam misi hidup dan mati, namun ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa ia cemburu setengah mati. "Kau lelah?" Suara berat Duke Cassian memecah kesunyian. Florence hanya memberikan gelengan tipis tanpa menoleh sedikit pun. Ia merasa jika ia bicara, suaranya akan terdengar bergetar atau malah ketus, dan ia tidak ingin terlihat lemah di depan pria yang tampak begitu tenang

  • Di Atas Ranjang Duke Cassian   Sebuah Taruhan

    Alih-alih tetap diam, Florence yang sudah kehilangan kesabaran memutuskan untuk memberikan serangan balik yang sangat tidak terduga bagi seorang Duchess. Lagi pula lawannya hanya seorang pelacur rendahan, bukan bangsawan yang biasa ia lawan di pesta teh. Florence menatap lekat-lekat pada bagian dada wanita itu yang sangat menonjol di balik gaun tipisnya, lalu ia beralih menatap Duke Cassian dengan ekspresi ngeri yang dibuat-buat. "Yang Mulia, sebaiknya Anda sedikit menjauh," ucap Florence dengan nada bicara yang cukup keras hingga membuat gerakan tangan Count Owen terhenti untuk menyesap anggur di gelasnya. Duke Cassian mengernyitkan dahi, menatap istrinya dengan bingung. "Kenapa?" Florence menunjukkan ekspresi khawatir, matanya kembali tertuju pada wanita centil yang masih berdiri di dekat mereka. "Bukan, Yang Mulia. Saya hanya khawatir ... melihat ukuran dadanya yang sebesar itu dan kain gaunnya yang tampak sangat sesak, saya takut benda itu tiba-tiba meletus dan mengenai waja

  • Di Atas Ranjang Duke Cassian   Datangnya Seorang Pelacur

    Fabian terdiam sejenak lalu berbalik badan. Ia melirik Duke Cassian dan Florence bergantian. Kemudian ia menatap Count Owen seraya menarik garis bibirnya ke atas. "Ah, maaf, Tuan. Saya hanya merasa sedikit lapar dan berniat mencari kedai makanan di sekitar sini," ujar Fabian sambil mengusap lehernya beberapa kali. Count Owen lantas memaksakan tawanya yang terdengar sedikit keras. "Astaga aku lupa untuk mentraktir kalian dan malah membuat kalian kelaparan sekarang." Situasi yang sebelumnya tegang mendadak cair ketika Count Owen tertawa terbahak-bahak, seolah kecurigaannya tadi hanyalah gurauan belaka untuk menguji nyali Fabian dan pihak Duke Cassian. Ia menepuk bahu Duke Cassian dengan akrab, sementara Fabian segera memberi isyarat halus pada pasukannya di balik bayangan untuk menyelesaikan evakuasi secepat kilat. "Lupakan soal peti-peti membosankan ini, Yang Mulia! Karena kesepakatan sudah tercapai, mari kita rayakan kerja sama kita di tempat yang lebih ... privat," ujar Count Owe

  • Di Atas Ranjang Duke Cassian   Sebuah Strategi di Dermaga

    Sebelum kereta kuda berangkat menuju dermaga, Duke Cassian, Florence, dan Fabian berkumpul di ruang kediaman mereka di Valeridge yang tertutup rapat. Cahaya lilin yang temaram memantulkan bayangan serius di wajah mereka. "Fabian, kau sudah mengerti tugasmu?" tanya Duke Cassian sembari memeriksa ketajaman belati tersembunyi di balik jasnya. Fabian membungkuk hormat, wajahnya kaku seperti batu. "Saya akan berperan sebagai perantara logistik, Yang Mulia. Begitu kita berada di dalam gudang, pasukan elit kita yang menyamar sebagai kuli panggul akan mulai mengamankan isi peti kemas tersebut secara bertahap saat Count Owen lengah." Florence menatap peta pelabuhan yang terbentang di meja. "Pastikan anak-anak itu dibawa keluar melalui jalur drainase bawah yang terhubung ke gudang Silverhood. Kita butuh mereka sebagai barang bukti hidup yang tidak bisa dibantah," sahut Florence.Fabian mengangguk khidmat. "Saya mengerti, Nyonya.""Baiklah kita berangkat sekarang," ucap Duke Cassian memimp

  • Di Atas Ranjang Duke Cassian   Hari Perjamuan

    Tiba saatnya perjamuan di kediaman Valeridge. Semua bangsawan yang mendapatkan undangan hadir dengan kereta kuda yang terparkir rapi di halaman. Sebenarnya pertemuan ini adalah kedok belaka. Florence dan Duke Cassian hanya ingin memancing keluar bangsawan yang terdaftar di mitra bisnis dan donatur suci yang ditemukan tempo hari di ruang kerja Duke Benedictus."Sudah siap?" bisik Duke Cassian dari balik punggung Florence.Lantas Florence menoleh ke samping dan mendongak. "Tentu saja, Yang Mulia," ucapnya sembari tersenyum manis.Melihat Florence yang terlihat percaya diri membuat Duke Cassian ikut terkekeh pelan. Kemudian ia menyodorkan lengannya. "Mari kita pancing para bajingan itu, Sayang." Florence tertawa kecil lalu menyambutnya dengan melingkarkan tangannya pada lengan kokoh Duke Cassian, membiarkan jemarinya bertengger ringan di sana sebagai simbol kesetiaan mereka di depan publik. Ia bisa merasakan otot lengan suaminya sedikit menegang di balik kain beludru setelannya, namun p

  • Di Atas Ranjang Duke Cassian   Sebuah Dugaan

    Anak perempuan yang mereka selamatkan semalam, kini sedang berdiri di tengah ruangan dengan kuas di tangan dan wajah belepotan cat warna-warni. Di depannya, Blake, juga tak kalah belepotan. Wajahnya dipenuhi sapuan kuas cat hijau, rambutnya berhias bintik-bintik merah, dan jubahnya kini seperti palet berjalan. "Ah ... selamat datang!" seru Blake dengan tawa renyah, sama sekali tidak menyadari betapa konyol penampilannya. "Kami sedang mencoba teknik melukis baru!" Sebelum Florence sempat bereaksi, anak itu tiba-tiba berlari ke arah mereka dengan semangat, membawa kuas yang masih penuh cat biru cerah. SPLASH! Florence merasakan cipratan cat biru mendarat telak di pipinya, tepat di sebelah hidungnya. Ia terkesiap, lalu melirik Duke Cassian yang berdiri di sampingnya. Duke Cassian, penguasa Silverhood yang selalu dingin dan berwibawa, kini memiliki noda cat kuning cerah di dahinya, sedikit merah di jubahnya, dan beberapa bintik hijau di rambut hitamnya yang biasanya tersisir rapi

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status