LOGINBelle sangat mengenali orang yang baru membuka pintu dan kini turun dari dalam mobil.
"La... Laura," ucap Belle saat melihat sepupunya menatap tajam setelah turun dari mobil. "Minggir!" Laura mendorong tubuh Belle hingga gadis itu mundur beberapa langkah. Tatapannya kemudian beralih ke bagian belakang mobil yang baru saja ditabrak Belle. Laura kembali mendekati Belle dengan wajah penuh kebencian. "Dasar tolol!" bentaknya sambil mendorong kening Belle. "Kamu membuat mobil pacarku rusak, bodoh!" "Sayang, mobil aku gimana?" Seorang pria turun dari mobil dan langsung memeriksa kendaraannya. "Sial, mobil aku!" gerutunya sebelum mendekati Laura dan Belle. "Maaf," ucap Belle, mengakui kesalahannya karena telah menabrak mobil tersebut hingga penyok. "Maaf, kamu bilang? Dasar benalu bodoh!" sahut Laura. "Kamu harus ganti rugi!" "Aku tidak ada uang, Laura." "Aku tidak peduli!" Laura merampas tas bahu milik Belle dan mengambil dompetnya dengan paksa. "Laura, jangan! Uang itu untuk tambahan biaya operasi Nenek." Belle berusaha merebut kembali dompet miliknya, ingin mempertahankan uang yang ada di dalamnya. Tapi sayang, semua uang yang ada di dalam dompet Belle telah diambil oleh Laura. "Laura, kamu benar-benar jahat." Air mata Belle tiba-tiba jatuh tanpa aba-aba, air mata yang sejak pagi sudah Belle tahan untuk tidak jatuh, saat beban yang sedang ia pikul tidak tahu harus ia curahkan ke siapa akhirnya jatuh juga. Kemudian Laura melempar dompet yang kini kosong ke arah Belle. "Laura, tolong kembalikan uang itu. Uang itu untuk Nenek." Belle menyatukan kedua tangannya untuk memohon. "Aku tidak peduli!" "Bagaimana kamu bisa tidak peduli pada Nenek?" tanya Belle dengan suara bergetar karena tangisnya. "Nenek sedang terbaring di rumah, yang seharusnya Nenek berada di rumah sakit, kamu tahu itu, Laura!" "Eleh, banyak bacot! Kamu pikir uang lima ratus ribu ini cukup buat memperbaiki mobil pacarku? Tidak, bodoh!" Laura menendang tas milik Belle hingga buku-buku di dalamnya berserakan. Laura lalu menarik tangan pacarnya. "Sayang, kita pergi." Belle hanya mampu menatap Laura masuk ke dalam mobil. Kendaraan itu kemudian melaju, meninggalkannya begitu saja. Dengan tangan gemetar, Belle membuka dompetnya yang telah kosong. "Uangku," lirih Belle sambil menahan air mata. Uang yang baru semalam ia dapatkan dari gaji mingguannya sebagai pelayan kafe paruh waktu kini telah raib. Padahal, uang itu ia kumpulkan untuk biaya operasi sang nenek yang entah kapan akan terkumpul, mengingat biaya operasi itu sangat mahal. Belle kembali menaiki motornya yang ternyata mengalami kerusakan. Ia pulang ke rumah, rumah sang bibi yang sudah beberapa tahun ia tumpangi. Tepatnya setelah kedua orang tuanya meninggal akibat kecelakaan, dan tiba-tiba seluruh aset milik keluarganya disita oleh bank. Dalam waktu singkat, Belle kehilangan hampir segalanya. Awalnya, Belle berharap masih memiliki keluarga yang mau menerimanya. Namun kenyataannya tidak semudah yang ia bayangkan. Di rumah sang bibi, Belle selalu dianggap sebagai beban, sebagai seorang benalu. Padahal setiap hari, sebelum berangkat kuliah, Belle selalu membantu mengerjakan pekerjaan rumah. Apa pun yang diperintahkan Bibi Mila, sebisa mungkin selalu Belle lakukan. Namun semua itu seolah tidak pernah cukup. Begitu tiba di depan rumah, Belle menarik napas panjang sebelum akhirnya membuka pintu. Baru saja melangkahkan kaki ke dalam rumah, Belle langsung berhadapan dengan tatapan tajam Bibi Mila. Perempuan yang tidak muda lagi itu duduk di ruang tengah dengan wajah yang dipenuhi kekesalan. Belle berusaha tersenyum dan menyapanya. "Selamat sore, Bi." Tidak ada tanggapan. Bibi Mila justru berdiri dan berjalan menghampiri Belle. Tatapan perempuan itu membuat senyum Belle perlahan menghilang. "Kalau sudah tahu numpang, harusnya kamu sadar diri, tolol!" Belle mengernyit, benar-benar tidak mengerti kenapa sang bibi sudah terlihat begitu marah. Padahal sejak pagi Belle telah menyelesaikan hampir semua pekerjaan rumah sebelum berangkat ke kampus. Ia bahkan bangun lebih awal dibandingkan biasanya. "Ada apa, Bi?" tanya Belle pelan. "Masih tanya ada apa?" Suara Bibi Mila meninggi. "Jangan pura-pura bodoh! Kenapa kamu tidak membersihkan gudang, hah?!" Belle langsung teringat jika Bibi Mila memang pernah memintanya membersihkan gudang sejak kemarin. Namun Belle benar-benar melupakannya karena pikirannya terlalu dipenuhi banyak hal. "Maaf, Bi," ucap Belle lirih. "Aku lupa." "Alasan!" Bibi Mila tiba-tiba mendorong tubuh Belle dengan keras. Belle yang tidak siap langsung kehilangan keseimbangan. Tubuhnya jatuh tersungkur ke lantai. Bibi Mila berdiri di hadapan gadis itu tanpa sedikit pun rasa bersalah. Tatapannya begitu dingin, seolah Belle bukanlah keponakannya sendiri. "Dasar tidak tahu diri!" bentak Bibi Mila. "Sudah aku beri tempat tinggal, makan, dan tempat tidur, tapi kerja sedikit saja tidak becus!" Belle menundukkan kepala. "Aku minta maaf, Bi." "Jangan cuma minta maaf!" Bibi Mila menunjuk tajam ke arah Belle. "Kalau bukan karena aku, kamu mungkin sudah jadi gelandangan di jalanan! Jangan kira karena kamu keponakan aku, aku harus memperlakukanmu dengan baik!" lanjut Bibi Mila penuh amarah. "Kamu cuma beban di rumah ini, bodoh!" Belle berusaha berdiri, tetapi lagi dan lagi Bibi Mila mendorong tubuhnya. "Sakit, Bi!" pekik Belle sambil menahan air mata yang siap kapan saja tumpah. Bukannya merasa kasihan, Bibi Mila justru berjongkok di hadapan Belle dan menarik rambutnya dengan kasar. "Bibi, jangan!" Belle memegang tangan sang bibi, dan akhirnya bulir air mata jatuh membasahi kedua pipinya. "Apa yang kamu lakukan pada mobil pacar Laura, hah?!" tanya Bibi Mila dengan tatapan mengancam. Belum sempat Belle menjawab, tiba-tiba terdengar suara seseorang dari arah pintu. "Lepaskan dia!”Mendengar pertanyaan dari Mattias, Belle segera beranjak dari tempatnya. Lalu menatap pada Mattias yang masih terus menatapnya.Belle menganggukkan kepala. "Ya, tapi tenang saja. Aku tahu cara bagaimana memuaskan anda, Om."Belle mengukir senyum paksa, lalu menarik tangan Mattias untuk beranjak dari sofa. Mattias mengikuti Belle yang menarik tangannya menuju ranjang, senyum tipis terukir dari bibir Mattias Ketika Belle melepas sendiri gaun yang masih menempel di tubuhnya, memperlihatkan tubuhnya yang indah tanpa setitikpun noda.Ingin rasanya Belle menangis, saat melepas gaun di tubuhnya, ia benar-benar seperti pelacur yang tidak ada harga dirinya. Tapi sebisa mungkin Belle menahan air untuk tidak jatuh.Belle mendekati Mattias, melepas ikat pinggang pria itu dengan tangan gemetar. Tapi saat ingin melepas pengait celana yang Mattias kenakan, tangan Belle di tahan oleh pria itu."Kenapa buru-buru sekali sayang." Kata Mattias sambil mengelus pipi Belle dengan lembut. "Buru-buru itu ti
Dada Belle berdebar tidak karuan ketika Mattias kini sudah bertelanjang dada dan duduk santai di sofa. Kedua tangannya berada di atas sandaran, sementara tatapan pria itu tidak pernah lepas sedikit pun dari Belle.Tatapan itu membuat Belle semakin gugup, Apalagi sejak tadi Mattias hanya diam memperhatikan Belle menyantap makanan di atas meja. Seolah-olah pria itu sedang menunggu sesuatu.Begitu Belle selesai menyantap makanannya, suara Mattias akhirnya terdengar."Apa kamu sudah selesai menyantap makananmu?"Belle langsung menganggukkan kepala. "Sudah, Om."Mattias mengangkat sudut bibirnya. "Kalau begitu, mendekatlah. Giliran aku yang akan menyantap kamu."Belle langsung merinding. Entah kenapa kalimat sederhana itu terdengar begitu menakutkan untuknya.Namun, Belle segera mengingat alasan dirinya berada di kamar hotel tersebut. Akhirnya Belle memaksa kedua kakinya untuk beranjak dari duduknya, dan perlahan ia melangkah menghampiri Mattias.Hingga akhirnya Belle kini berhenti tepat
"Bagaimana, apa kamu mau tidur denganku?" tanya Mattias tanpa ekspresi.Belle terdiam, tatapannya terpaku pada wajah pria yang kini berdiri di hadapannya. Pertanyaan itu kembali terngiang-ngiang di kepalanya, membuat jantung Belle berdetak lebih cepat.Belle teringat jelas pada perkataan Natt, sang sahabat. Natt mengatakan bahwa pria yang sedang berada di hadapannya itu tidak menyukai perempuan. Namun, jika memang demikian, mengapa Mattias justru mengajaknya tidur?"Tenang, berapa pun uang yang kamu inginkan, aku bisa memberikan," lanjut Mattias dengan suara datar.Belle menelan ludah, saat berada di klub tersebut, semua pria yang Natt kenalkan kepadanya adalah pria-pria yang sudah cukup tua. Berbeda dengan Mattias, pria itu memang terlihat dewasa, tetapi wajahnya tampan, tubuhnya tegap, dan penampilannya begitu berwibawa. Siapapun akan tertarik pada Mattias. Hanya saja Mattias tidak menyukai perempuan.Jika Belle menerima tawarannya, mungkin saja ia mendapatkan keuntungan. Bisa jadi
Natt yang melihat Belle tampak terintimidasi setelah tidak sengaja menabrak seorang pria, segera menghampiri sahabatnya itu."Maaf, Om-om tampan," kata Natt dengan cepat kepada kedua pria yang berdiri di hadapan Belle. "Kami pergi dulu."Tanpa menunggu jawaban, Natt langsung menarik tangan Belle dan mengajaknya pergi meninggalkan pria yang tadi ditabraknya.Belle hanya bisa mengikuti langkah Natt. Jantungnya berdebar karena tatapan pria yang ditabraknya terasa begitu tajam dan membuatnya gugup.Sementara itu, Mattias menoleh ke arah Belle yang kini berjalan mengikuti Natt menuju salah satu sofa di sudut klub malam tersebut.Jackson yang berdiri di samping Mattias ikut memperhatikan gadis itu, sampai Belle duduk."Aku kira gadis itu milik kamu, Matt." ujar Jackson sambil menyeringai. "Cantik juga gadis itu. Hidung belang mana yang beruntung mendapatkannya?"Mattias sama sekali tidak menanggapi ucapan Jackson. Pria itu justru berjalan menuju salah satu sofa yang berada tidak jauh dari t
"Kamu yakin?" tanya Natt, karena ia pikir Belle tidak akan mengikuti sarannya, untuk mendapatkan uang dengan cepat dari om-om kaya raya. Belle tidak langsung menjawab. Tatapannya justru bergetar sebelum akhirnya ia melangkah mendekati Natt dan memeluk sahabatnya itu erat. Tangis yang sejak tadi ditahannya kembali pecah. "Aku tidak tahu harus bagaimana lagi, Natt." kata Belle di sela isak tangisnya. Natt menghela napas panjang. Ia mengusap punggung Belle, berusaha menenangkannya sebelum akhirnya membawa sang sahabat masuk ke dalam kamar kosnya. Natt kemudian mendudukkan Belle di pinggir tempat tidur. "Jangan menangis," ujar Natt lembut sembari menghapus air mata yang membasahi pipi Belle. "Natt, bawa aku ke tempat om-om yang kamu bilang. Aku membutuhkan uang itu secepatnya." Belle menarik napas panjang, berusaha menghentikan tangisnya. "Nenek harus segera dioperasi. Dan uang yang aku butuhkan ternyata lebih banyak dari sebelumnya." Natt menatap dalam pada Belle. "Kamu yakin, Bell
Tentu saja Belle mengenali Zayn. Zayn adalah teman satu kampusnya, pria yang beberapa kali hadir dalam hari-harinya tanpa pernah benar-benar bisa Belle abaikan. Karena Belle diam-diam menyimpan perasaan pada Zayn.Apalagi Zayn juga pernah beberapa kali mencoba mengungkapkan perasaannya pada Belle. Namun, Belle selalu memilih diam. Bukan karena ia tidak memiliki perasaan yang sama, melainkan karena hidupnya sendiri masih terlalu berantakan. Ia tidak ingin memikirkan cinta ketika hidupnya dipenuhi begitu banyak masalah.Terlebih sekarang, ia harus memikirkan neneknya yang sedang terbaring tidak sadarkan diri di rumah sakit.Sementara itu, Zayn beberapa saat hanya menatap Belle. Sebelum menatap pada tiga pria yang masih memegangi tangan Belle. "Pecundang, beraninya cuma sama perempuan. Kalian banci?" tanya Zayn. "Kalau berani, maju kalian bertiga, atau kalian ingin mamakai rok?"Pak Anton, Ferry dan Dani tentu saja terpancing dengan ucapan Zayn. Membuat ketiganya langsung melepas Belle,







