Share

Di Bawah Kendali Sugar Daddy
Di Bawah Kendali Sugar Daddy
Author: NARA

1. Om-om Tajir

Author: NARA
last update publish date: 2026-09-09 17:45:32

"Zaman sekarang, perawan itu tidak penting, Belle Aurora! Yang penting itu uang. Ingat, hanya uang."

Belle terdiam sambil memegang gelas jus mangga di tangannya. Kata-kata Natt sang sahabat barusan, kini memenuhi pikirannya.

"Dari pada kamu pusing cari uang ke sana kemari tapi tidak dapat juga, mending kamu jadi peliharaan om-om. Gampang, bukan?" Natt kembali berkata santai.

Kemudian, Natt memegang dagu Belle dan mengangkat wajah sahabatnya itu perlahan.

"Kamu cantik, manis, putih, body bagus, dan ya, kamu masih perawan juga. Sudah pasti kamu akan dapat uang banyak dari om-om tajir, yang penting kamu mau jadi peliharaannya Bell."

"Natt, jangan jerumuskan Belle ke hal yang tidak benar." Suara Maudi, membuat Natt menoleh.

Maudi yang baru saja datang membawa nampan berisi makanan langsung duduk di samping Belle. Wajahnya terlihat tidak setuju sejak mendengar perkataan Natt dari kejauhan.

Tanpa banyak bicara, Maudi mengelus punggung Belle dengan lembut. "Jangan dengarkan apa yang Natt katakan, Bell." ujar Maudi. "Dia sudah tersesat, kamu jangan ikut tersesat."

"Eleh, jangan sok suci kamu, Maudi." Natt langsung menimpali dengan wajah tidak terima. "Apa kamu bisa membantu Belle? Tidak, bukan? Buat keperluan sehari-hari kamu saja masih kekurangan." Lanjut Natt lagi.

Ucapan itu membuat wajah Maudi berubah kesal. "Terus kamu bisa membantu Belle?" balas Maudi.

Natt terdiam sejenak, lalu berkata. "Bisa sih, tapi aku sudah pesan tas keluaran terbaru. Tidak mungkin aku membatalkan pesanan itu. Kalian tahu sendiri tas itu edisi terbatas. Sudah lama aku memimpikannya kalau aku membatalkan pesanan, belum tentu aku bisa mendapatkannya lagi."

"Sudah, tidak usah ngomong!" sahut Maudi kesal. "Kamu benar-benar tidak peduli."

"Tentu saja aku peduli!" Natt membela diri. "Buktinya aku sudah menyarankan Belle bagaimana caranya dia bisa dapat uang yang sangat banyak."

"Tapi saran kamu sesat, Natt!" Maudi semakin kesal.

"Yang penting dapat uang kan?”

"Sudahlah!" Belle akhirnya bersuara, niat hati bercerita pada sahabatnya jika Belle membutuhkan banyak uang, tapi malah semakin membuat kepala Belle pusing, dengan perdebatan kedua sahabatnya itu.

Natt dan Maudi kini terdiam ketika melihat wajah Belle yang semakin murung.

Sebenarnya Belle sama sekali tidak peduli dengan perdebatan mereka.

Pikirannya sedang berada di tempat lain, Belle benar-benar bingung. Dari mana ia harus mendapatkan uang yang cukup banyak.

Biaya operasi sang nenek bukan jumlah yang sedikit. Dokter mengatakan bahwa operasi itu tidak bisa terus-menerus ditunda. Kondisi neneknya harus segera mendapatkan penanganan.

Belum lagi uang kuliah Belle yang belum dibayarkan. Sementara uang yang ada di tangan Belle hampir tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, meskipun Belle sudah bekerja paruh waktu di sebuah kafe, dan kadang-kadang mencari pekerjaan lain yang bisa Belle lakukan.

"Bell, kamu baik-baik saja?"

Pertanyaan Maudi membuat Belle tersadar dari lamunannya.

Belle menoleh dan memaksakan sebuah senyuman. "Ya, aku baik-baik saja." Jawabnya.

"Bohong." Kali ini Natt yang berbicara. Lalu kini bergeser dan duduk di sisi lain Belle.

Natt mendekatkan wajahnya, lalu berbisik tepat di telinga sahabatnya itu. "Kalau kamu mau mengikuti saranku, aku akan membawa kamu ke tempat om-om tajir yang kesepian. Kamu tinggal menjadi peliharaannya. Dan berapapun uang yang kamu butuhkan, akan dia berikan."

"Natt!" Maudi langsung mendorong kepala Natt menjauh dari Belle. "Jangan bisik-bisik!"

"Apa sih!" Natt menatap Maudi dengan kesal.

"Pasti kamu bilang yang tidak-tidak pada Belle."

"Nuduh tanpa bukti itu sama saja dengan kejahatan."

"Eleh, aku tahu siapa kamu, Natt."

"Ya udah sih." Balas Natt santai.

Natt dan juga Maudi tidak lagi berkata, ketika Belle yang tidak memiliki tenaga untuk mendengarkan pertengkaran kedua sahabatnya yang selalu seperti itu, kini beranjak dari duduknya.

"Aku pulang dulu." Kata Belle.

Maudi langsung menatap Belle. "Bell, kita masih ada kelas."

Namun Belle tidak menimpali, ia mengambil tasnya dan langsung melangkah meninggalkan kantin kampus.

"Belle!" panggil Maudi.

Tetapi gadis itu terus berjalan, langkahnya semakin cepat menuju area parkir.

Maudi berniat mengejarnya, tetapi Natt justru kembali bersuara, sambil menahan satu tangan sahabatnya itu.

"Maudi."

Maudi menoleh dengan malas. "Apa lagi?"

"Kalau kamu mau jadi peliharaan sugar daddy tajir seperti aku, aku bisa mengenalkan kamu pada om-om kaya."

Maudi menatap Natt dengan kesal. "Sorry, aku tidak murahan seperti kamu."

Setelah mengatakan itu, Maudi langsung pergi meninggalkan Natt.

"Dasar sok suci!" teriak Natt kesal.

***

Belle meninggalkan kampus dengan menggunakan motor kesayangannya.

Motor itu memang bukan motor baru atau mahal. Namun, kendaraan itu sangat berarti bagi Belle.

Motor itu telah menemani Belle pergi kuliah, bekerja, mengantar sang nenek ke rumah sakit, dan melakukan berbagai aktivitas lainnya.

Hari ini, Belle mengendarai motornya dengan pikiran yang benar-benar kacau. Pikirannya terus memikirkan biaya operasi sang nenek, dan biaya kuliahnya.

Lalu Belle teringat kembali saran Natt. Belle langsung menggelengkan kepalanya pelan. Tidak, Belle tidak akan pernah mengikuti saran Natt.

"Kenapa semuanya harus sesulit ini?" gumam Belle. Tangannya semakin erat memegang setang motor. Ia tidak menyadari bahwa kendaraan di depannya mulai berhenti.

Lampu lalu lintas telah berubah merah. Sebuah mobil berhenti tepat di depan Belle.

Namun karena pikirannya tidak fokus, Belle terlambat menarik tuas rem.

BRAK!

"Ya ampun!"

Belle terkejut sekaligus panik. Motor yang dikendarainya menabrak bagian belakang mobil yang sedang berhenti di lampu merah itu.

Tubuh Belle terdorong ke depan, tetapi untungnya ia masih mampu menjaga keseimbangannya.

Dengan wajah pucat, Belle segera turun dari motornya. Belle menatap bagian belakang mobil tersebut, mobil itu sedikit peyok.

Wajah Belle semakin pucat. Ia bahkan tidak ingin membayangkan berapa biaya yang harus ia dikeluarkan untuk memperbaiki kerusakan mobil itu.

Belle baru menyadari bahwa telapak tangannya lecet akibat benturan tadi, namun Belle tidak peduli.

Dengan langkah gugup, ia segera berdiri di sisi mobil untuk meminta maaf kepada pemilik kendaraan yang baru saja ia tabrak.

Belle belum sempat mengetuk kaca mobil itu, dan tiba-tiba pintu mobil terbuka.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Di Bawah Kendali Sugar Daddy    10. Desahan

    Mendengar pertanyaan dari Mattias, Belle segera beranjak dari tempatnya. Lalu menatap pada Mattias yang masih terus menatapnya.Belle menganggukkan kepala. "Ya, tapi tenang saja. Aku tahu cara bagaimana memuaskan anda, Om."Belle mengukir senyum paksa, lalu menarik tangan Mattias untuk beranjak dari sofa. Mattias mengikuti Belle yang menarik tangannya menuju ranjang, senyum tipis terukir dari bibir Mattias Ketika Belle melepas sendiri gaun yang masih menempel di tubuhnya, memperlihatkan tubuhnya yang indah tanpa setitikpun noda.Ingin rasanya Belle menangis, saat melepas gaun di tubuhnya, ia benar-benar seperti pelacur yang tidak ada harga dirinya. Tapi sebisa mungkin Belle menahan air untuk tidak jatuh.Belle mendekati Mattias, melepas ikat pinggang pria itu dengan tangan gemetar. Tapi saat ingin melepas pengait celana yang Mattias kenakan, tangan Belle di tahan oleh pria itu."Kenapa buru-buru sekali sayang." Kata Mattias sambil mengelus pipi Belle dengan lembut. "Buru-buru itu ti

  • Di Bawah Kendali Sugar Daddy    9. Apa Kamu Masih Perawan?

    Dada Belle berdebar tidak karuan ketika Mattias kini sudah bertelanjang dada dan duduk santai di sofa. Kedua tangannya berada di atas sandaran, sementara tatapan pria itu tidak pernah lepas sedikit pun dari Belle.Tatapan itu membuat Belle semakin gugup, Apalagi sejak tadi Mattias hanya diam memperhatikan Belle menyantap makanan di atas meja. Seolah-olah pria itu sedang menunggu sesuatu.Begitu Belle selesai menyantap makanannya, suara Mattias akhirnya terdengar."Apa kamu sudah selesai menyantap makananmu?"Belle langsung menganggukkan kepala. "Sudah, Om."Mattias mengangkat sudut bibirnya. "Kalau begitu, mendekatlah. Giliran aku yang akan menyantap kamu."Belle langsung merinding. Entah kenapa kalimat sederhana itu terdengar begitu menakutkan untuknya.Namun, Belle segera mengingat alasan dirinya berada di kamar hotel tersebut. Akhirnya Belle memaksa kedua kakinya untuk beranjak dari duduknya, dan perlahan ia melangkah menghampiri Mattias.Hingga akhirnya Belle kini berhenti tepat

  • Di Bawah Kendali Sugar Daddy    8. Puaskan Aku Malam Ini

    "Bagaimana, apa kamu mau tidur denganku?" tanya Mattias tanpa ekspresi.Belle terdiam, tatapannya terpaku pada wajah pria yang kini berdiri di hadapannya. Pertanyaan itu kembali terngiang-ngiang di kepalanya, membuat jantung Belle berdetak lebih cepat.Belle teringat jelas pada perkataan Natt, sang sahabat. Natt mengatakan bahwa pria yang sedang berada di hadapannya itu tidak menyukai perempuan. Namun, jika memang demikian, mengapa Mattias justru mengajaknya tidur?"Tenang, berapa pun uang yang kamu inginkan, aku bisa memberikan," lanjut Mattias dengan suara datar.Belle menelan ludah, saat berada di klub tersebut, semua pria yang Natt kenalkan kepadanya adalah pria-pria yang sudah cukup tua. Berbeda dengan Mattias, pria itu memang terlihat dewasa, tetapi wajahnya tampan, tubuhnya tegap, dan penampilannya begitu berwibawa. Siapapun akan tertarik pada Mattias. Hanya saja Mattias tidak menyukai perempuan.Jika Belle menerima tawarannya, mungkin saja ia mendapatkan keuntungan. Bisa jadi

  • Di Bawah Kendali Sugar Daddy    7. Tidur Denganku

    Natt yang melihat Belle tampak terintimidasi setelah tidak sengaja menabrak seorang pria, segera menghampiri sahabatnya itu."Maaf, Om-om tampan," kata Natt dengan cepat kepada kedua pria yang berdiri di hadapan Belle. "Kami pergi dulu."Tanpa menunggu jawaban, Natt langsung menarik tangan Belle dan mengajaknya pergi meninggalkan pria yang tadi ditabraknya.Belle hanya bisa mengikuti langkah Natt. Jantungnya berdebar karena tatapan pria yang ditabraknya terasa begitu tajam dan membuatnya gugup.Sementara itu, Mattias menoleh ke arah Belle yang kini berjalan mengikuti Natt menuju salah satu sofa di sudut klub malam tersebut.Jackson yang berdiri di samping Mattias ikut memperhatikan gadis itu, sampai Belle duduk."Aku kira gadis itu milik kamu, Matt." ujar Jackson sambil menyeringai. "Cantik juga gadis itu. Hidung belang mana yang beruntung mendapatkannya?"Mattias sama sekali tidak menanggapi ucapan Jackson. Pria itu justru berjalan menuju salah satu sofa yang berada tidak jauh dari t

  • Di Bawah Kendali Sugar Daddy    6. Yakin

    "Kamu yakin?" tanya Natt, karena ia pikir Belle tidak akan mengikuti sarannya, untuk mendapatkan uang dengan cepat dari om-om kaya raya. Belle tidak langsung menjawab. Tatapannya justru bergetar sebelum akhirnya ia melangkah mendekati Natt dan memeluk sahabatnya itu erat. Tangis yang sejak tadi ditahannya kembali pecah. "Aku tidak tahu harus bagaimana lagi, Natt." kata Belle di sela isak tangisnya. Natt menghela napas panjang. Ia mengusap punggung Belle, berusaha menenangkannya sebelum akhirnya membawa sang sahabat masuk ke dalam kamar kosnya. Natt kemudian mendudukkan Belle di pinggir tempat tidur. "Jangan menangis," ujar Natt lembut sembari menghapus air mata yang membasahi pipi Belle. "Natt, bawa aku ke tempat om-om yang kamu bilang. Aku membutuhkan uang itu secepatnya." Belle menarik napas panjang, berusaha menghentikan tangisnya. "Nenek harus segera dioperasi. Dan uang yang aku butuhkan ternyata lebih banyak dari sebelumnya." Natt menatap dalam pada Belle. "Kamu yakin, Bell

  • Di Bawah Kendali Sugar Daddy    5. Pilihan

    Tentu saja Belle mengenali Zayn. Zayn adalah teman satu kampusnya, pria yang beberapa kali hadir dalam hari-harinya tanpa pernah benar-benar bisa Belle abaikan. Karena Belle diam-diam menyimpan perasaan pada Zayn.Apalagi Zayn juga pernah beberapa kali mencoba mengungkapkan perasaannya pada Belle. Namun, Belle selalu memilih diam. Bukan karena ia tidak memiliki perasaan yang sama, melainkan karena hidupnya sendiri masih terlalu berantakan. Ia tidak ingin memikirkan cinta ketika hidupnya dipenuhi begitu banyak masalah.Terlebih sekarang, ia harus memikirkan neneknya yang sedang terbaring tidak sadarkan diri di rumah sakit.Sementara itu, Zayn beberapa saat hanya menatap Belle. Sebelum menatap pada tiga pria yang masih memegangi tangan Belle. "Pecundang, beraninya cuma sama perempuan. Kalian banci?" tanya Zayn. "Kalau berani, maju kalian bertiga, atau kalian ingin mamakai rok?"Pak Anton, Ferry dan Dani tentu saja terpancing dengan ucapan Zayn. Membuat ketiganya langsung melepas Belle,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status