แชร์

Bab 2

ผู้เขียน: Katze
Keesokan harinya, Apta Jayengrat datang menjemputku untuk pulang ke kediaman Keluarga Sambara.

Dia masih ingat aku mudah mabuk perjalanan, hingga sengaja menyiapkan sepiring plum asam di atas meja kecil.

"Cicipilah."

"Ini dari kedai yang sama di selatan kota."

Saat kuambil plum asam itu, ingatanku tiba-tiba melayang ke dua tahun lalu.

Hari itu pun dia yang mengantarku masuk ke istana.

Aku menolak naik kereta, mencengkeram erat lengan bajunya.

Namun, dia melepaskan jari-jariku satu per satu, lalu membujukku dengan suara lirih.

"Sekar, aku tahu kamu tidak ingin melakukannya."

"Tapi, kalau kamu masuk ke istana, keluargaku bisa terhindar dari hukuman karena menentang titah raja, dan keluargamu pun akan selamat."

"Sekar, anggaplah ini demi puluhan nyawa di kedua keluarga kita."

Tepat sebelum menutup pintu kereta, dia berkata.

"Tunggu sampai Baginda kehilangan minat, aku akan menjemputmu pulang."

Dan aku memercayainya.

Maka, pada tahun pertama di dalam istana, aku tak pernah sudi menatap Bagas secara langsung.

Namun seiring berjalannya waktu, Bagas menganugerahkan kenaikan pangkat bagi Keluarga Jayengrat, dan Apta pun menjelma menjadi tokoh baru yang disegani di kalangan pejabat.

Sejak saat itu, tak ada lagi yang menyebut soal menjemputku pulang.

Kereta kuda berhenti di depan gerbang kediaman Keluarga Sambara.

Ibu bergegas menghampiriku, lalu memelukku erat.

Air matanya menetes di bahuku, tetapi kedua tangannya justru menekan kuat tudung kepalaku.

"Mengapa kamu lewat jalan utama?"

"Bagaimana kalau ada yang melihatmu?"

"Cepat masuk."

Di ruang utama, tergeletak sebuah peti mati yang belum dicat.

Ayah sedang berunding dengan pembuat peti mati.

"Kayunya tidak perlu yang terlalu bagus."

"Besok sudah akan dipakai. Buatlah yang biasa saja. Jangan sampai menarik perhatian."

Melihatku masuk, dia hanya terdiam sejenak.

"Sudah pulang?"

"Pas sekali. Masuklah dan berbaring sejenak, coba kita lihat apa panjang peti ini cukup."

Raut wajah Ibu seketika menegang.

"Anak kita baru saja pulang. Kenapa kamu terburu-buru?"

Raut wajah Ayah mengeras.

"Pihak istana cuma beri waktu satu hari. Kalau ukurannya tidak sesuai, besok mana sempat diperbaiki?"

Apta membantuku berbaring ke dalam peti mati.

Peti itu terasa sangat sempit.

Aku hanya bisa merapatkan kedua lengan di sisi tubuh.

Dia berbisik menenangkanku.

"Bertahanlah beberapa jam."

"Begitu keluar kota, aku akan membuka peti ini sendiri."

Ibu pun buru-buru menambahkan.

"Di dalam peti akan diberi lubang udara, kamu tidak akan kehabisan napas."

Mereka menjelaskan semuanya dengan begitu terperinci.

Rupanya, mereka sudah membicarakan semua ini berkali-kali.

Aku duduk tegak, melihat sebuah naskah duka cita yang telah selesai ditulis di atas meja.

Di sana tertulis bahwa aku telah direnggut paksa oleh raja, tak sanggup menanggung penghinaan, lalu memilih mati demi mempertahankan kehormatanku.

Ayah mengambil naskah itu seraya berkata.

"Asalkan kamu mati, Keluarga Jayengrat bisa menghapus tuduhan kalau mereka mengorbankan istri demi meraih kehormatan."

"Adikmu juga sudah cukup umur untuk dijodohkan. Dia tidak boleh punya kakak yang pernah melayani raja."

Ibu buru-buru menggenggam tanganku.

"Jangan berpikir yang macam-macam."

"Soal kematianmu itu cuma cerita untuk orang luar."

"Toh, kamu akan hidup tenang di Wanasari. Buat apa memusingkan omongan orang?"

Apta pun berbisik.

"Kamu tidak perlu lagi terjepit di antara aku dan Baginda."

"Pindah ke tempat yang tidak seorang pun mengenalmu, justru bisa membuat hidupmu lebih tenang."

Mereka semua bilang ini demi kebaikanku.

Jika aku tidak mengangguk, seolah-olah akulah yang tidak tahu diri.

Aku menatap Ibu.

"Kalau aku sudah di Wanasari, apa boleh aku menulis surat untuk Ibu?"

Genggamannya di tanganku seketika mengencang.

Ayah yang lebih dulu menjawab.

"Tidak bisa."

"Kamu sudah mati. Meninggalkan surat cuma akan mencelakakan kita semua."

"Kalau aku sakit bagaimana?"

Apta terdiam sejenak.

"Baginda akan mengatur orang untuk merawatmu."

Aku bertanya lagi.

"Apa kalian akan datang menjengukku?"

Tak seorang pun di ruangan itu menjawab.

Aku menunduk, merapikan baju duka yang melekat di tubuhku.

"Aku mengerti."

Aku mengangguk.

"Begitu rupanya."

Apta menggeser sepiring plum asam itu ke hadapanku.

"Sekar, jangan mendendam pada kami."

"Baginda sudi membiarkanmu tetap hidup. Itu saja sudah merupakan kemurahan hati beliau."

"Lagi pula, selama dua tahun ini, Keluarga Sambara dan Jayengrat telah meraih banyak keuntungan berkat dirimu."

"Pengorbananmu tidak akan sia-sia."

Aku menunduk menatap plum asam itu.

Ternyata dia masih ingat aku mudah mabuk perjalanan.

Namun dia mungkin lupa, dua tahun lalu saat aku diantar masuk ke kereta istana, aku juga pernah menoleh ke arahnya.

Saat itu, aku terus menanti dia berubah pikiran.

Bahkan jika dia hanya berkata satu kata saja, 'jangan pergi', aku akan mengikutinya tanpa memedulikan apa pun.

Namun hingga tirai kereta jatuh, dia tak sekali pun memanggilku untuk berhenti.

Sekarang, dia datang lagi untuk mengantar kepergianku.

Kali ini, dia mengantarku masuk ke dalam peti mati.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Di Hari Bunga Begonia Mekar   Bab 10

    Setelah pemakamanku, Bagas mengeluarkan maklumat pertobatan diri.Isinya tertulis dengan sangat jelas.[Raja baru telah mengancam nyawa dua klan, memaksa membawa istri seorang bawahan ke istana, dan berlindung di balik nama kasih sayang untuk memancing pasukan pemberontak.Sekar Sambara tak pernah sekali pun tergiur oleh kemewahan istana, pun tak pernah mengkhianati keluarga suaminya.Kematiannya bukanlah demi menjaga kesucian bagi Keluarga Jayengrat.Melainkan dia didorong selangkah demi selangkah ke jalan buntu oleh sang Raja, keluarga suami, dan kaum kerabatnya sendiri.]Maklumat itu kini ditempelkan di seluruh penjuru ibu kota.Tulisan dukacita yang sudah disiapkan Apta berubah menjadi lelucon yang menyedihkan.Orang-orang yang dulu memujinya karena sanggup menanggung beban dan penghinaan, kini malah mengutuknya karena mengorbankan istri demi mengejar kemuliaan.Ayah terus-menerus mendapat tuduhan oleh para pengawas istana, hingga akhirnya terpaksa mengundurkan diri dan pulang ke r

  • Di Hari Bunga Begonia Mekar   Bab 9

    Bagas akhirnya memakamkanku di Gunung Cempaka, di luar kota.Tempat itu bukan milik Keluarga Sambara, bukan milik Keluarga Jayengrat, dan juga bukan milik istana.Di atas batu nisanku, tak ada gelar selir kerajaan, pun tiada sebutan istri Keluarga Jayengrat.Hanya terukir namaku.Sekar Sambara.Pada hari pemakaman, hujan gerimis turun di ibu kota.Bagas hendak menggelar upacara pemakaman layaknya seorang ratu, tetapi para pejabat berlutut di depan gerbang istana untuk menentang."Sekar Sambara bagaimanapun juga adalah istri seorang bawahan.""Dia belum pernah dianugerahi gelar. Bagaimana mungkin menggunakan iring-iringan pemakaman seorang Ratu?"Bagas hanya bertanya."Saat aku merampas istri bawahanku dengan paksa, mengapa kalian tak pernah menyinggung soal hukum dan tata krama?"Tak ada yang menjawab.Saat itu, Keluarga Jayengrat sedang mengalami kemunduran, sedangkan Keluarga Sambara takut ikut terseret. Para pejabat istana pun tak sudi memusuhi raja baru hanya demi membela seorang

  • Di Hari Bunga Begonia Mekar   Bab 8

    Setelah fajar menyingsing, Laras tiba di Paviliun Limasari.Dia sudah menanggalkan jubah kebesaran pengantinnya dan kini hanya mengenakan pakaian sederhana berwarna polos.Saat melihatku, dia berhenti di luar paviliun tanpa melangkah mendekat.Bagas menjagaku semalam suntuk, matanya merah penuh urat darah."Untuk apa kamu datang ke sini?""Semua orang di istana menunggumu."Laras berkata dengan pelan."Upacara penobatan sudah terlewat dari waktu baiknya."Bagas mendongak."Dia sudah tiada."Wajah Laras seketika memucat."Aku tahu.""Tapi, kematiannya tidak ada kaitannya dengan upacara penobatan.""Tidak ada kaitannya?"Bagas menatap Laras seolah baru pertama kali mengenalnya. Laras mencengkeram ujung lengan bajunya erat."Racun itu dia beli sendiri.""Obatnya juga dia minum sendiri.""Bagas, aku tidak menyuruhnya mati.""Aku hanya ingin mengambil kembali apa yang memang menjadi milikku."Bagas bertanya dengan suara pelan."Apa yang menjadi milikmu?""Takhta ratu, lukisan di hutan plum

  • Di Hari Bunga Begonia Mekar   Bab 7

    Bagas tidak kembali ke istana.Dia memerintahkan pengawal untuk mengepung Paviliun Limasari, lalu memanggil seluruh tabib istana pada malam itu juga.Pelita menyala terang sepanjang malam.Para tabib bergantian menusukkan jarum dan menuangkan ramuan obat ke dalam mulutku.Ibu tak kuasa melihatnya lagi. Dia berlutut di hadapan Bagas sambil menangis."Baginda, biarkan dia beristirahat dengan tenang."Bagas tak kunjung mendongak."Dia hanya keracunan.""Pasti ada cara untuk menetralkan racunnya."Sang tabib berlutut di lantai, dahinya sudah berdarah karena terus bersujud."Racun sudah terlalu lama berada di dalam tubuh. Seluruh organ dalamnya sudah rusak parah.""Bahkan dewa sekali pun takkan mampu menyelamatkannya lagi."Bagas akhirnya terdiam.Dia duduk di sisiku, menghapus sisa air obat yang tertinggal di bibirku.Dulu saat aku sakit parah, dia juga merawatku dengan cara yang sama.Saat itu, demam tinggi membuatku mengigau. Aku mencengkeram tangannya erat-erat sambil bertanya."Apa kam

  • Di Hari Bunga Begonia Mekar   Bab 6

    Saat Bagas tiba di Paviliun Limasari, langit sudah gelap.Dia bahkan belum sempat mengganti pakaian istananya, dan masih mengenakan ikat pinggang emas merah yang dipakai untuk upacara penobatan.Ujung jubah merahnya menyapu tanah yang bertabur uang kertas duka. Warna merah itu tampak lebih mencolok daripada panji-panji putih berkabung. Apta duduk di dalam paviliun sambil memelukku.Dia tidak menyuruh siapa pun untuk menutup kembali peti mati itu.Ibu berlutut di sampingku, terus mengusap wajahku berulang kali.Ayah berdiri menerjang angin, tampak seolah menua seketika.Bagas melangkah ke hadapanku, lalu mengulurkan tangan hendak menyentuhku.Apta memiringkan tubuhnya untuk menghalanginya."Jangan sentuh dia."Tangan Bagas terhenti di udara."Serahkan dia padaku.""Dia bukan milikmu.""Dia tinggal di istana selama dua tahun.""Itu dua tahun yang kamu rampas dariku."Apta mendongak, matanya merah penuh urat."Dia adalah istriku."Bagas menatapnya tajam, lalu tiba-tiba bertanya."Kalau k

  • Di Hari Bunga Begonia Mekar   Bab 5

    Saat peti matiku dikeluarkan melalui Gerbang Barat, di dalam istana sedang diarak perlengkapan penobatan Ratu. Di satu sisi, kain sutra merah membentang di sepanjang jalan, diiringi dentang lonceng dan tabuhan genderang.Di sisi lain, panji-panji putih mengiringi perjalanan duka, sementara uang kertas sembahyang beterbangan memenuhi langit.Kedua iring-iringan itu dipisahkan oleh tembok istana, masing-masing menuju akhir yang telah ditentukan sejak awal.Apta menunggang kuda di samping kereta jenazah.Setelah keluar dari gerbang kota, dia beberapa kali menengadah menatap langit.Waktu enam jam hampir habis.Aku juga seharusnya segera terbangun.Dia menyuruh rombongan pengantar berhenti di luar Paviliun Limasari, lalu memerintahkan semua orang untuk mundur menjauh. Ayah berbisik mengingatkan."Mundur lebih jauh lagi.""Di sini terlalu dekat dengan gerbang kota. Kalau ada yang melihatnya terbangun, semua rencana kita sebelumnya akan sia-sia."Namun, Apta tak mengindahkannya.Dia tak sa

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status