แชร์

Di Hari Bunga Begonia Mekar
Di Hari Bunga Begonia Mekar
ผู้แต่ง: Katze

Bab 1

ผู้เขียน: Katze
Setelah Bagas Kusuma pergi, aku duduk cukup lama di depan meja.

Botol obat itu tergeletak tepat di sampingku.

Efeknya akan membuatku berhenti bernapas selama enam jam. Setelah peti matiku dibawa keluar dari ibu kota, seseorang akan datang menyelamatkanku dan menyadarkanku.

Dia bahkan sudah memikirkan nama baru untukku.

Nawang Endra.

Seorang janda pedagang teh di Wanasari, tak punya sanak saudara, dan tak perlu lagi kembali ke ibu kota.

Ratri menatap surat jalan itu, matanya sembab karena menangis.

"Yang Mulia, Baginda bahkan sudah menentukan nama baru untuk Anda."

Aku melipat surat jalan itu.

"Malah bagus, 'kan? Jadi, aku tak perlu pusing memikirkannya sendiri."

"Tapi, Anda adalah Sekar Sambara."

"Mulai besok, aku bukan dia lagi."

Semua orang tahu, tak lama setelah naik takhta, raja baru merebut istri bawahannya secara paksa dan membawaku ke istana.

Demi aku, dia menanggung cercaan seisi istana, mengampuni dosa Keluarga Sambara dan Jayengrat, bahkan memanjakanku sedemikian rupa sampai membuat para selir di enam istana gelisah.

Hanya ada satu hal yang tak pernah mau dilakukannya.

Dia tak pernah sekali pun benar-benar menyentuhku.

Dulu kupikir, itu karena dia menghormatiku.

Baru kini kutahu, alasannya karena dia sudah menjanjikan segenap hidupnya untuk kekasih hati yang sesungguhnya.

Aku hanyalah sebuah sandiwara yang dia pertontonkan di depan umum.

Lakonnya sudah usai, wajar jika yang berada di panggung harus segera turun.

Tiba-tiba terdengar suara pelayan istana dari luar ruangan.

"Nona Laras telah tiba."

Laras Arkana melangkah masuk dengan mengenakan jubah bulu rubah, diikuti oleh pelukis istana di belakangnya.

Dia mendongak menatap lukisan yang tergantung di dinding.

Di dalam lukisan itu, aku berdiri di bawah pohon plum, sementara Bagas menunduk, merapikan jubah di bahuku.

Lukisan itu dibuat atas perintahnya pada musim dingin tahun lalu.

Saat itu, aku diam-diam merasa bahagia sepanjang malam setelah melihat diriku dalam lukisan itu.

Laras tersenyum.

"Lukisannya bagus, sayang orangnya saja yang keliru."

Sang pelukis segera menyuruh pelayan menyiapkan meja panjang, lalu mulai meracik warna cat.

Aku memperhatikan mereka menurunkan lukisan itu.

"Kalian mau melakukan apa?"

"Tentu saja mengubahnya."

Laras menjawab dengan nada lembut.

"Hutan plum ini adalah tempat aku dan Bagas saling jatuh cinta."

"Dia berjanji, begitu aku jadi ratu, dia akan menyuruh orang melukis momen itu."

"Waktu itu aku kena musibah, makanya lukisan ini diganti jadi kamu."

Ternyata bahkan salju yang turun hari itu, jubah yang memelukku, dan sepasang mata yang menatapku, semuanya bukan milikku.

Sang pelukis mengusap alis dan mataku di lukisan dengan kain basah.

Tinta melebar, wajah di dalam lukisan itu perlahan menjadi kabur.

Ratri gemetar karena marah.

"Kalau Nona menginginkannya, buat saja lukisan yang baru! Kenapa harus merusak lukisan Yang Mulia?"

"Karena Laras suka."

Bagas berjalan masuk dari luar ruangan.

Dia menghampiri Laras dan begitu melihat ujung jari wanita itu terkena cat, dia langsung mengeluarkan sapu tangan untuk mengelapnya.

Di sapu tangan itu, terbordir motif bambu hijau.

Aku menghabiskan tiga malam untuk menyulamnya sendiri.

Saat menerimanya, dia sempat memujinya indah, sebuah pujian yang jarang sekali terucap dari bibirnya.

Aku pun merasa bahagia karenanya selama berhari-hari.

Baru hari ini aku tahu, ternyata Laras sangat menyukai bambu hijau.

Laras menyandarkan kepalanya di bahu Bagas.

"Tapi sepertinya, Kakak masih tidak rela."

Bagas melirik lukisan itu sekilas, mengikuti arah pandangku.

"Itu hanyalah sebuah lukisan."

"Laras telah menderita dan tertawan selama lima tahun demi diriku. Sekarang dia cuma menginginkan satu hal. Apa kamu masih hendak merebutnya darinya?"

Kutundukkan pandanganku.

"Hamba tidak berani."

Dia tampak cukup puas dengan jawabanku.

"Aku tahu hatimu sedang sedih."

"Tapi selama dua tahun ini, aku telah mengizinkanmu pulang sesering mungkin, memberikan banyak perlindungan bagi Keluarga Sambara dan Jayengrat, serta tidak pernah benar-benar memaksamu."

"Meski nanti kamu pergi ke Wanasari, aku akan memastikan kebutuhan hidupmu tetap tercukupi."

Bagas terdiam sejenak.

"Sekar, jadi orang itu harus tahu bersyukur."

Aku menatap sang pelukis yang kembali menggoreskan kuasnya.

Raut wajah Laras perlahan-lahan menggantikan wajahku di atas kanvas.

Bagas benar.

Aku seharusnya bersyukur.

Selama dua tahun ini, dia telah melindungiku dari angin, menjagaku saat sakit, bahkan di malam hari setelah usai menelaah tumpukan berkas, dia sendiri yang merapikan selimutku.

Meski semua itu hanyalah sandiwara untuk mengelabui para pemberontak, setidaknya pada saat itu aku tidak mengetahuinya.

Aku bahkan pernah benar-benar jatuh hati padanya.

Namun, ketika aku bersandar dalam pelukannya, dengan bahagia mengira akhirnya menemukan tempat untuk pulang, bagaimana sebenarnya dia memandangku?

Mungkin baginya, bidak catur ini akhirnya menjadi penurut.

Sang pelukis meletakkan kuasnya.

Laras berdiri di bawah pohon plum, sementara Bagas memayunginya.

Mereka tampak begitu serasi.

Seolah-olah aku tak pernah ada di dalam lukisan itu.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Di Hari Bunga Begonia Mekar   Bab 10

    Setelah pemakamanku, Bagas mengeluarkan maklumat pertobatan diri.Isinya tertulis dengan sangat jelas.[Raja baru telah mengancam nyawa dua klan, memaksa membawa istri seorang bawahan ke istana, dan berlindung di balik nama kasih sayang untuk memancing pasukan pemberontak.Sekar Sambara tak pernah sekali pun tergiur oleh kemewahan istana, pun tak pernah mengkhianati keluarga suaminya.Kematiannya bukanlah demi menjaga kesucian bagi Keluarga Jayengrat.Melainkan dia didorong selangkah demi selangkah ke jalan buntu oleh sang Raja, keluarga suami, dan kaum kerabatnya sendiri.]Maklumat itu kini ditempelkan di seluruh penjuru ibu kota.Tulisan dukacita yang sudah disiapkan Apta berubah menjadi lelucon yang menyedihkan.Orang-orang yang dulu memujinya karena sanggup menanggung beban dan penghinaan, kini malah mengutuknya karena mengorbankan istri demi mengejar kemuliaan.Ayah terus-menerus mendapat tuduhan oleh para pengawas istana, hingga akhirnya terpaksa mengundurkan diri dan pulang ke r

  • Di Hari Bunga Begonia Mekar   Bab 9

    Bagas akhirnya memakamkanku di Gunung Cempaka, di luar kota.Tempat itu bukan milik Keluarga Sambara, bukan milik Keluarga Jayengrat, dan juga bukan milik istana.Di atas batu nisanku, tak ada gelar selir kerajaan, pun tiada sebutan istri Keluarga Jayengrat.Hanya terukir namaku.Sekar Sambara.Pada hari pemakaman, hujan gerimis turun di ibu kota.Bagas hendak menggelar upacara pemakaman layaknya seorang ratu, tetapi para pejabat berlutut di depan gerbang istana untuk menentang."Sekar Sambara bagaimanapun juga adalah istri seorang bawahan.""Dia belum pernah dianugerahi gelar. Bagaimana mungkin menggunakan iring-iringan pemakaman seorang Ratu?"Bagas hanya bertanya."Saat aku merampas istri bawahanku dengan paksa, mengapa kalian tak pernah menyinggung soal hukum dan tata krama?"Tak ada yang menjawab.Saat itu, Keluarga Jayengrat sedang mengalami kemunduran, sedangkan Keluarga Sambara takut ikut terseret. Para pejabat istana pun tak sudi memusuhi raja baru hanya demi membela seorang

  • Di Hari Bunga Begonia Mekar   Bab 8

    Setelah fajar menyingsing, Laras tiba di Paviliun Limasari.Dia sudah menanggalkan jubah kebesaran pengantinnya dan kini hanya mengenakan pakaian sederhana berwarna polos.Saat melihatku, dia berhenti di luar paviliun tanpa melangkah mendekat.Bagas menjagaku semalam suntuk, matanya merah penuh urat darah."Untuk apa kamu datang ke sini?""Semua orang di istana menunggumu."Laras berkata dengan pelan."Upacara penobatan sudah terlewat dari waktu baiknya."Bagas mendongak."Dia sudah tiada."Wajah Laras seketika memucat."Aku tahu.""Tapi, kematiannya tidak ada kaitannya dengan upacara penobatan.""Tidak ada kaitannya?"Bagas menatap Laras seolah baru pertama kali mengenalnya. Laras mencengkeram ujung lengan bajunya erat."Racun itu dia beli sendiri.""Obatnya juga dia minum sendiri.""Bagas, aku tidak menyuruhnya mati.""Aku hanya ingin mengambil kembali apa yang memang menjadi milikku."Bagas bertanya dengan suara pelan."Apa yang menjadi milikmu?""Takhta ratu, lukisan di hutan plum

  • Di Hari Bunga Begonia Mekar   Bab 7

    Bagas tidak kembali ke istana.Dia memerintahkan pengawal untuk mengepung Paviliun Limasari, lalu memanggil seluruh tabib istana pada malam itu juga.Pelita menyala terang sepanjang malam.Para tabib bergantian menusukkan jarum dan menuangkan ramuan obat ke dalam mulutku.Ibu tak kuasa melihatnya lagi. Dia berlutut di hadapan Bagas sambil menangis."Baginda, biarkan dia beristirahat dengan tenang."Bagas tak kunjung mendongak."Dia hanya keracunan.""Pasti ada cara untuk menetralkan racunnya."Sang tabib berlutut di lantai, dahinya sudah berdarah karena terus bersujud."Racun sudah terlalu lama berada di dalam tubuh. Seluruh organ dalamnya sudah rusak parah.""Bahkan dewa sekali pun takkan mampu menyelamatkannya lagi."Bagas akhirnya terdiam.Dia duduk di sisiku, menghapus sisa air obat yang tertinggal di bibirku.Dulu saat aku sakit parah, dia juga merawatku dengan cara yang sama.Saat itu, demam tinggi membuatku mengigau. Aku mencengkeram tangannya erat-erat sambil bertanya."Apa kam

  • Di Hari Bunga Begonia Mekar   Bab 6

    Saat Bagas tiba di Paviliun Limasari, langit sudah gelap.Dia bahkan belum sempat mengganti pakaian istananya, dan masih mengenakan ikat pinggang emas merah yang dipakai untuk upacara penobatan.Ujung jubah merahnya menyapu tanah yang bertabur uang kertas duka. Warna merah itu tampak lebih mencolok daripada panji-panji putih berkabung. Apta duduk di dalam paviliun sambil memelukku.Dia tidak menyuruh siapa pun untuk menutup kembali peti mati itu.Ibu berlutut di sampingku, terus mengusap wajahku berulang kali.Ayah berdiri menerjang angin, tampak seolah menua seketika.Bagas melangkah ke hadapanku, lalu mengulurkan tangan hendak menyentuhku.Apta memiringkan tubuhnya untuk menghalanginya."Jangan sentuh dia."Tangan Bagas terhenti di udara."Serahkan dia padaku.""Dia bukan milikmu.""Dia tinggal di istana selama dua tahun.""Itu dua tahun yang kamu rampas dariku."Apta mendongak, matanya merah penuh urat."Dia adalah istriku."Bagas menatapnya tajam, lalu tiba-tiba bertanya."Kalau k

  • Di Hari Bunga Begonia Mekar   Bab 5

    Saat peti matiku dikeluarkan melalui Gerbang Barat, di dalam istana sedang diarak perlengkapan penobatan Ratu. Di satu sisi, kain sutra merah membentang di sepanjang jalan, diiringi dentang lonceng dan tabuhan genderang.Di sisi lain, panji-panji putih mengiringi perjalanan duka, sementara uang kertas sembahyang beterbangan memenuhi langit.Kedua iring-iringan itu dipisahkan oleh tembok istana, masing-masing menuju akhir yang telah ditentukan sejak awal.Apta menunggang kuda di samping kereta jenazah.Setelah keluar dari gerbang kota, dia beberapa kali menengadah menatap langit.Waktu enam jam hampir habis.Aku juga seharusnya segera terbangun.Dia menyuruh rombongan pengantar berhenti di luar Paviliun Limasari, lalu memerintahkan semua orang untuk mundur menjauh. Ayah berbisik mengingatkan."Mundur lebih jauh lagi.""Di sini terlalu dekat dengan gerbang kota. Kalau ada yang melihatnya terbangun, semua rencana kita sebelumnya akan sia-sia."Namun, Apta tak mengindahkannya.Dia tak sa

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status