แชร์

Bab 5

ผู้เขียน: Katze
Saat peti matiku dikeluarkan melalui Gerbang Barat, di dalam istana sedang diarak perlengkapan penobatan Ratu.

Di satu sisi, kain sutra merah membentang di sepanjang jalan, diiringi dentang lonceng dan tabuhan genderang.

Di sisi lain, panji-panji putih mengiringi perjalanan duka, sementara uang kertas sembahyang beterbangan memenuhi langit.

Kedua iring-iringan itu dipisahkan oleh tembok istana, masing-masing menuju akhir yang telah ditentukan sejak awal.

Apta menunggang kuda di samping kereta j
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Di Hari Bunga Begonia Mekar   Bab 10

    Setelah pemakamanku, Bagas mengeluarkan maklumat pertobatan diri.Isinya tertulis dengan sangat jelas.[Raja baru telah mengancam nyawa dua klan, memaksa membawa istri seorang bawahan ke istana, dan berlindung di balik nama kasih sayang untuk memancing pasukan pemberontak.Sekar Sambara tak pernah sekali pun tergiur oleh kemewahan istana, pun tak pernah mengkhianati keluarga suaminya.Kematiannya bukanlah demi menjaga kesucian bagi Keluarga Jayengrat.Melainkan dia didorong selangkah demi selangkah ke jalan buntu oleh sang Raja, keluarga suami, dan kaum kerabatnya sendiri.]Maklumat itu kini ditempelkan di seluruh penjuru ibu kota.Tulisan dukacita yang sudah disiapkan Apta berubah menjadi lelucon yang menyedihkan.Orang-orang yang dulu memujinya karena sanggup menanggung beban dan penghinaan, kini malah mengutuknya karena mengorbankan istri demi mengejar kemuliaan.Ayah terus-menerus mendapat tuduhan oleh para pengawas istana, hingga akhirnya terpaksa mengundurkan diri dan pulang ke r

  • Di Hari Bunga Begonia Mekar   Bab 9

    Bagas akhirnya memakamkanku di Gunung Cempaka, di luar kota.Tempat itu bukan milik Keluarga Sambara, bukan milik Keluarga Jayengrat, dan juga bukan milik istana.Di atas batu nisanku, tak ada gelar selir kerajaan, pun tiada sebutan istri Keluarga Jayengrat.Hanya terukir namaku.Sekar Sambara.Pada hari pemakaman, hujan gerimis turun di ibu kota.Bagas hendak menggelar upacara pemakaman layaknya seorang ratu, tetapi para pejabat berlutut di depan gerbang istana untuk menentang."Sekar Sambara bagaimanapun juga adalah istri seorang bawahan.""Dia belum pernah dianugerahi gelar. Bagaimana mungkin menggunakan iring-iringan pemakaman seorang Ratu?"Bagas hanya bertanya."Saat aku merampas istri bawahanku dengan paksa, mengapa kalian tak pernah menyinggung soal hukum dan tata krama?"Tak ada yang menjawab.Saat itu, Keluarga Jayengrat sedang mengalami kemunduran, sedangkan Keluarga Sambara takut ikut terseret. Para pejabat istana pun tak sudi memusuhi raja baru hanya demi membela seorang

  • Di Hari Bunga Begonia Mekar   Bab 8

    Setelah fajar menyingsing, Laras tiba di Paviliun Limasari.Dia sudah menanggalkan jubah kebesaran pengantinnya dan kini hanya mengenakan pakaian sederhana berwarna polos.Saat melihatku, dia berhenti di luar paviliun tanpa melangkah mendekat.Bagas menjagaku semalam suntuk, matanya merah penuh urat darah."Untuk apa kamu datang ke sini?""Semua orang di istana menunggumu."Laras berkata dengan pelan."Upacara penobatan sudah terlewat dari waktu baiknya."Bagas mendongak."Dia sudah tiada."Wajah Laras seketika memucat."Aku tahu.""Tapi, kematiannya tidak ada kaitannya dengan upacara penobatan.""Tidak ada kaitannya?"Bagas menatap Laras seolah baru pertama kali mengenalnya. Laras mencengkeram ujung lengan bajunya erat."Racun itu dia beli sendiri.""Obatnya juga dia minum sendiri.""Bagas, aku tidak menyuruhnya mati.""Aku hanya ingin mengambil kembali apa yang memang menjadi milikku."Bagas bertanya dengan suara pelan."Apa yang menjadi milikmu?""Takhta ratu, lukisan di hutan plum

  • Di Hari Bunga Begonia Mekar   Bab 7

    Bagas tidak kembali ke istana.Dia memerintahkan pengawal untuk mengepung Paviliun Limasari, lalu memanggil seluruh tabib istana pada malam itu juga.Pelita menyala terang sepanjang malam.Para tabib bergantian menusukkan jarum dan menuangkan ramuan obat ke dalam mulutku.Ibu tak kuasa melihatnya lagi. Dia berlutut di hadapan Bagas sambil menangis."Baginda, biarkan dia beristirahat dengan tenang."Bagas tak kunjung mendongak."Dia hanya keracunan.""Pasti ada cara untuk menetralkan racunnya."Sang tabib berlutut di lantai, dahinya sudah berdarah karena terus bersujud."Racun sudah terlalu lama berada di dalam tubuh. Seluruh organ dalamnya sudah rusak parah.""Bahkan dewa sekali pun takkan mampu menyelamatkannya lagi."Bagas akhirnya terdiam.Dia duduk di sisiku, menghapus sisa air obat yang tertinggal di bibirku.Dulu saat aku sakit parah, dia juga merawatku dengan cara yang sama.Saat itu, demam tinggi membuatku mengigau. Aku mencengkeram tangannya erat-erat sambil bertanya."Apa kam

  • Di Hari Bunga Begonia Mekar   Bab 6

    Saat Bagas tiba di Paviliun Limasari, langit sudah gelap.Dia bahkan belum sempat mengganti pakaian istananya, dan masih mengenakan ikat pinggang emas merah yang dipakai untuk upacara penobatan.Ujung jubah merahnya menyapu tanah yang bertabur uang kertas duka. Warna merah itu tampak lebih mencolok daripada panji-panji putih berkabung. Apta duduk di dalam paviliun sambil memelukku.Dia tidak menyuruh siapa pun untuk menutup kembali peti mati itu.Ibu berlutut di sampingku, terus mengusap wajahku berulang kali.Ayah berdiri menerjang angin, tampak seolah menua seketika.Bagas melangkah ke hadapanku, lalu mengulurkan tangan hendak menyentuhku.Apta memiringkan tubuhnya untuk menghalanginya."Jangan sentuh dia."Tangan Bagas terhenti di udara."Serahkan dia padaku.""Dia bukan milikmu.""Dia tinggal di istana selama dua tahun.""Itu dua tahun yang kamu rampas dariku."Apta mendongak, matanya merah penuh urat."Dia adalah istriku."Bagas menatapnya tajam, lalu tiba-tiba bertanya."Kalau k

  • Di Hari Bunga Begonia Mekar   Bab 5

    Saat peti matiku dikeluarkan melalui Gerbang Barat, di dalam istana sedang diarak perlengkapan penobatan Ratu. Di satu sisi, kain sutra merah membentang di sepanjang jalan, diiringi dentang lonceng dan tabuhan genderang.Di sisi lain, panji-panji putih mengiringi perjalanan duka, sementara uang kertas sembahyang beterbangan memenuhi langit.Kedua iring-iringan itu dipisahkan oleh tembok istana, masing-masing menuju akhir yang telah ditentukan sejak awal.Apta menunggang kuda di samping kereta jenazah.Setelah keluar dari gerbang kota, dia beberapa kali menengadah menatap langit.Waktu enam jam hampir habis.Aku juga seharusnya segera terbangun.Dia menyuruh rombongan pengantar berhenti di luar Paviliun Limasari, lalu memerintahkan semua orang untuk mundur menjauh. Ayah berbisik mengingatkan."Mundur lebih jauh lagi.""Di sini terlalu dekat dengan gerbang kota. Kalau ada yang melihatnya terbangun, semua rencana kita sebelumnya akan sia-sia."Namun, Apta tak mengindahkannya.Dia tak sa

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status