แชร์

Bab 4

ผู้เขียน: Katze
Bahkan sebelum fajar menyingsing, panji-panji putih tanda berkabung sudah dipasang di aula samping.

Ratri membantuku mengenakan pakaian jenazah. Air matanya jatuh setetes demi setetes ke kerah bajuku.

"Yang Mulia, izinkan hamba menemani Anda ke Wanasari."

"Baginda pasti tidak akan mengizinkannya."

"Kalau begitu, hamba akan memohon pada Baginda."

Baru saja Ratri hendak bangkit, seorang kasim di luar pintu berkata dengan dingin.

"Baginda sudah berbaik hati mengembalikan kebebasanmu."

"Nona Sekar harus menyembunyikan identitasnya di Wanasari nanti. Jadi, tidak boleh ada orang yang tahu asal-usulnya di sisinya."

"Kalau kamu benar-benar memikirkan kebaikannya, jangan menambah masalah lagi."

Ratri menatapku sambil menangis.

"Anda takut gelap dan selalu sulit tidur nyenyak."

"Kalau tidak ada hamba, siapa yang akan menemani Anda mengobrol?"

Kuserahkan surat kontrak pengabdiannya ke tangan Ratri.

"Kalau begitu, tidur saja dengan pelita tetap menyala."

"Pelita jauh lebih bisa diandalkan daripada manusia."

Saat Ratri dibawa pergi, dia terus menoleh ke belakang.

"Yang Mulia, enam jam lagi, Anda harus benar-benar bangun."

Aku hanya diam, memandangi Ratri yang dikurung di luar pintu.

Ayah, Ibu, dan Apta telah tiba.

Ibu menyelipkan sebuah kantong wewangian ke dalam lengan bajuku.

Di dalamnya terdapat wewangian penenang yang sering kugunakan semasa kecil.

"Nanti sendirian di Wanasari, pasti susah tidur."

"Ibu tidak bisa datang menjengukmu. Jadi, simpan saja kantong ini, ya."

Setelah berkata demikian, Ibu segera berpesan lagi.

"Jangan pernah menitipkan surat untuk dikirim ke sini."

"Adikmu bulan depan mau menikah. Kalau ada yang tahu kamu masih hidup, dia akan diremehkan oleh keluarga suaminya."

Aku usap pola bunga begonia pada kantong wewangian itu.

Ini dibordir langsung oleh Ibu.

Ibu masih bersedia begadang demi membuatkan kantong wewangian untukku, tetapi tak mau membiarkanku tinggal.

Mungkin Ibu memang tak tega berpisah denganku.

Namun, dibandingkan dengan nama baik Keluarga Sambara, jabatan Ayah, dan pernikahan adikku, rasa tak tega itu sungguh tak ada artinya.

Apta berdiri di samping peti mati.

"Kediaman di Wanasari sudah disiapkan."

"Di halaman belakang juga sudah ditanami pohon plum, kamu pasti akan menyukainya."

Kulirik dia sekilas.

"Aku suka bunga begonia."

Dia terdiam terpaku.

Aku tak berkata apa-apa lagi.

Tahun pertama pernikahan, dia pernah menemaniku menanam sebatang pohon begonia di halaman.

Waktu itu dia berjanji, begitu pohonnya berbunga, dia akan membuatkan sebuah ayunan di bawahnya untukku.

Namun, saat begonia itu akhirnya berbunga, dia terlalu sibuk dengan berbagai perjamuan dan tak kunjung pulang.

Tak lama setelah itu, dia menyerahkanku ke istana.

Dia bahkan sudah lupa pada pohon itu.

Menjelang pukul sembilan, Bagas tak kunjung muncul.

Seorang kasim melapor.

"Nona Laras terluka di bagian leher saat mencoba mengenakan mahkota foniks."

"Baginda berpesan, Nona Sekar selalu mengerti keadaan, jadi tidak perlu menunggu Baginda datang."

Ayah buru-buru mendesak.

"Kalau begitu, kita mulai saja."

"Perangkat penobatan Permaisuri akan segera dibawa ke istana. Jangan sampai upacara duka ini membawa sial bagi hari bahagia mereka."

Apta menuangkan obat penghenti napas ke dalam mangkuk.

Dengan memanfaatkan lengan bajuku yang lebar, kumasukkan pula racun itu ke dalam mangkuk.

Cairan dalam mangkuk itu sempat beriak, lalu segera kembali tenang.

Ibu menghampiri sambil membawa sepiring manisan.

"Sekar, kamu 'kan tidak suka pahit."

"Setelah minum, makanlah satu butir manisan."

Kutatap wajah Ibu, lalu tiba-tiba teringat masa kecilku.

Waktu itu aku pernah jatuh sakit, dan Ibu memelukku semalaman tanpa memejamkan mata.

Dia pernah bercerita, pada hari kelahiranku, bunga begonia di halaman Keluarga Sambara sedang mekar dengan indahnya, sehingga Ayah memberiku nama Sekar.

Dia juga pernah berkata.

"Sekar adalah harta berharga Keluarga Sambara."

"Ke mana pun kamu pergi, akan selalu ada tempat untukmu di rumah ini."

Dan aku memercayainya selama 24 tahun.

Hingga hari ini, mereka bahkan sudah menentukan ukuran peti matiku di kediaman, lalu mengantarku kembali ke istana dengan tangan mereka sendiri.

Apta berbisik pelan.

"Minumlah."

"Kamu cuma tidur beberapa jam saja."

"Begitu kamu bangun, semua yang sudah berlalu akan berakhir."

Ayah pun ikut membujuk.

"Sekar, begitu kamu pergi, kesulitan kedua keluarga kita akan teratasi."

"Sejak kecil kamu selalu mengerti keadaan. Tolong bantu keluarga sekali lagi, untuk terakhir kalinya."

Laras hendak menjadi permaisuri.

Bagas ingin bersatu kembali dengan kekasih hatinya.

Apta ingin menghapus aib karena telah menyerahkan istrinya demi jabatan.

Ayah ingin mempertahankan jabatannya, sedangkan Ibu ingin pernikahan adikku berjalan lancar.

Asalkan aku meminum semangkuk obat ini, mereka semua akan mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Kuangkat mangkuk itu, dan kuteguk hingga habis.

Obatnya sangat pahit.

Ibu buru-buru menyodorkan manisan.

"Cepat, makanlah satu."

Aku menggeleng.

Tak usah.

Obat palsu baru butuh rasa manis setelahnya.

Obat yang asli, pahit sedikit pun tak masalah.

Apta membantuku berbaring ke dalam peti mati.

Dia merapikan lengan bajuku, suaranya terdengar agak serak.

"Tidak usah takut."

"Enam jam lagi, aku akan buka peti ini sendiri."

Ayah berpesan dari samping.

"Tunggu sampai keluar dari ibu kota baru dibuka. Jangan sampai jadi bahan omongan orang."

Ibu menggenggam tanganku, air matanya menetes di sela-sela jariku.

"Sekar, nanti di Wanasari, jaga diri baik-baik, ya."

"Jangan membenci Ibu, ya."

Racun itu perlahan mulai bekerja.

Suara-suara di sekitarku kian memudar.

Kugenggam erat kantung wangi begonia itu, dan dalam lamunan, halaman masa kecilku kembali terbayang.

Ibu duduk di bawah pohon begonia, tersenyum sambil membuka kedua lengannya untukku.

Dia berkata, "Sekar, pulanglah."

Namun kali ini, aku sudah tak tahu lagi harus pulang ke mana.

Keluarga Sambar hanya sudi menyediakan sebuah papan arwah untukku.

Apta hanya sudi mengantar jenazahku satu kali.

Bagas menyiapkan sebuah kediaman, surat berharga, bahkan sebuah nama baru untukku.

Mereka bersedia memberiku apa saja.

Namun, tak satu pun dari mereka yang sudi berkata, "Tetaplah di sini."

Sepanjang hidup ini, aku selalu menurut pada orang tuaku, menurut pada suamiku, dan menurut pada sang Raja.

Saat mereka menyuruhku naik ke kereta istana, aku pun berangkat.

Saat mereka menyuruhku mengalah dan melepaskan suamiku, membuang namaku, lalu pergi seorang diri ke Wanasari untuk menjalani sisa hidupku.

Dulu aku selalu berpikir, jika aku lebih penurut, mungkin mereka akan lebih menyayangiku.

Kini, saat semuanya sudah berakhir, barulah aku sadar bahwa tak peduli sepatuh apa pun sebuah bidak catur, setelah permainan usai, bidak itu tetap akan disingkirkan.

Tiba-tiba terdengar suara Bagas dari luar ruangan.

"Obatnya sudah diminum?"

Seseorang menjawab dengan suara pelan,

"Baru saja diminum."

Langkah kaki berhenti di samping peti mati.

Bagas seolah melihat sesuatu, tiba-tiba mengerutkan kening.

"Kenapa tidak diberi manisan?"

"Dia paling tidak tahan rasa pahit."

Aku sangat ingin memberitahunya bahwa itu tak perlu.

Mulai sekarang, sepahit apa pun obatnya, aku tak perlu meminumnya lagi.

Ibu masih menggenggam tanganku sambil terus berulang kali berkata.

"Ini cuma tidur sebentar."

"Sekar, nanti setelah terbangun, semuanya akan baik-baik saja."

Aku perlahan menutup mata.

Detak terakhir di dadaku pun akhirnya terhenti.

Kali ini, ke mana pun mereka ingin mengirimku, aku tak perlu mematuhinya lagi.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Di Hari Bunga Begonia Mekar   Bab 10

    Setelah pemakamanku, Bagas mengeluarkan maklumat pertobatan diri.Isinya tertulis dengan sangat jelas.[Raja baru telah mengancam nyawa dua klan, memaksa membawa istri seorang bawahan ke istana, dan berlindung di balik nama kasih sayang untuk memancing pasukan pemberontak.Sekar Sambara tak pernah sekali pun tergiur oleh kemewahan istana, pun tak pernah mengkhianati keluarga suaminya.Kematiannya bukanlah demi menjaga kesucian bagi Keluarga Jayengrat.Melainkan dia didorong selangkah demi selangkah ke jalan buntu oleh sang Raja, keluarga suami, dan kaum kerabatnya sendiri.]Maklumat itu kini ditempelkan di seluruh penjuru ibu kota.Tulisan dukacita yang sudah disiapkan Apta berubah menjadi lelucon yang menyedihkan.Orang-orang yang dulu memujinya karena sanggup menanggung beban dan penghinaan, kini malah mengutuknya karena mengorbankan istri demi mengejar kemuliaan.Ayah terus-menerus mendapat tuduhan oleh para pengawas istana, hingga akhirnya terpaksa mengundurkan diri dan pulang ke r

  • Di Hari Bunga Begonia Mekar   Bab 9

    Bagas akhirnya memakamkanku di Gunung Cempaka, di luar kota.Tempat itu bukan milik Keluarga Sambara, bukan milik Keluarga Jayengrat, dan juga bukan milik istana.Di atas batu nisanku, tak ada gelar selir kerajaan, pun tiada sebutan istri Keluarga Jayengrat.Hanya terukir namaku.Sekar Sambara.Pada hari pemakaman, hujan gerimis turun di ibu kota.Bagas hendak menggelar upacara pemakaman layaknya seorang ratu, tetapi para pejabat berlutut di depan gerbang istana untuk menentang."Sekar Sambara bagaimanapun juga adalah istri seorang bawahan.""Dia belum pernah dianugerahi gelar. Bagaimana mungkin menggunakan iring-iringan pemakaman seorang Ratu?"Bagas hanya bertanya."Saat aku merampas istri bawahanku dengan paksa, mengapa kalian tak pernah menyinggung soal hukum dan tata krama?"Tak ada yang menjawab.Saat itu, Keluarga Jayengrat sedang mengalami kemunduran, sedangkan Keluarga Sambara takut ikut terseret. Para pejabat istana pun tak sudi memusuhi raja baru hanya demi membela seorang

  • Di Hari Bunga Begonia Mekar   Bab 8

    Setelah fajar menyingsing, Laras tiba di Paviliun Limasari.Dia sudah menanggalkan jubah kebesaran pengantinnya dan kini hanya mengenakan pakaian sederhana berwarna polos.Saat melihatku, dia berhenti di luar paviliun tanpa melangkah mendekat.Bagas menjagaku semalam suntuk, matanya merah penuh urat darah."Untuk apa kamu datang ke sini?""Semua orang di istana menunggumu."Laras berkata dengan pelan."Upacara penobatan sudah terlewat dari waktu baiknya."Bagas mendongak."Dia sudah tiada."Wajah Laras seketika memucat."Aku tahu.""Tapi, kematiannya tidak ada kaitannya dengan upacara penobatan.""Tidak ada kaitannya?"Bagas menatap Laras seolah baru pertama kali mengenalnya. Laras mencengkeram ujung lengan bajunya erat."Racun itu dia beli sendiri.""Obatnya juga dia minum sendiri.""Bagas, aku tidak menyuruhnya mati.""Aku hanya ingin mengambil kembali apa yang memang menjadi milikku."Bagas bertanya dengan suara pelan."Apa yang menjadi milikmu?""Takhta ratu, lukisan di hutan plum

  • Di Hari Bunga Begonia Mekar   Bab 7

    Bagas tidak kembali ke istana.Dia memerintahkan pengawal untuk mengepung Paviliun Limasari, lalu memanggil seluruh tabib istana pada malam itu juga.Pelita menyala terang sepanjang malam.Para tabib bergantian menusukkan jarum dan menuangkan ramuan obat ke dalam mulutku.Ibu tak kuasa melihatnya lagi. Dia berlutut di hadapan Bagas sambil menangis."Baginda, biarkan dia beristirahat dengan tenang."Bagas tak kunjung mendongak."Dia hanya keracunan.""Pasti ada cara untuk menetralkan racunnya."Sang tabib berlutut di lantai, dahinya sudah berdarah karena terus bersujud."Racun sudah terlalu lama berada di dalam tubuh. Seluruh organ dalamnya sudah rusak parah.""Bahkan dewa sekali pun takkan mampu menyelamatkannya lagi."Bagas akhirnya terdiam.Dia duduk di sisiku, menghapus sisa air obat yang tertinggal di bibirku.Dulu saat aku sakit parah, dia juga merawatku dengan cara yang sama.Saat itu, demam tinggi membuatku mengigau. Aku mencengkeram tangannya erat-erat sambil bertanya."Apa kam

  • Di Hari Bunga Begonia Mekar   Bab 6

    Saat Bagas tiba di Paviliun Limasari, langit sudah gelap.Dia bahkan belum sempat mengganti pakaian istananya, dan masih mengenakan ikat pinggang emas merah yang dipakai untuk upacara penobatan.Ujung jubah merahnya menyapu tanah yang bertabur uang kertas duka. Warna merah itu tampak lebih mencolok daripada panji-panji putih berkabung. Apta duduk di dalam paviliun sambil memelukku.Dia tidak menyuruh siapa pun untuk menutup kembali peti mati itu.Ibu berlutut di sampingku, terus mengusap wajahku berulang kali.Ayah berdiri menerjang angin, tampak seolah menua seketika.Bagas melangkah ke hadapanku, lalu mengulurkan tangan hendak menyentuhku.Apta memiringkan tubuhnya untuk menghalanginya."Jangan sentuh dia."Tangan Bagas terhenti di udara."Serahkan dia padaku.""Dia bukan milikmu.""Dia tinggal di istana selama dua tahun.""Itu dua tahun yang kamu rampas dariku."Apta mendongak, matanya merah penuh urat."Dia adalah istriku."Bagas menatapnya tajam, lalu tiba-tiba bertanya."Kalau k

  • Di Hari Bunga Begonia Mekar   Bab 5

    Saat peti matiku dikeluarkan melalui Gerbang Barat, di dalam istana sedang diarak perlengkapan penobatan Ratu. Di satu sisi, kain sutra merah membentang di sepanjang jalan, diiringi dentang lonceng dan tabuhan genderang.Di sisi lain, panji-panji putih mengiringi perjalanan duka, sementara uang kertas sembahyang beterbangan memenuhi langit.Kedua iring-iringan itu dipisahkan oleh tembok istana, masing-masing menuju akhir yang telah ditentukan sejak awal.Apta menunggang kuda di samping kereta jenazah.Setelah keluar dari gerbang kota, dia beberapa kali menengadah menatap langit.Waktu enam jam hampir habis.Aku juga seharusnya segera terbangun.Dia menyuruh rombongan pengantar berhenti di luar Paviliun Limasari, lalu memerintahkan semua orang untuk mundur menjauh. Ayah berbisik mengingatkan."Mundur lebih jauh lagi.""Di sini terlalu dekat dengan gerbang kota. Kalau ada yang melihatnya terbangun, semua rencana kita sebelumnya akan sia-sia."Namun, Apta tak mengindahkannya.Dia tak sa

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status