Share

Di Ranjang Sepupu Suamiku
Di Ranjang Sepupu Suamiku
Author: Wideliaama

1. Salah Kamar

Author: Wideliaama
last update Last Updated: 2025-10-22 10:49:40

"Dasar brengsek! kalau kamu memang tidak mencintaiku, kenapa kamu setuju menikah denganku?!" Clara Favietra menenggak segelas minuman panas sampai tandas.

Sudah hampir dua jam wanita dengan dress mini hitam itu duduk di meja bar. Menghabiskan dua botol minuman panas sambil menangis dan meracau sendirian.

Barista yang melayaninya tidak sedikitpun bertanya. Clara bukan satu-satunya pelanggan yang mengalami hal serupa.

Entah putus cinta atau kesulitan menghadapi masalah hidup, orang-orang selalu memilih club sebagai tempat meringankan beban.

Saat Clara hampir ambruk, Barista itu berbicara. "Nona, mau saya panggilkan taksi online?"

Clara melambaikan tangan tanpa membuka mata. Kepalanya terasa berat tapi ia masih memiliki sedikit sisa kesadaran. "Tidak usah."

"Baiklah."

Memegangi satu sisi kepala yang semakin berat, Clara meraih ponsel yang tergeletak di samping minuman ketika benda persegi itu bergetar singkat.

Seseorang mengirimkan pesan.

Sial. Ia bahkan kesulitan melihat layar. Clara bersusah payah memicingkan mata, kemudian...

Deg!

Seketika saja kedua bola mata Clara membulat. Ia menerima pesan dari nomor tidak dikenal. Pesan berisi potret suaminya yang sedang merangkul pinggang seorang perempuan dengan begitu mesra.

Clara menggenggam ponselnya erat. Selama satu tahun pernikahan mereka, suaminya itu bahkan belum pernah sekali pun memeluknya!

"Keterlaluan kamu Sean!" Geramnya emosi.

Diantar taksi online, Clara sampai di hotel Louis dan langsung mencari kamar 101 sesuai dengan informasi yang diberikan si pengirim pesan. Dengan gemetar dan napas tersengal, Clara mengetuk pintu coklat besar di hadapannya.

Meski Clara selalu menunjukkan sisinya yang tangguh, namun sejujurnya ia begitu lemah dan rapuh. Clara bahkan merasa hampir tidak bisa berdiri lagi saat ini. Ia terlalu takut dengan apa yang akan matanya lihat nanti.

"Buka pintunya, brengsek!" Namun, Clara harus melihatnya dengan mata kepalanya sendiri.

Jantung Clara semakin berdebar kencang ketika seseorang membuka pintu dari dalam. Tidak, dia tidak boleh menangis lagi! Clara Favietra tidak ingin terlihat lemah meski keadaan menindasnya habis-habisan.

Clara tidak sadar jika saat ini ia masih terlalu mabuk untuk mengenali wajah siapapun. Yang ia tahu, seseorang yang kini berdiri di hadapannya adalah seorang lelaki. Gawatnya, Clara meyakini jika lelaki itu adalah Sean, suami sahnya.

"Kamu... Sedang apa di sini?"

Rahang Clara mengeras. Bukan permintaan maaf, melainkan kalimat itu yang keluar pertama kali dari mulut Sean?

Apakah pernikahan mereka hanya permainan baginya?

Air mata Clara berderai lagi. Sean memang tidak pernah memperlihatkan raut wajah yang ramah, tapi sekali pun Clara tidak pernah berpikir jika Sean Fernandes akan berselingkuh darinya.

Clara marah, ia mendorong lelaki itu masuk ke dalam. Matanya mencari-cari sesuatu. "Di mana kamu menyembunyikan jalang itu?"

Clara tidak menunggu jawaban. Ia mencari ke setiap sudut namun tidak menemukan siapapun.

"Sebenarnya apa yang kamu cari?"

"Diam!" Clara memotong, matanya yang basah mendelik tajam. Kali ini, Clara tidak ingin direndahkan lagi. Hanya karena kakeknya meminta Sean untuk menikahinya, bukan berarti lelaki itu bisa selalu merendahkan dirinya.

"Selama ini aku tidak pernah mengeluh dengan apapun yang kamu lakukan. Bahkan saat kamu mengabaikanku, aku tetap berusaha mengerti karena kupikir kamu masih perlu waktu untuk menerimaku sebagai istrimu. Tapi..." Clara menelan ludah getir. Matanya menatap tajam pada lelaki yang ia pikir adalah suaminya.

"...aku tidak pernah mentoleransi perselingkuhan!" Kalimatnya tegas dan bergetar.

Clara tidak ingin menangis. Namun air matanya jatuh begitu saja. Hatinya luar biasa sakit dan itu membuat dadanya semakin sesak.

"Kalau memang kamu tidak bisa mencintaiku dan ingin bersama perempuan lain, kenapa kamu menerima permintaan kakek? Kenapa kamu malah menikahiku dan berselingkuh seperti seorang bajingan?!" Teriakan dan tangis Clara mengisi seluruh ruangan. Selama ini, ia sudah memendam semua lukanya sendirian. Berharap suatu saat Sean akan menatapnya dengan lembut dan memeluknya hangat. Tapi yang ia dapat justru sebuah pengkhianatan.

"Setidaknya ceraikan aku jika kamu ingin hidup dengan perempuan lain..."

Clara merasa hancur. Lebih hancur dari pada saat ia ditolak secara langsung oleh suaminya ketika menawarkan diri seperti seorang pelacur.

"Aku tahu aku memang tidak cantik sampai membuatmu tidak tertarik, tapi aku juga punya perasaan... Aku juga bisa terluka kalau kamu keterlaluan seperti ini...." Suara Clara melemah dan ia masih terisak.

Lelaki yang sejak tadi bersandar di pintu sambil melipat tangan di dada itu masih menatap Clara dengan ekspresi datar. Beberapa detik kemudian ia menghela napas berat dan mendekat.

Apakah seharusnya ia tidak ikut campur? Lelaki itu sedikit menyesal. Ia tidak menyangka akan mendengar pengakuan menyedihkan seperti itu. Apa ia perlu memberi tepukan agar wanita itu sedikit tenang?

"Ck, yang benar saja..." Gumamnya kemudian mengangkat tangan.

Clara mendongak ketika seseorang menepuk-nepuk punggungnya. Ia tidak menyangka Sean akan melakukan itu dengan sangat lembut.

Apakah Sean menyesal? Apakah setelah ini hubungan mereka akan membaik?

Clara tidak bisa menahan diri ketika harapan-harapan kecil itu muncul. Bahkan meski sudah diselingkuhi pun, ia akan tetap menerima Sean kembali jika memang lelaki itu meminta maaf.

Ia memang bodoh. Cinta yang membuatnya menjadi sangat bodoh.

Clara memberanikan diri mencium bibir lelaki itu dengan kaki berjinjit. Berharap kali ini Sean akan menerimanya meski hanya karena perasaan bersalah.

Tidak ada balasan ataupun penolakan. Lelaki itu hanya diam seolah membiarkan Clara melakukan apapun sesukanya.

Clara meringis. Hatinya hancur tapi ia yakin bisa memperbaiki semua ini.

"Aku... Sudah menunggu ini selama satu tahun." Ucap Clara pelan. "Meski tidak berpengalaman, kuharap aku bisa memuskanmu, Sean." Lirihnya lagi sebelum kembali mengecup lembut bibir lelaki di hadapannya. Dadanya berdebar. Rasa sakit hati itu masih ada, namun kini perasaan lain sudah hadir dan berkecamuk di sana.

"Kamu masih mau melakukannya walaupun sudah tahu suamimu selingkuh?" Pertanyaan itu membuat Clara membeku.

Clara yakin Sean mungkin menganggapnya bodoh, rendahan, atau apapun hinaan lainnya. Tapi itu bukan masalah yang tidak bisa Clara hadapi. Ia sudah bertekad bulat untuk mengambil hati Sean dan mempertahankan pernikahan mereka. Satu langkah besar yang ia ambil mungkin akan membuahkan hasil yang manis.

“Aku akan memaafkanmu,” jawab Clara lirih, namun matanya menatap Sean dengan tulus.

"Entah dulu ataupun nanti, aku akan selalu memaafkanmu. Jadi... Kumohon... Sekali ini saja, tolong lihat aku sebagai perempuan. Sebagai seorang istri yang sudah kamu nikahi."

Air matanya jatuh terurai, sementara bibirnya bergetar menahan tangis yang hampir pecah.

Lelaki itu diam untuk waktu yang lama. Tapi pada akhirnya, ia tetap meraih pinggang Clara dan menariknya mendekat.

“Kamu sangat mencintai suamimu, ya?” ucapnya parau.

Clara mengangguk pelan. “Aku mencintaimu... Sangat. Entah kamu sadar atau tidak."

"Kenapa? Apa yang membuatmu jatuh cinta sedalam itu?"

Clara menggumam pelan, namun kalimatnya terdengar jelas. "Karena itu kamu... Karena kalau kamu orangnya... Aku bisa memberikan apapun."

Clara tidak menyadari, tapi rahang lelaki itu mengatup keras.

“Sial…” gumamnya, entah marah atau iba.

Kemudian ia menurunkan suaranya, tajam dan menohok.

"Kalau begitu, tunjukkan padaku apa yang akan kamu berikan pada suamimu."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Di Ranjang Sepupu Suamiku   103. Kembali

    Enam tahun lalu, di hari seluruh ingatannya kembali, Clara menyadari satu hal gila yang hatinya sembunyikan dari dirinya sendiri. Fakta menjijikkan yang telah ia lupakan bersama ingatannya yang hilang. Fakta bahwa ia mencintai dua pria sekaligus seperti wanita tidak bermoral.Clara ingat perasaannya yang perlahan berkembang pada Regan sejak malam pertama mereka melakukan kesalahan di kamar 101, namun ia bersikap seolah tidak merasakan apa-apa meski jantungnya berdegup kencang setiap kali bertemu dengan pria itu. Clara menyimpan rahasia itu rapat-rapat sampai kemudian ia bercerai dengan Sean. Di sisi lain, ia juga masih mencintai Sean bahkan setelah menjadi istri Regan di atas kertas. Namun setelah kehilangan ingatan, ia sempat melupakan hal itu dan kembali mengingat semuanya setelah ingatannya kembali.Hal itulah yang membuatnya sempat canggung setiap kali berpapasan dengan Sean. Canggung karena di saat seharusnya ia meratapi kematian suaminya, hatinya justru hangat oleh perhatian Sean

  • Di Ranjang Sepupu Suamiku   102. Trauma

    Selama enam tahun terakhir, Sean merasa hubungannya dengan Clara berada pada titik yang nyaris sempurna. Mereka sering terlihat bersama dalam berbagai kegiatan yayasan Mananta. Berdampingan menghadiri acara sosial, menyapa para donatur, atau turun langsung menjadi relawan. Ada kalanya Sean menemani Clara berziarah ke makam kedua orang tuanya, pun sebaliknya Clara berdiri di samping Sean mengunjungi makan keluarga Mananta, termasuk makam Regan. Bagi Sean, kebersamaan itu sudah lebih dari cukup.Namun ucapan Nillon mendadak mengusik ketenangan yang ia jaga bertahun-tahun. “Apa Anda akan membiarkan Nona Clara direbut pria lain lagi?” Kalimat itu terus terngiang.Rahang Sean mengeras. Tentu ia tidak menginginkan hal itu terjadi. Sean hanya berpikir Clara mungkin sudah tidak tertarik untuk menjalin hubungan dengan pria manapun. Hal itulah yang membuat dirinya merasa tidak perlu cemas, bahkan meski Dirga menempel seperti lintah di sisi Clara. Tapi hari ini ketenangan Sean benar-benar diuj

  • Di Ranjang Sepupu Suamiku   101. Kepemimpinan Baru

    "Kakek, aku tidak bisa menerima ini." Clara mengembalikan dokumen itu langsung setelah mengerti bahwa rumah yang dimaksud adalah rumah keluarga Mananta. Namun Tuan Jusuf tidak seperti tahun-tahun sebelumnya yang memaklumi keberatan Clara. Kali ini pria tua itu menggeleng dengan tegas. "Aku sudah menyerahkan seluruh bisnis Mananta pada Sean, dan rumah ini..." Tuan Jusuf mengedarkan pandangan sejenak, lalu menghela napas berat seolah mengingat semua kenangan yang pernah terjadi di rumah itu. Kemudian tatapannya kembali pada Clara. "Aku ingin kau merawat rumah ini jika aku sudah tiada." "Jangan bicara seperti itu. Kakek pasti akan hidup lebih lama," sergah Clara. Matanya mulai berkaca-kaca melihat tubuh Tuan Jusuf yang memang terlihat jauh lebih lemah dari saat terakhir kali mereka bertemu. "Aku sudah membuat keputusan, Nak, cobalah pahami keinginan kakek tua ini." Tuan Jusuf tidak ingin dibantah dan Clara merasa keberatan dengan kemauannya. "Kakek bisa memberikannya pada istri Sean

  • Di Ranjang Sepupu Suamiku   100. Lagu Ulang Tahun

    Sean tersenyum hangat membalas sapaan Clara. Sedangkan Dirga mendengus tipis melihat kedatangannya. 'Apa-apaan senyumnya itu? Mengganggu saja," batinnya tidak suka. Sebelum Sean ikut bergabung, Dirga bangkit lebih dulu. "Kak Clara, sepertinya aku harus pergi sekarang," ucap Dirga sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam tas punggungnya. Clara mengangguk. "Ya, belajarlah yang rajin.""Aku tidak akan mengecewakan Kakak," sahut Dirga menyeringai lalu meraih tangan Clara yang mungil tanpa izin. 'Bagaimana bisa perempuan yang usianya lima belas tahun lebih tua dariku punya tangan sekecil ini?' Pikir Dirga gemas. Ia ingin menggenggam tangan itu lebih lama, tapi tatapan seseorang yang tajam dan dingin membuat punggungnya merinding. Dirga akhirnya melepaskan tangan Clara setelah memakaikan sebuah gelang di pergelangannya."Selamat ulang tahun, Clara Favietra. Semoga suatu hari Kakak melihatku sebagai seorang pria," ucapnya dengan senyum simpul penuh harapan. Sejenak, Clara memperhatikan g

  • Di Ranjang Sepupu Suamiku   99. Dirga

    Lima tahun kemudian... Beberapa saat lalu matahari begitu terik sampai Clara perlu menggeser bunga-bunganya agar tidak mudah layu, tapi sekarang kaca toko justru diterpa hujan deras sampai suara ketukannya seperti ingin memecahkan kaca jendela. "Ibu, mau saya buatkan teh hangat?" Suara Sarah membuat Clara menoleh. Ia mengangguk dan tersenyum lembut. "Tolong buatkan tanpa gula.""Baik." Sarah mengangguk dan pergi. Sementara itu, Clara kembali ke meja kerja untuk melanjutkan pekerjaannya membuat bingkai mahar. Di desa, toko bunga Clara tidak memiliki banyak pelanggan seperti di kota. Mungkin karena hadiah semacam buket bukanlah sesuatu yang istimewa bagi orang-orang desa. Maka itu Clara juga menyediakan jasa pembuatan bingkai mahar yang lumayan laku. Sarah kembali dengan dua cangkir teh saat Clara sedang menggulung replika uang. Aroma teh rosella tercium menguar di udara. "Silahkan diminum sebelum dingin, Bu Clara," ucap Sarah sambil meletakkan cangkir keramik putih di ujung meja

  • Di Ranjang Sepupu Suamiku   98. Pergi

    Semua orang di kediaman Mananta masih diselimuti kesedihan, sehingga rasa hening membuat angin seakan enggan untuk berhembus. Clara duduk di bawah jendela kamarnya dan tengah hanyut dalam lamunan. Sudah satu jam lebih ia di sana tanpa bergerak sampai kemudian sebuah ketukan menyadarkan dirinya. Clara menoleh ke pintu dan mendapati Sean tengah berdiri di sana. "Boleh aku masuk?" tanya pria itu. Clara tidak langsung menjawab. Ia terdiam cukup lama untuk mengusir kecanggungan di dalam hatinya lebih dulu. Dua hari lalu, saat dokter menyatakan bahwa ia demam karena kelelahan fisik dan mental, semua ingatannya yang semula hilang tiba-tiba muncul kembali seperti rentetan film yang masuk ke dalam kepala. Hal itu tentu saja menimbulkan konflik di dalam diri Clara termasuk ketidaknyamanannya terhadap Sean. Tapi Clara akhirnya mengangguk. "Masuk saja, Sean."Pria itu berjalan masuk dengan langkah yang selalu tegap dalam keadaan apapun. Lalu duduk di sofa dengan punggung yang juga tegak luru

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status