Home / Romansa / Diantara Dua Tasbih / Pertemuan Dua Arus

Share

Diantara Dua Tasbih
Diantara Dua Tasbih
Author: Lizza Adinata

Pertemuan Dua Arus

Author: Lizza Adinata
last update Petsa ng paglalathala: 2026-08-18 09:03:07

Pukul 08.00, pintu kaca otomatis PT Bhaskara terbuka. Harum parfum sandalwood dan peony yang mahal seketika memenuhi lobi, mengalahkan aroma kopi instan yang biasanya mendominasi. Lily berjalan dengan langkah kecil, perasaannya campur aduk.

Di satu sisi, ada kebanggaan sebagai putri ningrat yang ingin membuktikan kemandiriannya. Di sisi lain, ada kecemasan hebat karena ini pertama kalinya ia keluar dari sangkar emas keluarganya untuk terjun ke dunia profesional yang dingin.

Lily mengenakan setelan yang rapi. Rok batik tulis motif Semen Romo jatuh dengan anggun di bawah lutut, dipadukan dengan blazer putih gading. Rambutnya disanggul modern sederhana.

Di tangannya, ia menjinjing tas kecil bermerek yang harganya mungkin setara dengan gaji tiga bulan staf administrasi di sana. Meski penampilannya elegan, jemari yang menggenggam tas itu tampak bergetar. Lily berdiri mematung di depan meja resepsionis sampai petugas di sana menyapanya.

"Mahasiswa magang dari Universitas Buana, ya? Silakan langsung ke meja Divisi Operasional di lantai 4," ucap resepsionis tanpa menoleh, sibuk dengan teleponnya.

Lily mengangguk pelan. "Terima kasih," jawabnya dengan suara halus, khas didikan keraton yang selalu mengedepankan kesopanan.

Suasana di kantor lantai 4 kontras dengan ketenangan rumah joglo miliknya. Bunyi telepon bersahutan, langkah kaki cepat para karyawan membuatnya merasa seperti butiran pasir yang terseret arus.

Ia berdiri di tengah koridor, bingung mencari meja operasional. Beberapa karyawan pria meliriknya sekilas karena kecantikannya yang mencolok, namun tak ada yang berhenti untuk membantu.

Lily merasa dunianya menyempit. Suara ketikan keyboard berubah menjadi dengungan yang memekakkan telinga. Udara AC yang dingin menusuk paru-parunya, membuat napasnya dangkal.

Setiap langkah membuat detak jantung bawaannya yang kurang sempurna berdentum tidak beraturan.

Duk... duk... duk...

Lorong kantor terasa memanjang tak berujung. "Ibu... Lily takut," batinnya.

Tangannya meraba dinding kaca, meninggalkan bekas keringat dingin. "Apa aku pulang saja ya? Aku tidak mungkin bertahan di sini." Matanya memanas, genangan air mata mulai berkumpul di sudut pelupuk.

Saat ia nyaris kehilangan arah, sebuah pintu ruangan kaca di ujung lorong terbuka. Seorang pria keluar dengan langkah terburu-buru, sedang berbicara dengan asistennya tentang laporan audit.

Pria itu memakai kemeja biru dengan lengan digulung rapi, memancarkan aura otoritas yang tenang. Namun, langkahnya mendadak terhenti. Instingnya sebagai seorang Gus yang terbiasa membaca kegelisahan wajah para santrinya, langsung menangkap sinyal darurat dari gadis yang mematung di lorong. Rofiq melihat sosok yang sangat anggun, namun sorot matanya penuh ketakutan.

Rofiq memberi kode kepada asistennya untuk berhenti bicara. Ia menyerahkan tumpukan dokumen itu tanpa menoleh, matanya tetap tertuju pada Lily. Ia berjalan menghampiri dan berhenti dalam jarak dua meter, jarak aman yang sopan.

Ia membiarkan kehadirannya yang teduh menyelimuti Lily terlebih dahulu.

"Mencari siapa?" Suara Rofiq mengalun rendah, jernih di tengah kebisingan kantor.

Lily tersentak pelan. Ia mendongak, menemukan sosok pria dengan wajah teduh. Tidak ada kemarahan di sana, hanya ketenangan bagai air di padang pasir.

"Iya, Mas... eh, Pak. Saya Lily, mahasiswa magang baru," jawabnya terbata, suaranya nyaris tak terdengar.

Pria itu terdiam sejenak, memperhatikan punggung Lily yang tegak namun matanya menyiratkan cemas. Ia melihat pin keluarga ningrat yang tersemat kecil di blazer gadis itu, namun tidak bereaksi berlebihan.

Rofiq tersenyum tipis, senyum tulus yang jarang ia berikan di kantor. Ia menuntun Lily menuju sofa lobi yang nyaman.

"Saya Rofiq, manajer di sini," ucapnya singkat.

"Istirahatlah lima menit. Setelah Anda lebih baik, saya akan mengantar ke meja kerja," lanjut Rofiq sambil mengambilkan segelas air mineral dan membukakan tutupnya.

Lily memegang gelas itu dengan tangan gemetar.

"Jangan cemas, kantor ini memang terlihat berisik di pagi hari, tapi orang-orang di sini baik," ucap Rofiq seolah bisa membaca pikiran.

"Terima kasih, Mas... eh, Pak..." bisik Lily.

"Sama-sama, Lily. Ayo."

Rofiq berjalan di depan, memberi jalan bagi Lily melewati kerumunan karyawan. Saat seorang kurir hampir menabrak Lily, dengan sigap Rofiq menggeser posisinya untuk melindungi gadis itu tanpa perlu menyentuhnya.

"Mejamu ada di area ruanganku, tapi di kubikel khusus dekat jendela," jelas Rofiq sambil membuka pintu ruangannya yang beraroma kayu gaharu. "Fokus saja pada tugasmu, tidak perlu terburu-buru mengikuti ritme orang lain. Jika ada yang membuatmu tidak nyaman, atau pekerjaan ini terasa terlalu menekan, bicaralah padaku."

Lily masuk ke dalam ruangan itu dan seketika merasa seperti masuk ke dalam oase. Aroma ruangan Rofiq mirip dengan ruang kerja ayahnya; tenang dan religius.

"Terima kasih, Mas... eh, Pak Rofiq."

Rofiq terkekeh pelan. "Panggil Mas juga boleh kalau di dalam ruangan ini. Kalau di depan direksi, tolong panggil Pak, ya?"

Lily terpaku. Ia belum pernah bertemu pria sehebat ini; berwibawa namun peka tanpa perlu banyak bertanya. Saat Rofiq berjalan kembali ke mejanya, Lily menatap punggung pria itu dengan takjub.

Ia belum tahu bahwa pria yang baru saja membantunya adalah seorang Gus yang sedang menyamar menjadi profesional.

Namun, di hari pertama yang menakutkan itu, Lily merasa baru saja menemukan jangkar yang membuatnya aman. Di tengah hutan beton PT Bhaskara, ketakutan terhadap dunia luar hanyalah bayangan.

Ia duduk di kursinya dengan perasaan jauh lebih ringan, menyalakan komputer dengan senyum kecil di bibir.

Sementara itu, Rofiq diam-diam merasa ada sesuatu yang berbeda dalam dirinya. Ia ingin menjaga gadis itu, memastikan mendung tidak akan hinggap lagi di wajahnya.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Diantara Dua Tasbih   Sosok di Galeri Seni

    Kehancuran hati Lily tidak membuatnya menyerah pada keadaan, namun justru memicu sebuah pemberontakan batin. Ia merasa perlu membuktikan pada dirinya sendiri—dan pada Rofiq—bahwa perasaannya tidak harus terpenjara pada satu sosok "Gus" yang penuh rahasia itu. Lily ingin mencari udara segar, mencari seseorang yang benar-benar "biasa" tanpa beban tradisi, tanpa gelar agama yang berat, dan tanpa drama penyamaran.Selama beberapa bulan, Lily menarik diri sepenuhnya dari radar Rofiq. Ia tetap bekerja secara profesional, namun setiap kali jam kantor usai, ia segera menghilang. Ia mulai membuka diri pada lingkaran pertemanan baru di luar lingkungan PT Bhaskara.Dalam sebuah pameran seni kontemporer di pusat Jakarta, Lily bertemu dengan Arkan. Arkan adalah seorang fotografer lepas yang hidupnya sangat dinamis, santai, dan jauh dari kesan kaku. Ia tidak tahu apa itu Putri, ia tidak peduli pada protokol keraton, dan baginya, Lily hanyalah seorang wanita cantik dengan selera seni yang tinggi.Ba

  • Diantara Dua Tasbih   Puing - Puing Perasaan

    Kehancuran itu tidak datang dengan suara dentuman yang keras. Bagi Lily, kehancuran itu merayap sunyi, seperti kabut tebal yang perlahan-lahan mematikan warna di sekelilingnya. Setelah keluar dari ruangan Rofiq dengan mata sembab, koridor kantor PT Bhaskara yang biasanya terasa modern dan elegan, kini berubah menjadi lorong panjang yang menghimpit pernapasannya.Rini dan Wiwin mencoba menyapa, menanyakan apakah ia ingin ikut memesan kopi sore, namun Lily hanya menggeleng pelan dengan senyum tipis yang dipaksakan—sebuah senyum yang tidak sampai ke matanya yang meredup. Ia duduk di mejanya, namun tangannya gemetar saat menyentuh keyboard. Layar monitor di depannya hanya tampak seperti bintik-bintik cahaya yang tak bermakna.Lily merasa dikhianati oleh realita. Selama ini, ia mencintai Rofiq karena ia pikir pria itu adalah oase kesederhanaan di tengah gersangnya Jakarta. Ia jatuh cinta pada sosok manajer yang rendah hati, yang peduli pada hal-hal kecil, dan yang tampak "setara" dalam per

  • Diantara Dua Tasbih   Gerbang Kayu dan Gema Sholawat

    Akhir pekan itu, Lily memutuskan untuk melakukan perjalanan singkat ke wilayah Jawa Timur. Secara resmi, alasannya adalah mengunjungi salah satu kerabat jauh keluarga besarnya, namun di dalam hati, ia ingin mencari ketenangan dari hiruk-pikuk Jakarta yang belakangan ini terasa sangat emosional baginya. Hubungannya dengan Rofiq memang semakin manis, namun bayang-bayang jati diri yang ia sembunyikan masih sering menghantui tidurnya.Ia tidak pernah menyangka bahwa perjalanan "pelarian" ini justru akan membawanya pada sebuah kenyataan yang akan mengubah seluruh sudut pandangnya terhadap pria yang ia cintai.Mobil hitam yang membawa Lily melaju perlahan menembus jalanan aspal yang diapit oleh hamparan sawah hijau di daerah Jombang. Udara terasa jauh lebih sejuk dan bersih. Saat mobil berbelok ke arah sebuah jalan yang lebih kecil namun ramai oleh lalu lalang pemuda berbaju koko dan bersarung, Lily mulai merasa ada atmosfer yang berbeda."Pak, ini daerah apa ya? Ramai sekali anak muda paka

  • Diantara Dua Tasbih   Pengakuan di Balik Tirai Hujan

    Suasana di lantai empat kantor pusat PT Bhaskara sore itu terasa jauh lebih lengang dan sunyi dari biasanya. Jarum jam baru saja melewati angka lima, dan sebagian besar karyawan divisi operasional telah bergegas turun menuju basemen atau stasiun MRT terdekat, menghindari puncak kemacetan Jakarta yang terkenal kejam.Di luar sana, langit ibu kota yang semula abu-abu pekat kini mulai menumpahkan bebannya. Hujan rintik-rintik yang konsisten mulai membasahi permukaan kaca jendela besar yang membentang dari lantai hingga langit-langit ruangan. Bulir-bulir air berkejaran, menciptakan aliran sungai kecil di atas permukaan kaca, sekaligus membiaskan lampu-lampu jalanan metropolitan yang mulai menyala satu demi satu. Suasana melankolis yang tenang dan dingin perlahan merayap, menguasai setiap sudut ruangan kubikel yang mulai ditinggalkan penghoninya.Rofiq berdiri tegak di depan jendela ruang kerjanya yang luas. Kedua tangannya terbenam di saku celana kainnya, menatap lurus ke arah luar, menya

  • Diantara Dua Tasbih   Tameng di Ruang Arsip

    Pov LilyAroma kertas tua, lem jilid yang mengering, dan debu yang mengendap bertahun-tahun langsung menyergap indra penciumanku begitu pintu kayu tebal itu tertutup. Di luar, riuh rendah suara mesin tik elektrik, dering telepon yang tak putus-putus, dan tawa sinis Sarah seolah terputus oleh sekat dinding beton yang tebal. Di dalam ruangan berukuran empat kali enam meter ini, hanya ada keheningan. Kesunyian yang sunyi, namun anehnya, entah mengapa terasa jauh lebih manusiawi daripada kubikel kerjaku di luar sana.Aku terduduk di atas sebuah kursi kayu jengki tua yang diletakkan di sudut ruangan. Kedua lututku bergetar hebat. Di balik rok batik tulis motif semen rama yang kupakai, kakiku terasa seperti kehilangan seluruh tulangnya. Aku mencengkeram tepian meja kayu dengan kuku yang memutih, mencoba menahan tubuhku agar tidak merosot ke lantai kayu yang dingin."Napas, Lily. Atur ritmenya. Jangan biarkan pikiranmu menguasai jantungmu," sebuah suara berat, datar, namun penuh dengan penek

  • Diantara Dua Tasbih   Kembali Ke Dunia yang Dingin

    "Setiap menit adalah perjuangan, dan setiap perjuangan layak dijaga." - LilyPintu kaca otomatis PT Bhaskara terbuka dengan desis halus yang sama, suara yang kini terdengar seperti peringatan di telingaku. Udara AC yang kering langsung menerpa wajahku, membawa aroma kertas, tinta printer, dan kopi instan yang kuat—aroma dunia korporat yang dingin. Seharusnya aku merasa biasa saja, namun setiap langkah yang kuambil menuju lift terasa seperti sedang mendaki gunung yang sangat terjal. Jantungku, benda kecil yang hampir menyerah beberapa hari lalu, berdenyut dengan irama yang waspada. Aku bisa merasakannya di balik blazer biru dongkerku, seolah ia sedang berbisik: Hati-hati, Lily. Jangan terlalu bersemangat.Aku menatap pantulan diriku di pintu lift yang mengkilap. Wajahku dipulas riasan yang sedikit lebih tebal dari biasanya, usaha sia-sia untuk menyembunyikan pucat yang masih tersisa di bawah mataku. Rambutku kusemprot dengan sedikit lebih banyak hairspray agar nampak rapi sempurna, seb

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status