LOGINShaluna tentu saja menolak.
Di tengah rasa malu dan air mata yang hampir tumpah, ia memilih berbalik dan bergegas pergi meninggalkan area kantor, lalu memutuskan pulang menggunakan taksi. Kali ini, ia tidak ingin kembali ke kediaman keluarga besar mertuanya yang mencekik, melainkan ke rumah tantenya. Tempat satu-satunya ia bisa bernapas lega. "Tan, apa mungkin Mas Ragan punya selingkuhan?" tanya Shaluna, akhirnya menyuarakan kecurigaan yang selama ini menyumbat benaknya. Eve, sang tante, seketika mengerutkan dahi, tampak terkejut mendengar pertanyaan keponakannya. "Masa, sih, suami kamu selingkuh?" Shaluna hanya bisa mengangkat bahu dengan lesu. Ia menyandarkan punggungnya ke sofa, merasa lelah luar biasa. "Aku juga gak tahu, tapi hubungan kami gak pernah ada kemajuan." Eve menatapnya lurus, pancaran matanya berubah khawatir. "Kamu nyerah?" "Sedikit," bisik Shaluna lirih. Jemarinya saling bertautan erat di pangkuan, mengakui rasa putus asa yang mulai mengikis sisa-sisa harapannya. "Kalo ternyata Ragan selingkuh, kamu mau apa?" tanya Eve sembari meraih stoples berisi kue kering di atas meja. "Nggak ada. Aku bingung," sahut Shaluna lirih. Jemarinya sibuk memetik tangkai-tangkai kecil daun mint yang baru mereka petik dari kebun belakang, lalu memasukkannya ke dalam teko teh hangat. Eve berdecak pelan sambil mengunyah kuenya. "Menurut Tante, Ragan sama ibunya itu kayak orang gak normal!" "Tante, mulutnya," tegur Shaluna, menatap sang tante dengan dahi berkerut, meski hatinya membenarkan betapa dinginnya perlakuan dua orang itu. "Serius, Luna! Harusnya papa kamu saat itu gak langsung setuju pas Bu Maria nyalonin Ragan buat jadi suami kamu karena anak kandung Pak Dion gak dateng." Eve menuangkan air panas ke dalam teko, membiarkan aroma teh mint menguar di antara mereka. Shaluna terdiam sejenak. Tangannya yang sedang memegang cangkir kosong seketika terhenti. "Memangnya, aslinya aku mau dijodohin sama siapa saat itu?" "Keiran." "Keiran?" Shaluna mengerjap, ingatan tentang pria berwajah dingin yang tadi siang menawarinya makan bersama langsung berputar di kepala. "Hm." Eve mengangguk penuh penekanan, lalu menopang dagu dengan senyum jahil yang tiba-tiba terbit di wajahnya. "Menurut kamu, gantengan Keiran apa Ragan?" "Tan, please!" Shaluna mengeluh malu, menyembunyikan wajahnya yang mendadak terasa panas di balik cangkir teh. Eve terkikik geli melihat reaksi keponakannya. Di tengah tawa renyah sang tante, ponsel Shaluna yang tergeletak di atas meja mendadak menyala. Fokus Shaluna langsung teralih. Sebuah pesan singkat dari Ragan muncul di layar. Aku pulang jam lima. Shaluna menatap layar itu lekat-lekat. Perasaan hangat setelah mengobrol dengan tantenya seketika menguap, digantikan oleh debaran cemas yang kembali merayapi dadanya. “Tan, aku pulang dulu. Mas Ragan bentar lagi sampe rumah.” *** Saat Shaluna melangkah masuk ke dalam kamar, ternyata Ragan sudah lebih dulu ada di sana. Suaminya itu sedang berdiri di dekat meja, mengeluarkan sebuah kemasan berisi buah kering dari dalam paper bag. "Kamu beli ini?" tanya Shaluna, mencoba memecah keheningan di antara mereka. Ragan menggeleng tanpa menoleh. "Dari Elvar." Dahi Shaluna seketika berkerut. Nama itu terasa asing di telinganya. "Siapa Elvar?" "Laki-laki tadi," jawab Ragan datar dan singkat. Pria itu langsung menyambar handuknya dari gantungan. "Aku mau mandi dulu." Shaluna hanya bisa terpaku di tempatnya berdiri, menatap punggung Ragan yang menghilang di balik pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Kelegaan yang sempat ia rasakan setelah pulang dari rumah tantenya kini lenyap tak berbekas, menyisakan tanda tanya baru yang mendadak terasa mengganjal di hatinya. Begitu selesai berpakaian, Ragan langsung melangkahkan kaki menuju ranjang dan merebahkan dirinya di sana. Pria itu menatap langit-langit kamar dengan kedua tangan yang dijalin ke belakang kepala, menjadikannya bantal. "Mulai sekarang aku bakal jarang pulang," ucap Ragan memecah keheningan kamar. Shaluna yang sedang berdiri di dekat meja rias berbalik lambat, menatap suaminya dengan senyum getir. "Kamu emang jarang pulang." "Bagus kalau kamu sadar." Kalimat santai Ragan memantik sesuatu yang sejak siang tadi tertahan di dada Shaluna. Ia melangkah mendekat ke tepi ranjang, meremas jemarinya kuat-kuat. "Mas, apa kamu selingkuh?" Gerakan Ragan seketika terkunci. Pria itu terdiam, lalu menolehkan kepalanya lambat-lambat ke arah Shaluna dengan tatapan tak percaya. "Kamu nuduh aku selingkuh?" Shaluna mengedikkan bahunya sekilas, mencoba menutupi badai yang berkecamuk di dalam hatinya. "Tinggal jawab." Bukannya panik, Ragan justru menyunggingkan senyum miring yang terlihat sangat menyebalkan di mata Shaluna. "Ngaco." "Kamu yang ngaco, Mas!" Suara Shaluna mulai naik satu oktav, dadanya naik turun menahan emosi yang akhirnya pecah. "Tiga tahun loh kita nikah, tapi kamu sedikit pun gak bisa nerima aku!" Ragan menatapnya datar, seolah ledakan kemarahan Shaluna sama sekali tidak berarti. "Kenapa kamu marah?" "Serius kamu masih tanya ini, Mas?" Shaluna tertawa hambar, air mata yang sejak tadi ia bendung akhirnya luruh juga membasahi pipinya. Rasa lelah yang teramat sangat mendadak merayap ke seluruh sendi tubuhnya. "Aku capek, Mas. Serius." "Kamu pikir aku nggak capek?" balas Ragan dengan nada dingin yang menusuk. Shaluna mengusap air matanya dengan kasar, menolak terlihat lemah di depan pria yang tak pernah menghargainya ini. Ia menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan sisa keberanian yang ia miliki demi mengakhiri semua penderitaan ini. "Mas, ayo kita cerai!”Malam makin larut saat kendaraan mereka akhirnya berbelok memasuki pekarangan rumah tempat mereka menetap. Lampu-lampu taman berpendarkan cahaya keemasan yang lembut, menyambut kepulangan mereka dengan kehangatan yang bersahaja. Suara deru mesin mobil perlahan memudar sebelum akhirnya mati sepenuhnya, menyisakan keheningan malam yang tenang.Keiran turun lebih dulu, lalu berjalan melintasi bagian depan mobil untuk membukakan pintu bagi Shaluna. Pria itu mengulurkan tangannya yang lebar, disambut oleh jemari Shaluna tanpa ragu. Saat wanita itu melangkah keluar dari kabin, Keiran tidak melepaskan genggamannya. Pria itu justru melingkarkan tangannya di pinggang Shaluna, menarik tubuhnya mendekat hingga tak menyisa jarak di antara mereka.Di bawah naungan langit malam yang bertabur bintang, Keiran menatap lurus ke dalam iris mata Shaluna. Pendar mata gelap pria itu memancarkan intensitas murni dari seorang pria yang telah menemukan tempatnya berlabuh secara utuh."Malam ini terasa be
Setelah momen haru di ruang tamu perlahan mereda, Tuan Dastan mengajak Keiran dan Shaluna berpindah ke teras belakang yang asri. Kebun kecil milik Tuan Dastan dipenuhi pepohonan rimbun dan tanaman hias yang terawat rapi, menciptakan suasana sore yang sejuk dan menenangkan. Suara gemericik air dari kolam ikan gurami di sudut halaman menambah kedamaian yang menyelimuti tempat itu.Tuan Dastan menyeduh kopi hitam khas kegemarannya, sementara Shaluna sibuk memotong beberapa potong kue bolu kukus di dapur untuk disajikan. Di teras, Keiran duduk berhadapan langsung dengan sang calon mertua. Tidak ada lagi atmosfer ujian atau penilaian yang kaku; percakapan di antara kedua pria itu mengalir makin hangat dan penuh keterbukaan."Lalu, bagaimana rencana kalian untuk acara pernikahannya nanti?" tanya Tuan Dastan seraya menyesap kopinya perlahan, menatap Keiran dengan raut wajah ingin tahu yang bersahabat.Keiran meletakkan cangkirnya di meja, menegakkan posisi duduknya dengan sikap penuh ra
Pintu kayu jati rumah Tuan Dastan terbuka lebar, memperlihatkan sosok pria paruh baya bertubuh tegap dengan garis wajah tegas yang mirip dengan Shaluna. Tuan Dastan berdiri di ambang pintu, menatap dua sosok di hadapannya dengan pendar mata yang terkejut, namun berangsur-angsur melunak saat melihat betapa eratnya jemari Keiran dan Shaluna saling bertaut."Masuk," suara Tuan Dastan bergema hangat namun sarat wibawa, mengisyaratkan mereka untuk melangkah ke dalam ruang tamu berarsitektur klasik yang tenang.Di dalam ruangan beraroma kayu cendana itu, mereka bertiga duduk mengelilingi meja kayu ukir. Keiran duduk berdampingan dengan Shaluna. Tidak ada ketegangan kaku di bahu Keiran, tidak ada pula aura dingin bertopeng yang biasanya ia kenakan saat berhadapan dengan dunia luar. Yang ada di sana hanyalah seorang pria yang datang dengan niat murni dan rasa hormat yang mendalam.Tuan Dastan menuangkan teh hangat ke dalam tiga cangkir porselen, lalu meletakkannya di atas meja. Pandangann
Pagi di pesisir selatan berganti menjadi siang yang teduh. Angin laut berembus perlahan, membawa aroma garam yang menenangkan ke dalam teras rumah kayu tempat Shaluna sedang membersihkan sisa-sisa cat minyak di jemarinya.Keiran melangkah keluar dari dalam rumah dengan langkah tenang. Pria itu sudah berganti pakaian—bukan lagi kaus santai yang ia kenakan tadi pagi, melainkan kemeja linen putih berpotongan rapi yang lengannya digulung hingga ke siku. Ada pendar yang berbeda dari raut wajah Keiran hari ini. Tenang, mantap, dan dipenuhi oleh satu keputusan bulat yang tidak bisa diganggu gugat.Keiran mendekati Shaluna dari belakang, melingkarkan tangannya di pinggang wanita itu dan menyandarkan dagunya di bahu Shaluna."Sudah selesai melukisnya?" bisik Keiran rendah di dekat telinga Shaluna.Shaluna tersenyum, menyandarkan kepalanya ke samping, menyentuh rahang tegap Keiran. "Sudah. Kenapa? Rapi banget bajunya, mau ke mana?"Keiran tidak langsung menjawab. Pria itu memutar tubuh S
Pintu kaca teras tertutup rapat di belakang mereka, meredam deru ombak menjadi desir halus yang samar. Kehangatan interior rumah kayu menyambut saat Keiran melangkah perlahan melintasi lantai papan yang halus, membawa Shaluna dalam bopongannya menuju kamar tidur utama.Pendar remang dari lampu dinding berdesain kuningan membiaskan nuansa keemasan di sekujur ruangan. Keiran menurunkan tubuh Shaluna di atas tempat tidur berseprai linen putih yang lembut. Tidak ada ketergesaan yang didorong oleh ketegangan atau luapan adrenalin masa lalu. Malam ini, pergerakan mereka murni dipandu oleh keheningan yang intim dan rasa saling memiliki yang telah mengakar kuat.Keiran berlutut di tepi ranjang, melepas ikatan rambut Shaluna hingga helai-helai hitamnya terurai bebas menutupi bahunya. Jemari Keiran yang lebar dan hangat menyusup ke sela-sela rambut wanita itu, mengusap tengkuknya dengan ritme yang begitu lembut."Capek?" tanya Keiran rendah, suaranya serak membisikkan kepedulian yang hangat
Malam di pesisir selatan menyelimuti rumah kayu mereka dengan ketenangan murni. Tidak ada dering ponsel, tidak ada sekat korporasi, dan tidak ada pembicaraan mengenai takhta atau urusan bisnis yang telah menyita separuh usia mereka. Hanya ada keheningan yang ramah, berpadu halus dengan deru angin malam dan ketukan konstan ombak di kejauhan.Di area dapur berkonsep terbuka yang berdinding kayu hangat, Keiran berdiri di depan kompor stainless steel. Pria yang biasanya mengenakan setelan jas termahal itu kini tampil kasual dengan kaus katun polos dan celana santai. Jemari tangannya yang panjang dan lihai terlihat begitu teliti memotong bahan-bahan makanan segar yang mereka beli sore tadi dari nelayan lokal.Shaluna menduduki salah satu kursi bar kayu di seberang meja dapur, menopang dagunya dengan kedua tangan sambil mengamati setiap gestur Keiran. Rambutnya diikat asal-asalan, membiarkan beberapa helai jatuh membingkai lehernya. Senyum tipis mengukir bibirnya sewaktu melihat betapa







