LOGINZeka dan dua pengawalnya sudah melangkah keluar dari teras rumah Juriah. "Tuan!" pekik Juriah lirih. "Iya Bu?!" Zeka kembali terhenti langkahnya, ia memalingkan badannya, melihat pada wanita tua yang sedang berdiri di teras dengan wajah yang tak bisa menyembunyikan rasa sedihnya. "Bisakah anda sampaikan pada Widuri nanti jika anda sudah kembali ke kota?" "Tentang apa Bu?" "Minta ia untuk segera menghubungi ibu, ibu rindu" ujar Juriah dengan mata tua yang menyorotkan begitu banyak harapan. "Baiklah, ibu nggak usah khawatir, saya pasti akan sampaikan!" "Em, ter-terimakasih banyak atas kebaikan anda" ujar Juriah dengan wajah sendu menahan haru. Zeka hanya tersenyum kecil sambil mengangguk pelan, sebelum akhirnya sebuah mobil datang dan sejurus kemudian ia segera masuk ke dalam mobil itu. Dari dalam mobil, pria itu melambaikan tangannya ke arah Juriah yang membalas lambaian itu dengan wajah sedih, kayaknya seorang ibu yang melepas kepergian anaknya untuk menuju ke tempat yan
Dengan langkah kaki yang gemetar, dan tangan yang memegang erat seikat uang yang Zeka berikan, Juriah melangkah mendekati juragan Sarmo, ia takut, sangat takut bahkan, meski ada Zeka yang siap siaga melindungi Juriah, tapi entahlah, wanita tua itu tetap merasa tak tenang. "Ini, uangnya juragan" Juriah menyodorkan seikat yang itu pada juragan Sarmo dengan tangan gemetar. Juragan Sarmo melirik sinis melihat yang itu. Ia tak mengambilnya. "Seno! ambil!" ia malah menyuruh anak buahnya untuk mengambil uang itu. Dengan cepat anak buah juragan Sarmo segera mengambil uang itu dari tangan Juriah. Juriah merasa sedikit lega. "Silahkan dihitung dulu tuan, mana tau jumlahnya kurang dari delapan juta!" sela Zeka. Juragan Sarmo merasa geram, ia dapat melihat bagaimana cara Zeka menggerakkan bibirnya saat mengucapkan kalimat itu, pemuda itu sedang mengejek dirinya. Namun juragan Sarmo tak ingin membuang lebih banyak waktu. Meski ia baru saja mendapatkan kerugian besar sebab ia tak jadi meny
"Hai anak muda! siapa kau?! nggak usah ikut campur urusan orang!!" hardik juragan Sarmo. Zeka mengangkat wajahnya, ia menyeringai congkak. Dengan kacamata hitam ditangan yang ia coba putar-putar dengan jari-jarinya yang sebenarnya sudah sangat gatal ingin meremas mulut pongah juragan Sarmo sejak tadi. "Sa-saya mohon tuan..." lirih suara yang keluar dari bibir Juriah, ia mencoba untuk menghentikan Zeka. "Ibu nggak usah takut!" ucap Zeka tegas. "Heh, dasar sombong! koe blum tau dengan siapa koe sedang berhadapan!" celetuk juragan Sarmo sambil melirik pada dua orang pengawalnya yang langsung menyambut lirikan itu dengan suara tawa bernada ejekan. Zeka terlihat santai, ia tahu saat ini juragan Sarmo sedang berusaha menggiring emosinya agar tak terkendali. Tapi, tujuan ia datang ke tempat itu bukanlah untuk hal tak penting itu. "Sudah! kau jangan coba-coba untuk menghalangi aku!" "Heh! cepat paksa wanita ini untuk tanda tangan!!" perintah juragan Sarmo pada anak buahnya, nampa
"Cepat tanda tangan Juriah! aku nggak punya banyak waktu untuk menunggu! lagipula apa lagi yang kau tunggu, hah?! ingat ya, jangan kau berpikir untuk minta tempo lagi, aku nggak akan memberi kau toleransi lagi. Sudah cukup belas kasihan dariku, orang-orang macam kau ini terlalu banyak drama, butuh uang, dikasih pinjam, giliran ditagih janji-janji terus, bikin puding!" omel juragan Sarmo, sudah mulai muak ia dengan sikap Juriah yang terkesan mengulur waktu. "Ayo cepat!" sergah juragan Sarmo. Mendengar suara lantang juragan Sarmo, kian gemetar Juriah, dengan perlahan ia kembali duduk, meletakkan kertas itu di atas meja, satu tangannya memegang pena, meski sungguh tak ingin melakukannya, tapi semua sudah terlambat dan percuma, tak ada lagi jalan keluar, dan semua sudah berakhir sepertinya. "Setelah kau tanda tangan, kau cepat kemasi barang-barang mu dan pergi dari rumah ini, sebab besok aku akan merenovasi rumah ini!" ujar juragan Sarmo santai, ia seolah sungguh tak perduli pada nes
"Juriah!!!!" terdengar suara lantang dari luar rumah, dan seketika ketenangan berubah menjadi tegang. Orang-orang segera menoleh pada sumber suara itu. Juriah yang sedang serius berbincang dengan Zeka, kini terpecah konsentrasinya. Ia terkejut mendengar teriakan itu. "Juriah!!!" ulang suasana itu yang kini kian mendekat diiringi dengan suara langkah kaki yang berderak kasar. Jantung Juriah berdegup hebat manakala ia mengetahui siapa yang sedang datang mendekat, tubuhnya yang renta itu perlahan berdiri dengan gemetar, nampak seorang pria bertubuh gempal dengan kumis tebal yang melingkar di atas bibirnya yang sedang menghisap sebatang rokok dengan asap yang mengepul pekat. Penampilan pria itu cukup nyentrik dengan celana jins dan jas formal, tak lupa kacamata hitam menjadi pelengkap penampilannya yang seolah ingin menjadi pembuktian betapa ia adalah orang yang berada, dan memang begitu adanya. "Mbok, juragan Sarmo" ujar Tami lirih. Juriah hanya diam sambil memandang penuh ketaku
"Ini air putihnya!" Tami sudah datang sambil membawa baki berisi segelas air putih, dengan perlahan ia meletakkan baki itu diatas meja kayu yang dilapisi kain warna biru tua yang sudah usang. "Silahkan diminum!" Juriah mempersilahkan. Zeka tersenyum, ia langsung meraih gelas kaca berisi air yang bening, dengan perlahan ia menempelkan mulut gelas ke bibirnya yang merah, dan dalam sekejap air dari dalam gelas itu mulai berpindah secara perlahan ke dalam mulut Zeka, pria itu mulai meneguk air itu dengan tenang. Gelas sudah berkurang setengah isinya, ia meletakkan kembali gelas ke dalam baki, suasana benar-benar sangat canggung, terkhusus bagi Juriah, sebenarnya ia sangat penasaran dengan sosok yang ada di dekatnya itu, tapi ia terlalu takut untuk mengajukan berbagai pertanyaan, akhirnya ia hanya bisa diam sambil terus menunggu si tamu yang memulai pembicaraan. "Maaf Bu, apa kedatangan saya tidak menggangu?" Zeka mulai bicara, ia menatap wajah Juriah dengan lembut, tatapan dua bola
"Brakkkk!!!" pria itu keluar kamar apartemen Minah sambil membanting pintu sehingga membuat Minah dan juga Widuri kaget bukan main. Widuri masih bersembunyi di balik pintu, ia memperhatikan Minah yang tampak gusar. "Dasar tua bangka sialan! datang-datang main minta duit aja, emang dia kira gampan
"Taruh tas lu disitu!" ujar Minah saat ia membuka pintu apartemen yang merupakan tempat tinggalnya. Widuri mengekor langkah Minah, matanya liar menatap ke segenap penjuru ruangan. Kamar apartemen Minah tak begitu besar, tapi untuk ukuran orang yang tinggal seorang diri itu cukuplah luas. Barang
Hari yang dinantikan Widuri akhirnya tiba juga, pagi-pagi sekali ia sudah bangun. Sebuah tas jinjing berwarna hitam yang berisi pakaiannya sudah siap di atas meja di ruang tamu. Ada juga sebuah tas kain kecil yang berisi bekal makanan. Juriah tampak sibuk kesana-kemari untuk mempersiapkan segala ke
"Bu, Ibu!!" Suara Widuri terdengar girang, seperti anak kecil yang baru saja dibelikan mainan oleh orang tuanya. Ia setengah berlari masuk kedalam rumahnya yang sepi. "Bu?!" "Ada apa Wid? Ibu di dapur!" Terdengar suara Juriah setengah berteriak. Widuri bergegas menuju dapur, ia sudah tak sabar







