تسجيل الدخولSelesai mandi, aku menemani Ravyan makan malam.
Ruang makan sudah diterangi lampu gantung berwarna kekuningan yang membuat suasana rumah terasa hangat.Ravyan sudah duduk rapi di kursinya.Di depannya tersaji nasi hangat dengan tambahan tumis buncis, ayam kecap, dan semangkuk sup bening yang masih mengepulkan uap.Biasanya makan malam bersamanya menjadi satu hal menyenangkan bagiku. Namun malam ini, saat tutup mangkuk sup dibuka oleh Ravyan, aroma kaldu ayaHari-hari berikutnya berlalu.Kemudian berubah menjadi minggu.Tubuh Lyra perlahan kembali pulih.Perdarahan sudah berhenti sepenuhnya.Wajahnya mulai kembali memiliki warna.Ia juga sudah bisa melakukan aktivitas ringan di rumah.Dokter masih menyarankan agar Lyra tidak terburu-buru kembali melakukan pekerjaan berat.Tidak mengangkat benda yang terlalu berat.Tidak memaksakan tubuhnya beraktivitas berlebihan. Dan yang paling penting, memberikan waktu bagi dirinya sendiri untuk pulih.Secara fisik, Lyra memang terlihat jauh lebih baik.Namun aku tahu, ada luka lain yang tidak terlihat.Luka yang tidak bisa sembuh hanya dengan obat.Hubungan kami masih belum benar-benar kembali seperti dulu.Aku tetap tidur di kamar yang sama dengannya.Namun sering kali kami berada di tempat tidur yang sama dengan punggung saling membelakangi.Tidak ada lagi percakap
Keesokan pagi, Dokter akhirnya datang melakukan pemeriksaan terakhir.Kondisi Lyra dinyatakan sudah lebih stabil.Perdarahan makin sedikit.Tekanan darahnya juga baik.Setelah beberapa penjelasan mengenai masa pemulihan, dokter akhirnya mengizinkan Lyra pulang."Untuk sementara, jangan melakukan aktivitas berat.""Jangan mengangkat benda berat.""Kalau ada perdarahan lagi, demam, nyeri hebat, atau keluhan lain, segera kembali ke rumah sakit."Aku mendengarkan semua instruksi itu dengan serius. Bahkan mencatat beberapa hal penting di ponsel.Lyra hanya mengangguk.Setelah dokter pergi, Mami langsung membantu mempersiapkan barang-barang Lyra.Kak Elina juga memastikan semua obat yang diberikan rumah sakit sudah masuk ke dalam tas.Sementara aku mengurus administrasi kepulangan.Semua berjalan dengan cepat.Namun entah kenapa, saat akhirnya Lyra berdiri di sampi
Aku belum mampu.Lyra tiba-tiba mengusap sudut matanya.Aku langsung menyadarinya. "Kamu menangis?""Enggak.""Lyra.""Aku gak apa-apa."Aku menghela napas.Kalimat itu lagi.Aku sudah terlalu sering mendengarnya. Lantas aku menatap wajahnya cukup lama."Kamu gak harus selalu bilang kamu gak apa-apa."Lyra membeku.Aku melanjutkan."Kalau kamu sedih, ya sedih saja.""Kalau kamu kecewa, ya kecewa.""Kalau kamu masih menangis karena anak kita, gak apa-apa."Bibir Lyra mulai bergetar.Aku mengalihkan pandangan."Jangan paksa diri kamu untuk terlihat kuat. Karena saya juga gak sedang baik-baik saja."Kalimat terakhir itu membuat kami sama-sama terdiam.Itu pertama kalinya aku mengakui keadaan diriku sendiri di hadapannya.Untuk pertama kalinya aku membiarkan Lyra tahu bahwa aku juga sedang hancur.Sangat hancur di sepanjang waktuku.Beberapa detik berlalu.Kemudian terdengar isakan kecil dari sampingku.Aku tidak menoleh. Bukan karena tidak peduli.Aku hanya takut jika melihat wajahnya, p
Di hari ketiga.Kondisi Lyra sudah jauh lebih baik.Wajahnya memang masih terlihat pucat, tetapi tidak sepucat dua hari sebelumnya.Perdarahan juga sudah kian berkurang.Ia sudah bisa duduk lebih lama tanpa terlihat terlalu lemas. Bahkan pagi tadi, ia sudah mampu berjalan sendiri ke kamar mandi tanpa harus berpegangan pada sisi ranjang. Tanpa harus aku bantu.Dokter yang melakukan pemeriksaan pun mengatakan bahwa kondisinya cukup stabil.Jika tidak ada keluhan lain, kemungkinan besar besok ia sudah diperbolehkan pulang.Seharusnya kabar itu membuatku lega.Dan memang, aku merasa lega. Karena setidaknya aku tidak lagi harus melihatnya terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Namun entah kenapa, sejak pagi tadi ada perasaan aneh yang memenuhi dada.Aku masih duduk di sofa ketika seorang perawat masuk membawa obat.Setelah memeriksa kondisi Lyra, perawat itu tersenyum. "Ibu sudah jauh lebih baik."Lyra mengangguk pelan. "Iya, Sus.""Sudah bisa jalan?""Sudah. Pelan-pelan.""Kemajuan
Belum mampu memanggilnya dengan panggilan kesayangan.Belum mampu mengusap rambutnya sambil mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.Karena kenyataannya ....Tidak ada yang baik-baik saja.Anak kami sudah pergi dan luka ini masih terlalu baru.Aku mengembuskan napas pelan. "Jangan bicarakan tentang pekerjaan lagi.""Tapi—""Saya bilang jangan." Suaraku memang terdengar tegas. Namun tidak sekeras sebelumnya.Lyra kembali terdiam.Aku menatapnya yang masih membelakangiku. "Jangan membuat keputusan besar saat kamu sedang berada dalam kondisi seperti ini.""Karena saya gak tahu apakah keputusan itu benar-benar berasal dari keinginan kamu atau hanya karena kamu sedang merasa bersalah."Lyra perlahan membalikkan tubuh. Matanya yang sembab menatapku.Aku melanjutkan. "Kalau setelah kamu benar-benar pulih kamu masih ingin resign, kita bicarakan.""Kalau setelah beberapa
Hembusan napasku terdengar berat setelah duduk di kursi tepat di samping ranjangnya. Aku menatap wajah Lyra yang terlihat masih pucat. Pun dengan sorot mata yang berbalut luka."Saya di sini," ucapku terdengar dingin dan datar.Kedua tangan k bersilang di dada sambil menatap u memang menemaninya. Aku pula yang merawatnya. Tapi aku tidak bisa bersikap seperti biasa, seolah semua baik-baik saja di antara kami.Jika Lyra terluka dengan sikapku, maka dia berhak mengusirku dari ruangannya ini.Beberapa saat hening. Lyra yang seharusnya mulai tidur belum juga memejamkan matanya. Entah dia memang belum mengantuk atau ada yang mengganjal dalam hatinya. Aku tidak ingin begitu peduli.Aku membawa punggung bersandar pada badan kursi. Mengangkat kedua tangan tinggi-tinggi lalu menggeliat pelan. Merenggangkan otot yang terasa kaku dan pegal. "Pak Mayor ...?" Suara Lyra pelan memanggilku."Hmm?" Aku menjawab sekenanya. Bahk
"Papa gak bisa lakukan itu!” Suara Mas Arland meninggi. “Aku anak Papa!”Om Mahesa berhenti melangkah.Pria paruh baya itu menoleh perlahan dengan tatapan yang terasa jauh lebih dingin dari sebelumnya.“Anak papa seharusnya tahu bagaimana cara menjaga harga diri dan kehormatan keluarganya!”Mas Arl
Kekacauan itu belum selesai.“ARLAND!”Suara berat penuh tekanan mendadak menggema dari deretan kursi keluarga.Seorang pria paruh baya berjas hitam berdiri dengan wajah merah padam. Rahangnya mengeras menahan malu.Mahesa Maheswara, Papa Mas Arland.Tatapannya langsung menusuk pada putranya sendir
Ballroom megah itu berubah kacau hanya dalam hitungan detik.Suara bisik-bisik tamu mulai bercampur dengan seruan kaget dan tatapan jijik yang mengarah pada Mas Arland.Beberapa orang tua bahkan buru-buru menutupi mata anak mereka. Namun video itu terus berjalan tanpa ada yang bisa menghentikan.Wa
“Kita pikirkan hal lainnya nanti. Sekarang kita fokus saja pada hari H yang semakin dekat,” ucap Ravyan tenang. Aku hanya bisa menatapnya dengan jantung yang berdetak aneh. Sedangkan laki-laki itu hanya tersenyum kecil sebelum kembali menyeruput minumannya seolah pembicaraan tentang pernikahan da







