LOGINBab 121 Manfaat
Pagi hari di Distrik Satu kembali dipenuhi kesibukan.Puluhan pekerja lalu-lalang mengangkut material.Suara palu dan gergaji terdengar dari segala arah.Sementara di tengah lokasi pembangunan—seorang Archmage Agung sedang berusaha mati-matian membuktikan bahwa dirinya bukan bayi."Mmph!"(Aku bisa!)"Mmph!!"(Aku pasti lulus!)Duke Valerian Isabella berdiri di atas tumpukan batu pualam.Walaupun masih mengenakan jumper lumba-lumbaBab 300 — Cinta Ayah (Season 1 Finale)Tiga hari berlalu.Istana Aethelgard berdiri kembali. Lebih kokoh. Setiap batu yang tersusun menyimpan cerita. Keringat rakyat. Tawa anak-anak. Tangan raja yang ikut mengangkat balok.Dan di samping Momo Cafe —Sebuah bangunan baru.Dua lantai. Dinding putih bersih. Jendela-jendela besar yang membiarkan cahaya matahari masuk. Halaman luas dengan ayunan dan bangku-bangku kayu. Taman kecil di sisi kiri — bunga-bunga yang baru ditanam oleh Elena.Di atas pintu utama, sebuah papan nama kosong menunggu diberi nama.Rakyat berkumpul. Bangsawan hadir. Anak-anak asuh Raka berdiri di barisan depan.Pita merah membentang di depan pintu utama.Lady Veronika melangkah maju, membawa gunting emas di atas bantal beludru. Senyumnya anggun — tapi matanya hangat."Raka."Dia menyerahkan gunting itu."Ini milikmu. Gedung ini ada karena kerja kerasmu — dan keputusanmu."Raka menerima gunting itu. Menatapnya sejenak.Veronika tersenyum."Ayo, gunting pitanya. Kau aka
Bab 299 — Gotong Royong Pintu Momo Cafe terbuka.Cahaya pagi menyambut mereka — hangat, cerah, dan penuh suara.Raka melangkah keluar. Diikuti yang lain.Dan pemandangan di depan mereka—RAMAI.Ratusan rakyat Aethelgard bergerak di reruntuhan istana. Batu diangkat. Kayu digergaji. Tali ditarik. Dinding mulai berdiri kembali — satu per satu, dengan tangan-tangan yang penuh keringat.Tidak ada sihir. Tidak ada perintah raja.Hanya rakyat biasa — petani, pedagang, tukang kayu, pandai besi — bekerja bersama. Bahu-membahu.Seorang pria tua mengangkat balok kayu bersama pemuda yang bahkan belum cukup umur untuk masuk akademi. Dua wanita menyusun bata dengan presisi yang mengalahkan tukang bangunan profesional.Di kejauhan, beberapa anak kecil mengumpulkan batu-batu kecil. Mereka tidak cukup kuat untuk mengangkat balok, tetapi tetap ingin membantu.Seorang tukang kayu tertawa ketika seorang anak menyerahkan palu yang hampir sebesar lengannya."Terima kasih, Paman!""Jangan sampai kena kakim
Bab 298 — Kabar BaikRaka menatap Veronika yang baru saja duduk di kursi depan meja bar."Kabar baik apa, Lady?"Veronika tersenyum. Bukan senyum bisnis — senyum puas."Lemonade Sunlight botolan... sukses besar."Hening sejenak."Kota-kota besar di seluruh Aethelgard sudah memesan ulang tiga kali dalam sebulan. Efek peremajaan kulitnya langsung terasa — pelanggan bisa melihat hasilnya dalam hitungan hari."Veronika mengeluarkan selembar laporan dari tasnya dan meletakkannya di meja."Dan bukan hanya itu. Karena efeknya nyata, permintaan di lini kosmetik bisniku juga ikut meningkat. Logikanya sederhana — setelah tampil lebih muda, mereka ingin tampil lebih cantik."Dia mengetuk laporan itu dengan jari."Keuntungan bersih bulan ini — tiga kali lipat dari proyeksi awal."Raka melotot."Tiga kali lipat?"Veronika menatap Raka."Sesuai kesepakatan kita — hasil keuntungan dari Lemonade Sunlight akan digunakan untuk mendirikan panti asuhan."DEG.Raka terdiam.Di hadapannya — panel transpara
Bab 297 — Permintaan Raka bangkit dari kasur. Pelan. Tubuhnya masih protes — tapi kepalanya sudah jernih. Dia menatap Helios yang masih memakai popok motif kucing. Lalu Marco yang masih pakai onesie motif beruang. Raka menjentikkan jari.CTEK. FWUSH. Cahaya tipis menyelimuti keduanya — dan dalam sekejap, pakaian bangsawan mereka kembali. Jubah kerajaan Helios. Setelan resmi Marco. Amanda menatap dari belakang. "Yaah... padahal lucu." PLAK. Helios menjitak kepala Amanda. "Lucu darimana?!" Amanda memegangi kepalanya. "Aduh, kak" Helios terdiam. Wajahnya yang tadi merah karena malu perlahan melunak. Lalu menundukkan kepala. "...Terima kasih, Kak Raka." Marco juga membungkuk. Matanya berkaca-kaca — tapi dia cepat-cepat mengusapnya. "Terima kasih, sudah mengembalikan pakaian kami" Raka mengangguk. "Sam
Bab 296 — RumahGelap.Hangat.Raka berdiri di tempat yang tidak ia kenali — tapi TERASA familiar.Padang rumput luas. Langit senja. Angin sepoi yang membawa aroma masakan rumah.Dan di depannya — dua orang.Wanita berambut panjang. Senyumnya lembut. Tangan yang dulu selalu mengelus kepalanya.Pria bertubuh tegap. Wajah tegas, tapi mata yang hangat.Ibu. Ayah."...Ibu? Ayah?"Ibunya tersenyum."Kamu sudah besar, Raka."Ayahnya mengangguk. Bangga."Kami melihat semuanya."Raka merasakan matanya panas."Aku... aku cuma babysitter—""Kamu menjaga mereka." Ibunya mendekat. Tangannya menyentuh pipi Raka — hangat. Nyata. "Itu lebih dari cukup."Ayahnya menepuk bahunya."Pulang, Raka. Mereka menunggumu."Raka ingin mengatakan sesuatu. Banyak hal yang selama ini tidak sempat ia ucapkan.Tapi suaranya tidak keluar.
Bab 295 — Terlambat Derap kaki. Ratusan. Berat. Teratur. Debu terangkat dari jalur utama menuju medan perang — barisan demi barisan prajurit berlapis armor, membawa pedang, tombak, perisai. Di barisan depan — dua orang. Frans. Informan guild. Pedang terhunus. Wajah tegang. Matanya menyipit menatap langit yang masih gelap oleh sisa-sisa aura kegelapan. Dan di sebelahnya — Roland. Ketua Guild Petualang. Pria tua yang bahunya selebar lemari, membawa kapak raksasa di punggungnya. "PERCEPAT LANGKAH!" Roland berteriak ke belakang. "RAJA IBLIS TIDAK AKAN MENUNGGU KITA—" Mereka tiba di medan perang. Lalu berhenti. ... Tidak ada pertarungan. Tidak ada kegelapan yang membara. Tidak ada Raja Iblis. Yang ada — tanah gosong. Bekas lingkaran segel. Kawah-kawah bekas ledakan. Dan sekelompok orang yang duduk kelelahan di antara reruntuhan. Frans menur
Bab 11: Bangsawan Di sudut gelap kandang kuda akademi yang berbau jerami dan tanah basah, Kael mengerang frustrasi. Urat-urat di leher dan lengannya menonjol ekstrem, memancarkan aura emas kemerahan khas ksatria Rank A yang sedang memusatkan seluruh energinya. Tangannya mencengkeram erat ujung pop
Bab 10: berontak Halaman belakang akademi kini menjadi sangat bersih, bahkan hampir mengkilap. Belasan senior dari tim elit Golden Griffon baru saja melesat pergi secepat kilat setelah meletakkan sapu mereka. Mereka meninggalkan debu yang mengepul dan aroma ketakutan yang pekat; seolah-olah mereka
Bab 9: disiplin Sambil lanjut menyapu dedaunan kering yang berguguran di halaman belakang akademi, Raka merasakan saku celananya bergetar hebat. Ia merogoh botol susu artefaknya yang kini berpendar merah muda lembut. Jendela sistem muncul secara otomatis, memuntahkan rentetan notifikasi yang mem
Bab 8: keadilanDebu pertempuran telah mengendap, namun atmosfer di Aula Utama Akademi Aethelgard justru memuncak hingga ke titik didih. Di tengah ruangan yang megah itu, Raka berdiri dengan tenang meskipun kedua tangannya terborgol sihir penekan mana yang berpendar ungu gelap. Di sampingnya,







