مشاركة

Bab 3

مؤلف: bluaeya
last update تاريخ النشر: 2026-06-28 22:59:22

Ruangan itu lebih besar daripada apartemen Evelyn. Kasur king size sutra berwarna krem, lemari pakaian kayu jati, balkon pribadi, dan kamar mandi pribadi. Namun bagi Evelyn, terasa seperti kandang emas.

“Aku mau pulang.” katanya pelan.

“Kamu nggak punya rumah lagi.” Kalimat itu menusuk di dadanya.

“Apa maksudmu?”

“Apartemenmu sudah dikosongkan.”

Evelyn menatap Bram tidak percaya. “Kamu ngapain? Kamu nggak punya hak untuk melakukan itu!”

“Barang-barangmu juga sudah dipindahkan ke sini.” Bram menunjuk lemari di sudut ruangan. “Semua dokumen pentingmu juga sudah ada di ruang kerjaku.”

“Kamu nggak punya hak!” Suara Evelyn mulai meninggi, dadanya naik turun dengan cepat. “Itu apartemenku! Itu hidupku!”

“Aku punya hak.” Nada datar itu membuat darah Evelyn mendidih. “Aku punya semua hak karena aku yang membayar utang ayahmu dan aku yang menyelamatkan nyawa adikmu.”

“Aku bukan barang yang bisa kamu pindah-pindah sesuka hati!”

Bram tidak menanggapi, ia hanya menoleh ke arah seorang pelayan muda yang berdiri di sudut koridor. “Lina.”

Seorang pelayan muda dengan seragam rapi segera mendekat. “Iya, Tuan.”

“Tunjukkan dapur.”

Evelyn mengernyit. “Untuk apa?”

Bram menatapnya. “Aku minum kopi hitam setiap malam sebelum tidur, buatkan untukku.”

Evelyn hampir tertawa karena tidak percaya. “Kamu serius? Aku bukan pembantumu.”

“Kamu tinggal di rumahku, jadi kamu harus mengikuti aturanku.” Bram menatapnya tajam. “Aku memberimu tempat tinggal, makanan, dan keselamatan untuk adikmu. Sebagai gantinya, kamu melakukan apa yang aku perintahkan.”

Tatapan mereka bertemu, tak satu pun dari mereka mau mengalah.

“Kalau nggak, kamu bisa kembali ke apartemen kosongmu. Rara tetap di rumah sakit tanpa perawatan.” Bram melanjutkan dengan nada tenang tapi mengancam.

Akhirnya Evelyn membuang napas kasar. Ia menoleh ke arah pelayan yang bernama Lina. “Tunjukkan aku dapurnya.”

~~~

Lima belas menit kemudian, Secangkir kopi hitam diletakkan di meja kerja Bram.

Pria itu sedang membaca dokumen tanpa mengangkat kepala.

“Ini kopinya.” kata Evelyn dengan nada datar.

“Hm.”

Evelyn berbalik untuk pergi, tetapi suara Bram menghentikannya. “Kalau sudah, bereskan kamar utama.”

Evelyn langsung menoleh. “Apa?”

“Sprei diganti, lemari dirapikan, dan meja kerja dibersihkan.” Bram masih tidak mengangkat kepala dari dokumennya, tangannya menulis di kertas.

Kesabarannya habis. “Aku bilang aku bukan pembantu!” Suaranya meninggi, menggema di ruangan besar itu.

Bram akhirnya mengangkat kepala. Matanya menatap Evelyn hingga membuat bulu kuduknya berdiri.

“Kalau begitu buktikan kalau di rumah ini kamu punya nilai selain jadi beban.” Suaranya tetap rendah, tapi setiap kata terasa seperti pukulan. “Kamu nggak masak, kamu nggak punya keterampilan berguna. Satu-satunya alasan kamu di sini karena aku membayar utang ayahmu. Jadi, berikan alasan untuk nggak menganggapmu sebagai beban.”

Evelyn terdiam. Ia ingin membantah, tapi tertahan di tenggorokan. Ia hanyalah gadis miskin yang dibeli untuk melunasi utang.

“Pergi ke kamar utama sekarang.” ulang Bram dengan tenang.

Dengan langkah berat, Evelyn meninggalkan ruangan.

~~~

Malam semakin larut. Rumah raksasa itu mulai sepi, lampu-lampu redup menyala di koridor.

Saat semua orang sibuk dengan urusan masing-masing, Evelyn diam-diam mengunci pintu kamar tamunya. Ia menempelkan telinga di pintu, memastikan tidak ada suara langkah di koridor.

Tangannya meraih ponsel yang ia sembunyikan di bawah bantal, masih ada baterai. Ia buru-buru mencari nomor sahabatnya, Maya. Satu-satunya orang yang mungkin bisa membantunya.

“Angkat... ayo angkat....”

Nada sambung berbunyi sekali, dua kali, tiga kali. Jantung Evelyn berdegup kencang. Ia berjalan mondar-mandir di kamar, berharap Maya mengangkat telepon.

Belum sempat panggilan tersambung—

Klik.

Pintu kamar terbuka.

Evelyn membelalak kaget. “Kok bisa—”

Bram masuk begitu saja, tanpa ketukan, tanpa permisi. Di tangannya ada kunci cadangan. Wajahnya tenang, matanya tajam menatap ponsel di tangan Evelyn.

“Kamu sedang apa?” tanyanya datar.

Evelyn menutup telepon dengan buru-buru. “Nggak ada urusan sama kamu.”

Bram berjalan mendekat.

Refleks Evelyn menyembunyikan ponselnya di belakang tubuh. “Aku cuma mau menelepon teman.”

“Kamu belum dapat izinku.”

“Aku nggak butuh izinmu!” Suara Evelyn mulai bergetar. “Aku bukan tahananmu!”

Dalam satu gerakan cepat, Bram meraih pergelangan tangannya. Ponsel itu terlepas dari genggaman Evelyn. Dengan mudah, benda itu berpindah ke tangannya.

“Heh! Balikin!” Evelyn berusaha merebutnya. Ia melompat, mencoba meraih tangan Bram yang terangkat tinggi. “Balikin, bajingan!”

Bram dengan santai memasukkan ponsel itu ke saku jasnya. “Mulai sekarang semua komunikasi keluar harus sepengetahuanku, nggak ada panggilan tanpa izin.”

“Kamu gila!” Evelyn berteriak. “Kamu benar-benar gila! Aku bukan budakmu!”

“Mungkin.” Bram menatapnya dengan tenang. “Tapi kamu tetap tinggal di bawah pengawasanku dan nggak ada yang bisa membantumu.”

“Kamu nggak bisa ngatur hidupku terus!”

“Aku bisa karena mulai hari ini seluruh hidupmu sudah menjadi bagian dari hidupku.” katanya akhirnya.

Bram berbalik menuju pintu, tangannya sudah menyentuh gagang ketika ia berkata tanpa menoleh. “Mulai besok malam kamu tidur di kamarku.”

“Apa?” bisik Evelyn, tidak percaya.

“Kamu dengar aku, jangan pura-pura.” Bram tetap tidak menoleh. “Sebagai calon istriku, kamu harus terbiasa. Selain itu, aku nggak percaya kamu. Kan lebih mudah mengawasimu kalau kamu di dekatku.”

“Aku nggak akan—”

“Jangan coba kabur. Nggak akan ada pintu yang terbuka untukmu. Semua pintu akan terkunci dan kalau kamu mencoba kabur, Rara yang akan membayarnya.”

Pintu kamar tertutup. Bunyi kunci berputar dari luar lalu langkah kakinya menjauh.

~~~

Seorang desainer mengeluarkan gaun pengantin berwarna putih gading dari kotak eksklusif beludru merah.

“Gaun ini terlalu mewah buat orang seperti kamu.” Kalimat itu meluncur dari bibir Ibu Wijaya.

Ruangan fitting mendadak sunyi. Beberapa asisten menundukkan kepala, pura-pura sibuk. Desainer yang membawa gaun itu canggung.

Evelyn berdiri kaku di depan cermin besar. Gaun yang terhampar di atas meja itu indah. Seumur hidup, Evelyn tak pernah membayangkan akan mengenakan gaun semahal itu. Sayangnya, gaun itu dipakai bukan karena cinta.

“Kenapa diam?” sindir Tante Wijaya sambil menyilangkan tangan di dada. “Apa kamu takut mengotorinya? Atau mungkin kamu nggak tahu cara memakainya? Aku lupa, gadis sepertimu pasti nggak pernah melihat gaun sebagus ini sebelumnya.”

Evelyn menarik napas panjang, berusaha menahan amarah yang naik turun di dadanya. “Saya nggak meminta semua ini.”

“Tapi kamu menikmatinya.” Tatapan wanita itu penuh hinaan, menyusuri tubuh Evelyn dari ujung rambut sampai ujung kaki. “Gadis miskin sepertimu pasti langsung lupa diri begitu melihat kemewahan. Aku bisa melihat matamu berbinar-binar.”

“Aku nggak seperti itu.” Suara Evelyn bergetar, tapi ia berusaha terdengar tegas.

“Oh?” Tante Wijaya tertawa kecil. “Lalu kenapa sekarang kamu berdiri di sini, di rumah keluargaku, dengan gaun yang harganya bisa membeli kampungmu? Bukankah keluargamu menjualmu demi utang? Ayahmu sendiri yang menyerahkanmu pada Bram, bukan?”

Ucapan itu terasa seperti tamparan keras di pipi. Evelyn merasakan kepalanya berdenyut.

“Silakan dicoba, Nona.” ujar perias dengan hati-hati, berusaha memecah ketegangan. Wanita muda itu tersenyum tipis dengan mata penuh iba.

Evelyn mengangguk. Ia meraih gaun itu gemetar. Dengan langkah berat, ia masuk ke ruang ganti yang besar dan tertutup tirai beludru tebal.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Dipaksa Menjadi Nyonya Besar   54. Batal

    “Mulai minggu depan, seluruh tamu keluarga yang ingin bertemu Evelyn harus dijadwalkan lebih dulu. Di luar jam kerjanya.” Bram menatap ibunya. “Jika ada tamu yang datang mendadak dan bukan urusan darurat, maka merekalah yang harus menyesuaikan. Evelyn tidak bisa terus-menerus ditarik ke dua arah.”Ibu Wijaya langsung menyela, suaranya naik satu oktaf. “Kalau tamunya mendadak? Kalau ada tamu penting yang datang tanpa pemberitahuan?”“Kalau mendadak dan tidak darurat, Bu, berarti mereka yang menyesuaikan. Kita bisa meminta mereka datang di lain waktu, atau kita bisa menjadwalkan pertemuan di tempat yang lebih netral.”Evelyn berdiri diam beberapa saat, lalu ketika Bram berjalan menuju ruang kerjanya, ia pun mengejarnya.“Bram.”Pria itu menoleh.“Kau tidak perlu membuat aturan baru.” Evelyn menggenggam tangannya sendiri, mencari kata-kata yang tepat. “Aku bisa mengatur jadwalku sendiri. Aku tidak ingin kau berselisih dengan Ibu hanya karena aku.”Bram menatapnya beberapa detik, lalu men

  • Dipaksa Menjadi Nyonya Besar   53. Telepon

    Keesokan paginya pukul sembilan tepat, mobil Bram berhenti di depan pintu masuk utama.Evelyn menarik napas dalam-dalam, merapikan blazer yang ia kenakan dan melangkah keluar. Bram mengikuti di sampingnya.Di lobi, Pak Surya dan Clarissa sudah menunggu. Clarissa berdiri di samping ayahnya, ia membawa map yang sudah direvisi.Pak Surya maju lebih dulu, tangannya terulur untuk menjabat Bram. “Terima kasih sudah memajukan jadwal, Bram.”Bram menjabat tangannya. “Silakan, Pak Surya.” Mereka masuk ke ruangan.Ruangan itu lebih kecil dari ruang rapat utama, hanya cukup untuk meja bundar dengan enam kursi di sekelilingnya. Clarissa langsung membagikan proposal yang telah direvisi kepada semua orang di meja dengan salinan tambahan untuk Maya. Evelyn membuka halaman pertama, membaca setiap baris, memeriksa setiap angka, membandingkan revisi dengan proposal awal. Evelyn membalik halaman terakhir, lalu menutup map itu dan meletakkannya di atas meja. Ia menatap Clarissa dengan mata yang tulu

  • Dipaksa Menjadi Nyonya Besar   52. Aturan

    Malam tiba.Seluruh penghuni utama berkumpul di ruang keluarga, duduk di sofa-sofa, menunggu apa yang akan disampaikan Ibu Wijaya.Ibu Wijaya duduk di kursi tunggal. Di hadapannya, sebuah map terbuka sudah ia siapkan sebelumnya.Bram duduk di sebelah Evelyn di sofa utama. Kevin memilih duduk di sofa panjang bersama Rara.Ibu Wijaya membuka map itu. “Aku tidak akan berbicara lama. Rumah ini semakin ramai, tamu keluar masuk tanpa jadwal yang jelas, kegiatan bertambah, dan karena itu mulai hari ini ada beberapa aturan baru yang harus dipatuhi penghuni mansion.”Kevin mengembuskan napas pelan.Ibu Wijaya membaca poin pertama. “Setiap tamu yang datang ke mansion wajib melalui persetujuanku terlebih dahulu, tidak ada tamu yang boleh masuk ke ruang tamu utama tanpa seizinku.”Bram menyela dengan suara datar tapi tegas. “Tidak.”Ibu Wijaya menoleh, alisnya terangkat karena terkejut dengan interupsi putranya. “Apa maksudmu, Bram?”“Kalau tamu datang untuk urusan pekerjaan Evelyn, mereka tetap

  • Dipaksa Menjadi Nyonya Besar   51. Rencana

    Di mansion, sore itu Kak Sari sedang membantu Rara menyiram tanaman di taman belakang.Dari balkon lantai dua, Ibu Wijaya memperhatikan mereka dalam diam. Tangannya menggenggam erat pagar balkon.Tatapannya beralih ke halaman depan mansion yang kini lebih sering dipenuhi mobil-mobil tamu dan semua itu datang untuk menemui Evelyn.Ia menyadari, perlahan Evelyn mulai memiliki tempat di keluarga Wijaya. Semakin banyak orang yang datang ke mansion bukan lagi untuk menemui Bram, melainkan untuk bertemu Nyonya Evelyn Wijaya.Kemudian, ia berbalik memasuki kamarnya. Ia menarik napas panjang dan menekan bel kecil di atas meja.Bel itu berbunyi, tak lama setelah itu langkah kaki Pak Budi terdengar mendekati pintu. Ia mengetuk pelan sebelum masuk dengan sikap hormat. “Anda memanggil saya, Nyonya?”Ibu Wijaya menunjuk kursi di hadapannya. “Duduk.”Pak Budi tetap berdiri dengan tegak, tangannya di belakang punggung. “Saya lebih nyaman berdiri, Nyonya. Terima kasih.”Ibu Wijaya tidak mempermasalah

  • Dipaksa Menjadi Nyonya Besar   50. Keras

    Sesampainya di mansion, suasana sore yang tenang langsung menyambut mereka. Pak Budi yang sudah menunggu di pintu membukakan pintu.“Selamat sore, Tuan. Nyonya.”“Rara di mana?” tanya Evelyn, sudah tidak sabar untuk melihat adiknya.“Sedang belajar membaca bersama Kak Sari di ruang belajar kecil, Nyonya.”Evelyn langsung menuju ruang belajar di ujung koridor. Di sana, ia menemukan Rara duduk di meja kecil dengan buku terbuka di hadapannya. Kak Sari duduk di sampingnya, sesekali membetulkan posisi buku.Rara menoleh dan senyumnya langsung melebar. “Kak Evelyn!” Ia langsung berlari meninggalkan bukunya, memeluk kakaknya dengan erat. “Lihat, aku sudah bisa membaca satu halaman sendiri!”Evelyn tersenyum bangga, membalas pelukan adiknya. “Hebat sekali, Ra.”Kevin yang duduk di sofa di sudut ruangan, ikut bertepuk tangan. “Nah, sebentar lagi kamu bisa baca buku cerita sendiri.”Rara menggeleng cepat, matanya membulat. “Nggak mau, maunya tetap dibacain Kak Kevin.”Kevin tertawa, mengacak ra

  • Dipaksa Menjadi Nyonya Besar   49. Proposal

    Evelyn menatap Bram sekilas, mencari konfirmasi. Bram tidak mengatakan apa pun. Ia hanya menyesap kopinya dengan tenang.Evelyn kembali memandang Sinta. “Saya tidak mengatakan ditolak, Nona Sinta. Saya mengatakan bahwa proposal ini perlu direvisi.”Sinta menyilangkan tangan, senyumnya berubah menjadi seringai tipis. “Direvisi? Kau cukup berani memberi masukan. Biasanya orang butuh waktu untuk membangun keberanian sebelum mengkritik proposalku.”Evelyn tersenyum tipis. “Saya hanya menjalankan tanggung jawab saya, Nona Sinta.”Sinta mengembuskan napas pelan, ia mengambil kembali proposal itu. “Baiklah.”Ia berdiri, lalu memandang Bram. “Aku tidak menyangka sekarang semua keputusan harus melewati istrimu, Bram.”Bram mengangguk tipis. “Sampai bertemu lagi, Sinta. Semoga revisi proposalnya berjalan lancar.”Sinta menatap Evelyn sekali lagi, lalu berbalik dan melangkah keluar.Evelyn menatap pintu yang baru saja tertutup. “Apa aku tadi terlalu keras?”Bram menggeleng, meletakkan cangkir ko

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status