MasukRuangan itu lebih besar daripada apartemen Evelyn. Kasur king size sutra berwarna krem, lemari pakaian kayu jati, balkon pribadi, dan kamar mandi pribadi. Namun bagi Evelyn, terasa seperti kandang emas.
“Aku mau pulang.” katanya pelan. “Kamu nggak punya rumah lagi.” Kalimat itu menusuk di dadanya. “Apa maksudmu?” “Apartemenmu sudah dikosongkan.” Evelyn menatap Bram tidak percaya. “Kamu ngapain? Kamu nggak punya hak untuk melakukan itu!” “Barang-barangmu juga sudah dipindahkan ke sini.” Bram menunjuk lemari di sudut ruangan. “Semua dokumen pentingmu juga sudah ada di ruang kerjaku.” “Kamu nggak punya hak!” Suara Evelyn mulai meninggi, dadanya naik turun dengan cepat. “Itu apartemenku! Itu hidupku!” “Aku punya hak.” Nada datar itu membuat darah Evelyn mendidih. “Aku punya semua hak karena aku yang membayar utang ayahmu dan aku yang menyelamatkan nyawa adikmu.” “Aku bukan barang yang bisa kamu pindah-pindah sesuka hati!” Bram tidak menanggapi, ia hanya menoleh ke arah seorang pelayan muda yang berdiri di sudut koridor. “Lina.” Seorang pelayan muda dengan seragam rapi segera mendekat. “Iya, Tuan.” “Tunjukkan dapur.” Evelyn mengernyit. “Untuk apa?” Bram menatapnya. “Aku minum kopi hitam setiap malam sebelum tidur, buatkan untukku.” Evelyn hampir tertawa karena tidak percaya. “Kamu serius? Aku bukan pembantumu.” “Kamu tinggal di rumahku, jadi kamu harus mengikuti aturanku.” Bram menatapnya tajam. “Aku memberimu tempat tinggal, makanan, dan keselamatan untuk adikmu. Sebagai gantinya, kamu melakukan apa yang aku perintahkan.” Tatapan mereka bertemu, tak satu pun dari mereka mau mengalah. “Kalau nggak, kamu bisa kembali ke apartemen kosongmu. Rara tetap di rumah sakit tanpa perawatan.” Bram melanjutkan dengan nada tenang tapi mengancam. Akhirnya Evelyn membuang napas kasar. Ia menoleh ke arah pelayan yang bernama Lina. “Tunjukkan aku dapurnya.” ~~~ Lima belas menit kemudian, Secangkir kopi hitam diletakkan di meja kerja Bram. Pria itu sedang membaca dokumen tanpa mengangkat kepala. “Ini kopinya.” kata Evelyn dengan nada datar. “Hm.” Evelyn berbalik untuk pergi, tetapi suara Bram menghentikannya. “Kalau sudah, bereskan kamar utama.” Evelyn langsung menoleh. “Apa?” “Sprei diganti, lemari dirapikan, dan meja kerja dibersihkan.” Bram masih tidak mengangkat kepala dari dokumennya, tangannya menulis di kertas. Kesabarannya habis. “Aku bilang aku bukan pembantu!” Suaranya meninggi, menggema di ruangan besar itu. Bram akhirnya mengangkat kepala. Matanya menatap Evelyn hingga membuat bulu kuduknya berdiri. “Kalau begitu buktikan kalau di rumah ini kamu punya nilai selain jadi beban.” Suaranya tetap rendah, tapi setiap kata terasa seperti pukulan. “Kamu nggak masak, kamu nggak punya keterampilan berguna. Satu-satunya alasan kamu di sini karena aku membayar utang ayahmu. Jadi, berikan alasan untuk nggak menganggapmu sebagai beban.” Evelyn terdiam. Ia ingin membantah, tapi tertahan di tenggorokan. Ia hanyalah gadis miskin yang dibeli untuk melunasi utang. “Pergi ke kamar utama sekarang.” ulang Bram dengan tenang. Dengan langkah berat, Evelyn meninggalkan ruangan. ~~~ Malam semakin larut. Rumah raksasa itu mulai sepi, lampu-lampu redup menyala di koridor. Saat semua orang sibuk dengan urusan masing-masing, Evelyn diam-diam mengunci pintu kamar tamunya. Ia menempelkan telinga di pintu, memastikan tidak ada suara langkah di koridor. Tangannya meraih ponsel yang ia sembunyikan di bawah bantal, masih ada baterai. Ia buru-buru mencari nomor sahabatnya, Maya. Satu-satunya orang yang mungkin bisa membantunya. “Angkat... ayo angkat....” Nada sambung berbunyi sekali, dua kali, tiga kali. Jantung Evelyn berdegup kencang. Ia berjalan mondar-mandir di kamar, berharap Maya mengangkat telepon. Belum sempat panggilan tersambung— Klik. Pintu kamar terbuka. Evelyn membelalak kaget. “Kok bisa—” Bram masuk begitu saja, tanpa ketukan, tanpa permisi. Di tangannya ada kunci cadangan. Wajahnya tenang, matanya tajam menatap ponsel di tangan Evelyn. “Kamu sedang apa?” tanyanya datar. Evelyn menutup telepon dengan buru-buru. “Nggak ada urusan sama kamu.” Bram berjalan mendekat. Refleks Evelyn menyembunyikan ponselnya di belakang tubuh. “Aku cuma mau menelepon teman.” “Kamu belum dapat izinku.” “Aku nggak butuh izinmu!” Suara Evelyn mulai bergetar. “Aku bukan tahananmu!” Dalam satu gerakan cepat, Bram meraih pergelangan tangannya. Ponsel itu terlepas dari genggaman Evelyn. Dengan mudah, benda itu berpindah ke tangannya. “Heh! Balikin!” Evelyn berusaha merebutnya. Ia melompat, mencoba meraih tangan Bram yang terangkat tinggi. “Balikin, bajingan!” Bram dengan santai memasukkan ponsel itu ke saku jasnya. “Mulai sekarang semua komunikasi keluar harus sepengetahuanku, nggak ada panggilan tanpa izin.” “Kamu gila!” Evelyn berteriak. “Kamu benar-benar gila! Aku bukan budakmu!” “Mungkin.” Bram menatapnya dengan tenang. “Tapi kamu tetap tinggal di bawah pengawasanku dan nggak ada yang bisa membantumu.” “Kamu nggak bisa ngatur hidupku terus!” “Aku bisa karena mulai hari ini seluruh hidupmu sudah menjadi bagian dari hidupku.” katanya akhirnya. Bram berbalik menuju pintu, tangannya sudah menyentuh gagang ketika ia berkata tanpa menoleh. “Mulai besok malam kamu tidur di kamarku.” “Apa?” bisik Evelyn, tidak percaya. “Kamu dengar aku, jangan pura-pura.” Bram tetap tidak menoleh. “Sebagai calon istriku, kamu harus terbiasa. Selain itu, aku nggak percaya kamu. Kan lebih mudah mengawasimu kalau kamu di dekatku.” “Aku nggak akan—” “Jangan coba kabur. Nggak akan ada pintu yang terbuka untukmu. Semua pintu akan terkunci dan kalau kamu mencoba kabur, Rara yang akan membayarnya.” Pintu kamar tertutup. Bunyi kunci berputar dari luar lalu langkah kakinya menjauh. ~~~ Seorang desainer mengeluarkan gaun pengantin berwarna putih gading dari kotak eksklusif beludru merah. “Gaun ini terlalu mewah buat orang seperti kamu.” Kalimat itu meluncur dari bibir Ibu Wijaya. Ruangan fitting mendadak sunyi. Beberapa asisten menundukkan kepala, pura-pura sibuk. Desainer yang membawa gaun itu canggung. Evelyn berdiri kaku di depan cermin besar. Gaun yang terhampar di atas meja itu indah. Seumur hidup, Evelyn tak pernah membayangkan akan mengenakan gaun semahal itu. Sayangnya, gaun itu dipakai bukan karena cinta. “Kenapa diam?” sindir Tante Wijaya sambil menyilangkan tangan di dada. “Apa kamu takut mengotorinya? Atau mungkin kamu nggak tahu cara memakainya? Aku lupa, gadis sepertimu pasti nggak pernah melihat gaun sebagus ini sebelumnya.” Evelyn menarik napas panjang, berusaha menahan amarah yang naik turun di dadanya. “Saya nggak meminta semua ini.” “Tapi kamu menikmatinya.” Tatapan wanita itu penuh hinaan, menyusuri tubuh Evelyn dari ujung rambut sampai ujung kaki. “Gadis miskin sepertimu pasti langsung lupa diri begitu melihat kemewahan. Aku bisa melihat matamu berbinar-binar.” “Aku nggak seperti itu.” Suara Evelyn bergetar, tapi ia berusaha terdengar tegas. “Oh?” Tante Wijaya tertawa kecil. “Lalu kenapa sekarang kamu berdiri di sini, di rumah keluargaku, dengan gaun yang harganya bisa membeli kampungmu? Bukankah keluargamu menjualmu demi utang? Ayahmu sendiri yang menyerahkanmu pada Bram, bukan?” Ucapan itu terasa seperti tamparan keras di pipi. Evelyn merasakan kepalanya berdenyut. “Silakan dicoba, Nona.” ujar perias dengan hati-hati, berusaha memecah ketegangan. Wanita muda itu tersenyum tipis dengan mata penuh iba. Evelyn mengangguk. Ia meraih gaun itu gemetar. Dengan langkah berat, ia masuk ke ruang ganti yang besar dan tertutup tirai beludru tebal.Menjelang siang, suasana rumah mulai ramai kembali. Sebuah mobil sport putih memasuki halaman mansion. Pelayan segera membukakan pintu. Dari mobil, Sinta turun anggun. Ia membawa map hitam tebal di tangannya. Di sisi lainnya, ia menggenggam tas tangan bermerek. “Bram ada?” tanya Sinta pada pelayan yang menyambutnya. “Di ruang kerja, Nona.” Sinta mengangguk lalu masuk rumah itu. Saat melewati ruang keluarga, ia melihat Evelyn sedang menyiram tanaman di dekat jendela besar. Evelyn mengenakan gaun dan apron hijau, tangannya memegang gembor kecil. “Halo.” sapa Sinta dengan suara lembut. Evelyn hanya mengangguk singkat. Ia tidak memiliki energi untuk berbasa-basi. “Aku datang mengantar dokumen perusahaan, nggak usah tegang.” kata Sinta dengan senyum. Evelyn mengangkat alis. “Benarkah?” Sinta tersenyum lebih lebar. “Iya, aku cuma teman lama Bram.” Ia melangkah mendekat, lalu Sinta berbisik pelan. “Kalau aku jadi kamu, aku nggak akan nyaman tinggal di rumah ini.” Evelyn menatapn
Lambat laun, para tamu berpamitan. Malam mulai larut. Lampu aula perlahan dipadamkan. Para pelayan mulai membersihkan meja-meja. Evelyn berdiri di dekat pintu utama. Bram berdiri di sampingnya memberi salam pada tamu yang berpamitan. “Selamat malam, Bram. Selamat malam, Nyonya Wijaya.” kata Pak Hartono, salah satu kerabat dekat keluarga Wijaya. Ia menepuk punggung Bram. “Semoga cepat diberi momongan ya.” Bram tersenyum tipis. “Terima kasih, Pak.” Evelyn menunduk malu. Setelah semua tamu pergi, Evelyn menghela napas panjang. Seorang pelayan mengantarnya menuju kamar utama di lantai paling atas. Pintu besar terbuka perlahan. Ruangan itu kini dihiasi bunga putih dan lilin-lilin kecil yang menyala redup. Evelyn berdiri di dekat pintu. Kakinya terasa berat untuk melangkah masuk. Ia menggenggam ujung gaunnya erat-erat, mencoba menenangkan jantungnya. Tak lama kemudian, pintu terbuka lagi dan Bram masuk. Ia melepas dasinya dengan kasar, lalu melepas jam tangan mahalnya dan meletakkan
Lambat laun, para tamu berpamitan. Malam mulai larut. Lampu aula perlahan dipadamkan. Para pelayan mulai membersihkan meja-meja. Evelyn berdiri di dekat pintu utama. Bram berdiri di sampingnya memberi salam pada tamu yang berpamitan. “Selamat malam, Bram. Selamat malam, Nyonya Wijaya.” kata Pak Hartono, salah satu kerabat dekat keluarga Wijaya. Ia menepuk punggung Bram. “Semoga cepat diberi momongan ya.” Bram tersenyum tipis. “Terima kasih, Pak.” Evelyn menunduk malu. Setelah semua tamu pergi, Evelyn menghela napas panjang. Seorang pelayan mengantarnya menuju kamar utama di lantai paling atas. Pintu besar terbuka perlahan. Ruangan itu kini dihiasi bunga putih dan lilin-lilin kecil yang menyala redup. Evelyn berdiri di dekat pintu. Kakinya terasa berat untuk melangkah masuk. Ia menggenggam ujung gaunnya erat-erat, mencoba menenangkan jantungnya. Tak lama kemudian, pintu terbuka lagi dan Bram masuk. Ia melepas dasinya dengan kasar, lalu melepas jam tangan mahalnya dan meletakkan
“Saya... bersedia.”Suaranya lirih. Kedua tangannya gemetar di balik buket bunga putih yang ia genggam erat. Bibirnya bergetar, tetapi ia memaksakan diri tetap tegar.Di hadapannya, Bram berdiri dengan setelan jas hitam. Ekspresinya sedingin batu.Penghulu menoleh kepada Bram. “Apakah Saudara Bram Wijaya bersedia menerima Evelyn Widyadana sebagai istri Saudara?”Bram menghela napas pendek. “Saya bersedia.”Penghulu mengangguk. “Mulai hari ini, Saudara berdua resmi menjadi suami istri. Semoga pernikahan ini diberkahi dan dilindungi oleh Yang Maha Kuasa.”Tepuk tangan menggema memenuhi ruangan. Lampu kamera berkilatan dari berbagai arah. Para tamu tersenyum dan mengangkat gelas mereka.Saat cincin disematkan ke jari manisnya, Evelyn hanya mampu menunduk.~~~ Resepsi berlangsung sangat mewah. Evelyn berdiri di dekat meja utama dengan gaun pengantin putih.“Selamat ya, Nyonya Besar.”Suara Ibu Wijaya terdengar di sampingnya. Evelyn menoleh dan melihat wanita paruh baya itu mendekat denga
Tangannya langsung kehilangan tenaga. Otot-ototnya ketakutan. Perlahan, ia menoleh.Bram berdiri dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana. Jas hitamnya masih rapi. Tatapannya dingin menusuk seolah ia sudah tahu rencana Evelyn.“Evelyn.” Suaranya terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja menangkap calon istrinya melarikan diri. “Turun.”Evelyn menggeleng cepat, matanya liar mencari jalan keluar. “Nggak.”“Turun.”“Aku nggak akan menikah sama kamu!” Suaranya bergetar, tapi ia berusaha terdengar tegas. “Aku lebih baik mati daripada menjadi istri orang seperti kamu!”Bram menghela napas pelan, seolah ia sedang menghadapi anak kecil yang keras kepala. “Jangan mempersulit keadaan, Evelyn. Turun dari sana sebelum kamu terluka.”“Yang mempersulit hidupku itu kamu!” Dengan nekat, Evelyn mencoba melompat ke sisi luar pagar. Kaki-kakinya mendorong dinding dengan sekuat tenaga.Namun baru beberapa langkah, sepatu kets murah yang dipakainya tergelincir. Tubuhnya kehilangan keseimbangan.“
Beberapa menit kemudian, Evelyn melangkah keluar.Gaun itu pas di tubuh Evelyn. Rambut hitamnya yang panjang dibiarkan tergerai, membuat wajahnya anggun. Tanpa riasan pun, ia terlihat seperti bidadari yang turun dari lukisan.Para asisten yang sudah terbiasa melihat gaun-gaun mahal saling bertukar pandang dengan mata membulat. Bisikan-bisikan pelan mulai terdengar.“Cantik sekali... seperti putri dari dongeng....”“Gaun itu benar-benar cocok untuknya....”“Seperti bukan orang yang sama....”Namun Tante Wijaya justru mendengus sinis. “Cantik?” Ia tertawa kecil. “Gaun mahal memang bisa mengubah penampilan, tapi nggak bisa mengubah asal-usul. Ingat itu. Kamu boleh memakai sutra dan berlian, tapi darahmu tetaplah darah miskin.”Evelyn mengepalkan kedua tangannya di balik rok gaun. Sebelum sempat menjawab, suara tepuk tangan terdengar dari pintu masuk.“Cantik sekali.”Semua orang menoleh serentak.Seorang wanita berjalan masuk dengan senyum sempurna. Gaun merah menyala memeluk tubuh lang







