로그인Selingkuhan tunanganku datang ke rumah sakit tempatku bekerja, memohon agar aku mau mengalah demi anak yang sedang dikandungnya. Parahnya, keluarga mantan tunanganku malah menyebarkan berita jika aku yang berselingkuh! Aku mencoba ikhlas sampai takdir kembali mempermainkanku dan mempertemukanku dengan Barra--saudara laki-laki dari wanita itu!
더 보기"Saya bersedia menikah dengan putri Ibu!" Gilang berseru dengan lantangnya.
Membuat Ibu Mira dan bunda Alia terlonjak kaget mendengar penuturan Gilang yang tiba-tiba. Seberkas rasa bersalah muncul di benak wajah Bunda Alia saat melihat aura wajah Gilang yang sulit untuk ditebak.Beberapa menit lalu sebelum mendudukkan Gilang, ibu Mira memang memohon pada bunda Alia untuk menjodohkan Gilang dengan anak semata wayangnya, Rara. Ibu Mira pun menceritakan berbagai kekurangan Rara pada bunda Alia, namun saat Gilang dipanggil, pria muda itu mengatakan bersedia menikah sebelum ada kalimat penjelasan yang keluar dari bibir Ibu Mira ataupun bunda Alia."Ma ... maaf, Nak Gilang! Apa yang kamu katakan tadi serius, Nak?" Berbicara dengan nada terbata, ibu Mira mencoba mengkonfirmasi sekali lagi pernyataan tiba-tiba seorang Gilang."Saya serius Bu," ucap Gilang lantang. Wajah damai surganya menunjukkan aura ketenangan tanpa adanya paksaan. Membuat senyum simpul mengembang sempurna di bibir ibu Mira. Bahagia bukan main hatinya saat ini.Masih sedikit ragu, ibu Mira menyanggah pernyataan Gilang. "Ta-ta-tapi—" Gilang memutus pembicaraan ibu Mira secepat kilat. "Tidak ada tapi. Saya serius mau menikahi putri Anda, Bu!"Gilang meremas jemari seraya membenarkan posisi duduknya. Ia harap ini adalah keputusan yang tepat meskipun rasanya berat. "Mohon maaf jika sikap dan kelakuan saya kurang sopan. Terus terang saja tadi saya tidak sengaja mendengar percakapan Anda dan bunda Alia. Jika hanya seperti itu duduk perkaranya, saya bersedia menikahi putri Anda, Bu."Kembali terperanjat, ibu Mira menatap Gilang tidak percaya. "Apa Nak Gilang serius? Selain menderita lumpuh pada kakinya, putriku juga memiliki latar belakang mental yang cukup serius! Semenjak mengalami kecelakaan, hatinya sangat sensitif, dia sering marah-marah, mengamuk, bahkan membanting barang-barang yang ada di rumah. Lebih parahnya lagi, putriku tidak mau didekati oleh siapa pun. Terutama orang asing."Mendengar itu, hati Gilang tidak goyah sama sekali. Niatnya menikah untuk menjalankan kewajibannya sebagai umat Islam. Ia percaya berkah baik akan menghampiri orang-orang yang berhati tulus sepertinya. Terlebih Ibu Mira adalah orang yang sangat baik. Selama ini ia sudah menjadi donatur tetap di panti asuhan tempat ia dibesarkan. Bisa dibilang, Gilang bisa tumbuh besar seperti ini juga berkat bantuan dari Ibu Mira."Ketika saya memberikan jawaban, saya sudah memikirkan hal itu matang-matang, Bu! Saya Rasa lumpuh atau apa pun itu, bukan menjadi penghalang untuk saya menikahi putri Anda!" ucap Gilang meyakinkan keraguan yang ada di dalam hati ibu Mira.Gilang beralih menatap Bunda Alia. Ibu panti sekaligus orang tua asuh yang mengurus Gilang sejak bayi—karena kedua orang tua Gilang katanya menjadi korban tabrak lari dan meninggal di tempat kejadian beberapa tahun silam. "Izinkan aku menikah dengan anak dari Ibu Mira, Bun. Insya Allah berkah," kata Gilang tanpa menghilangkan senyum indah dari bibir tipisnya."Nak, apa kamu sudah benar-benar serius ingin menikah? Kamu adalah panutan anak-anak panti. Jujur saja Bunda sangat memperhatikan kebahagiaanmu." Bunda Alia menunjukkan wajah sedih ketika mendengar keputusan Gilang. Selain menikah dengan putri yang cacat, beliau juga tidak rela jika harus kehilangan berlian paling berharga di panti asuhan tersebut. Maka dari itu, bunda Alia menolak secara terang-terangan saat ibu Mira meminta Gilang untuk menikahi putrinya."Bunda, aku memang belum memiliki perasaan apa pun pada gadis itu. Bahkan kami tidak saling mengenal. Namun, aku yakin ini adalah jalan mudah yang telah Allah berikan kepadaku dalam mencari jodoh. Gilang tidak perlu repot-repot mencari istri di luar sana. Bukankah Allah sangat baik padaku, Bunda?""Masya Allah!" Bunda Alia berdecak kagum dengan mata berkaca-kaca. Baik bunda maupun ibu Mira merasa tersentuh mendengar penuturan Gilang yang luar biasa.Berkata lagi, kali ini ada seulas senyum bahagia terukir manis di bibir manis Gilang. "Gilang bersedia menikah dengan putri Ibu Mira atas izin Allah ta'ala! Saya rasa, menikah tidak harus diawali dengan rasa cinta—cukup yakin bahwa Allah yang maha kuasa akan menunjukkan keajaiban pada hambanya yang berani berserah diri. Sayajuga akan berusaha mencintai putri Ibu Mira dengan segenap hati, menerima kekurangan dan kelebihannya. Semoga saja putri Ibu bisa bersikap demikian terhadap saya," ucap Gilang panjang lebar.Hati Bunda Alia dan Ibu Mira kembali melayang-layang mendengar penuturan lelaki yang hobinya menghafal Al Qur'an itu. Di mana usianya masih terbilang cukup muda yaitu menginjak umur dua puluh lima tahun. Beberapa detik bibir mereka masih kelu dan tak bisa berkata-kata. Terharu dengan ucapan Gilang yang menggetarkan jiwa wanita. Bahkan mereka tersipu mendengar ucapan manis Gilang."Tapi setelah menikahi putri Anda, Saya mempunyai sebuah permintaan, Bu!""I ... iya!" Sadar dari lamunannya, Ibu Mira langsung antusias dan membenarkan sedikit posisi duduknya. "Apa permintaanmu, Nak? Katakan saja. Ibu pasti akan mengabulkan selama itu bukan hal yang mustahil. Kau minta rumah, modal usaha, mobil? Apa pun itu akan kami berikan, Nak Gilang.""Saya tidak ingin yang seperti itu, Bu!" Gilang kembali memamerkan wajah damai surganya. Lengkap dengan senyum indah yang menawan hati."Jika Ibu memang berniat menikahkan putri Ibu dengan saya, maka izinkanlah saya membawa putri Ibu untuk meninggalkan segala kemewahan yang kalian miliki. Pekerjaan saya memang hanyalah pedagang kecil, tetapi saya akan berusaha memenuhi semua kebutuhan istri. Meski dalam jalur sederhana tanpa kemewahan."Walaupun ada sedikit ragu karena anaknya tidak pernah hidup susah, Ibu Mira mencoba mengiyakan permintaan mulia Gilang. Apa salahnya percaya pada lelaki berhati malaikat seperti Gilang."Baik, Nak Gilang! Ibu akan mengizinkanmu membawa Rara bersamamu. Tapi Ibu akan mengkonfirmasi sekali lagi. Kalau boleh tahu, kenapa Nak Gilang bersedia menihaki putriku, Rara? Yang notabene dia adalah gadis tidak layak untuk dinikahi. Apalagi Rara buta dalam hal agama. Keluarga kami memang hanyalah Islam KTP. Itu salah kami karena menjadi orang tua yang tak mampu membimbing putri kami satu-satunya."Gilang tertunduk dalam rasa miris. Juga bersyukur dengan hidupnya selama ini. Meskipun ia anak yatim piatu, setidaknya Gilang memiliki bunda Aulia yang mengajarinya untuk selalu menjadikan Islam sebagai pedoman hidupnya. Sehingga ia dapat merasakan kedamaian hati meski nasibnya tak sebaik anak-anak lain."Bu, Mira! Saya hanya menjalankan syariat agama Islam sesuai dengan kaidah dan ketentuan yang Nabi Muhammad SAW ajarkan pada umatnya. Istri adalah tulang rusuk suaminya. Jika pendampingku belum berada di jalan Allah, maka tugasku adalah membimbing ia ke jalan yang benar. Selama masih diberikan kehidupan, itu artinya putri Anda masih memiliki banyak kesempatan untuk memperbaiki dirinya. Begitupun dengan Anda dan keluarga, Bu Mira."Mira langsung terpukul dalam rasa malu begitu mendengar ucapan Gilang. Ada niat sebesar gunung untuk menyentuh mukenah selepas pulang nanti. Mira benar-benar malu pada Allah. Ia diberikan kemewahan yang berlimpah, namun selalu merasa kurang dan tidak bersyukur dengan berkah sebanyak itu.Gilang berkata lagi, "Wanita itu diciptakan dari tulang rusuk, jika kamu meluruskannya, maka kamu mematahkannya. Jadi, berlemah lembutlah terhadapnya, maka kamu akan dapat hidup bersamanya.”(Sumber: HR. Al-Hakim (IV/174), dan ia menilainya shahih sesuai syarat Muslim, serta disetujui oleh adz-Dzahabi, Ibnu Hibban (no. 1308)."Seperti apa pun sikap istri saya nantinya, saya akan memperlakukannya dengan mulia selayaknya Rasullullah memperlakukan istrinya. Tidak hanya sekedar berjanji, ini adalah sesuatu yang harus aku pertanggungjawabkan kepada Allah di akhirat nanti."Kembali dibuat terkagum-kagum, Ibu Mira sudah tidak mampu berkata apa-apa selain berterima kasih sebanyak-banyaknya kepada Gilang. Ia harap Gilang dapat menjadi Imam yang baik untuk putrinya, Rara."Gilang sudah setuju, maka yang bisa saya lakukan hanyalah mendukung niat baiknya. Maafkan saya karena sempat menolak lamaran ibu Mira. Jujur saya takut menyakiti hati Gilang karena perjodohan ini. Keputusan Gilang untuk menikah benar-benar di luar dugaan saya, Bu!" Bunda Alia merasa tidak enak karena ia memang sempat menolak. Untungnya Ibu Mira kekeh ingin membicarakan masalah ini langsung dengan Gilang."Tidak apa, Bu! Sebagai seorang Ibu, Saya paham bahwa Anda pasti ingin yang terbaik untuk putra Anda," ucap Bu Mira.Bahagia ibu Mira sudah tidak dapat terbendung lagi. Ia bersyukur putrinya akan dinikahi pria yang tepat. Sempurna, baik akhlak dan juga agama tentunya."Terima kasih, Nak Gilang, terima kasih Bunda Alia. Saya sangat bersyukur jika Nak Gilang bersedia menikah dengan Rara tanpa rasa terpaksa."Gilang tersenyum hangat. "Tidak ada kata terpaksa ataupun dipaksa. Hidup ini tidak seperti di dalam cerita. Insya Allah pernikahanku dan putri Anda akan membawa berkah, Bu. Karena aku benar-benar ikhlas menikah atas izin Allah Yang Maha Kuasa." Menjeda ucapannya dan tersenyum sejenak, Gilang berkata lagi,"Bukan terpaksa menikah."Aku berdiri di ambang pintu dapur, mengamati keramaian di halaman belakang rumah. Aroma sate kambing dan nasi kebuli sudah memenuhi udara. Suara tawa dan obrolan para tamu bercampur dengan suara anak-anak yang berlarian. Hari ini adalah aqiqah Zivanya. Seharusnya aku merasa bahagia—dan memang begitu. Tapi ada sesuatu yang mengganjal di hatiku. Mataku mencari sosok Zain. Dia duduk di kursi kecil di sudut halaman, memeluk boneka dinosaurusnya erat-erat. Wajahnya... tidak seperti biasanya. Biasanya dia yang paling antusias saat ada tamu, berlarian kesana kemari, bercerita tentang dinosaurus kesukaannya pada siapa saja yang mau mendengar. Tapi hari ini berbeda. Aku melihat bagaimana Zivanya berpindah dari satu pelukan ke pelukan lain. Para tamu antri untuk menggendongnya, mencium punggung tangannya, berkata betapa lucunya si bungsu ini. Dan aku melihat bagaimana pandangan Zain mengikuti setiap gerakan adiknya—pandangan yang perlahan berubah dari kebanggaan menjadi... kesedihan. "Zain
Langit pagi ini mendung, seakan sudah tahu apa yang akan terjadi. Aku berjalan perlahan menuju taman belakang rumah, merasakan beban di perutku yang semakin berat. Minggu ke-38. Sebentar lagi aku akan bertemu dengan putri kecilku. Taman masih basah oleh embun, dan bunga-bunga lavender kesayanganku bermekaran seperti biasa. Aku mengusap perutku sambil tersenyum kecil. Damai. Inilah yang kurasakan—kedamaian sebelum badai. Aku meraih ember kecil untuk menyiram bunga lavender. Tapi entah mengapa, langkah kakiku tergelincir. Seketika dunia terasa jungkir balik. Ember terlempar, air menyiprat kemana-mana dan tubuhku terhempas ke tanah dengan keras. Nafasku tertahan, rasa sakit menjalar dari pinggang hingga ke seluruh tubuh. Tanganku reflek memegang perutku yang kini terasa sangat tegang. "Mas Barra—" suaraku lemah. Panik menyelimuti diriku. Napasku mulai pendek. Aku tahu ada yang tidak beres dengan bayiku. Dari dalam rumah, kudengar langkah kaki berlari. Barra berlari keluar dengan mata
Acara ulang tahun Zain berjalan dengan lancar. Sepanjang acara wajahnya berseri-seri penuh binar bahagia. Belum pernah dia sebahagia ini— semua itu karena diulang tahunnya kali ini mendapatkan kado istimewa. Aku sempat turun sebentar saat acara tiup lilin dan potong kue. Meski kepala rasanya berputar-putar dan tubuh terasa lemas. Semua yang aku lakukan ini demi melihat Zain tersenyum lebar. Dia mulai sekolah dan kini memiliki banyak teman. Dengan bangganya aku mengatakan jika dia putraku pada semua tamu undangan. Saat itu, dia langsung memelukku erat. Usianya memang baru 4 tahun— namun Zain sangat peka dengan perasaan orang disekelilingnya. Dia paham jika aku butuh pelukan karena terbawa suasana haru. “Rum, aku titip Adek ya. Ada masalah di butik jadi aku harus segera ke sana. Gak mungkin aku bawa Letta karena dia sedang demam,” ujar Gista setelah masuk ke dalam kamarku. “Iya, bawa sini si cantik. Jangan diajak keliling dunia dulu. Kasihan masih kecil,” jawabku. Oh, iya— setelah
Ulang tahun Zain yang ke empat dirayakan sangat meriah karena dia sudah mulai sekolah. Dia tumbuh menjadi anak yang tampan, pintar dan penyayang. Postur tubuhnya lebih tinggi dan besar dari anak seusianya— hingga banyak yang mengira dia sudah berusia 6 tahun.Di sekolah banyak sekali teman perempuan yang sengaja mendekatinya. Ada yang membawakannya bekal, bunga segar dan mainan. Namun, Zain tak mau menerimanya. Menolak dengan nada halus dan alasannya Maminya melarangnya menerima hadiah jika bukan hari ulang tahunnya.Zain itu ibarat calon pria soft spoken. Tak hanya teman kelasnya— anak perempuan yang tinggal di komplek perumahan saja sering datang untuk mengungkapkan cinta. Padahal mereka sudah duduk dibangku SD.Sungguh pesona Mas Barra menurun pada putranya. Tidak hanya wajah yang mirip tapi sifat dan kelakuan pun sama persis. “Sayang, kok kelihatan makin pucat ya,” ujar Mas Barra setelah selesai memakai pakaian. Kami sedang bersiap untuk menyambut para tamu undangan. “Kayaknya b
Aku masih menatap layar ponselku yang telah meredup. Apa yang harus aku lakukan? Kenapa sudah larut begini Barra meminta untuk melakukan panggilan video? “Kenapa, Sayang? Gelisah terus sejak tadi?” tanya Mama saat aku tak kunjung tidur. Aku ragu mengatakan pada Mama soal pesan yang dikirim oleh
Gista menunjuk Zain sebagai jawaban. Terpaksa aku memiringkan tubuh kecil Zain agar pria itu dapat melihat wajah anaknya. Barra menghembuskan nafas lega. Wajah panik sekaligus khawatir kini sudah tidak terlihat lagi. “Suster Zain kemana, Dok?” tanyanya dengan mendekat ke arahku. “Suster Zain,
Aku menggeleng. Bukan seperti itu kejadiannya. “Tidak! Anda salah. Bukan saya yang telah merebut. Tapi ...” Ucapanku terhenti saat Gista, sahabatku dari spesialis Anak, datang. Bukan saatnya aku menjelaskan permasalahan yang sebenarnya terjadi. Aku tidak seharusnya menyebarkan kesalahan yang suda
“Aku sedang mengandung anak dari tunangan Anda, Dokter Narumi!”Seorang gadis belia menemuiku di rumah sakit tempatku bekerja berhasil membuat duniaku runtuh. “Apa benar yang kamu katakan?” tanyaku memastikan dan dia pun mengangguk sembari menangis. “Aku minta maaf, tapi aku tak berbohong. Ini m
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
평점
리뷰더 보기