Se connecterBukan perkara mudah untuk membawa hati keluar dari jurang yang dalam. Luka di hati Rania masih sangat basah. Segala ceritanya dengan Dori masih membuat air matanya jatuh. Apa lagi setiap mengingat pelukan hangat Dori. Ada rasa rindu yang tak mampu dijelaskan."Aku selalu merasa lega setiap memelukmu," ucap Dori setiap kali mereka selesai berhubungan intim.Rania pun mengakui bahwa ia juga merasakan hal yang sama. Kini rasa itu hanya tinggal di memori sebagai salah satu bagian yang paling sulit dilupakan. "Tuhan, hati ini adalah milikmu. Engkaulah yang Maha Membolak-balikkan hati manusia. Aku mohon pertolongan-Mu. Kekuatan dari-Mu untuk melalui semua ini," Rania terisak di atas sajadahnya. Sepertiga malam menjadi waktu yang hangat dan keheningan yang melegakan untuknya. Setiap selesai sholat malam, Rania kembali tidur memeluk putranya, cinta abadi yang tidak akan pernah kehilangannya. Setelah tinggal dengan mamanya setiap pagi Rania sempatkan dirinya untuk lari pagi. Kembali belajar
Kata demi kata Rania tuliskan tentang kisah pilunya. Jalan pulih yang Rania pilih dengan membagikan segala dukanya. Dimulai dengan bagaimana kisah mereka bertemu lalu menikah."Maukah kamu menjadi teman hidupku? Aku akan menjagamu dengan cara terbaik yang kubisa," kalimat yang diucapkan Dori pada Rania kala itu.Rania yang percaya dan yakin akan pilihannya. Iya mengiyakan dan menikah dengan Dori, penuh harapan. Didedikasikan segala waktu bahkan hidupnya untuk berjuang bersama. "Aku mencintaimu sayang," Dori mendekap Rania di pelukannya. Malam pertama yang hangat untuk kisah cinta mereka. Rania tuliskan rangkain cerita demi cerita itu. Betapa ia sangat mencintai Dori. Hidup dengan segala kondisi, tak pernah menuntut nafkah yang diberikan, berapa pun Rania terima dengan penuh rasa syukur.Satu bagian cerita yang Rania share di Facebook mendapatkan ribuan like dalam 1 hari. Permulaan yang amat baik dan membuat Rania terus menuliskan ceritanya dengan Dori. Hari kedua Rania melanjutkan
Menyambut pagi pertama di rumah Mama, Rania berusaha setegar mungkin. Bercerita apa saja yang telah terjadi. Dari awal Dori bisa kenal dengan Bella sampai hubungan mereka diam-diam melampaui batas. Rania bercerita dengan tenang seakan semua lukanya telah sirna. Saat malam tiba ia menangis terisak tenggelam dalam segala dukanya. "Apa salahku Ya Rabb?" isak Rania dalam sepertiga malamnya. Hal terbesar yang menjadi penyesalan seorang perempuan ialah salah pilih pasangan. Sebuah penyesalan yang sangat mendalam menyesakkan dada Rania. "Bunda, bunda," panggil Gavin dalam tidurnya. Ia ngelindur. Rania memegang tangan Gavin. Mendekap anak tercintanya agar bisa kembali tidur lagi. Ditatapnya wajah Gavin , air mata Rania bercucuran jatuh. "Demi kamu nak, Bunda janji akan memberikan yang terbaik untukmu," kata Rania mencium Gavin. Hari-hari yang berat itu berlalu perlahan-lahan. Segala tentang Dori masih tersimpan lengkap di benak Rania. Hari pertama mereka bersama memeluk Gavin ialah
Hati ibu mana yang tidak hancur mendengarkan kabar luka dari anaknya. Ibu Rania yang datang menjemputnya, datang untuk membawanya pergi meninggalkan segala duka."Ikut Mama pulang, sudah cukup kamu berjuang," kata mamanya sebelum meminta Rania mengemas barang-barangnya."Mama selama ini diam bukan tidak memperhatikanmu. Mama menahan diri untuk menghargai pilihanmu, tapi kali ini tidak lagi akan Mama biarkan kamu terus tersakiti," kata mama lagi dan Rania hanya bisa diam saja.Selama masa Iddah pun tak ada usaha dari Dori untuk memperbaiki yang ada laki-laki tak tahu diri itu terus menunjukkan betapa ia tidak menginginkan Rania lagi dalam hidupnya. "Aku sudah tidak membutuhkan kamu, aku sudah tidak mencintaimu," ucap Dori dengan lantangnya saat Rania mencoba mendekatinya untuk berharap memperbaiki apa yang masih tersisa. Isakan Rania tak berarti apa-apa. Rania masih ingat hangatnya pelukan Dori yang penuh kasih. Tapi bagi Dori pelukan itu sudah tidak ada lagi. Pelukan hangatnya kini
Dori pulang dari kantor tanpa berbicara apa pun. Rania mengunci pintu dan mencabut kuncinya supaya Dori bisa membuka pintu sendiri tanpa membangunkannya. Dori memilih tidur di kamar sebelahnya. Sejak malam ini Dori dan Rania pisah kamar. Situasi ini berlangsung hampir satu bulan. Tanpa ada niat untuk memperbaiki. Dori juga telah menerima pengumuman akan hari pelantikannya. "Aku mau bicara," kata Rania tidak tahan dengan situasi diam-diam tanpa kejelasan. "Apa lagi yang mau dibicarakan? Aku sudah bilang tidak mencintaimu lagi," jawab Dori."Terus kita bagaimana?" tanya Rania."Aku sudah menalakmu, mula malam ini sudah bisa dimulai masa iddahmu," kata Dori tegas."Kamu benar-benar serius?" Rania tak percaya."Iya, tolong kamu dan Gavin juga tidak perlu datang di hari pelantikanku nanti," kata Dori. Rania masuk ke dalam kamar bersama anaknya. Tangisnya pecah setelah menahan segala kecewa di depan Dori. Hati kecil Rania masih tak menyangka begitu mudah dirinya dibuang dengan segala pe
Kalau kesusahan ekonomi masih bisa ditabahkan seorang istri, tidak dengan perselingkuhan. Perempuan mana yang tidak hancur mengetahui kenyataan dirinya diduakan. Mungkin ada istri yang masih memilih bertahan, tapi tidak semua istri kuat untuk memilih bertahan. Seperti gelas kaca yang sudah pecah tentu tidak bisa menjadi utuh lagi. Rania sangat tak menyangka bahwa semua yang selama ini diperjuangkannya untuk keluarga kecil mereka tak berarti apa-apa bagi suaminya. Laki-laki yang paling dia cintai dan orang yang selalu menjajdi prioritas dibandingkan dirinya sendiri. Usai Rania membuka semua isi chat mereka, handphone diletakkan kembali di tempatnya. Rania berpikir keras apa yang harus dia lakukan untuk pernikahan ini. Tapi hati kecil Rania masih ingin bertahan, ia tidak rela kalah dengan semua yang sudah dikorbankannya. "Selamat pagi, Mas," sapa Rania yang lagi memasak nasi goreng seafood di dapur. "Pagi Bun," jawab Dori."Sarapan dulu ya, Mas baru ke kantor. Sudah lama kita tidak s







