ログインPerjalanan menuju Bandara menjadi amat berat. Pandangan Ethan menyelam di setiap sudut jalanan Semarang. Bayangan wajah Rania mengisi seluruh isi kepalanya. Ethan tahu hatinya benar-benar telah memilih Rania. Lebih kurang 40 Menit Ethan tiba di Bandara. "Ethan," terdengar suara perempuan memanggil Ethan yang akan masuk ke pintu keberangkatan. Suara itu menghentikan langkah Ethan, membuatnya sangat terkejut melihat Rania ada di depannya kini dan memeluk erat. "Om baik, nanti ke Semarang lagi kan?" ucap Gavin yang sedang digendong Rania. "Iya, nanti kalau kerjaan Om selesai pasti ke sini lagi," jawab Ethan. "Iya, hati-hati ya Om. Jangan lupa dengan Gavin," pinta Gavin memegang tangan Ethan. Ethan masuk dengan hatinya yang sesak. Lima hari bertemu Gavin seperti membuatnya memiliki seorang anak yang kini harus ia tinggalkan untuk pergi bekerja. Rasa sesak yang sulit dijelaskan. Gavin juga merasakan hal yang sama. Ethan berhasil membuatnya merasa memiliki super hero yang seh
Acara Grand Opening yang super ramai, bahkan pengunjung yang datang dua kali lipat dari yang diprediksi. Stok bahkan sampai menipis dan auto ngerekap barang di gudang untuk kembali di restore. "Mama dan Gavin sudah pulang duluan tadi sore. Gavin sudah capek banget tadi," ucap Rania ke Ethan. "Oh ya, berarti kamu balik aku antar saja ya," kata Ethan. "Gak papa aku tinggal pesan ojek online," jawab Rania. "Jangan dong, kan kamu mesti traktir aku makan atas kesuksesan hari ini," kata Ethan tersenyum. "Wuah, jadi aku kenak pajak big bos ini?" ledek Rania. "Ya gak gitu juga sih, anggap aja ini sekalian makan malam perpisahan sebelum aku balik Jakarta," ucap Ethan. Mendadak suasana yang penuh kebahagian berubah menjadi haru-biru. Ada sesak rasanya di dada Rania yang dia sendiri bingung itu perasaan apa. Setelah selesai berbenah. Evaluasi dengan karyawan, sekaligus tutup buku penjualan. Barulah Rania pulang dengan Ethan. Malam itu udara dingin Semarang terasa amat dingin. En
Akhirnya hari yang luar biasa itu tiba. Pelangi setelah badai di hidup Rania semakin terlihat jelas. Kalau bukan karena kebaikan Ethan mungkin hari ini tak pernah menjadi kenyataan bagi Rania. "Ma, doakan ya besok acara grand openingnya lancar, aku deg deg an banget," ucap Rania saat lagi duduk di ruang keluarga bersama mama dan Gavin. "Mama selalu mendoakan yang terbaik untukmu, selalu. Mama senang sekali akhirnya kamu bisa benar-benar melanjutkan hidup," mamanya memeluk Rania. "Terimakasih ya, Ma, tanpa suport mama aku juga gak mungkin bisa sekuat ini," jawab Rania. "Kamu sama Ethan itu, gemana?" tanya Mama penasaran. "Partner bisnis saja kok, Ma," ucap Rania. "Mama bisa melihat dia menyukaimu," ucap Mama menggoda. "Ah, masak sih ma," Rania salah tingkah. "Iya, menurut mama Ethan laki-laki yang baik. Gavin juga terlihat akrabkan dengannya," ucap mama. "Aku belum kepikiran sejauh itu sih, Ma," jawab Rania. "Ya sudah, yang penting sekarang kamu bahagia dengan apa
Rania melihat Gavin dari kaca mobil hingga hilang dari pandangannya. Ethan memutar lagu indie For Revenge di perjalanan. Lagu hits era ini yang banyak relate dengan cerita hidup. Rania menatap Ethan diam-diam tanpa diketahuinya. Sosok laki-laki yang mampu mencuri hati Gavin, satu-satunya tujuan hidupnya hari ini. "Mas gak merasa lelah nemenin saya?" tanya Rania memulai obrolan. "Lelah kenapa?" tanya Ethan. "Iya dari kemarin sepertinya sibuk membantu saya urusan pembukana butik ini, gak ada kemana-mana refreshing," ucap Rania. "Tujuan saya ke Semarangkan memang buat itu, kenapa saya harus merasa jadi kerepotan?" jawab Ethan tersenyum. "Iya, saya merasa gak enak aja sih," kata Rania. "Saya senang menemani kamu," jawab Ethan. Sudah sampai di parkiran, Ethan menatap Rania, tatapan mereka terpaku lama, degub jantung keduanya berdebar kencang, begitu cepat kejadian itu terjadi. "Maaf," kata Ethan menghentikan dekapannya. "Aku juga minta maaf," balas Rania salah tingkah. "Aku
Hati tidak pernah tahu kapan ia akan bergerak menemukan kenyamanan, apa lagi setelah dihajar kecewa yang bertubi-tubi. Jangankan berpikir untuk kembali menjalin hubungan, membayangkannya saja tidak pernah dilakukan Rania karena ia takut hanya memupuk kecewa dan membuat lukanya semakin dalam. Semua orang yang terluka berusaha sembuh, tapi Rania tak pernah memikirkan untuk sembuh dengan mencari orang lain sebagai pelariannya. "Kapan kamu mau mulai membuka hati?" Mama pernah melemparkan pertanyaan itu ke Rania. "Bagiku kebahagian Gavin sudah lebih dari segalanya, Ma" jawab Rania dengan yakin tanpa berpikir akan ada sosok laki-laki seperti Ethan yang hadir di hidupnya. Malam ini ada rasa yang berbeda. Rania terbaring di atas kasurnya mengingat kejadian tadi siang dengan Ethan. Jantungnya berdegup kencang saat berada di dekat Ethan. Ada rasa tenang tiap melihat senyuman di wajah laki-laki yang belum ia kenal jauh tapi terasa begitu memiliki arti di hidupnya kini. "Belum tidur?"
Keberanian memulai perjalanan baru membutuhkan support sistem yang membuat diri memiliki keyakinan. Ethan hadir memberikannya untuk Rania. Sejak awal ia yakin Rania mampu bangkit dari keterpurukannya. "Loh, Mas kapan ke sininya?" ucap Rania kaget keluar dari kamar melihat ada Ethan yang lagi main dengan Gavin. "Baru saja," jawab Ethan. "Kok gak bilang dulu mau ke sini?" tanya Rania. "Tadinya mau ke toko, tapi saya pikir ke rumah kamu saja biar kita bisa langsung lihat lokasi butik," jelas Ethan. "Beneran mau survei lokasi butik hari ini?" tanya Rania kaget. "Iya, saya rasa kamu sudah siap," ucap Ethan. "Mandi dulu lah Ran, nanti Ethan kelamaan lo menunggu kamu," kata Mama nimbrung. "Gak papa bu, saya juga masih main dengan Gavin," ucap Ethan tersenyum. "Oke, maaf ya mas, sebentar saya siap-siap dulu," jawab Rania. Rania bergegas ke kamarnya untuk siap-siap. Gavin kelihatan senang main dengan Ethan. Padahal baru jumpa, tapi seperti sudah kenal lama. Pemandangan ini m
Hati ibu mana yang tidak hancur mendengarkan kabar luka dari anaknya. Ibu Rania yang datang menjemputnya, datang untuk membawanya pergi meninggalkan segala duka."Ikut Mama pulang, sudah cukup kamu berjuang," kata mamanya sebelum meminta Rania mengemas barang-barangnya."Mama selama ini diam bukan
Dori pulang dari kantor tanpa berbicara apa pun. Rania mengunci pintu dan mencabut kuncinya supaya Dori bisa membuka pintu sendiri tanpa membangunkannya. Dori memilih tidur di kamar sebelahnya. Sejak malam ini Dori dan Rania pisah kamar. Situasi ini berlangsung hampir satu bulan. Tanpa ada niat unt
Kalau kesusahan ekonomi masih bisa ditabahkan seorang istri, tidak dengan perselingkuhan. Perempuan mana yang tidak hancur mengetahui kenyataan dirinya diduakan. Mungkin ada istri yang masih memilih bertahan, tapi tidak semua istri kuat untuk memilih bertahan. Seperti gelas kaca yang sudah pecah te
Pagi ini Rania bangun lebih awal. Alarmnya berbunyi jam 4 pagi. Ada orderan untuk acara hajatan kue 200 kotak. Rania mengerjakannya sendiri. Pesanan sudah masuk 3 hari yang lalu. Rania sudah mengangsur membentuk kotaknya. Sebagian isi kuenya sudah dikerjakannya kemarin. Pagi ini tinggal menambah ku







