LOGINSetelah beberapa hari menghilang, Aldo muncul saat Nabila berhenti di lampu merah. Kemunculannya pun mengagetkan gadis itu. Detak jantung Nabila berpacu cepat ditambah rasa takut.
Nabila menarik napas dan mengeluarkannya perlahan. Mengatur emosi dan mentalnya. Saat ini ia masih takut dengan hal-hal yang datang dengan tiba-tiba dan mengejutkannya.Aldo tersenyum, kepalanya bertutup tudung jas hujan. Bulir air hujan menetes di pinggirannya.“Kaget banget ya, sorry,Barang-barang bawaan Nabila dan Fahmi sudah diturunkan dari mobil. Dibantu sopir mobil pick up yang merupakan karyawan catering milik Farida, dokter obgyn tampan itu membawa masuk semua barangnya. “Mama tadi bilang sama Andi, buat bantuin kalian angkut-angkutin barang,” ujar Farida. Ia, anak perempuannya, dan besan masih berada di teras rumah. “Oh iya, Ma, nanti Nabila titip sesuatu buat Bang Andi,” balas Nabila berniat untuk memberikan sesuatu seperti uang untuk beli kopi. “Nggak usah, udah Mama siapin untuk dia.” Farida mengibas pelan tangannya ke udara dengan senyum khas ibu-ibunya. Nabila tersenyum nyengir. “Makasih Mamaku yang cantik…” ucapnya manja. Farida tertawa. Kemarin ia masih terbaring di rumah sakit, sekarang kondisi kesehatannya sudah jauh lebih baik. Bahkan, ia bersikukuh untuk ikut anak dan menantunya pindah ke rumah baru. “Jangan lupa makan, Ma…” Nabila mengingatkan. Mamanya in
“Jadi, apa agenda kalian untuk mengisi beberapa hari sisa cuti ini?” tanya Halimah pada anak dan menantunya saat sedang sarapan bersama di meja makan. Nabila melirik sang suami yang sedang memasukkan potongan buah ke dalam mulutnya. Kemudian, ia melihat ke arah ibu mertuanya, dan wanita berusia 60an itu tersenyum pada menantunya. Sebetulnya, Nabila merasa agak tidak enak hati pada keluarga sang suami, karena bulan madunya dengan Fahmi batal. Orang tua Fahmi sudah mengeluarkan banyak biaya dari pernikahan hingga ke bulan madu yang tak pernah terlintas di pikirannya itu. Saat tiba di rumah semalam pun, Nabila harap-harap cemas mertuanya akan marah, namun ternyata tak seperti pikirannya. “Nabila, kamu nggak apa-apa kan, bulan madunya batal?” tanya Halimah dengan lembut. Pertanyaan tersebut mengundang atensi kedua adik perempuan Fahmi. Mereka melirik pada istri sang kakak, bagi keduanya, pasti ada rasa kecewa momen yang ditunggu-tunggu m
Marsha menaruh kembali sendok dan garpunya di pinggir piring, selera makannya sudah benar-benar hilang. Semestinya, pembicaraan ini dilakulan di cafe atau coffee shop saja, seporsi mie tektek yang cukup banyak itu jadi tak termakan. Sedangkan, di coffee shop, Marsha bisa memesan segelas americano hangat dengan sepotong brownies atau cream puff. Perempuan dengan tinggi badan 170 cm itu, menghela napasnya. Hanya itulah yang dapat ia lakukan, mau marah bagaimana, cuma buang-buang energi saja. Dengan helaan napas itulah, Marsha mengikhlaskan hal itu terjadi padanya. Miris memang. Padahal ia bisa mendapatkan laki-laki yang lebih dari Rafli, namun rasa cintanya yang begitu dalam, membuat logikanya sedikit buntu. “Makasih sudah menjelaskan semuanya, aku mau pulang…” Marsha mengatakan kalimat itu dengan lirih dan pelan. Ia beranjak dari duduknya, matanya tak lagi menoleh ke arah Rafli, ia berjalan melewati Fahmi dan Nabila. “Fahmi, makasih sudah mengawasi kami, tenang aj
Dengan perlahan, Nabila menikmati mie tektek miliknya, sang suami pun begitu. Fahmi berusaha menelan makanannya, meskipun di depannya ada dua orang yang sudah membuatnya sebal. Pegawai warung tenda itu berjalan membawa pesanan Marsha, lalu menaruhnya di atas meja. Dengan senyum ramah, ia mempersilakan pembelinya untuk makan. “Makasih, ya, Mas…” ucap Marsha ramah. Si pegawai mengangguk, lalu berjalan kembali ke arah gerobak. Marsha memandangi mie tektek yang tersaji di hadapannya. Semangkuk mie dengan topping sayur sawi dan sebutir telur yang diorak-arik, aromanya memang sedap, uap-uap panas mengepul di atasnya. “Kenapa dilihatin aja? Kamu masih nggak suka makanan kaki lima kayak gini?” tanya Rafli. Nada pertanyaannya terdengar serius, ia masih ingat bahwa mantan kekasihnya ini tak begitu suka makan di tempat makan seperti ini. Marsha diam, ia tak menjawab pertanyaan Rafli. Untuk beberapa saat Marsha masih dalam diamnya ters
Rafli menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu. Perutnya yang masih terasa belum kenyang, dan berencana untuk menambah satu porsi mie tektek lagi, tiba-tiba mendadak kenyang saat bertemu dengan Fahmi. Suami dari ners Kania itu tersenyum kikuk memandang teman satu lingkarannya. Bagai dijebak perangkap, bersua dengan Fahmi secara tak sengaja ini benar-benar membuatnya cukup malu. “Kalian nggak bulan madu?” tanya Rafli langsung. Takut Fahmi yang malah menanyainya lebih dulu. “Nanti bulan depan,” jawab Fahmi lugas tanpa ragu. Bahkan, jawabannya itu spontan membuat sang istri menoleh menatapnya kaget. Nabila terkejut dengan jawaban Fahmi, namun ia langsung berpikir, sepertinya sang suami hanya menjawab secara spontan saja agar Rafli tak banyak bertanya. “Oh…” Rafli mengangguk-angguk. Ia pun duduk kembali, tangannya meraih botol air mineral dan meneguk isinya yang tinggal seperempat itu. “Kamu sendiri ngapain di sini sendir
Air wudhu sudah terbasuh pada bagian-bagian tubuh, hal wajib membersihkan diri sebelum menghadap yang Maha Segalanya. Fahmi merapikan celananya yang tergulung saat mengambil wudhu tadi, lalu berjalan menuju shaf yang sudah terisi, tersisa beberapa yang kosong. Cukup banyak jamaah salat maghrib yang didominasi oleh pengunjung, karyawan, tenaga kesehatan, dan tenaga medis. Sebagian dari jamaah yang sadar akan kehadiran Fahmi langsung menyapa dengan ramah dan sopan. Kehadirannya pun tak luput dari pandangan ketua masjid yang hendak melangkah menuju posisi imam, namun segera berbalik. “Masya Allah, ada pengantin baru…” ucap ketua masjid ramah. Ia lalu menyalami Fahmi. Fahmi membalas dengan senyum ramah dan menyambut jabatan tangan tersebut. “Silakan, Dok…” ketua masjid mempersilakan Fahmi untuk memimpin ibadah salat maghrib. “Bapak saja,” tolak Fahmi halus. Ketua masjid tersenyum. “Mari, Dok, sudah lama nggak diimamin sama Dokt
Kaget bukan main. Kondisi Nabila saat ini membuatnya menjadi lebih sensitif. Sentuhan seperti tadi tentu membangkitkan rasa takutnya. Nabila menghela napas saat melihat sosok yang ia kenal berada di hadapannya. Kemudian, ia tersadar kunci kartu itu jatuh, lalu segera memungutnya.
Bukan pertanyaan bodoh. Inilah yang ada di kepala Nabila. Ia ingin tahu apa yang menjadi alasan Fahmi menyelematkannya tadi. Fahmi masih menatap Nabila, lalu ia membuangnya pada arah lurus ke depan. “Karena harus ditolong,” jawabnya dengan logis dan tenang. Nabila mengembuskan
Suara Fahmi terdengar rendah dan sangat dingin, membuat semua orang di dalam lift seketika menoleh ke belakang dengan terkejut.Nabila langsung mencengkeram scrub pria itu erat-erat, jemarinya bergetar hebat. Jantungnya berdetak kacau sampai terasa sakit.Wajah Fahmi terlihat te
Fahmi bersandar di kursi kerjanya dengan kedua tangan yang terlipat di dada. Wajah tampannya nampak tenang sekali, tapi senyum tipisnya terasa mengintimidasi bagi Nabila. Nabila benar-benar menyesal telah mengeluarkan pertanyaan bodoh itu, namun mau bagaimana lagi, emosinya lebih dulu b







