ログインMalam itu, suasana kamar terasa begitu tenang, berbanding terbalik dengan pikiran Sanjaya yang masih dipenuhi rasa penasaran. Baru saja ia menerima laporan dari orang suruhannya yang ia tugaskan untuk membuntuti Raka. Perintah itu berawal dari kecurigaannya usai ucapan Raya di meja makan tempo hari, ketika gadis itu mengancam akan membongkar rahasia Raka.Namun, laporan yang ia terima malam ini sama sekali nihil. Orang suruhannya sama sekali tidak menemukan celah atau hal mencurigakan. Kedekatan antara Alya dan Raka tampak begitu wajar di mata publik, mengingat status mereka, di mana Alya adalah sahabat Raya, membuat siapa pun tak pernah menaruh curiga.Sanjaya menghela napas panjang. Dengan gerakan lesu, ia meletakkan ponselnya di atas kasur."Ada apa, Pa?" tanya Soraya yang baru saja keluar dari kamar mandi, menyadari raut wajah suaminya yang tampak gusar.Sanjaya menoleh, menatap istrinya dengan kening berkerut. "Papa mau anak-anak kita cepat menikah. Tapi... soal Raka ini, seperti
Suara napas yang memburu memenuhi setiap sudut kamar suite hotel mewah. Di atas tempat tidur berseprai putih, Zahira melengkungkan punggungnya dengan mata terpejam rapat. Jemarinya mencengkeram kuat helaian rambut Hendri yang kini tengah berada di atas tubuhnya, menyalurkan seluruh gelora yang membuncah."Ah... enak banget, terusin!" ucap Zahira di sela desahnya, suara serak penuh kepuasan yang mengalun tanpa peduli lagi pada benteng martabatnya sebagai wanita terpandang."Aku suka! Kamu hebat!" puji Zahira lagi, mengaburkan batasan antara majikan dan bawahan di atas ranjang.Zahira terus mengerang, melontarkan kata-kata parau, hingga sesekali berteriak meluapkan puncak kenikmatan yang dihadiahkan oleh sang sekretaris. Gerakan konstan yang diberikan Hendri sukses membawanya menembus batas kewarasan, merengkuh kepuasan mutlak yang terasa bagai surga dunia.Keringat membasahi tubuh kedua manusia yang kini telanjang bulat itu. Aktivitas panas ini rupanya telah menjelma menjadi rutinitas
Malam itu, begitu tiba di rumah, langkah Raya langsung membawanya menuju kamar sang adik. Di dalam, Raka baru saja selesai membersihkan diri selepas aktivitas yang melelahkan. Namun, Raka langsung disambut dengan wajah sang kakak yang tertekuk masam.Hubungan kakak-beradik itu memang tengah sedikit renggang akhir-akhir ini. Raya salah paham mengira Raka tidak menyukai kedekatannya dengan Kevin, akibat sikap dingin sang adik pada pria tersebut. Padahal, jauh di lubuk hatinya, Raka hanya sedang berusaha melindungi kakaknya dari niat buruk yang tak ia ketahui."Ada apa?" tanya Raka dingin, suaranya datar sambil terus melangkah mengambil handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya.Tanpa basa-basi, Raya langsung meluapkan unek-uneknya. "Alya ngajak kedua anaknya pulang ke apartemennya, juga pengasuh anak-anaknya."Raka mengangguk pelan, merespons dengan nada santai. "Bagus, aku nggak mau Alya tinggal di rumah mantan suaminya lama-lama.""Iya, aku juga nggak mau. Makanya aku yang minta dia k
Hari berganti membawa ritme baru yang menuntut ketegaran lebih dari Alya. Sejak insiden mengerikan kemarin, wanita tersebut memilih untuk mendedikasikan seluruh waktunya demi merawat dan menjaga kedua buah hatinya di kediaman Emran.Pagi-pagi sekali, Alya sudah disibukkan dengan rutinitas rumah tangga. Ia menyiapkan sarapan, mengantar Nana ke sekolah dengan senyuman yang dipaksakan agar sang anak tidak merasakan kecemasan di hatinya, lalu kembali ke rumah untuk menemani Rio bermain. Kedua anak itu sengaja tidak diajak ke rumah sakit. Alya sengaja menyembunyikan kenyataan pahit itu karena ia takut mental anak-anaknya terguncang atau ketakutan jika harus melihat kondisi fisik ayah mereka yang kini tengah berjuang menahan sakit akibat luka bakar serius.Sementara itu, suasana di koridor rumah sakit terasa begitu senyap. Zahira berdiri tegak di depan pintu ruang rawat inap tempat Emran dirawat. Tatapannya dingin menerawang ke dalam ruangan melalui jendela kecil di daun pintu.Wanita itu l
Mentari pagi baru saja merayap naik, membawa serta sisa-sisa lelah dari malam sebelumnya. Di kediamannya, Raya memutuskan bahwa ia butuh jarak. Beban pikiran yang menghimpit dada sejak perdebatan dengan orang tuanya membuatnya sesak. Tanpa pikir panjang, ia memutuskan untuk pergi ke luar kota. Selain untuk menenangkan diri dan menjauh sejenak dari bayang-bayang dingin Sanjaya serta Soraya, perjalanan ini juga dimanfaatkannya untuk memantau perkembangan salon miliknya yang ada di luar kota. Raya tahu ia bisa sedikit bernapas lega karena telah mempercayakan operasional utama kepada Sarah, orang kepercayaan yang ia rekrut dan ia andalkan untuk mengelola semuanya dengan baik.Sementara itu, di pusat kota, jarum jam menunjukkan pukul dua siang saat Kevin tiba di gedung perkantoran tempat Raka bekerja. Pertemuan itu diatur atas permintaan Raka sebelumnya.Di dalam ruang kerja pribadi, Raka menyambut kedatangan Kevin dengan postur angkuh, duduk bersandar malas di sofa mewah. Di hadapannya, R
Langkah kaki Raya terasa begitu berat saat ia memasuki kamarnya. Begitu pintu tertutup, ia langsung merebahkan diri di atas tempat tidur dengan pandangan kosong menerawang ke langit-langit kamar. Pikirannya berkecamuk, memikirkan rentetan kejadian malam ini, mulai dari ketegangan di meja makan, syarat berat dari sang ayah, hingga percakapannya dengan orang tuanya setelah Kevin pulang yang menusuk hati.Tanpa ia sadari, waktu berjalan begitu cepat. Ia bahkan tidak mendengar dering ponselnya sendiri sampai getaran beruntun di atas nakas menyadarkannya dari lamunan panjang.Dengan gerakan lesu, Raya meraih ponselnya dan melihat nama Kevin tertera di layar. Ia segera menggesek ikon hijau."Halo..." sapa Raya dengan suara yang terdengar serak dan lelah.“Halo, Sayang. Aku cuma mau ngasih kabar kalau aku udah sampai di rumah,” suara Kevin terdengar di seberang sana, bernada lembut meski sedikit menyisakan kelelahan. “Kamu kenapa? Kenapa suaramu terdengar lemes begitu, kamu sakit?”Raya tert
Raya tidak langsung pergi ke salon seperti rencananya semula. Setelah menemui Raka di kantor dengan perasaan kacau, ia justru memacu kendaraannya menuju rumah orang tuanya. Hari itu menjadi hari yang panjang dan melelahkan bagi Raya.Sesampainya di rumah, Raya langsung menuju ke kamar orang tuanya.
Hening menyelimuti area parkir apartemen yang dingin. Raka masih bersandar di kap mobilnya, napasnya perlahan teratur meski tatapannya tak pernah lepas dari Alya. Setelah cukup lama menatap wanita itu dengan sorot mata yang penuh kepemilikan dan sisa amarah, Raka akhirnya menghela napas panjang."M
Di dalam mobil, suasana begitu hening. Keheningan itu terasa menyesakkan hingga rasanya oksigen pun enggan masuk ke paru-paru. Kontras dengan keributan tadi, tapi setidaknya Alya sudah meninggalkan mantan suaminya.Alya duduk meringkuk di kursi penumpang, memeluk dirinya sendiri seolah sedang mengu
Detak jam dinding di apartemen kecil itu terasa seperti dentum lonceng kematian bagi Alya. Sudah pukul tujuh malam, kurang satu jam lagi sebelum Raka datang untuk menagih "tanggung jawab" yang ia tuntut. Pikiran Alya kalut. Bayangan ia harus menyerahkan dirinya dalam keadaan sadar kepada pria yang







