Home / Romansa / Dosen Penyewa Rahimku / Saling Mengenal

Share

Saling Mengenal

Author: Kaya Raya
last update Huling Na-update: 2025-12-18 00:25:37

Pintu apartemen tertutup, menandai dimulainya malam panjang yang mungkin akan penuh tantangan.

Philia berdiri di ambang pintu meremas jemarinya sendiri dengan perasaan gusar. Ia masih berdiri di sana, kaku sekali.

"Masuk." Titah Timur.

Dengan gerakan canggung, Philia beranjak dari ambang pintu, berjalan menuju area tengah apartemen tersebut. Nampak Timur berjalan sempoyongan, menuju lemari pendingin guna membawa sebotol minuman keras untuk menemani malam yang panjang ini.

CKLAK!!

Timur membuka tutup botol wine dengan gerakan kasar, lalu menuangkannya ke gelas kristal yang sudah menunggu di atas meja.

Dalam sekali teguk, cairan merah itu langsung habis, meninggalkan noda di sudut bibirnya. Sorot matanya semakin berat, campuran antara mabuk dan luka yang tak kunjung sembuh.

Ia meletakkan gelas dengan suara kencang di atas meja, lalu berdiri mendekati Philia. Tatapannya menelisik tubuh gadis itu dari ujung rambut hingga kaki.

"Jangan cuma berdiri. Saya bayar mahal, jadi jangan bikin saya kecewa."

Philia terkesiap, namun tubuhnya diam dan kaku.

Netranya berusaha menangkap ekspresi Timur, benarkah ia pemuda yang sama dengan siswa SMA Nusa yang ia sukai dulu? Kenapa sekarang..begitu berbeda?

Ia nampak berantakan, hancur, dan.. menakutkan.

"Ayo, Babe." Timur melepas kancing kemejanya, membuat otot dadanya terlihat jelas.

Philia makin kaku. Nafasnya tercekat, jantungnya memukul dadanya terlalu keras. Sementara itu gaun hitam yang ia pakai terasa menyesakkan, seakan menyiksa dirinya yang terjebak dalam situasi ini.

Timur melangkah mendekat. Setiap langkahnya membuat Philia mundur selangkah, hingga punggungnya membentur dinding dingin apartemen itu.

Bau alkohol, parfum maskulin, dan ketegangan bercampur jadi satu, menyesakkan dada.

Dengan tatapan dingin, Timur mengangkat dagu Philia dengan jari telunjuknya.

"Nama kamu siapa tadi?"

"Ph… Philia?" Ulang Timur.

Philia mengangguk, matanya terpejam takut.

Timur tersenyum tipis, tapi tak ada kehangatan di sana.

"Cantik nama kamu. Malam ini, saya gak peduli siapa kamu. Yang saya mau cuma satu, puasin saya. Saya bayar, kamu nurut."

Philia menggertakkan giginya, menahan gemetar.

Ia sadar, semua ini adalah konsekuensi dari pekerjaan yang ia pilih. Namun, jika ternyata orangnya adalah kenalannya apalagi Timur.. semuanya tidak akan mudah!

Julian dan Maya memang sudah mewanti-wanti dirinya untuk lebih nakal, agresif dan binal. Namun, ia adalah gadis lugu yang tidak pernah bersentuhan dengan laki-laki. Apalagi yang dihadapinya kini.... cinta pertamanya.

Bagaimana Philia menghadapinya? Bagaimana ia harus bersikap binal dan liar? Pacaran saja tidak pernah, ia hanya sempat menyukai seseorang. Dan orang itu adalah.. Timur.

"Kenapa? Takut?" Gumamnya.

Jemari Timur mulai meraba pinggangnya, membuat seluruh bulu kuduk Philia meremang.

Sentuhan itu terasa tergesa dan tidak ada perasaan. Setiap sentuhan yang Timur berikan seperti sentuhan liar yang tak berizin.

"Jadi beneran kamu masih virgin?" Timur meremas dan mengusap-usap bagian bokong Philia, membuat gadis itu meringis takut.

"Kalo liat respon kamu, kayaknya beneran."

"Cantik, seksii, dan..virgin." Bisiknya tepat di telinga Philia.

Bibirnya mulai menyentuh leher Philia, membuat sentuhan-sentuhan kecil yang sensasional.

SLRUP... Ia menjilat telinga Philia, lalu mengunyah daun kupingnya liar dan penuh birahi.

Sementara itu, tangan Philia menegang di samping tubuhnya. Kepalan tangannya gemetar, menahan rasa takut dan juga gugup yang bergumul di dalam dadanya.

Benarkah ini Timur? Benarkah pemuda ini yang akan mencuri kesucian yang ia punya?

Pemuda itu semakin giat menggerayangi dirinya, membuat bulu kuduk Philia meremang. Ia ingin kabur, ia ingin menghindar namun semuanya sudah kepalang tanggung.

Nampaknya Timur juga begitu terpuaskan, apalagi harus diakui tubuh Philia ini luar biasa. Dadanya membusung sempurna, pinggulnya meliuk-liuk bak gitar Spanyol, sementara bokongnya menyembul berisi. Sungguh, malam ini tidak akan mudah bagi mereka berdua.

Napas Philia tercekat, terlebih ketika hidung pemuda itu bergesekan dengan hidungnya. Dari jarak sedekat ini, dapat ia lihat bagaiman tampannya Timur, tidak berubah sedikitpun meskipun mereka sudah bertahun-tahun tidak pernah bertemu.

Sayang, kini mereka bertemu dalam situasi yang tidak bisa dibilang etis apalagi manis

Jemarinya pemuda itu kian liar meraba-raba, bibirnya makin giat menyesap, membuat Philia tidak mampu bergerak sedikitpun.

Namun tiba-tiba saja bayangan masa lalu menabrak pikirannya. Saat masa SMA, masa ketika ia masih berlari di koridor hanya untuk melihat punggung pria ini. Saat tiap senyum Timur seperti candu, dan saat tiap kata yang keluar dari mulutnya bak peluru yang menembak jantung hati Philia.

Ia, yang dua tahun lebih muda dari Timur itu seperti seorang penggemar yang mengidolakan seseorang.

Mantan ketua OSIS, murid berprestasi, kerap ikut banyak pertandingan olahraga maupun mata pelajaran dan tentu saja sangat tampan.

Philia jatuh cinta, selalu begitu setiap hari.

Sampai akhirnya ia menyatakan cinta, dan ditolak karena ternyata Timur sudah berpacaran dengan Alana. Yang kemudian menjadi istrinya.

Tapi lihat sekarang, pemuda yang menolaknya itu tengah mencumbu dirinya. Meremas seluruh bagian tubuhnya seperti hewan yang kelaparan.

Haruskah Philia senang? Haruskah ia bahagia karena berhasil memadu kasih dengan idolanya dulu?

Ataukah.. ia harus berpura-pura tidak pernah mengenalinya? Si mantan ketua OSIS yang dulu menolaknya dengan sadis.

Dan tanpa sadar, bibir Philia bergetar mengeluarkan suara lirih yang menghancurkan segalanya.

"Timur…" Bisiknya.

Gerakan liar Timur yang tengah menggigiti leher dan dada Philia itu seketika terhenti. Kedua matanya menyipit, menatap Philia lebih dalam, kali ini dengan rasa heran.

"Apa kamu bilang tadi?"

"Kamu manggil siapa?"

Philia terdiam, matanya melebar panik. Sadar ia baru saja keceplosan.

Timur menunduk, menatapnya lebih dekat. Ada kebingungan, ada amarah, ada rasa ingin tahu yang tiba-tiba muncul.

Dan saat itu, ia mulai curiga sesuatu. Ia tidak memberi tahu Julian soal identitasnya. Lalu, darimana pelacur ini tahu namanya?

"Kenapa lo tau nama gue? Siapa lo sebenarnya?" Nada bicara Timur meninggi, bahkan tidak bicara semi formal seperti tadi karena ia curiga perempuan ini mengenalnya.

Mungkinkah salah satu mahasiswinya?

Philia hanya bisa terisak kecil, terjebak antara ingin berbohong atau mengaku.

Malam itu, rahasia lama yang harusnya terkubur mulai merayap keluar, mengancam malam yang harusnya berakhir cepat.

Bercumbu kasih, bayar, selesai. Namun kini, sepertinya tidak akan berjalan lancar.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Dosen Penyewa Rahimku   Apa Kamu Suka?

    "TIMUR!!!" Philia membentak, seraya melayangkan tatapan tajam penuh protes pada Timur. Namun, pemuda itu tidak peduli. Ia malah sengaja merangkul Philia, membawanya ke dekapan dengan penuh kebanggaan. Lugi, pemuda itu mematung tak percaya. Matanya tak berkedip, bahkan sampai memerah. "Phi... omongan Timur, gak bener kan?" "Gak mungkin kan, Phi?" Alih-alih bertanya pada Timur, Lugi memilih meminta penjelasan dari Philia. Ia yakin, sahabat yang ia suka dari lama itu tidak bisa berbohong. Ia pasti tak akan masuk perangkap dusta Timur. Hamil? Oleh Timur? Konyol! "Phi? Coba jelasin ke dia.. gimana kondisi kita sekarang, apa hubungan kita, sejauh mana keseharian kita, dan apa yang aku kasih ke kamu, apa yang kamu kasih ke aku." Timur menatap Philia dalam, mencoba membawa gadis itu ke dalam permainannya. Baginya, now or never. Sekarang atau tidak, ia tidak akan menyesalinya. "Diem Timur, gue ngomong sama Philia. Lo, gak usah ikut campur," desis Lugi, mencoba menahan em

  • Dosen Penyewa Rahimku   Dia Milikku!

    Suasana pagi hari itu cerah, matahari menyinarkan cahayanya malu-malu lewat celah tirai di kamar apartemen Timur yang sudah dibuka lebar-lebar. "Hari ini ada kuliah?" tanya Timur, pemuda itu tengah mengancing kemejanya di depan cermin, sementara matanya menatap Philia yang duduk di tepian tempat tidur. Gadis itu mengangguk. "Iya, aku ada kuliah tapi siang," jawabnya. Pemuda itu mengangguk, lantas beralih mengambil dasi dari laci lemarinya. "Jam berapa kuliahnya?" "Jam sebelas." Philia melirik jam di dinding, baru jam tujuh pagi itu berarti masih banyak sekali waktu untuknya pergi ke kampus. Ia bisa rehat sejenak, karena tubuhnya sangat lelah setelah pergumulan semalam. "Nanti aku jemput, aku ke kampus bentar ada kelas." Ucapan Timur itu sontak membuat Philia bingung. Untuk apa Timur menjemputnya? Ataukah ia akan membawanya ke suatu tempat, misal rumah sakit? "Emangnya kita mau kemana? Kok kamu jemput aku?" bingung gadis itu. Kakinya yang menggantung di kasur diayun

  • Dosen Penyewa Rahimku   Aku Cemburu, Philia

    "Phi, makan dulu. Masih suka bebek kan?" Timur menata makanan yang ia beli di atas meja, sementara Philia baru saja keluar dari kamar mandi sehabis mencuci tangan dan kaki. "Aku gak makan boleh gak? Perut aku kenyang," dustanya. Timur menggantung tangannya di udara, bungkusan terahir yang ia keluarkan bahkan belum sempat diturunkan. "Lho, kenapa? Ga suka sama menunya? Mau yang lain? Atau mau aku masakin aja? Tapi tunggu bentar ya, aku masih ada kerjaan." Timur menawarkan beberapa opsi, namun Philia tetap menggeleng. Perutnya benar-benar tidak mau menerima makanan apapun, bahkan minum saja ia enggan. "Aku gak bias makan banyak, Timur. Aku tau kok harus makan bergizi dan banyak biar berat badan aku naik. Tapi aku beneran kenyang, perut aku udah penuh." Gadis itu langsung menuju kamar untuk istirahat, namun Timur menghentikan langkahnya. "Mau kemana?" tanyanya. Philia menunjuk pintu kamar. "Tidur," jawabnya singkat. Setelah bertemu Lugi, entah mengapa hati Philia menjadi g

  • Dosen Penyewa Rahimku   Harapan Timur vs Kekecewaan Philia

    "Ini obat pereda nyeri, yang ini tablet tambah darah, ini pereda demam. Dosisnya udah gue tulis." "Boleh digabung sama vitamin dari dokter, aman." Bryan menyerahkan beberapa lembar obat yang baru ia beli di apotik untuk Philia. "Oh oke." Timur menerimanya, lalu menyimpan di kotak obat. Meskipun Philia tidak menunjukkan gejala sakit, tapi setidaknya harus jaga-jaga takut gadis itu malah sakit dan drop karena ulahnya. "Iya, suruh makan yang banyak. Kurus banget dia, kasih lemak tiap makan. Bisa dari alpukat, butter, atau yang lain. Kasih protein hewani juga, dada ayam sama daging sapi." Bryan menuliskan beberapa catatan untuk Timur. "Oke.. menurut lo presentasi berhasilnya gimana? Kalau bisa hamil alami, gue gak usah deh buang-buang duit buat bayi tabung." Pemuda itu duduk di atas kursi makan, sementara Bryan masih sibuk mencatat. "Bisa aja, kuasa Tuhan gak ada yang tau Tim." "Semoga aja Philia hamil," sahut Bryan. Timur mengangguk, mengamini. Ia lantas memperhatikan Ph

  • Dosen Penyewa Rahimku   Mulai Jatuh Cinta

    Ting.. tong!!! Suara bel terdengar nyaring di telinga. Timur yang baru saja selesai mandi dan tengah mengeringkan rambutnya itu membuka pintu. Ternyata yang datang adalah empat sahabatnya. Bryan, Martin, Tiara dan Yura yang datang berkunjung ke apartemen Timur. Bukan tanpa alasan mereka berkumpul, tapi karena semuanya ingin bertemu Philia. Apalagi Tiara dan Yura, dua perempuan yang dulu sangat dekat dengan Philia. "Mana si Philia?" tanya Yura, mengabaikan Timur yang membukakan pintu. "Sapa gue dulu bisa kali," sungutnya. Teman-temannya itu memang sudah mengetahui kehadiran Philia di apartemen ini, mereka juga sudah mengetahui kerja sama gila di antara keduanya. Sebenarnya mereka ingin sekali menasehati Timur agar tidak bertindak gila begitu, namun mereka tidak mau ikut campur terlalu jauh. Biarlah itu menjadi urusan mereka saja, untuk saat ini bisa bertemu dengan Philia lagi adalah hal yang jauh lebih penting. "Tujuan gue ke sini mau ketemu si Phili, kalau ketemu

  • Dosen Penyewa Rahimku   (++)Melepas Kesucian

    Timur menggeleng pelan, lalu membuang pandangan menghindari sorot mata Philia yang tidak bisa ia lawan. Jujur saja, dadanya juga berdegup kencang saat manik cantik gadis itu menatapnya. Seperti ada pedang tajam yang menusuk-nusuk kewarasannya. "Phi, kita ngomong besok lagi, kita sama-sama capek." Timur berusaha bangun, namun Philia menahannya. Sorot mata gadis itu masih sama tajamnya, seolah tekadnya sudah bulat. "PHILIA.. Ayo tidur, kamu gak bisa mikir jernih, Phi." Timur berusaha melepaskan tangan Philia. Namun hal gila justru Philia lakukan, gadis itu meninggikan posisi tubuhnya dan melayangkan sebuah kecupan singkat dan tipis di bibir Timur. Netra mereka beradu, saling tatap dalam dan lama. "Phi, jangan mancing-mancing." Timur jelas masih mencoba membentengi diri, namun tidak bisa dipungkiri bahwa gadis ini lah yang belakangan kerap hadir di lamunannya. "Aku pernah nikah, Phi. Kamu tahu siapa yang ada di depan kamu," tegas Timur. Namun, Philia juga tidak takut dengan

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status