MasukBukan bencana alam yang melanda, melainkan kebisuan kembali melanda hubungan duo A. Yaps, Azelina dan Arion kembali menjalin hubungan bak kedua orang asing. Tak ada kontak lisan, maupun netra atau tangan terjalin. Tak renggang dan tak berakhir begitulah situasi judul saat ini.
Percakapan terakhir mereka lakukan sebatas kemarin Sabtu tepatnya kala bertengkar. Menurut Azelina dia sudah cukup merenung karena prinsipnya : Terlalu lama merenungkan hal apabila sebatas diam ditempat tanpa perubahan, maka adalah menyiakan waktu semata. Ditambah hari Jumat serta Sabtu tak bisa seutuhnya berduaan dengan harmonis. Hari Minggu yang sunyi nan dingin, walau raga berada di lokasi bertetangga.
Rindu membuat Azelina membongkar total otaknya. Apakah Arion juga tak rindu? Apakah prianya sibuk? Padahal dia hendak mengatakan suatu hal mengenai niat hati mengenai program cepat semester, serta hal panjang mengenai hubungan keduanya.
"Sakit lo?
Bukan sebatas karena belum memiliki pengalaman, dalam mengasuh anak ketika mengerjakan tugas sekolah secara kreatif. Bagi Arion kata kreatif tak sebatas pengalaman pertama menjadi orang tua. Kreatif memutar otak dengan aneka derajat juga termasuk. Indera luar-dalam masih bekerja normal dan utuh membuat naluri bersembunyi diam-diam.Andai saja dirinya memiliki ilmu membaca pikiran dan hati, belajar ilmunya, menghabisi seseorang memiliki ilmu itu, maka sudah pasti dirinya tak mengusap kepala kebingungan. Lisan sang gadis memang tak mengutarakan, tatapan serta perlakuan gadis itupun masih sama. Hanya saja ntah mengapa naluri Arion diam-diam bersiaga."Zel?"Sunyi masih melanda dengan sang gadis yang mencuri pandang pada handphone-nya, walaupun menikmati waktu berduaan di kantor Arion tak membuat Azelina fokus. Pemikirannya sibuk terngiang-ngiang dengan pelaku pengirim foto. Suatu nama terbesit dengan tuduhan men
"Loh hari Selasa darimana, Pak? Kok saya nggak sengaja seperti lihat plat nomor mobil Pak Ari di daerah jalan Senopati.""Mencurigakan sekali kamu, Bu. Sampai hafal nomer plat mobil Pak Ari. Jangan-jangan...""Ngaco aja! Saya sudah punya keluarga. Tapi... Kalau Mas Ari berkenan boleh loh."Sang pemilik nama sebatas membisu sibuk memutar-mutar percakapan kala di rumah Azelina. Otaknya kompak mengajak kerjasama hati, mengombang-ambing niat hubungan. Dia jatuh cinta pada gadis muda itu, namun di sisi lain Arion juga cemas dengan nasib Azelina. Bagaimana bila dirinya dipanggil terlebih dahulu?Ya, dia tahu jodoh, umur, keuangan, dan beberapa hal lain tak bisa diprediksi, kecuali Sang Pencipta sendiri karena telah mengaturnya. Bukankah tak seutuhnya salah juga, bila keinginan Arion dan Azelina jungkir balik menyelip di otak? Mereka saling mengharapkan untuk lebih, tetapi juga terdapat keraguan dan ketakut
Layaknya rambut apabila dicatok makin lurus, atau bagai menyetrika baju makin disetrika semakin lurus. Sepertinya ubin-ubin unit Azelina bisa lurus, karena ulah gadis itu. Ntah sudah berapa kali Azelina menyamar bak orang penghitung kilometer jalan. Agaknya hobi traveling Azelina tengah digunakan, versi dekat dan cepat dengan resah mondar-mandir.Sang kekasih beberapa hari mengabaikan dirinya karena masih kecewa, serta sang kakak tiba-tiba mengirimkan pesan. Valko menyampaikan laporan singkat dari Bibi ART, pada Azelina apabila Arion bermain di rumah saat hari Selasa. Gadis itu menggigiti kuku merasakan keresahan hari Rabu. Beruntunglah kuliah sebatas jam siang saja, sehingga sore hari dia menunggu kepulangan Arion."Baik-baik saja.""Tidak.""Baik-baik saja.""Tidak.""Baik-baik saja.""Tidak."Pria berusia 43 tahun
Notifikasi 2 dari WhatsAppBayuangga Prasetya| Apabila saat ke rumah saya langsung saja temui di ruang kerja saya atau taman belakang. Minta tolonglah pada bibi saja. |Valko A.S| Pak Ari sama Azel? || Pak jangan disempatkan kemari dan cerita pada adek saya. Saya paham bila anda sangat sibuk. Anggap saja Papa kami berbasa-basi. |Arion kembali memasukkan handphone ke saku celananya. Dia memejamkan mata berusaha mengenyahkan perasaan bak lelucon jenaka. Umur tak lagi belasan tahun, pengalaman bukan pertama kali membuat Arion juga geli sendiri pada degup jantungnya. Dia terkekeh menertawakan diri sendiri bukan orang lain.Arion mendongakkan kepala menatap bangunan di hadapannya, sebelum memantapkan hati memberi kejutan dengan kedatangan tiba-tibanya. Dia mengatur pernafasan, agar tak begitu terlihat gugup."Maaf, Pak. Mencari siapa, ya? Apakah sudah memiliki j
Bukan bencana alam yang melanda, melainkan kebisuan kembali melanda hubungan duo A. Yaps, Azelina dan Arion kembali menjalin hubungan bak kedua orang asing. Tak ada kontak lisan, maupun netra atau tangan terjalin. Tak renggang dan tak berakhir begitulah situasi judul saat ini.Percakapan terakhir mereka lakukan sebatas kemarin Sabtu tepatnya kala bertengkar. Menurut Azelina dia sudah cukup merenung karena prinsipnya : Terlalu lama merenungkan hal apabila sebatas diam ditempat tanpa perubahan, maka adalah menyiakan waktu semata. Ditambah hari Jumat serta Sabtu tak bisa seutuhnya berduaan dengan harmonis. Hari Minggu yang sunyi nan dingin, walau raga berada di lokasi bertetangga.Rindu membuat Azelina membongkar total otaknya. Apakah Arion juga tak rindu? Apakah prianya sibuk? Padahal dia hendak mengatakan suatu hal mengenai niat hati mengenai program cepat semester, serta hal panjang mengenai hubungan keduanya."Sakit lo?
Rasa panik semalam membuat kewarasan hilang sejenak. Dia yang tak biasa kasar pada perempuan, seketika mau tak mau harus berlaku demikian. Beruntunglah gadisnya tak sadarkan diri sehingga hanya dia menanggung malu. Menggendong gadisnya yang mengigau bak karung beras.Gairah masih normal membuat dia hampir gila semalam sejujurnya. Arion hampir saja merusak Azelina, namun dia memilih kembali ke unit sejenak dengan mandi air dingin. Air yang dingin seketika ikut mendinginkan emosi dan gairah, walaumemang tulang-tulangnya terasa nyeri. Ditambah dia tidak tidur di unit apartemennya.Tak ingin termakan akal sehat yang menghipnotis nafsu untuk merasuki tiap sudut alam bawah sadar, membuat Arion menjadikan ruang tamu gadisnya sebagai kamar sementara. Arion merenggangkan tubuh terasa nyeri. Kantong mata pun terbit pada wajah tampan pria itu. Tertidur tetapi tak tidur, pernahkah kalian juga merasakan seperti Arion?"Ze







