Share

Luluh

Author: NisfiDA
last update Petsa ng paglalathala: 2026-05-03 18:27:49

“Kak… ini benar-benar boleh ambil semua warna dan jenisnya?”

Naresa menoleh kepada Zavian dengan wajah ragu sekaligus antusias.

Tangannya masih menunjuk deretan macaron berwarna-warni di dalam etalase.

Zavian menatapnya sebentar lalu menjawab singkat,

“Boleh.”

Naresa langsung berkedip pelan.

“Semua?”

“Hmm.”

Seketika wajah Naresa langsung berubah cerah.

“Serius?!”

Zavian mengangguk kecil.

Dan tanpa sadar—

sudut bibirnya sedikit terangkat melihat reaksi bahagia gadis itu.

Naresa lang
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Dua Kakak Tiri Yang Posesif   Rasa Takut

    “Jadi...” Zavian menarik napas pelan. Tatapannya tidak pernah lepas dari wajah Naresa. “...apa kamu memaafkanku, Naresa?” Pertanyaan itu terdengar begitu hati-hati. Berbeda dengan biasanya. Pria yang selalu tegas itu kini justru menunggu jawaban dengan perasaan cemas. Naresa terdiam. Tatapannya kembali mengarah ke permukaan danau. Bukan karena tidak ingin menjawab. Melainkan karena sedang menenangkan hatinya sendiri. “Aku...” Suaranya terdengar lirih. “Aku tidak tahu.” Deg. Jawaban itu membuat dada Zavian terasa sesak. “Aku ingin memaafkanmu.” “...” “Namun rasa kecewa itu masih ada.” Air mata kembali memenuhi pelupuk mata Naresa. “Setiap kali mengingat kalau aku mengetahui semuanya dari Bi Ina.” “...” “Dadaku masih terasa sakit.” Zavian menundukkan kepalanya. Dia menerima semua perkataan itu. Karena memang dirinya yang membuat Naresa merasakan hal tersebut. “Aku tidak akan memaksamu.” Ucap Zavian pelan. “Aku akan menunggu.” “Hm?” “Sampai kamu benar-benar

  • Dua Kakak Tiri Yang Posesif   Takut Kehilangan

    “Tolong angkat, Naresa...” gumam Zavian pelan. Untuk kesekian kalinya. Pria itu kembali menghubungi nomor Naresa. Namun hasilnya tetap sama. Tidak ada jawaban. Deg. Rasa tidak nyaman di dadanya semakin besar. Saat ini Zavian sedang berlari di sebuah taman yang tidak jauh dari rumah mereka. Pandangannya menyapu ke segala arah. Mencari sosok gadis yang sejak satu jam lalu menghilang. “Naresa...” panggilnya pelan. Namun yang terdengar hanya suara angin sore. Zavian kembali mencoba menelepon. Panggilan tersambung. Namun tetap tidak diangkat. Membuat rahangnya mengeras. Karena selama ini. Seberapa pun marahnya Naresa. Gadis itu hampir selalu mengangkat teleponnya. Namun kali ini berbeda. Sangat berbeda. "Angkatlah..." gumamnya frustrasi. Langkahnya semakin cepat. Matanya terus mencari ke setiap sudut taman. Bangku-bangku taman. Area bermain. Jalur jogging. Tidak ada. Tidak ada Naresa di mana pun. Deg. Untuk pertama kalinya. Zavian benar-benar mulai panik. Ka

  • Dua Kakak Tiri Yang Posesif   Kecewa

    “Sudahlah.” Suara Naresa terdengar pelan. Namun justru membuat suasana menjadi semakin menyesakkan. Tatapannya tidak lagi marah. Tidak lagi dipenuhi amarah seperti beberapa menit yang lalu. Yang tersisa sekarang hanya rasa kecewa. “Urus saja semuanya.” “Naresa...” panggil Zavian. Namun gadis itu menggeleng. Air matanya terus mengalir. “Kalau memang mau menerima perjodohan atau lamaran itu.” Deg. Jantung Zavian langsung terasa tidak nyaman. “Aku mundur.” Seketika semua orang membeku. “Naresa!” bentak Zavian untuk pertama kalinya. Namun gadis itu hanya tertawa kecil. Tawa yang terdengar begitu menyakitkan. “Bukankah itu lebih mudah?” “Jangan bicara sembarangan.” “Kenapa?” Tatapannya langsung bertemu dengan tatapan Zavian. “Karena aku sudah capek.” Deg. Kalimat itu membuat Zavian langsung terdiam. “Aku capek menjadi orang terakhir yang tahu.” “...” “Aku capek harus mendengar semuanya dari orang lain.” “...” “Dan aku capek merasa tidak dianggap penting.” “Nar

  • Dua Kakak Tiri Yang Posesif   Bertengkar Hebat

    “Lhoo, Bi. Kok banyak masaknya? Memang ada acara apa?” tanya Naresa yang baru saja kembali dari magangnya. Setelah dua minggu berlalu sejak mereka pergi bersama. Kini semuanya kembali sibuk dengan aktivitas masing-masing. Dan tanpa terasa. Tinggal satu minggu lagi masa magang Naresa akan berakhir. “Itu, Non,” jawab Bi Ina sambil sibuk menata hidangan di meja makan. “Tuan Besar dan Tuan Muda kedatangan tamu nanti sore.” “Kedatangan tamu?” “Iya.” “Tamu siapa?” “Kurang tahu juga.” Bi Ina menoleh sebentar. “Katanya mau membahas masalah perjodohan atau lamaran gitu.” Deg. Langkah Naresa langsung terhenti. “Hah?” “Perjodohan atau lamaran.” “Perjodohan atau lamaran siapa?” Bi Ina menjawab tanpa curiga. “Tuan Zavian.” Bruk! Tas yang berada di tangan Naresa langsung jatuh ke lantai. Membuat Bi Ina terkejut. “Non?” Namun Naresa tidak menjawab. Pikirannya langsung kosong. Jantungnya berdetak sangat kencang. Bahkan telinganya seperti berdenging. “Tuan... Zavian?” ulangn

  • Dua Kakak Tiri Yang Posesif   Waktu Bersama

    “Jadi, Kakak tidak mau juga memberiku cincin seperti itu?” tanya Sonia sambil menatap Rayhan penuh harap. Rayhan yang sedang berjalan di depan langsung menoleh. “Jangan terlalu iri.” “Hah?” “Kau selalu mendapatkan hal romantis setiap harinya.” Seketika Sonia langsung tertawa canggung. “Hehe.” “Uang jajan.” “Hehe.” “Makanan.” “Hehe.” “Kurir yang hampir setiap minggu datang ke rumahmu.” “Hehe.” Membuat Rayhan menggeleng kecil. Sedangkan Naresa yang mendengar itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. “Dasar kalian.” Tak lama kemudian. Mereka akhirnya tiba di sebuah restoran. Karena sudah lewat jam makan siang. Perut mereka mulai protes. Setelah duduk di meja yang sudah dipesan. Pelayan langsung datang membawa buku menu. “Mau makan apa, Sayang?” tanya Zavian sambil menyerahkan menu kepada Naresa. Naresa langsung melihat-lihat isinya. Lalu matanya berbinar. “Itu.” “Hm?” “Steak barbeque ya, Zavian.” “Baik.” “Sama minumnya jeruk saja, hehe.” “Iya sudah.” Zavian m

  • Dua Kakak Tiri Yang Posesif   Ketemu Lagi?

    “Filmnya seru banget ya, Naresa,” ucap Sonia dengan wajah antusias. “Haha, iya benar,” sahut Naresa sambil tertawa kecil. “Aku benar-benar dibuat tegang tadi nonton.” Kini mereka sudah keluar dari bioskop. Suasana mall cukup ramai karena sudah memasuki jam makan siang. “Sudah jam dua belas,” ucap Rayhan sambil melihat arlojinya. “Kita makan dulu. Nanti baru lanjut jalan.” “Setuju!” jawab Sonia cepat. Rayhan langsung menatapnya datar. “Cepat banget ngasih pendapatnya.” “Hehe.” “Dasar.” Membuat Sonia hanya tertawa kecil. Namun tepat saat mereka hendak berjalan menuju area restoran. Tiba-tiba. “Zavian?” Seketika langkah mereka terhenti. Semua orang langsung menoleh ke arah sumber suara. Dan saat melihat siapa yang memanggil. Wajah Naresa langsung berubah. “Kenapa harus bertemu lagi sih?” gerutunya kesal. “Hm?” Sonia yang tidak mengenal wanita itu langsung mengernyit bingung. “Memangnya dia siapa?” Naresa langsung mendengus pelan. “Tanya saja sama Kak Rayhan siapa d

  • Dua Kakak Tiri Yang Posesif   Terlalu Cuek

    "Hari ini Kak Zavian pulang ya?" tanya Sonia kepada Naresa saat mereka sedang merapikan meja laboratorium. "Iya, katanya pulang," jawab Naresa dengan nada yang sama sekali tidak bersemangat. Sonia langsung mengernyitkan keningnya. "Loh?" "Apa?" "Kamu kenapa?" Naresa menghela napas panjang. "

  • Dua Kakak Tiri Yang Posesif   Frustasi

    “Ganti dulu pakaianmu sana,” ucap Zavian dari ponselnya. Naresa langsung menundukkan kepalanya malu. “K-kak...” “Hm, kenapa?” Naresa menggigit bibirnya pelan. “Persiapanku habis...” gumamnya lirih. “A-aku belum beli.” Seketika Zavian terdiam beberapa detik. Sedangkan Naresa sudah ingin mengh

  • Dua Kakak Tiri Yang Posesif   Mood Yang Hancur

    “Aku lelah...” keluh Naresa sambil merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Hari ini benar-benar menjadi hari yang buruk. Untuk pertama kalinya selama magang— dia melakukan kesalahan. Dan akibatnya, dia dimarahi cukup lama oleh pembimbing laboratoriumnya. Padahal biasanya Naresa selalu menjadi

  • Dua Kakak Tiri Yang Posesif   Kepikiran

    “Apa lagi Kak Zavian ke London,” lanjut Sonia santai sambil berjalan di samping Naresa. “Di sana banyak wanita-wanita cantik loh.” Naresa langsung mendengus kecil. “Heh…” “Ditambah lagi,” Sonia sengaja menatap Naresa jahil, “di sana seksi-seksi.” Seketika langkah Naresa langsung terhenti. Dan

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status