Share

Penasaran

Author: NisfiDA
last update publish date: 2026-05-03 18:41:31

“Mau aku tinggal lagi seperti pagi tadi?”

Suara dingin Zavian langsung membuat Reyhan terdiam.

Pria itu menoleh ke arah kakaknya dengan wajah tidak percaya.

“Kau masih ingat itu?”

Zavian tetap fokus menyetir.

“Kalau kau terus cerewet, aku benar-benar turunkan kau.”

Reyhan langsung mendecakkan lidah kesal.

Namun beberapa detik kemudian, rasa penasarannya kembali muncul.

Tatapannya lagi-lagi tertuju pada kotak macaron di pangkuan Naresa.

Dan kali ini—

ia semakin curiga.

“Tunggu dulu…”
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dua Kakak Tiri Yang Posesif   Histeris

    “Kak jangan ke tengah-tengah! Aku takut!” teriak Sonia panik saat Rayhan mulai jahil menyeretnya sedikit menjauh dari bibir pantai. Rayhan malah tertawa puas. “Haha, aku pegangin ini.” “Kak Rayhan, balik cepat! Balik!” Namun pria itu masih saja menggoda Sonia yang mulai panik setengah mati. Sedangkan di sisi lain— Naresa masih berdiri tidak jauh dari tepian sambil memegangi lengan Zavian erat. “Kamu tidak mau ke tengah?” tanya Zavian pelan. Naresa langsung menggeleng cepat. “Tidak mau.” “Takut?” “Iya.” “Kan ada aku yang pegangin.” Namun Naresa tetap keras kepala. “Pokoknya takut ke tengah.” Zavian baru saja ingin menjawab lagi— tiba-tiba. “AHH SAKIT!” Teriakan histeris Naresa langsung membuat semuanya terkejut. Tubuh gadis itu bahkan langsung jatuh terduduk ke air pantai. “Naresa!” seru Zavian panik. Air mata langsung mengalir di wajah gadis itu. “S-Sakit…” “Apa yang sakit?” tanya Zavian cepat sambil berjongkok di depannya. “K-Kakinya…” jawab Naresa terbata sam

  • Dua Kakak Tiri Yang Posesif   Terlalu Dramatis

    “Wah, indah banget pemandangannya!” seru Sonia penuh semangat saat mobil mereka akhirnya tiba di pantai. Hamparan laut biru langsung terlihat jelas di depan mata. Angin pantai mulai terasa menyapu lembut. Namun walaupun waktu sudah menunjukkan pukul empat sore— cuacanya masih terasa cukup panas. Rayhan dan Sonia sudah lebih dulu turun dari mobil. Sedangkan— Naresa masih nyaman duduk di dalam mobil sambil memandangi pantai dari balik jendela. “Naresa ayo turun!” teriak Sonia dari luar mobil sambil melambaikan tangan. Namun gadis itu langsung menggeleng cepat. “Panas banget…” keluhnya dramatis. “Tidak kuat aku ke sana.” Rayhan langsung tertawa tidak percaya. “Katanya tadi paling semangat mau ke pantai.” “Iya, tapi kenapa panasnya begini sih?” protes Naresa sambil menyender malas di kursi. “Padahal sudah jam empat sore.” Sonia langsung menggeleng geli. “Tadi di kebun binatang semangat lihat capybara.” “Itu beda tempat.” Sedangkan Rayhan mulai menyandarkan tangannya di pi

  • Dua Kakak Tiri Yang Posesif   Terlalu Manja

    “Kamu mau pesan makanan apa?” tanya Zavian kepada Naresa saat mereka sudah duduk di dalam restoran. Naresa yang masih setengah sadar hanya menyandarkan dagunya di meja. “Terserah saja…” Zavian langsung mengangkat alis tipis. “Tidak ada makanan terserah di sini, Naresa.” Rayhan langsung terkekeh kecil mendengar jawaban datar itu. Sedangkan Sonia sibuk melihat menu sambil sesekali melirik Naresa yang terlihat masih mengantuk. “Iya pokoknya terserah Kakak,” lanjut Naresa pelan. “Emangnya Naresa boleh makan yang tanpa nasi?” Seketika Zavian langsung menatapnya. “Memangnya kenapa?” “Aku malas makan nasi.” “Kamu belum makan dari pagi.” “Tapi ngantuk…” Rayhan langsung menggeleng geli. “Ini orang kalau habis tidur jadi makin manja.” “Aku memang manja,” jawab Naresa santai tanpa merasa bersalah. Sonia langsung tertawa kecil. “Tuh kan, ngaku sendiri.” Namun perhatian Zavian tetap fokus pada Naresa. “Kamu mau mi?” Naresa langsung menggeleng kecil. “Pedas?” “Tidak boleh.” “

  • Dua Kakak Tiri Yang Posesif   Perjalanan Yang Enak

    “Kalau memang mau berangkat sekarang, kita bisa kembali dulu,” ucap Zavian tenang. “Lalu minta izin ke Ibu sama Ayah.” Naresa langsung mengangguk cepat penuh semangat. “Tapi bagaimana dengan sahabatmu itu?” lanjut Zavian sambil melirik Sonia. “Bukannya ayahnya cukup posesif?” Sonia langsung nyengir kecil. “Tidak masalah kalau Tante Liana yang meminta izin sama Papa.” Sonia mengangkat bahu santai. “Pasti diizinkan kok.” Rayhan langsung tertawa kecil. “Wah, ternyata sudah tahu jalur amannya.” “Heh…” Sedangkan Naresa mulai terlihat bingung. “Lalu pakaianmu bagaimana?” tanyanya kepada Sonia. “Kita kan tidak bawa apa-apa.” “Ya tinggal beli,” jawab Rayhan santai. “Apa susahnya?” Sonia langsung menoleh cepat. “Hah?” “Nanti aku yang belikan pakaian Sonia.” Seketika wajah Sonia langsung merah. “K-Kak Rayhan!” Sedangkan Naresa langsung menatap Rayhan penuh arti. “Wihhh…” “Apanya?” tanya Rayhan santai tanpa rasa bersalah. “Kakak mulai berani banget sekarang.” Rayhan malah ter

  • Dua Kakak Tiri Yang Posesif   Momen Bersama

    “Kamu tidak apa-apa?” tanya Zavian sambil menoleh khawatir ke arah Naresa. “Tidak apa-apa, Kak…” Namun suara gadis itu terdengar sedikit lemas. Panas matahari yang begitu terik membuat Naresa mulai merasa tidak enak badan. Kepalanya terasa pusing. Wajahnya pun tampak memerah karena terlalu lama terkena panas. Padahal saat itu waktu baru menunjukkan pukul sepuluh pagi. Namun cuacanya benar-benar menyengat. Sedari tadi mereka terus berjalan mengelilingi kebun binatang sambil melihat berbagai hewan dan mencoba beberapa wahana ringan. Kini Naresa memilih duduk di bangku taman yang berada di bawah pohon rindang. Dan tanpa sadar, dia membenamkan wajahnya ke lengan Zavian sambil memejamkan mata sebentar. “Hey, jangan bilang kamu mau pingsan,” tegur Sonia panik saat melihat wajah Naresa mulai pucat kemerahan. “Tidak…” gumam Naresa pelan. “Aku cuma berteduh dan mau istirahat sebentar.” Dia menghela napas kecil. “Cuacanya benar-benar panas.” Rayhan langsung membuka botol air miner

  • Dua Kakak Tiri Yang Posesif   Double Date

    “Dipegang terus. Takut banget kayaknya diambil orang,” goda Rayhan saat melihat Zavian sejak tadi tidak melepaskan tangan Naresa. Naresa yang sedang berjalan langsung menoleh ke belakang. Karena saat ini mereka baru saja tiba di kebun binatang. “Iri bilang, Bos,” balas Naresa sambil menjulurkan lidah jahil. “Kenapa tidak pegang juga tuh tangannya Sonia? Bleee.” Seketika Sonia langsung tersedak malu. “Naresa!” Sedangkan Rayhan malah tertawa santai. “Boleh juga idenya.” Dan tepat setelah itu— Rayhan benar-benar menggenggam tangan Sonia. Membuat gadis itu langsung membelalak panik. “K-Kak Rayhan!” “Katanya iri.” “Bukan begitu juga!” Namun Rayhan malah terlihat santai sambil terus berjalan. Sedangkan Sonia sudah malu setengah mati sampai tidak berani menatap siapa pun. Melihat itu— Naresa langsung tertawa paling keras. “HAHAHA! Rasain!” “Ini gara-gara kamu!” protes Sonia malu. Zavian yang melihat tingkah Naresa hanya menggeleng kecil sambil menahan senyum tipisnya. “J

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status