LOGINKetukan teratur di pintu memutus ketegangan Kinara. Ia segera menegakkan punggung, membenahi letak blazernya, dan memasang ekspresi profesional.
"Masuk," panggil Kinara tegas. Pintu terbuka secara teratur. Leo melangkah masuk. Pria muda itu membawa sebuah map berkas tebal di tangan kirinya dan cangkir teh hangat di tangan kanannya. "Selamat siang, Bu Kinara," ujar Leo dengan suara rendah yang terkesan formal. "Saya membawa Draf Proposal Kerja Sama Strategis dan Analisis Kompetitor untuk proyek ekspansi kuartal depan yang Anda minta kemarin. Dan ... saya membawakan teh hangat dari pantry staf." Kinara mengernyit tipis, menatap map dokumen dan cangkir yang diletakkan di atas meja kerjanya. Sebagai atasan, ia menilai tindakan Leo membawakan minuman adalah hal yang sedikit di luar tugasnya. "Terima kasih," ujar Kinara singkat, mempertahankan jarak antara pimpinan dan anak magang. "Kenapa anak magang yang mengantar draf ini? Mana seniormu?" "Oh, itu," jawab Leo dengan suara ringan. "Saya menawarkan diri sendiri untuk mengantar ke ruangan Bu Kinara. Lagipula, para senior itu sibuk. Saya sebagai junior bertugas meringankan tugas mereka, bukan?" Kinara merasa alasannya agak berlebihan, tapi karena tidak menyalahi aturan apa-apa, ia hanya mengangguk memahami. "Tinggalkan dokumennya di meja. Kamu bisa kembali ke meja kerjamu." Leo tidak langsung berbalik. Ia berdiri tegap dalam jarak aman, menatap Kinara dengan raut wajah profesional namun tenang. "Laporan lengkap sudah saya lampirkan di lembar pertama, Bu," lanjut Leo dengan nada biasa. "Dan terkait insiden di lorong tadi pagi, saya sudah memastikan, divisi kita tidak terpengaruh oleh rumor apa pun. Jadi, Bu Kinara tidak usah khawatir. Kinerja Anda tetap menjadi tolok ukur utama kami." Kinara menatap anak magang itu sejenak. Meski tuturnya terkesan murni profesional, Kinara tahu pemuda ini cukup cerdas untuk memahami situasi pelik yang sedang ia hadapi. Selain itu, sepertinya, sejak Kinara memberi nasihat dan mempertegas batasannya, Leo langsung mengerti dan melaksanakan permintaannya. "Saya menghargai profesionalisme kalian," jawab Kinara. "Itu saja. Silakan keluar." "Baik, Bu Kinara. Permisi." Leo membungkuk hormat secara formal, lalu berbalik melangkah keluar dari ruangan. Keheningan kembali menguasai ruangan. Kinara mendudukkan diri di kursi kerjanya dan menarik napas dalam. Namun, ketenangan sejenak itu mendadak buyar saat ponsel di atas meja berdering nyaring. Layar ponselnya menampilkan sebuah nama. Wali kelas Arkana yang bernama Bu Rina. Firasat buruk seketika menghujam dada Kinara. Ia segera menggeser tombol hijau dan menempelkannya ke telinga. "Halo, Bu Rina? Ada apa?" tanya Kinara. Dari seberang telepon, suara wali kelas Arka terdengar cemas. "Selamat siang, Bu Kinara. Bisakah Ibu datang ke sekolah sekarang? Arka baru saja terlibat pertengkaran fisik dengan teman sekelasnya di ruang kelas." Kinara terdiam sejenak. "Pertengkaran? Anak saya tidak pernah main fisik, Bu Rina. Apa yang terjadi?" "Temannya menyinggung masalah status orang tua Arka yang berpisah, Bu ... dan Arka tidak terima hingga mendorong temannya sampai terluka. Pihak orang tua murid yang satu lagi menuntut bertemu dengan Ibu sekarang juga." Mendengar kata terluka, Kinara seketika panik. Tanpa membuang waktu satu detik pun, Kinara menyambar tas tangannya dan melesat keluar dari ruang kerja. Langkah kakinya begitu cepat dan terburu-buru, mengabaikan tatapan heran beberapa staf yang berpapasan dengannya di koridor. Begitu masuk ke dalam mobilnya di parkiran basement, Kinara langsung mengunci pintu. Tangannya yang gemetaran mencengkeram erat roda kemudi. Pikirannya berkecamuk hebat. Rasa bersalah yang teramat sangat menghujam jantungnya. Selama ini Kinara berjuang mati-matian, memeras keringat dan membentengi diri dengan sikap dingin demi memberikan kehidupan terbaik untuk putra tunggalnya. Namun, sejauh apa pun dia berlari dari kejaran masa lalu, masalah dalam hidupnya juga akan selalu ikut menarik Arkana. Dengan tangan yang masih bergetar, Kinara menyalakan mesin mobil, menginjak pedal gas, dan melesat keluar dari area parkiran kantor dengan kecepatan tinggi. Sementara itu, di lobby utama gedung kantor, Leo berdiri terpaku di balik dinding kaca tebal. Matanya menatap lurus keluar, memperhatikan sedan hitam milik Kinara yang melesat pergi meninggalkan area gedung dengan tergesa-gesa. "Melihat apa kamu, Leo?" Sebuah suara menegurnya. Leo menoleh dan menemukan Bu Aulia, Manajer HRD sekaligus pembimbing program magangnya, sedang berdiri di sampingnya membawakan beberapa berkas. "Mobil Bu Kinara," sahut Leo datar, lalu memajukan langkahnya sedikit. "Bu Aulia ... apa terjadi sesuatu pada Bu Kinara? Tadi saya lihat beliau pergi seperti orang panik." Bu Aulia mendesah pelan, menatap ke arah jalan raya dengan binar mata yang dipenuhi rasa iba. "Pasti soal anaknya lagi," gumam Bu Aulia geleng-geleng kepala. "Jujur, saya kasihan sekali melihat posisi Bu Kinara saat ini." Leo menaikkan sebelah alisnya, terlihat penasaran. "Kasihan? Bukankah beliau sosok yang sangat kuat?" "Dia memang wanita yang sangat kuat, Leo. Tapi beban yang dipikulnya itu berat sekali," ujar Bu Aulia dengan nada merendah. "Kamu lihat sendiri kan tadi pagi? Mantan suaminya itu benar-benar parasit. Dulu, pria itu berselingkuh sampai wanita simpanannya hamil. Ironisnya, anak dari selingkuhannya itu umurnya cuma sedikit lebih tua, satu bulan ketimbang Arkana, anak kandungnya dengan Bu Kinara." Mata Leo berkilat tajam. Ekspresi wajahnya berubah menggelap mendengar berita tak mengenakkan itu. "Lalu kenapa pria itu masih berani mendatangi kantor ini?" "Kalau berdasarkan cerita tadi, karena perusahaan mantan suaminya di ambang bangkrut, dan sekarang dia malah menuntut rujuk dengan tak tahu malu," lanjut Bu Aulia. "Orang-orang di kantor yang tahu sejarah mereka, pasti sangat benci pada keluarga pria itu. Tapi, ya ... ada banyak karyawan di sini, tidak semua bersimpati sama Bu Kinara. Jadi, bisa saja kamu dengar cerita versi yang lain." Bu Aulia menghela napas dengan raut simpatik. "Arkana itu kasihan, sering sekali diejek di sekolah karena ibunya sudah bercerai. Tapi, jika Bu Kinara sepanik ini, sepertinya masalah di sekolah lebih besar." Leo tertegun untuk sesaat. Kata-kata Bu Aulia berputar di kepalanya. Di balik sikap dingin, tegas, dan elegan yang selalu ditunjukkan Kinara di depan semua orang, ternyata ada cerita tersendiri yang dipendam. Bu Aulia yang menyadari perubahan raut wajah Leo mendadak menyipitkan mata curiga, lalu terkekeh pelan. "Ngomong-ngomong ... kenapa kamu mendadak penasaran sekali soal Bu Kinara, Leo?" tanya Bu Aulia penuh selidik. Leo dengan cepat menguasai ekspresi wajahnya kembali, menguraikan senyum tipis yang terkesan santai. "Saya hanya penasaran, Bu. Mengapa wanita secantik dan berwibawa tinggi seperti Bu Kinara bisa terlihat begitu tertekan?" Bu Aulia langsung menepuk bahu Leo pelan sambil tertawa ringan. "Hush! Jangan macam-macam kamu, ya. Bu Kinara itu galak dan sangat profesional. Jangan coba-coba mendekatinya atau melempar godaan kalau kamu tidak mau nilai magang S2 kamu saya buat anjlok!" tegur Bu Aulia bercanda, walau ada nada peringatan di dalamnya. Leo hanya tersenyum tipis tanpa membantah. Nilai magang? Dia sama sekali tidak peduli pada hal itu. Pandangannya kembali menatap lurus ke arah jalan raya tempat mobil Kinara menghilang.Ruangan mendadak sunyi. Beberapa kepala divisi mulai saling melirik dengan gelisah. Baskara masih berusaha terlihat tenang. Ia menatap Kinara dengan pandangan menekan. "Bu Kinara, saya rasa kita harus berhati-hati dalam menyimpulkan sesuatu hanya berdasarkan perbedaan angka." "Saya setuju." Kinara menatapnya lurus tanpa kedip. "Itulah alasan saya belum menyimpulkan apa pun." Baskara terdiam, tak bisa membalas kalimat itu. Kinara kemudian mengambil sebuah dokumen lain. "Namun, saya ingin tahu mengapa beberapa pembayaran kepada pemasok baru dipecah menjadi beberapa transaksi dalam jumlah yang lebih kecil." Baskara menghela napas pendek. "Untuk mempermudah proses administrasi." "Mempermudah?" "Ya. Beberapa pemasok memiliki batas pembayaran tertentu." Kinara mengangguk pelan. "Lalu mengapa rekening penerima dari tiga perusahaan berbeda menggunakan alamat korespondensi yang sama?" Kali ini Baskara tidak langsung menjawab. Ia mengambil dokumen tersebut dari meja dan menelitinya sej
Leo yang biasanya duduk sebagai anak magang di salah satu meja bagian Pengembangan Bisnis kini menempati meja tepat di depan ruangan Kinara. Sebuah papan nama kecil sudah terpasang di atas mejanya. LEOAsisten Pribadi Manajer Pengembangan Bisnis' Jabatan itu memang belum membuat banyak orang memahami siapa sebenarnya dirinya. Bagi sebagian besar karyawan, Leo hanyalah anak muda yang baru beberapa hari bekerja di perusahaan, kemudian secara tiba-tiba mendapatkan kepercayaan langsung dari Kinara. Namun, sejak pagi, Leo sudah menunjukkan bahwa jabatan itu bukan sekadar nama. Ia memeriksa jadwal rapat Kinara, menyusun dokumen yang akan dibutuhkan, memastikan laporan dari beberapa divisi sudah diterima, sekaligus menandai bagian-bagian penting dari dokumen yang perlu mendapat perhatian. Sesekali ia mengetuk pintu ruangan Kinara untuk menyerahkan berkas. "Dokumen rapat pukul sepuluh sudah saya susun, Bu." Kinara yang sedang membaca sebuah laporan mengangkat wajahnya. "Letakkan di me
Sedan hitam milik Kinara membelah jalanan malam yang tenang. Di dalam kabin mobil, suasana begitu hening. Hanya deru halus mesin dan kilatan lampu jalanan yang sesekali menerangi wajah Kinara dan Leo. Kinara memegang kemudi dengan jemari yang masih sedikit kaku. Pikirannya dipenuhi oleh kejadian di restoran tadi. Reaksi panik Adhijaya saat Leo menyebutkan soal rekening rahasia dan draf manipulasi aset terus berputar di kepalanya. Ia melirik pria muda yang duduk tenang di kursi penumpang di sampingnya. Leo hanya menatap lurus ke depan, seolah hal besar yang baru saja ia lakukan bukanlah sesuatu yang istimewa. "Leo," panggil Kinara memecah keheningan. Suaranya terdengar datar namun menuntut penjelasan. Leo menoleh perlahan. "Iya, Bu Kinara?" "Dari mana kamu tahu soal rekening Singapura dan draf manipulasi aset milik Tuan Adhijaya?" tanya Kinara langsung pada intinya. "Informasi seperti itu bukan sesuatu yang bisa diakses oleh sembarang orang. Apalagi oleh seorang anak magang." Le
Kinara terdiam. Untuk sesaat, ia hanya menatap pria itu tanpa berkata apa-apa.Rian mengenakan kemeja gelap dengan jas yang tidak dikancingkan. Wajahnya terlihat tegang, seolah sudah mencari Kinara ke berbagai tempat sebelum akhirnya menemukan perempuan itu di restoran ini.Matanya langsung tertuju kepada Kinara. "Aku ingin bicara denganmu."Kinara menghela napas pendek. "Rian, ini bukan tempat yang tepat.""Aku tahu."Rian melangkah mendekat. "Tapi sejak kapan kamu mau menikah lagi tanpa memberitahuku?"Kinara menatapnya tajam. "Itu bukan urusanmu lagi."Rian terdiam sejenak. Kalimat itu jelas membuat wajahnya berubah."Aku mantan suamimu, Kinara.""Dan itu sebabnya kamu seharusnya tahu bahwa hubungan kita sudah berakhir.""Aku masih ingin memperbaikinya."Kinara menahan napas. "Aku tidak."Jawaban itu keluar tanpa ragu.Rian menatapnya, seolah masih berharap menemukan sedikit keraguan di mata Kinara. Namun tidak ada.Adhijaya yang sejak tadi memperhatikan percakapan mereka akhirnya
Pintu kaca restoran fine dining di lantai teratas hotel bintang lima itu terbuka perlahan. Kinara melangkah masuk dengan gaun hitam berpotongan rapi yang membuat penampilannya terlihat elegan. Sebuah blazer putih tersampir anggun di bahunya, melengkapi penampilannya malam itu.Ia berjalan dengan tenang dan teratur. Meski tahu dirinya sedang menuju sebuah pertemuan yang dirancang oleh ayahnya sendiri, Kinara tetap memasang ekspresi profesional. Tidak ada tanda-tanda gugup ataupun keberatan yang terlihat dari wajahnya.Seorang pelayan pria segera menyambutnya dengan senyum ramah."Atas nama reservasi Tuan Adhijaya, Kak?""Iya, betul," jawab Kinara singkat dan sopan.Pelayan itu mengangguk, lalu mempersilakan Kinara mengikutinya menuju area privat di sudut restoran. Tempat itu cukup jauh dari meja pelanggan lain dan menghadap langsung ke pemandangan kota yang dipenuhi gemerlap lampu.Di sana, di sebuah meja bundar yang dilapisi kain putih bersih dengan lilin kecil di tengahnya, seorang p
Tangan Kinara yang memegang lembaran dokumen perjodohan itu tampak tenang, tanpa getaran sedikit pun. Pipi kirinya masih terasa panas akibat tamparan sang ayah. Ia sempat menekan lidah ke bagian dalam pipinya, memastikan tidak ada darah yang keluar.Kemudian, ia kembali mengangkat wajah. Sorot matanya tajam, menatap lurus pada pria paruh baya di hadapannya.Tidak ada air mata. Tidak ada pula raut wajah pasrah dari seorang wanita yang sedang dipojokkan.“Jadi, ini alasan Ayah memanggilku pulang dengan terburu-buru?” tanya Kinara dengan suara rendah dan datar.Hendra menyilangkan kedua tangan di dada. Tatapannya masih keras, tetapi matanya sempat turun sekilas pada pipi Kinara yang memerah.Hanya sesaat. Setelah itu, ia kembali memasang wajah seorang kepala keluarga. “Ayah tidak memanggilmu pulang untuk berdebat.”Kinara mengangkat sebelah alis. “Lalu?”“Tuan Adhi adalah pemegang saham utama di grup bisnis besar yang sedang kita incar.” Nada suara Hendra terdengar lebih terkendali. “Dia







