MasukKabin utama kapal itu jauh dari kata sempit. Dinding kayu yang dipoles mengkilap memantulkan cahaya temaram dari lampu gantung yang bergoyang lembut mengikuti irama ombak. Beberapa pria berseragam hitam berjaga di depan pintu tanpa sepatah kata.
Sementara itu, Roselyn sudah selesai membersihkan diri. Gaun baru yang ia kenakan tidak mewah, tapi justru terasa nyaman. Ia lantas mendekati Kaelus yang duduk di sofa dengan cangkir teh mengepul.
“Minumlah, kau pasti kedinginan, Lady.”
"Bagaimana kau menyiapkan baju dengan ukuranku?"
"Aku punya mata."
Roselyn menahan senyum. Ia mengambil cangkir tersebut. Teh ini terasa berbeda dari yang biasa disajikan di kediaman Sirius — lebih ringan dan sedikit floral.
Kaelus pun menatap sosok di depan sejenak, lalu mengeluarkan selembar kertas tebal, pena, dan sebilah pisau kecil yang lebih mirip alat tulis daripada senjata.
"Vogard akan mudah menemukan anak gadis yang melarikan diri. Tapi jika bukan bagian dari Sirius lagi, pasti berbeda."
"Apa itu?"
“Kontrak. Bacalah dulu.”
Roselyn membacanya dua kali. Wanita berambut cokelat itu memastikan tidak ada isi ambigu yang mungkin akan merugikannya.
Hanya ada klausa bahwa selama berada di bawah langit Valthorn, sang pemimpin akan memastikan keamanannya. Di sisi lain, Roselyn menambahkan bahwa dirinya bersumpah setia dan membantu wilayah dengan seluruh keterampilan dan informasi yang dimiliki.
Kaelus melirik pisau kecil, bersiap memberikan cap. "Kalau kau setuju, kita—"
Sret.
Roselyn sudah mengambil pisau itu dari meja. Ia menggoreskan ibu jari kanannya dengan ekspresi serius, lalu menekan bekas luka tepat di bawah namanya di kertas itu.
“Lady, kenapa sangat buru-buru?! Perjanjian yang dibubuhi darah tidak bisa dibatalkan!”
“Aku tahu. Meskipun aku yakin Grand Duke tidak akan menipuku, aku sudah kubaca dengan teliti.”
“Baiklah.”
Ia mengambil kembali pisau dari tangan Roselyn, lalu menggores jempol sendiri. Kini dua cap merah tertera di perjanjian itu.
Dokumen itu dilipat, disimpan di kotak perak, dan dimasukkan ke laci. "Mulai sekarang, tidak ada seorang pun yang bisa menyentuhmu tanpa izinmu."
"Termasuk Valthorne?"
"Termasuk aku dan semua yang ada di bawahku."
Putri Vogard menatap ibu jarinya yang masih perih. Ia menggores sedikit terlalu dalam. "Grand Duke–”
“Kael,” potong sang pria bermata merah. “Ibuku memanggilku dengan nama itu. Sekarang kau boleh memanggilku begitu."
“Tidak. Mana mungkin aku bersikap tidak sopan ….”
“Kalau begitu, tidak akan ada yang menyebut namaku.”
Ia tidak langsung menjawab. “Kael, terima kasih sudah menerimaku.”
“Siapa yang membantumu kabur?”
“Matthew, pamanku yang bekerja sebagai kepala penjaga. Sepertinya dia juga yang membuat ledakan tadi. Aku … cukup beruntung kali ini, mengetahui ada satu keluargaku di sana lebih awal.”
Kaelus terdiam. Ada yang aneh di ucapan itu.
“Apa maksudmu kali ini?”
Deg!
Roselyn telah kelepasan bicara tanpa sadar. Namun, ia sama sekali tidak berniat memberi tahu orang lain tentang dirinya yang mengulang waktu. Lagipula, belum tentu ada yang percaya.
"Maksudku aku tidak pernah benar-benar mengenal Paman sebelumnya. Ayah tidak memberitahu apa pun. Baru malam ini Matthew berbicara jujur tentang ibuku. Jadi aku bilang cukup beruntung kali ini karena sebelumnya aku bahkan tidak tahu ada yang peduli padaku."
Pria berambut perak itu yakin jika ada yang wanita itu sembunyikan. Namun, sekarang bukan saat yang tepat untuk mendesak jawaban.
Kaelus pun balik menatap punggung Roselyn. Di sana, di bawah tepi gaun yang sedikit bergeser, garis lebam lama tampak samar di kulit yang lebih terang dari area sekitar.
“Aku tidak sengaja melihat lebam saat pesta kemarin.”
“Ah, aku tidak apa-apa."
Ia terdiam sebentar, tahu jika itu bukan jawaban yang sang grand duke inginkan. "Aku sering dipukuli Ayah, Kael. Sejak aku dibawa ke ibu kota.”
“Iya, aku pernah dengar katanya fisikmu lemah, jadi kau tidak dibesarkan di sini.”
"Kael pasti tahu itu cuma alasan. Sebelum itu aku di peternakan wilayah Sirius bersama ibuku. Aku pikir Ayah menjemputku karena akhirnya merindukanku. Ternyata ia butuh anak untuk pernikahan politik. Kakakku sedang menyelesaikan pendidikannya, jadi hanya aku yang tersisa."
"Jadi kau dan ibumu pindah begitu saja?"
"Tidak. Ibuku meninggal setahun sebelum aku dibawa. Dulu aku tinggal bersama pengurus peternakan."
Kaelus mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Menunggu giliran untuk menyahut.
"Berapa lama kau di peternakan itu?"
"Sampai usia dua belas. Tepat saat ulang tahunku ke-13, aku dibawa. Awalnya kukira tidak akan ada lagi yang merendahkanku, ternyata di mansion itu ada ibu tiri yang membenciku. Tapi itu masa lalu.”
Hening sejenak. Jelas sekali wanita itu tidak ingin membahas kejadian tersebut lebih lanjut.
"Kael. Apa kau pernah menyesal mengajakku naik?"
"Belum."
Roselyn tertawa kecil. "Kau terlalu jujur."
"Aku tidak suka berbohong."
Putri Vogard menghela napas dengan lembut dan senyum tipis. Ia kagum pada sosok rupawan di hadapannya, yang selalu melakukan apa pun sesuai kata hati, tanpa repot-repot memperdulikan anggapan sekitar.
Kaelus pun bangkit, coba memalingkan wajahnya yang terasa panas kala melihat senyum tersebut. "Istirahatlah, wajahmu pucat."
"Ruang mana yang bisa kupakai?"
"Pakai saja kabin ini."
Roselyn memandang sekeliling, hanya ada satu sofa, satu meja, satu pintu bilik yang tadi digunakan untuk berganti pakaian. Meskipun kapal itu cukup besar dan mewah, tidak didesain untuk membawa tamu.
"Aku akan tidur di sofa. Kael juga istirahatlah."
“Aku tidur di luar.”
“Tapi ini kapalmu.”
Kaelus tidak menjawab. Ia melangkah ke pintu, membukanya, dan keluar begitu saja, membiarkan angin menerobos masuk sebelum pintu tertutup kembali. Angin tengah laut musim itu pasti menusuk hingga ke tulang.
Ia sangat tahu, tetapi tetap berdiri di dek. Tindakannya begitu impulsif. Karena untuk pertama kali, pria yang tidak pernah kalah dalam perang itu, mengalah demi seorang wanita yang baru ditemui lagi.
Debur ombak seolah terhenti. Tepat bersamaan dengan nyala terakhir api tersebut, Roselyn tidak percaya dengan yang barusan didengar."Kalau begitu menikahlah denganku, Lady."Kaelus tidak berkedip saat mengatakannya. Pria itu pun meraih ujung rambut wanita tersebut dan mengecupnya. "Aku tidak sedang memaksamu, Lady. Kau tak perlu buru-buru menjawab, tapi tolong pertimbangkanlah setidaknya sekali.""Pasti banyak tawaran pernikahan yang menguntungkan Kael.""Aku tidak mengajukan pernikahan kontrak, Lady. Seperti kau yang memilihku untuk melarikan diri, rasanya aku hanya akan menikah jika denganmu.""Kenapa aku, Grand Duke?"Kaelus tidak langsung menjawab.Ia justru mengambil kerang terakhir, meletakkannya di depan Roselyn tanpa berkata apa-apa."Kael, aku serius bertanya.""Aku tahu.""Lalu?""Makan dulu."Wanita berambut panjang itu menatapnya tidak percaya. Pria yang baru saja melamar, sekarang malah menyuruh lanjut makan. Ia pun membuka mulut hendak memprotes, tapi Kaelus sudah berdi
Roselyn terbangun di pagi hari dengan perut yang bergejolak. Langit seakan tiba-tiba berputar, pagar kapal yang tidak cukup kuat untuk dipegangi, dan Kaelus yang entah dari mana sudah berdiri di samping dengan alis mengerut. Berbeda dengannya, bermalam di dek tetap membuat pria itu bugar.“Biar aku akan turun dulu, Lady. Kau bisa berpegangan padaku nanti.”Putri Vogard melirik ke arah papan kayu yang terhubung dengan daratan. "Aku baik-baik saja.""Kau pucat, Lady.""Aku bilang baik-baik—"Ombak besar menghantam lambung kapal. Roselyn oleng, dan sebelum kakinya sempat menemukan pijakan, tubuhnya sudah terangkat. Kaelus sigap menggendong. Ekspresinya tidak berubah sedikit pun, dan justru itu menghindarkan mereka dari kecanggungan.“Apa ini yang disebut baik-baik saja?”“Maaf, Kael. Aku sebenarnya malu. Aku tidur di kamar, tapi tetap sakit.”“Wajar saja, ini pertama kali dirimu naik kapal sejauh ini.”Hari sudah meredup ketika dermaga kecil itu akhirnya muncul di cakrawala. Langit pesi
Kabin utama kapal itu jauh dari kata sempit. Dinding kayu yang dipoles mengkilap memantulkan cahaya temaram dari lampu gantung yang bergoyang lembut mengikuti irama ombak. Beberapa pria berseragam hitam berjaga di depan pintu tanpa sepatah kata.Sementara itu, Roselyn sudah selesai membersihkan diri. Gaun baru yang ia kenakan tidak mewah, tapi justru terasa nyaman. Ia lantas mendekati Kaelus yang duduk di sofa dengan cangkir teh mengepul. “Minumlah, kau pasti kedinginan, Lady.”"Bagaimana kau menyiapkan baju dengan ukuranku?""Aku punya mata."Roselyn menahan senyum. Ia mengambil cangkir tersebut. Teh ini terasa berbeda dari yang biasa disajikan di kediaman Sirius — lebih ringan dan sedikit floral.Kaelus pun menatap sosok di depan sejenak, lalu mengeluarkan selembar kertas tebal, pena, dan sebilah pisau kecil yang lebih mirip alat tulis daripada senjata."Vogard akan mudah menemukan anak gadis yang melarikan diri. Tapi jika bukan bagian dari Sirius lagi, pasti berbeda.""Apa itu?"“
Kabin utama kapal itu jauh dari kata sempit. Dinding kayu yang dipoles mengkilap memantulkan cahaya temaram dari lampu gantung yang bergoyang lembut mengikuti irama ombak. Beberapa pria berseragam hitam berjaga di depan pintu tanpa sepatah kata.Sementara itu, Roselyn sudah selesai membersihkan diri. Gaun baru yang ia kenakan tidak mewah, tapi justru terasa nyaman. Ia lantas mendekati Kaelus yang duduk di sofa dengan cangkir teh mengepul. “Minumlah, kau pasti kedinginan, Lady.”"Bagaimana kau menyiapkan baju dengan ukuranku?""Aku tinggal beli semua ukuran dan mengira-ngira yang cocok untukmu."Roselyn menahan senyum. Ia mengambil cangkir tersebut. Teh ini terasa berbeda dari yang biasa disajikan di kediaman Sirius, yang ini lebih ringan dan sedikit floral.Kaelus pun menatap sosok di depan sejenak, lalu mengeluarkan selembar kertas tebal, pena, dan sebilah pisau kecil yang lebih mirip alat tulis daripada senjata."Vogard akan mudah menemukan anak gadis yang melarikan diri. Tapi jika
Roselyn menutup pintu kamarnya dengan hati-hati. Ia menahan diri, meski jiwanya menjerit ingin membanting pintu itu sampai hancur.Sarung tangan sutranya ditanggalkan, perhiasan dilepas satu per satu. Mutiara dan permata mahal itu jatuh berserakan di atas meja rias tanpa dipedulikan. Ia duduk sejenak di tepi ranjang.Ia duduk di tepi ranjang, menatap kosong ke kegelapan. Mencoba bicara dengan Vogard barusan hanya membuktikan satu hal, pria itu tidak akan pernah berubah. Ambisinya lebih penting daripada putri kandung sendiri.“Kakak diajari berpedang untuk menaklukkan dunia, tapi aku malah diajari berdandan supaya dunia menaklukkanku. Cuma karena dari rahim berbeda, aku tidak dianggap manusia,” katanya.Roselyn pun melepas gaunnya dan berganti dengan seragam pelayan. Ia menunggu dalam hening, menghitung setiap detak jam dinding, hingga suara derap pergantian penjaga terdengar sayup dari luar.Begitu keadaan dirasa aman, ia menyelinap keluar menyusuri lorong pelayan menuju halaman belak
Hening yang mencekam menyelimuti balkon, hanya menyisakan suara napas Roselyn yang masih tersengal dan patah-patah. Di hadapannya, Kaelus berdiri mematung seperti patung es yang tidak tersentuh waktu.Roselyn menunduk, mencoba mengatur detak jantungnya yang masih menggila. "Maaf karena harus memperlihatkan hal memalukan ini, Grand Duke," ucapnya lirih, bibirnya dipaksa membentuk seulas senyum tipis yang gemetar.Kaelus tidak langsung menjawab. Sepasang mata merahnya yang tajam memperhatikan setiap detail kecil pada wajah Roselyn. Air mata yang mengering, penampilan yang berantakan, dan senyum palsu tampak begitu menyakitkan."Simpan senyum palsumu, Lady Sirius."Roselyn tertegun, lalu tertawa getir. "Padahal aku melatih senyum ini selama setahun di depan cermin. Ternyata Anda langsung tahu, ya. Tapi ... kenapa Anda menolongku?""D'Arest dan aku memiliki urusan yang belum selesai sejak lama." Mata merahnya tidak berkedip saat menjawab. "Melihat serangga itu merayap ke tempat sepi, aku







