LOGINSelene menoleh sekali lagi pada Lucien, Jayreth, dan Sylar tatapan penuh permintaan maaf yang tak terucap lalu akhirnya mengalah. Ia tahu, jika ia menunda satu detik saja, Dirian bisa benar-benar kehilangan kendali.Ia pun masuk ke dalam kereta.Pintu tertutup.Kereta mulai bergerak, meninggalkan halaman istana, meninggalkan pesta yang masih diliputi bisik-bisik dan tatapan waspada.Di dalam kereta, Dirian duduk kaku, pandangannya lurus ke depan, rahangnya masih mengeras. Selene duduk di sampingnya dalam diam, tahu bahwa malam ini bukan waktunya untuk banyak kata.Dirian menjadi jauh lebih pendiam dari biasanya.Bukan diam yang dingin, bukan pula diam yang menjauh, melainkan diam yang teng
Keheningan itu pecah bukan oleh musik, melainkan oleh rasa takut yang menyebar cepat karena semua orang di aula tahu, pada detik itu, Dirian tidak sedang berbicara sebagai seorang tamu pesta.Dirian benar-benar murka.Bukan kemarahan yang meledak dengan teriakan liar melainkan amarah pekat yang menekan udara, membuat setiap orang di aula merasa napas mereka ikut tertahan.Aura itu begitu nyata hingga beberapa bangsawan tanpa sadar mundur setapak, seolah jarak beberapa langkah saja bisa menyelamatkan mereka dari tatapan Duke yang kini membeku.Sylar adalah yang pertama bereaksi saat melihat Selene bergerak.Begitu Selene melangkah cepat dari kelompok bangsawan senior, Sylar langsung meninggalkan posisinya, instingnya bekerja lebih dulu daripada pikirannya. Ia tahu betul raut wajah Dirian itu bukan
Tuan Moreau menatap Mona dengan sorot mata yang berubah bukan lagi tenang seperti sebelumnya, melainkan tajam dan penuh perhitungan.“Di mana kau melihatnya?” tanyanya, suaranya rendah namun tegas.Mona mengangkat wajahnya. Napasnya masih sedikit tersengal, namun matanya jernih yakin. “Di luar,” jawabnya cepat. “Dia sepertinya baru saja keluar. Ayah… aku harus menemuinya.”Ia melangkah maju, berniat melewati Tuan Moreau. Namun suara ayahnya menghentikannya tepat sebelum ia benar-benar melangkah lebih jauh.“Mona,” panggilnya.Langkah Mona terhenti. Ia menoleh, menatap ayahnya.“Apa kau yakin?” tanya Tuan Moreau. “Kau yakin or
Napas Viviene terengah, dadanya naik turun cepat. Rantai di pergelangan tangannya bergetar seiring tubuhnya yang menegang, seakan kemarahannya sendiri ingin memutus besi itu. Matanya merah bukan karena air mata, melainkan karena amarah yang akhirnya meluap tanpa sisa.Rafael tidak langsung bereaksi.Ia tetap berjongkok di hadapannya, wajahnya tenang, nyaris lembut jika tidak tahu apa yang tersembunyi di balik tatapan itu. Tangannya terangkat perlahan, jari-jarinya bergerak dengan satu gerakan pendek, terputus, seperti tanda.Josh menyeringai. “Jangan berteriak,” katanya santai. “Suaranya jelek. Dan kau tidak sedang dalam posisi untuk menuntut jawaban.”“Aku tidak menuntut!” Viviene membalas, suaranya serak. “Aku bertanya. Katakan sekarang
Tidak ada nada menuduh. Tidak ada desakan. Kalimat itu diucapkan begitu saja dan justru karena itu terasa lebih berat.Dirian berbalik untuk pergi.Jay menatap punggungnya, jemarinya mengepal di sisi piring yang belum tersentuh. Ada banyak hal yang ingin ia katakan tentang Viviene, tentang pencarian yang buntu, tentang kegelisahan yang tidak pernah ia akui. Tapi semua itu tertahan di dadanya.Langkah Dirian berhenti sesaat, seolah ia mempertimbangkan sesuatu. Namun ia tidak menoleh.“Pastikan kau tetap seperti yang kau yakini,” tambahnya singkat, lalu melanjutkan langkahnya keluar.Jay ditinggalkan sendirian.Ia menatap makanan di depannya, uapnya mulai memudar. Kata-kata Di
Selene menatapnya, terkejut kecil.Dirian mengangkat tangan, seolah menghentikan segala kemungkinan sanggahan. “Aku tidak akan mengatakannya di luar sana. Aku tidak akan membiarkan siapa pun tahu. Bagi mereka, ini akan terlihat seperti keputusan dingin seorang duke yang menjaga stabilitas.”Ia menurunkan suaranya. “Tapi di ruangan ini saja, kau perlu tahu alasannya.”Selene membuka mulut, namun Dirian lebih dulu berbicara. “Aku tidak ingin kau terlibat lebih jauh. Setiap langkahmu di luar kastil hari ini sudah cukup membuatku tidak tenang.”Selene menatapnya,Nada suaranya sedikit mengeras, bukan marah melainkan takut yang disamarkan. “Jika aku tidak bergerak, maka kau akan melakukann







