FAZER LOGINDirian mengingatkan, suaranya lebih tegas kali ini.
“Kau tega sekali begini padaku,” gumam Viviene, sedikit cemberut namun tak bisa menentang Dirian.
Dirian menatapnya dalam-dalam, menahan sedikit amarah yang muncul karena Viviene memang selalu berhasil membuatnya sedikit terganggu.
“Tolonglah, jangan memperumit semuanya. Rumor tentang kita belum sepenuhnya redup, dan kau paling tahu bagaimana ibuku,” ucap Dirian, suaranya lebih pelan tapi tajam, seperti memperingatkan Viviene sekaligus menegaskan batasnya.
Viviene menunduk sebentar, memahami maksud Dirian, tapi senyumnya tetap mengintip, seolah masih ada sedikit kemenangan dalam keberaniannya datang tanpa izin.
“Aku tidak akan pulang. Aku akan menu
Sylar dan Mona cukup kaget dengan ucapan Selene.Selene berdiri perlahan. Gerakannya tenang, namun auranya berubah. Ia tidak mendekat untuk mengancam, tidak pula menjauh untuk menghindar. Ia hanya berdiri, seorang kakak, seorang bangsawan, seorang wanita yang terluka namun masih berpikir jernih.“Aku tidak pernah berkata kau harus berhenti mencintai siapa pun,” ucap Selene. “Dan aku tidak pernah berniat mengurungmu dalam aturan yang bahkan aku sendiri sering melanggarnya.”Ia menatap Mona, tatapan itu membuat Mona gemetar, namun Selene tidak mengandung kebencian. Hanya kelelahan dan kejujuran.“Yang kupersoalkan,” lanjut Selene sambil kembali menatap Sylar, “adalah kebohongan. Jarak yang kau ciptakan. Dan fakta bahwa kau membiar
Bjorn langsung menunduk. “Maaf, Nyonya. Saya akan melakukannya.”Saat pintu tertutup kembali, Selene bersandar di kursinya. Jantungnya berdetak pelan namun berat.Jika dugaannya benar… Maka wanita yang membuat Sylar menjauh darinya mungkin lebih dekat dari yang ia kira. Dan entah kenapa, Selene tidak tahu apakah ia harus bersiap untuk tersenyum atau untuk menghadapi sesuatu yang jauh lebih rumit.Tidak butuh waktu lama bagi Bjorn untuk menemukan jawabannya.Namun Selene tetap tidak menyangka, atau mungkin, tidak ingin menyangka, bahwa kebenaran akan berdiri tepat di hadapannya, setelanjang ini.Perjalanan dari ibu kota memakan waktu hampir tiga jam. Jalanan berbatu yang rapi, deretan bangunan megah namun tertutup, da
Pertanyaan itu membuat Selene terdiam.Ia menatap wajah adiknya. Bukan wajah seorang bangsawan dingin, bukan pula pria yang selalu berdiri tegar di balik tanggung jawab. Yang ia lihat adalah Sylar kecil yang dulu sering bersembunyi di balik punggungnya, anak laki-laki yang selalu bertanya apakah ia melakukan hal yang benar.Selene tidak langsung menjawab.Ia menghela napas pelan, lalu menoleh sejenak ke arah Dagny dan Divrio yang kini duduk di lantai bersama Count Moreau. Ayah mereka tertawa kecil, tangannya gemetar saat mencoba menunjukkan sesuatu pada Dagny. Pemandangan itu membuat dada Selene terasa penuh, oleh rasa kehilangan, penyesalan, dan harapan yang datang bersamaan.Kemudian Selene kembali menatap Sylar.“Sylar,&rdq
Selene menghela napas pelan, lalu menggeleng lagi, lebih lambat kali ini. Tangannya mengusap rambut Divrio dan Dagny bergantian, tanpa berkata apa pun. Ada begitu banyak hal yang ingin ia jelaskan, namun belum waktunya.Tanpa mereka sadari, mobil telah melambat.Roda berhenti di halaman luas dengan bangunan megah yang menjulang tenang di hadapan mereka Mansion Count Moreau.Pintu mobil terbuka.Begitu mereka turun, langkah Selene terhenti.Ia berdiri diam, seolah waktu membeku di sekelilingnya. Divrio dan Dagny yang masih menggenggam tangannya ikut berhenti, merasakan perubahan mendadak pada ibunya.Di depan sana, di bawah bayangan pilar tua mansion, berdiri Sylar, tegak, tenang, dengan
Jay meluruskan punggungnya, kini benar-benar tersenyum tipis. “Kalau begitu,” ucapnya tegas, “latihan dimulai.”Selene menghela napas pelan, senyumnya melembut.Dua bocah itu berlatih dengan sungguh-sungguh.Tidak ada lagi wajah cemberut, tidak ada lagi keluhan yang dilontarkan setengah hati. Divrio dan Dagny berdiri sejajar di bawah sinar pagi, pedang kayu terangkat dengan genggaman yang lebih mantap. Nafas mereka tersengal, keringat membasahi pelipis dan punggung, namun langkah mereka tetap maju setiap kali Jay memberi aba-aba.Gerakan mereka masih belum rapi, kadang terlalu cepat, kadang terlambat namun keseriusan itu nyata. Ini bukan lagi latihan karena paksaan atau kemarahan. Ini latihan karena tekad kecil yang ingin dibuktikan, terutama satu sama lai
Dagny langsung menoleh, matanya membelalak. “Divrio!”“Aku capek,” lanjut Divrio cepat, seolah takut tidak sempat mengatakannya. “Pedangnya berat. Latihannya membosankan. Dan aku tidak mau seperti Ayah.”Jay menghentikan langkahnya. Mona dan Daisy saling pandang. Udara seolah menegang sejenak.Dagny mendekat, masih menggenggam pedang kayunya. “Tapi aku mau,” bantahnya. “Aku mau jadi prajurit. Aku mau seperti Jay.”Divrio menatap adiknya dengan wajah memelas. “Itu urusanmu. Aku cuma ikut karena kau menyeretku.”Selene melangkah maju beberapa langkah, mendekati mereka. Tatapannya lembut, namun penuh perhatian. Ia berjongkok di hadapan Divrio, menyamakan tinggi bad







