MasukDirian mengingatkan, suaranya lebih tegas kali ini.
“Kau tega sekali begini padaku,” gumam Viviene, sedikit cemberut namun tak bisa menentang Dirian.
Dirian menatapnya dalam-dalam, menahan sedikit amarah yang muncul karena Viviene memang selalu berhasil membuatnya sedikit terganggu.
“Tolonglah, jangan memperumit semuanya. Rumor tentang kita belum sepenuhnya redup, dan kau paling tahu bagaimana ibuku,” ucap Dirian, suaranya lebih pelan tapi tajam, seperti memperingatkan Viviene sekaligus menegaskan batasnya.
Viviene menunduk sebentar, memahami maksud Dirian, tapi senyumnya tetap mengintip, seolah masih ada sedikit kemenangan dalam keberaniannya datang tanpa izin.
“Aku tidak akan pulang. Aku akan menu
Dirian terdiam.Ia tidak langsung menjawab. Bukan karena tersentuh melainkan karena tidak mengerti. Dirian merasa dia tidak melakukan apapun.Namun ia tidak mengatakan itu.Morvena melanjutkan, suaranya sedikit lebih lembut, hampir seperti bisikan kepercayaan.“Kepala pelayan berkata… aku mendapat perlakuan istimewa karena aku adalah wanitamu.”Kata itu wanitamu menggantung di udara.Dirian akhirnya meletakkan penanya. Ia bersandar di kursi, menatap Morvena lebih lama dari sebelumnya. Ia tidak melihat kebohongan di sana. Tidak ada sihir dan idak ada manipulasi. Hanya… keyakinan yang tumbuh terlalu cepat.“
Pagi itu, ketika ia baru saja selesai menyisir rambutnya sendiri kebiasaan lama yang belum sempat ia lepaskan ketukan pelan terdengar di pintu kamar tamu yang kini ditempatinya.Tok. Tok.“Masuk,” ucapnya.Pintu terbuka, dan untuk pertama kalinya sejak ia menginjakkan kaki di Kastil Leventis, bukan satu atau dua pelayan yang masuk melainkan enam orang sekaligus.Mereka membawa kotak-kotak besar berlapis kain beludru. Ada yang berwarna biru tua dengan segel emas, ada yang putih mutiara, ada pula yang hitam pekat dengan bordiran lambang Leventis.Morvena berdiri perlahan.“Apa… ini?”Pelayan paling depan menunduk dalam-dalam
Selene menoleh lebih dulu ke arah Ilard.Tatapan itu singkat, namun cukup untuk membuat pria itu menegakkan punggungnya tanpa sadar, seolah ia kembali menjadi ksatria muda yang menerima perintah pertamanya.“Ilard,” ucap Selene pelan, suaranya tenang namun mengandung ketegasan yang tak bisa dibantah, “dan Sven. Aku ingin kalian mulai menyusun apa saja yang harus dilakukan oleh para pelayan juga seluruh orang di kastil untuk menangani situasi ini.”Ilard terdiam sesaat.Bukan karena ragu, melainkan karena ia memahami betul makna di balik kalimat itu. Ia menunduk hormat, lalu tanpa berkata apa pun, segera mengeluarkan lembar catatan dari balik mantel.Ujung bulu pena menyentuh permukaan kasar kertas, mulai bergera
Dirian tidak segera menjawab. Kereta terus melaju, roda-roda besinya berderak teratur di atas jalan batu, seolah tak peduli pada percakapan yang perlahan mengoyak sesuatu di antara dua manusia di dalamnya.“Aku tidak mempermainkanmu,” akhirnya ia berkata.Morvena tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke matanya. Ada kelelahan di sana. Ada luka yang baru saja disadari.“Lalu apa ini sekarang?” suaranya lembut, nyaris berbisik, namun sarat tuntutan. “Aku pikir… kau akan bersamaku. Hanya denganku. Aku pikir kau akan meninggalkan istrimu.”Dirian menoleh, menatap wajahnya sesaat sebelum kembali memalingkan pandangan ke depan.“Aku tidak pernah mengatakan hal itu.”
Selene cukup terkejut dengan ucapan Morvena itu. Ia menatap wanita berambut merah yang kini tersenyum seolah taruhan itu hanyalah permainan ringan, bukan sesuatu yang bisa menghancurkan hidup seseorang.“Bagaimana?” tanya Morvena sekali lagi, nadanya ringan, penuh keyakinan.Selene terdiam sesaat. Ada banyak hal yang bisa ia katakan, amarah, sindiran, bahkan tantangan. Namun semua itu terasa melelahkan. Terlalu murah untuk harga dirinya.“Aku tidak ingin menyia-nyiakan diriku,” ucap Selene akhirnya, suaranya tenang namun tegas, “pada sesuatu yang tidak perlu.”Tanpa menunggu reaksi, ia berbalik pergi. Tidak ada tatapan terakhir. Tidak ada kata penutup. Ia melangkah menjauh seolah percakapan itu tak pernah layak mendapat tempat lebih di pikirann
Odet dan nenek berangkat keesokan paginya, tepat setelah sarapan selesai. Udara pagi masih dingin, kabut tipis menggantung di halaman kastil seolah enggan membiarkan perpisahan itu terjadi begitu saja. Kereta sudah menunggu, pengawal berdiri rapi, dan suasana terasa lebih sunyi dari biasanya.Selene berdiri di beranda depan bersama Dagny dan Divrio. Tangannya menggenggam tangan kedua anak itu dengan erat, seolah ia sendiri takut kehilangan keseimbangan jika dilepaskan. Odet memeluk Dagny lama, membelai rambutnya berkali-kali, sementara nenek menepuk bahu Divrio dengan senyum yang dipaksakan, matanya berkaca-kaca.“Aku ingin tinggal lebih lama dengan nenek…” gumam Dagny lirih, suaranya nyaris tenggelam oleh bunyi langkah para pengawal.“Iya,” sambung Divrio, bibirnya mengerucut kesal. &ldquo







