로그인Siera tidak mengatakan apa pun. Ia berbalik dan meninggalkan Zelka, sementara Mia segera mengikutinya. Perkataan wanita gipsi itu membuat pikirannya kacau, terutama ketika ia menyarankan agar Siera menggunakan tangan orang lain untuk membunuh Erick demi memutus ikatan takdir mereka.Setibanya di kamar, Siera duduk di sofa dan melepas sarung tangannya. Mia menutup pintu, lalu menatapnya dengan khawatir. Ia tidak menyukai arah pembicaraan mereka, terlebih karena kali ini bukan hanya tentang pengulangan waktu, tetapi juga kemungkinan seseorang harus kehilangan nyawa.“Nona,” panggil Mia akhirnya, memecah keheningan. “Anda tidak perlu memercayai semua yang dikatakan Zelka.”Siera mengangkat wajah dan menatapnya.“Aku tidak mungkin tidak memercayainya.”Mia mengerjapkan mata, tampak tidak menyangka akan mendapatkan jawaban seperti itu.“Tetapi, Nona, Anda sendiri bahkan pernah memanggilnya Nona Penipu.”“Itu karena aku belum mengetahui apakah dia mengatakan yang sebenarnya atau tidak.” Sie
Siera membeku. Ia memahami maksud perkataan Zelka, tetapi tetap sulit menerimanya. Menjadikan Dior sebagai pedang untuk mengakhiri ikatannya dengan Erick? Ia tidak pernah membayangkan hubungan yang baru saja mulai ia bangun dengan Dior akan terseret ke dalam persoalan takdir yang bahkan belum sepenuhnya ia pahami.Siera menatap Zelka dengan campuran keterkejutan dan kewaspadaan.“Jadi, menurutmu aku harus menjadikan Dior pedang yang akan membunuh Erick?”Zelka tidak langsung menjawab. Ia hanya mempertahankan senyum tipisnya, membuat Siera semakin sulit menebak apa yang sebenarnya sedang dipikirkannya.“Benar,” jawab Zelka akhirnya.Siera terdiam. Ia tidak tahu apakah perempuan itu benar-benar memahami cara kerja benang merah takdir atau hanya menafsirkan sesuatu berdasarkan penglihatannya. Satu hal yang pasti, membatalkan pernikahan dengan Erick ternyata belum tentu cukup untuk membebaskannya dari masa lalu.Jika memang ada sesuatu yang masih mengikat mereka, Siera harus menemukan car
Siera kebingungan mendengar perkataan Zelka. Ia bahkan sempat melirik Mia, tetapi pelayannya itu juga tidak memahami maksud perempuan gipsi tersebut.“Apa maksudmu benang merahku tidak terhubung dengannya? Benang merah apa yang kau bicarakan?” tanya Siera.“Benang merah takdir,” jawab Zelka.Siera menatapnya tanpa berkedip, menunggu penjelasan lebih lanjut. Istilah itu terdengar asing baginya, tetapi melihat keseriusan wajah Zelka, ia tahu perempuan itu tidak sedang membicarakan sesuatu yang sepele.“Setiap manusia yang lahir memiliki benang merah yang akan menuntunnya kepada jodohnya. Benang itu menghubungkan dua orang yang ditakdirkan untuk bersama, meskipun mereka belum pernah bertemu atau bahkan tidak mengetahui keberadaan satu sama lain.”Siera mengernyit. Ia berusaha memahami perkataan tersebut, tetapi semakin lama mendengarnya, semakin banyak pertanyaan yang muncul di kepalanya.“Jadi, maksudmu dia bukan jodohku?”Zelka menatapnya lurus-lurus.“Benar.”Siera mengembuskan napas
Dior terdiam setelah mendengar perkataan Siera, tangannya masih menggenggam tangan Siera dengan erat. Ia tidak segera menjawab, seolah sedang memikirkan sesuatu yang menurutnya perlu dipastikan terlebih dahulu.Siera memperhatikan wajahnya, lalu menghela napas pelan.“Dalam hubungan ini, bukan hanya kau yang terlibat, Dior.”Pria itu mengalihkan pandangannya sedikit untuk menatapnya lebih saksama.“Apa maksudmu?”“Maksudku, kau tidak bisa memutuskan semuanya hanya berdasarkan apa yang menurutmu baik untukku. Kau mungkin tidak menganggap dirimu sebagai kelemahanku, tetapi aku juga punya hak untuk mengkhawatirkanmu. Aku tidak ingin kau terus-menerus berpikir bahwa mengorbankan dirimu sendiri adalah pilihan terbaik selama aku bisa selamat.”Dior tidak menyela.“Kalau kita ingin bersama, bukankah seharusnya kita memikirkan satu sama lain?”Dior tidak menjawab, ia hanya menatap Siera dengan wajah datarnya yang biasa."Bukankah itu yang terpenting dalam hubungan?"“Jadi, kau mencintaiku?”S
Siera mengangkat wajahnya dan menatap Dior dengan tenang.“Aku sudah berjanji akan menjelaskan semuanya dengan baik kepada Ayah. Jadi, kemungkinan besar aku akan diizinkan pergi.”Dior tidak langsung menjawab, dia tengah menimbang.“Tempat itu bahkan belum bisa disebut sebagai wilayah yang layak dikunjungi. Saat ini, tempat itu hanya antah berantah. Pergi ke sana sama saja dengan mencari mati.”Siera berkedip, tetapi tidak menunjukkan tanda-tanda gentar.“Lalu?”Dior mengalihkan pandangannya sedikit untuk menatapnya lebih saksama.“Kau tidak takut?”“Ada kau. Apa yang harus aku takutkan?”Jawaban itu keluar begitu saja dari mulut Siera, tanpa keraguan sedikit pun. Ia bahkan tersenyum tipis setelah mengatakannya, seolah keberadaan Dior di sisinya sudah cukup untuk menjawab segala kekhawatiran yang mungkin muncul selama perjalanan nanti.Dior tidak memberikan tanggapan. Wajahnya tetap dingin, tanpa perubahan ekspresi yang berarti. Namun, tangan yang sejak tadi menggenggam tangan Siera p
Siera akhirnya memilih untuk tidak melanjutkan perdebatan mereka. Percuma saja berusaha membujuk Dior ketika pria itu sudah menetapkan sesuatu sebagai batasan yang tidak boleh dilanggar. Ia hanya akan berakhir kehabisan kata-kata, sementara Dior tetap duduk dengan wajah datarnya seolah tidak terjadi apa-apa.Siera menyandarkan tubuhnya ke sofa, masih menggenggam tangan Dior. Ia baru saja hendak menikmati waktu berdua mereka ketika pria itu tiba-tiba membuka mulut.“Kalau begitu, sekarang aku akan membicarakan sesuatu yang serius.”Siera menoleh kepadanya.“Memangnya apa yang serius dan ingin kau bicarakan?”“Perjalanan ke utara. Ke tempat yang disebutkan wanita itu.”Siera langsung memahami siapa yang dimaksud Dior. Namun, alih-alih segera menjawab, ia justru menyeringai kecil, lalu mengangkat alis ke arah pria itu.“Dia punya nama, Dior. Zelka.”Dior menatapnya tanpa ekspresi.“Ada batasan antara laki-laki dan perempuan.”Siera mengernyit. Ia tidak menyangka percakapan yang semula me
Siera meneguk ludah. Ia memang merasa malu karena tertangkap basah, namun ia tetap berdiri tenang, berusaha tidak menunjukkan kegelisahannya.“Maaf… saya tidak bermaksud mendengar pembicaraan Anda berdua.” Siera membungkuk, menjaga sopan santunnya.Saat ia mengangkat kepala, ia bisa melihat pandanga
Siera tahu bukan hanya Erick, Dregory, dan semua orang yang berada di ruangan itu tertegun mendengar ucapan Siera yang tiba-tiba.“Apa… yang kau katakan?” suara Erick terdengar tertahan, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Ia bahkan bangkit dari posisinya.Siera sempat menoleh
Suara ketukan pintu membuat Siera tersentak. Ia menoleh ke arah pintu ketika daun pintu terbuka perlahan, dan seorang gadis masuk dengan langkah hati-hati.“Nona…”Siera menatapnya.“Mia…”Wajah Mia terlihat lega, bahkan sedikit senang. “Yang Mulia Duke benar… Anda sudah bangun.”Siera menatap gadis
Siera membuka mulut, tetapi kata-kata terasa sulit keluar. Tenggorokannya kering, pikirannya masih kacau oleh apa yang baru saja ia alami.“A-aku…”“Apa karena Putra Mahkota Erick?” potong Dregory tiba-tiba.Nada suaranya rendah, namun justru terasa lebih menekan. Tidak ada kemarahan yang meledak, t







